Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Pertemuan Singkat


__ADS_3

Hari demi hari berganti. Merangkai makna dari setiap apa yang telah terlewati. Menyisakan rasa yang terkadang tak terucap oleh kata yang bisa terungkap oleh sang bibir.


Waktu terus berlalu. Sudah hampir tiga minggu sejak Naina melakukan tes DNA Rissa dan Delvin, tapi hasilnya belum juga keluar. Dan selama itu pula, ia tak dapat sama sekali berkomunikasi dengan Dean.


Nomor ponsel Naina diblokir oleh Jelita dari ponsel Dean. Jelita benar-benar tak mengizinkan Dean untuk menemui Naina. Ia bahkan menambah pengawal untuk Dean, agar ia tak bisa kabur demi menemui Naina.


Dean dan Jelita sudah sepakat, jika Dean masih bisa tinggal di Indonesia selama hasil tes DNA Rissa belum keluar. Tapi setelah hasilnya keluar, Dean harus kembali ke Jerman, jika hasil tesnya menunjukkan bahwa Rissa adalah putri kandung Delvin. Dan Dean menyanggupinya.


Jelita bahkan mengancam Niko agar tak ikut campur dengan urusan Dean dan Naina. Ia dengan tegas, melarang Niko untuk membantu Dean menghubungi atau menemui Naina selama hasil tes itu belum keluar.


Dean masih berangkat ke kantor seperti biasa, meski dengan pengawalan yang lebih ketat. Ia juga mengunjungi restorannya untuk memastikan restorannya berjalan baik.


"Itu mobil Naina." Batin Dean saat melihat mobil sang pujaan hati, terparkir rapi di depan Zee Cafe.


Mobil yang Dean tumpangi, mulai memasuki area parkir restoran. Dean melirik pada Niko, yang saat ini sedang duduk di sebelahnya. Selama masa pengawasan Jelita, Niko tidak diizinkan mengantar Dean sendirian kemanapun. Ada dua orang pengawal yang mengawasi mereka di dalam mobil, dan siap melaporkan apapun yang mencurigakan dari Dean dan Niko.


"Bagaimana perkembangan resto bulan ini?" Tanya Dean tiba-tiba.


"Iya Tuan?" Tanya Niko bingung.


Niko mengerutkan keningnya sambil menoleh pada Dean. Ia padahal sudah melaporkan perkembangan resto tadi saat masih di kantor. Mereka datang ke resto sekarang hanya untuk mengecek laporan dan kondisi resto secara langsung, seperti biasanya.


Dean merebut begitu saja tab yang dipegang Niko. Niko pun terkejut bukan main saat Dean melakukan itu.


Dean segera mengotak-atik tab Niko. Lalu kembali menyerahkannya.


"Kita ke Zee Cafe dulu!"


Sebuah pesan yang tertulis dalam tab yang kembali ke tangan Niko.


Niko menoleh pada Dean. Dean hanya menatap datar ke luar mobil, dimana mobil Naina terparkir di sana. Niko pun akhirnya mengikuti arah pandangan mata Dean. Ia lalu menyadari, sang atasan sedang meminta bantuannya untuk bisa menemui Naina di Zee Cafe.


"Bagus Tuan. Manager resto yang baru, bekerja sangat baik." Ucap Niko menjelaskan.


"Kita ada janji temu dengan klien bukan?" Tanya Dean cepat.


Niko berpikir keras. Ia ingat betul, tidak ada jadwal bertemu klien hari ini. Ia menoleh pada Dean dan menatap Dean penuh tanya.


"Kita bertemu di Zee Cafe saja. Aku dengar, tempatnya cukup nyaman." Sahut Dean cepat.


Niko segera memahami maksud Dean.


"Baik Tuan! Saya akan mengabari klien kita untuk menemui kita di Zee Cafe." Jawab Niko yakin.


Dean pun tersenyum lega dalam hati, karena Niko bisa memahami maksudnya. Mereka segera keluar mobil setelah mobil terparkir rapi. Dean pun bergegas menuju kafe yang tepat berada di sebelah restoran miliknya. Sedang Niko, segera menelepon sang istri tercintanya.


"Kamu dimana Sayang?" Ucap Niko sambil berjalan mengikuti langkah Dean menuju Zee Cafe.


"Di Zee Cafe Mas. Ada apa?"


"Apa Nona Andini bersamamu?"


"Iya. Beliau sedang mengecek laporan kafe di ruangannya."

__ADS_1


"Baiklah. Aku tutup dulu!"


Niko segera mengakhiri panggilannya. Ia tak ingin, rencananya dengan Dean, diketahui oleh pengawalnya yang berjalan di belakang mereka. Niko mempercepat langkahnya untuk mensejajari Dean.


"Nona ada di ruang kantor Tuan." Bisik Niko.


Dean tersenyum kecil. Hatinya merasa sangat bahagia, meski baru mendengar bahwa Naina ada di kafenya.


Dean pun mempercepat langkahnya. Ia segera memasuki Zee Cafe dan segera disambut oleh salah seorang karyawannya. Dean dan Niko lantas duduk di tempat yang biasa Naina pakai untuk menghabiskan waktunya di kafe itu. Mereka pun segera memesan makanan dan minuman.


"Dimana toiletnya?" Tanya Dean pada karyawan kafe.


"Di sebelah sana Kak!" Tunjuk karyawan itu, ke arah toilet yang kebetulan berdekatan dengan arah tangga ke lantai dua.


"Terima kasih." Jawab Dean cepat.


Dean segera beranjak dari kursinya. Ia segera berjalan ke atah toilet yang tadi ditunjukkan oleh karyawan kafe.


Sedang di ruangan kantor kafe, Naina sedang tidak bisa fokus memeriksa laporan yang sebenarnya sangat sederhana baginya. Ia hanya membolak-balik kertas yang tadi diserahkan oleh manager kafe padanya. Sedang Sinta, baru menemui koki kafe untuk membicarakan beberapa hal.


Tok, tok, tok.


"Masuk!" Sahut Naina.


Ceklek.


Dua pasang mata itu saling bertemu dalam jarak yang tak begitu jauh. Naina perlahan berdiri dari kursinya. Jantungnya berdegup cepat secara tiba-tiba. Darahnya berdesir hebat ke seluruh bagian tubuhnya. Saat mendapati sosok yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Dean?" Ucap Naina tak percaya.


SET.


"Aku merindukanmu Sayang." Ucap Dean saat tubuhnya mendekap erat tubuh Naina dalam dekapannya.


Naina mematung. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini. Ia terlalu takut, jika nantinya ia akan kembali kehilangan Dean setelah sebuah pelukan yang sungguh ia harapkan.


Tapi, hati Naina sungguh tak bisa berbohong. Perlahan tangan dengan jari jemari nan lentik itu, terangkat dan membalas pelukan sang kekasih yang ia rindukan suara dan kehadirannya dalam beberapa hari belakangan.


Naina tahu dari Niko, jika Dean dilarang oleh Jelita untuk menghubungi atau bahkan menemui Naina sampai hasil tes DNA itu keluar. Ia juga tahu, bahwa Dean akan dikirim ke Jerman oleh Jelita, jika hasil tes DNA Rissa menunjukkan bahwa Delvin adalah ayah bioligis Rissa. Dan ia memahami maksud dari sikap Jelita itu.


"Aku juga merindukanmu Sayang." Batin Naina dalam derai airmata yang mulai mengalir tanpa permisi.


Naina semakin erat memeluk tubuh Dean. Dean pun bisa merasakan bagaimana perasaan Naina kini. Ia juga merasakan tubuh Naina yang sedikit bergetar karena menangis.


Hati Naina terasa begitu pedih. Kebahagiaan yang ada di depan mata, seketika lenyap karena kenyataan di masa lalu. Kebahagiaan yang ia dambakan, dalam sekejap hancur tak bersisa.


Dean segera melepaskan pelukannya, karena tangis Naina tak berhenti.


"Jangan menangis! Atau aku tak akan bisa pergi dari sini tanpamu!" Ucap Dean seraya mengusap lembut air mata yang mengalir indah di wajah Naina.


"Maaf!" Ucap Naina disela isakannya.


"Kamu tak bersalah Sayang! Ini sudah takdir kita." Dean berusaha menenangkan Naina.

__ADS_1


"Kenapa takdir kejam padaku?" Ratap Naina dengan tubuh yang tiba-tiba merosot ke lantai.


Naina terduduk di lantai kantornya dengan wajah tertunduk dalam. Airmatanya masih setia menetes diantara isakannya demi menahan pedih hatinya.


Dean pun segera berjongkok dan merengkuh tubuh Naina kembali dalam pelukannya.


"Tenanglah! Aku akan ada untukmu, apapun itu!"


Dean membiarkan Naina meluapkan perasaannya. Perasaan bahagia, karena bisa bertemu dengan Dean kembali setelah beberapa hari tak saling bertukar kabar. Tapi juga sedih dan pilu, karena kenyataan masa lalunya yang bisa membuatnya menjauh, dan sangat jauh dari Dean nantinya. Dan ia sungguh tak menginginkan hal itu.


Tiba-tiba,, ceklek.


"Maaf Bu', ada,," Ucap Sinta yang masuk begitu saja tanpa permisi.


Sinta tadi sempat mengetuk pintu, tapi karena tak mendapat jawaban dari Naina, ia masuk begitu saja ke ruangan itu. Dan ia pun terkejut saat mendapati atasannya sedang berpelukan dengan laki-laki yang berhasil membuka kunci hatinya.


Dean dan Naina pun menoleh ke arah pintu.


"Maaf Pak, Bu'!" Ucap Sinta cepat.


Sinta berniat keluar ruangan kembali.


"Sebentar Sin!" Cegah Dean cepat.


"Iya Pak?" Jawab Sinta bingung.


Dean kembali menoleh pada Naina. Ia bisa melihat dengan jelas, wajah merah Naina yang masih belum selesai menangis.


"Berhentilah menangis! Atau aku akan membawamu dan Rissa pergi jauh dari sini!"


Naina segera menatap mata Dean. Ia pun menggelengkan kepalanya untuk menolak usulan Dean yang sangat bisa membuat kekacauan di keluarganya nanti.


"Jadi, berhentilah menangis! Wanitaku kuat. Bukan begitu Sayang?" Ucap Dean dengan hati yang bergetar, karena tak tega melihat Naina dengan keadaannya kini.


Naina hanya mengangguk lemas.


"Aku harus segera pergi! Atau para pengawal akan curiga." Pamit Dean tiba-tiba.


Naina membulatkan matanya. Ia sungguh belum rela jika harus berpisah dari sang pujaan hati secepat ini. Tapi, ia juga tak bisa mencegahnya terlalu lama. Atau Jelita, akan tahu jika Dean menemuinya.


"Kita akan bertemu kembali secepatnya!" Ucap Dean berusaha menguatkan dirinya sendiri dan sang pujaan hati.


Naina mengangguk kembali. Dean pun mendaratkan kecupan hangat di kening Naina. Naina pun segera merasakan sebuah aliran listrik bertegangan kecil yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia pun memejamkan matanya untuk menikmati aliran itu.


"Aku pergi dulu!" Pamit Dean setelah kecupan hangat itu.


Naina pun kembali mengangguk pasrah. Ia tersenyum getir demi mengantarkan kepergian Dean.


"Temani Naina!" Pinta Dean pada Sinta saat ia berdiri tepat di sampingnya.


"Tentu Pak!" Jawab Sinta paham.


Dean pun menginggalkan ruang kantor Naina dan kembali ke mejanya tadi. Makanan dan minuman yang tadi ia pesan pun ternyata sudah tiba. Ia pun bersikap sangat biasa di depan pengawalnya, meski hatinya tak tenang mengingat Naina tadi.

__ADS_1


Sinta pun berusaha menenangkan dan menemani Naina yang masih terduduk di lantai kantor. Ia masih belum bisa sepenuhnya melepaskan Dean. Ia sungguh masih ingin melepaskan rasa rindunya pada Dean.


Takdir memang tak selalu berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Tapi, apa yang terjadi pada kehidupan kita, adalah salah satu hal terbaik yang Allah berikan pada kita sebagai penguat iman dalam hati kita masing-masing.


__ADS_2