Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Sikap Delvin


__ADS_3

Apa yang terjadi, tak selalu seperti yang kita harapkan. Tak selalu berjalan mulus. Seperti air yang mengalir di aliran sungai. Pasti ada kerikil dan batu yang harus dilewatinya agar bisa sampai ke muara.


Bahkan terkadang, kita harus dihadapkan oleh sebuah persimpangan jalan yang membuat kita berpikir lebih keras untuk memilih jalan yang harus kita lewati. Dan apa yang kita pilih, akan menentukan masa depan kita kelak.


Sama halnya dengan kehidupan. Apa yang menjadi pilihan kita kemarin, kita harus siap menanggung segala akibat baik dan buruknya atas pilihan itu.


Suasana ballroom mendadak ricuh karena pembatalan Naina. Para tamu undangan mulai sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Para pemburu berita pun segera mencari kelengkapan berita yang dibutuhkan agar bisa segera disiarkan di stasiun tv masing-masing.


Para pemburu berita berusaha mencegat langkah Naina untuk mendapatkan kebenaran selengkapnya. Naina sempat terkejut dan mundur beberapa langkah agar tidak berdekatan dengan para pemburu berita.


"Joe!" Panggil Wiliam cepat.


Joe yang berjalan berdampingan dengan Wiliam, segera meminta beberapa anak buahnya untuk melindungi tuannya, Naina dan kerabatnya. Para pengawal Wiliam pun bergerak cepat mencarikan akses jalan untuk mereka agar bisa segera keluar dari ballroom.


Naina hanya menundukkan kepalanya den mendekap erat Rissa. Ia benar-benar tak suka dengan suasana seperti ini. Ia hanya berjalan tanpa menghiraukan orang-orang yang menatapnya penuh tanya.


Sekar yang berjalan agak di belakang bersama Wiliam, sempat bertemu pandang dengan seorang tamu yang cukup asing baginya. Tapi ia tahu, siapa tamu itu.


"Apa dia Jelita? Saudara kembar ibunya Delvin. Orang yang menolak masa lalu Naina." Batin Sekar sambil terus berjalan bersama yang lain.


Sedang di meja penghulu, Delvin masih berusaha memanggil Naina. Membujuk dan merayunya agar mau kembali melanjutkan pernikahan mereka.


"Naina! Naina!" Panggil Delvin berkali-kali sambil terus menatap langkah Naina yang semakin menjauh.


Jenita segera menghampiri putranya. Ia memeluk putranya dengan sepenuh hati. Ia tahu, putranya sedang berusaha agar semua berjalan sesuai rencana.


Tapi ternyata tidak. Naina benar-benar tak bergeming dengan panggilan Delvin. Naina mantap keluar ballroom dan membatalkan acara pernikahannya hari ini.


"Vin, kita harus segera pergi dari sini! Atau reporter akan segera kemari dan memberondongimu dengan banyak pertanyaan." Usul Ivan yang juga segera menghampiri Delvin di meja penghulu.


"Benar yang dikatakan Ivan Vin. Kita kembali ke dalam!" Ajak Jenita cepat.

__ADS_1


Delvin masih belum bisa berpikir jernih. Otaknya seakan berhenti bekerja karena mendadak rencananya gagal total karena niat buruknya diketahui oleh orang lain.


"Vin!" Bentak Ivan keras.


Delvin masih menatap Naina yang semakin tak terlihat. Delvin akhirnya ditarik paksa oleh Ivan agar segera meninggalkan ballroom bersama Jenita.


Dalam hati kecil Delvin, ia juga menaruh perasaan pada Naina. Pesona Naina yang nyaris paripurna itu, mampu menarik perhatian seorang Delvin Dewangga.


Ada sebersit rasa kecewa dalam hati Delvin. Kecewa karena gagal mempersunting seorang Naina Andini yang sudah menjadi incaran beberapa kolega bisnisnya. Dan juga, kecewa karena ia mulai gagal menjalankan rencana balas dendamnya.


"Aarrhh! Kenapa jadi begini?" Teriak Delvin saat ia sudah kembali ke ruang ganti.


"Sabar Vin! Kita harus bisa berpikir jernih untuk sekarang." Usul Ivan.


"Dasar anak sialan! Harusnya, aku racuni saja dia sejak awal. Jadi ia tak akan menjadi penghalangku." Umpat Delvin kesal.


"Kalau Rissa kamu bunuh, mana bisa kamu menikah dengan Naina?" Sanggah Ivan.


"Aku sudah membayar mahal untuk acara hari ini. Dan bahkan mengundang reporter agar bisa menjadi trending topic di dunia hiburan karena menikah dengan Naina. Sialan kamu perempuan jal*ng!"


"Anak tak tahu diri! Seharusnya dia bersyukur aku mau mengakuinya sebagai anakku. Aku juga sudah memberikan banyak hal untuknya kemarin. Kenapa malah dia membongkar rencanaku di depan banyak orang? Dasar anak pel*cur!"


Delvin meluapkan amarahnya tanpa ragu. Hatinya mendadak sangat kesal karena mengingat kegagalan rencananya yang telah ia susun dengan sangat rapi. Apalagi, rencananya digagalkan oleh seorang anak yang belum genap berusia enam tahun.


Jenita dan Ivan hanya menatap Delvin yang berjalan kesana kemari untuk meluapkan amarahnya. Delvin bahkan mengobrak-abrik ruangan dimana ia berada sekarang.


"Aku harus melakukan sesuatu!" Ucap Delvin penuh amarah.


Delvin berhenti sejenak dan berpikir. Ia memikirkan sebuah cara untuk membalas perbuatan sepasang ibu dan anak yang berhasil mempermalukannya hari ini di depan banyak orang. Dan telah berhasil membongkar masa lalunya yang ia sembunyikan dari dunia yang membesarkan namanya.


"Tunggu pembalasanku Na!" Ucap Delvin dengan seringai jahatnya.

__ADS_1


Jenita dan Ivan saling pandang saat mendengar ucapan Delvin. Mereka penasaran dengan apa yang ada di otak Delvin hingga bisa membuatnya menyeringai seperti itu.


"Apa yang akan kamu lakukan Vin?" Tanya Jenita seraya berdiri menghampiri putranya yang sedang berdiri di tengah ruangan.


"Pembalasan untuk Naina dan Rissa. Dan pembalasan pasti lebih kejam dari yang mereka lakukan." Jawab Delvin dengan pikiran yang melayang jauh.


"Kamu jangan gegagah Vin! Mama nggak mau kamu mendapat masalah." Cegah Jenita.


"Mama tenang saja! Delvin akan membalas mereka dengan sesuatu yang mungkin tidak pernah mereka pikirkan!" Sahut Delvin dengan memikirkan ide yang sudah kembali menari indah di otaknya.


"Apa yang akan kamu lakukan? Bagaimana kamu akan melakukannya?" Tantang Jenita.


"Sekarang kamu pasti sedang dicari oleh banyak reporter. Kehadiranmu pasti sangat dinantikan mereka untuk mendapatkan beritamu. Kamu mau mengakui semuanya?" Imbuh Ivan tanpa ragu.


"Mana mungkin aku membongkar masa lalu indahku dengan para wanita itu. Aku hanya perlu melakukan sedikit sandiwara di depan kamera, sambil perlahan melancarkan rencana balas dendamku pada ibu dan anak sialan itu." Sahut Delvin yakin.


"Apa yang akan kamu lakukan Vin? Apa rencanamu?" Tanya Ivan sedikit khawatir.


"Kamu nanti juga tahu Van. Yang pasti, sekarang aku harus bersandiwara di depan para reporter demi menjaga nama baikku di dunia hiburan." Jawab Delvin sambil menganggukkan kepalanya.


Jenita dan Ivan yang berdiri sejajar, kembali saling pandang. Mereka cukup penasaran dengan rencana balas dendam Delvin pada Naina dan Rissa.


Cukup lama Delvin berada di ruangan itu. Ia bersiap untuk menghadapi para pemburu berita yang akan memberondonginya dengan banyak pertanyaan setelah apa yang terjadi di ballroom tadi.


Delvin akhirnya keluar dari ruangan itu saat hari sudah menjelang sore. Ia juga sudah mengkonfirmasi pihak hotel tentang acara yang tidak jadi dilaksanakan siang ini. Pihak hotel pun sudah menyetujuinya. Mereka mulai membereskan area ballroom.


Saat Delvin keluar hotel, banyak reporter yang masih setia menantinya di depan. Para reporter itu segera mengerumuni Delvin dan mengajukan banyak pertanyaan padanya. Tapi Delvin, hanya diam tak menjawab.


Delvin, Ivan dan Jenita segera masuk ke dalam mobil. Tak ada sepatah kata pun dari tiga orang itu. Mereka memilih bungkam untuk saat ini. Delvin dan Jenita pun memasang wajah sedih dan kecewa saat keluar dari hotel.


Para reporter akhirnya harus kecewa dengan sikap bungkam Delvin. Mereka tak bisa mendapatkan kelengkapan berita yang mereka tunggu sejak pagi tadi.

__ADS_1


Setiap hal yang kita lakukan, pasti ada sebab dan akibatnya. Dan akibat dari pilihan kita, haruslah kita terima dengan lapang dada. Karena memang, itulah yang harus terjadi agar menjadi sebuah pelajaran bagi kita kedepannya.


__ADS_2