
Hati. Tak akan pernah bisa membohongi dirinya sendiri. Ia selalu benar dalam setiap rasa yang ia rasakan. Mungkin sang bibir bisa dengan mudahnya berbohong pada dunia, tapi hati akan selalu jujur pada segala yang ada di dunia ini.
Naina berusaha menenangkan Rissa dan dirinya sendiri. Baru saja ia merasa lega dan bahagia karena bisa mengungkapkan isi hatinya pada yang terkasih, tapi kenyataan itu membuatnya merasakan kepahitan yang ia takutkan selama ini.
"Istirahatlah Sayang! Mommy akan menemui Oma Jenita dan Om Delvin sebentar!"
Rissa hanya diam tak merespon. Ia hanya tiduran saja dengan seragam sekolahnya. Ia lalu memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.
Naina akhirnya membiarkan Rissa beristirahat di kamarnya. Ia yakin, putrinya itu pasti juga masih lelah sepulang sekolah. Naina pun segera menemui dua tamunya yang masih menunggunya sembari mengobrol dengan Sinta.
"Maaf Tante, saya tinggal tadi!" Ucap Naina seramah mungkin pada kembaran Jelita itu.
"Tidak apa-apa. Bagaimana dengan Rissa?" Tanya Jenita perhatian.
"Dia sedang istirahat. Dia baru saja pulang sekolah." Jujur Naina.
"Apa yang kamu katakan tadi benar Na?" Tanya Delvin penasaran.
Naina menghela nafas pendek. Ia sebenarnya masih enggan membicarakan itu, mengingat apa yang baru saja ia alami.
"Aku sedikit tahu, tentang masa lalumu dan Dean dari Mama Lita. Jadi, mungkin kamu pun tak akan percaya jika aku mengatakan itu sekarang. Mengingat, entah sudah berapa wanita yang kamu bayar untuk melakukannya denganmu." Ucap Naina tanpa basa-basi.
"Lita sialan!" Umpat Jenita lirih, tapi masih terdengar oleh Naina dan Sinta yang duduk bersebrangan dengannya.
"Maaf Tante Jenita, bukan maksud Mama Lita menceritakan sikap kurang baik Delvin di masa lalu. Akan tetapi ia mengatakan apa yang terjadi pada Rhea, dan alasan kenapa beliau bisa menganggapku seperti Rhea." Jelas Naina tegas.
"Beliau juga mengatakan tentang sikap Dean yang tak jauh beda dengan Delvin di masa lalu. Lagi pula, saya mengetahui identitas Delvin sebagai ayah Rissa, sudah sejak Rissa masih dalam kandungan saya, bukan karena Mama Lita yang memberitahukan masa lalu Delvin." Imbuh Naina.
"Sial!" Batin Jenita geram.
Jenita terdiam dan menahan kesal dihatinya. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan Naina.
"Lalu?" Sela Delvin menengahi.
"Seperti yang Rissa dan Dean katakan tadi. Aku akan melakukan tes DNA untuk memastikannya." Jawab Naina datar.
"Kenapa kamu belum melakukan tes DNA?" Tanya Delvin penasaran.
"Akan sangat tidak sopan, jika aku diam-diam mengambil sample DNA milikmu lalu memberitahukan padamu semuanya. Kamu bisa saja mengelak semuanya karena tak tahu alasan seutuhnya." Jelas Naina lagi.
"Benar juga. Tapi, ini sungguh memudahkanku." Batin Delvin.
"Baiklah! Aku bersedia melakukan tes DNA dengan Rissa. Karena aku merasakan sebuah ikatan yang tak biasa sejak bertemu dengannya pertama kali." Ucap Delvin tanpa ragu.
Naina sedikit mengerutkan keningnya. Ia mengingat bagaimana sikap Delvin dan Rissa ketika mereka saling berinteraksi saat awal mula perkenalan mereka. Tapi Naina tak ingin mengambil pusing hal itu.
"Berikan saja sample DNA-mu padaku! Akan aku bawa ke rumah sakit besok untuk dites." Pinta Naina tanpa basa-basi.
Delvin segera mengambil sehelai rambutnya untuk dijadikan sample DNA miliknya. Ia pun segera memberikannya pada Naina.
Naina pun segera menerima rambut milik Delvin. Ia meminta Sinta untuk menyimpannya untuk besok.
Delvin dan Jenita akhirnya pamit pulang. Mereka pulang dengan hati yang bahagia. Dengan senyuman yang terukir cukup lebar.
__ADS_1
"Kamu memangnya nggak ingat Vin sama Naina?" Tanya Jenita penasaran saat mereka sudah ada di mobil dalam perjalanan pulang.
"Maksud Mama?"
"Ya kamu inget nggak pernah tidur sama Naina dulu?" Jelas Jenita.
"Enggak Ma. Delvin beneran nggak inget pernah melakukannya dengan Naina." Jujur Delvin.
"Lalu?"
"Ya kita tetap pada rencana kita Ma. Kita akan membalaskan kematian Papa."
"Bagaimana caranya? Rissa saja sepertinya tak terima jika kamu adalah ayahnya."
"Masalah itu, biar Delvin yang atur Ma. Mama tenang saja!" Ucap Delvin sambil menyeringai di balik kemudi mobilnya.
Jenita hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan sang putra melakukan rencananya, yang ia juga tak tahu apa itu. Tapi yang pasti, ia akan selalu mendukung apapun yang putranya itu lakukan.
Di sisi lain, sepasang ibu dan anak sedang sedikit bersitegang setelah mereka sampai di rumah.
"Kamu tak boleh mendekati Naina atau Rissa lagi!" Ucap Jelita tanpa ragu.
"Tapi kenapa Ma?" Tanya Dean tak terima.
"Mama nggak mau kamu berurusan dengan keluarga tak tahu diri itu!"
"Naina dan Rissa tidak termasuk Ma."
"Tapi Rissa adalah putri baj*ngan itu." Bentak Lita lebih keras.
"Lantas, apa dia putrimu? Kamu saja tak mengenali Naina sejak awal. Bukankah kamu mempunyai ingatan yang bagus? Bahkan kamu mengingat para wanita yang pernah kamu tiduri dulu bukan?" Sindir Lita.
Dean terdiam. Yang dikatakan mamanya ada benarnya. Dean memiliki otak yang sangat cerdas dan ingatan yang sangat bagus. Ia bahkan bisa mengingat semua orang yang pernah ia temui. Termasuk para wanita yang pernah ia bayar untuk tidur dengannya dan menuntaskan hasratnya di masa lalu.
"Lebih baik, kamu kembali ke Jerman! Dan jangan pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan Naina atau Rissa lagi!" Pinta Lita dalam amarahnya.
Hati Jelita benar-benar sedang kacau saat ini. Harapannya menjadikan Naina menantu idamannya, seketika hancur karena pengakuan Naina tadi. Ia tak pernah menyangka, Naina menyimpan rahasia dirinya dengan begitu rapat, bahkan dari putrinya sendiri.
"Dean tak akan kemanapun sebelum Naina mendapatkan hasil tes DNA-nya." Jawab Dean tegas.
Dean langsung berlalu pergi ke kamarnya. Meninggalkan Jelita yang terduduk lesu di sofa ruang keluarganya.
"Kenapa putriku selalu dihancurkan oleh baj*ngan sialan itu!" Geram Jelita.
Jelita benar-benar menyayangi Naina seperti putrinya sendiri. Usia Naina yang hanya terpaut beberapa bulan dengan Rhea, sikap dan sifatnya yang juga mirip dengan Rhea, membuat Jelita benar-benar menganggap Naina sebagai putrinya, menggantikan Rhea yang telah tiada.
Tapi kini, harapan itu hancur sudah. Rahasia Naina telah merubah segalanya. Bukan Jelita membenci Naina, hanya saja, luka lama itu belum sembuh sepenuhnya di hati Jelita. Luka yang telah Delvin torehkan di hati Jelita, cukup dalam dan belum sembuh hingga kini. Hingga membuat Jelita, sangat-sangat enggan berurusan dengan keluarga dari saudara kembarnya itu.
Keesokan paginya, Sinta datang lebih pagi dari biasanya ke rumah Naina. Ia datang bersama sang suami. Ia juga telah menceritakan semuanya pada Niko semalam.
"Biar saya yang mengantarkan sample DNA-nya ke rumah sakit Nona!" Pinta Niko sopan.
"Apa Dean yang memintamu?" Sahut Naina penasaran.
__ADS_1
"Bukan Nona. Tuan tidak meminta saya melakukannya." Jujur Niko.
Niko dan Sinta sudah sepakat semalam, mereka akan membantu Naina untuk mencari kebenaran dari identitas ayah Rissa yang sebenarnya.
"Tidak. Biar aku yang mengantarkan sample-nya ke rumah sakit! Karena itu adalah milikku dan Rissa." Sahut Delvin tiba-tiba yang muncul dari pintu depan.
Tanpa Naina, Sinta dan Niko sadari, Delvin baru saja sampai di rumah Naina. Ia tak sengaja mendengar percakapan mereka bertiga dari depan pintu yang terbuka sejak tadi.
Semua lantas menoleh pada Delvin. Ia dengan santainya berjalan ke arah kursi ruang tamu, dimana tiga orang tadi sedang mengobrol. Ia bahkan tersenyum ramah pada Naina.
Naina hanya menatap datar pada Delvin.
"Ada apa Del kamu kemari?" Tanya Naina cepat.
"Aku ingin mengantarkan sample DNA-ku dan Rissa ke rumah sakit." Jujur Delvin.
Naina menghela nafas pendek.
"Jika seperti itu, biar aku sendiri saja yang mengantarnya ke rumah sakit." Jawab Naina datar.
"Tapi Bu', Rissa?" Sahut Sinta cepat.
"Aku titip Rissa sebentar! Dia masih belum mau keluar kamar." Jujur Naina.
"Rissa kenapa Na?" Tanya Delvin penasaran.
"Tidak apa-apa, hanya sedang kurang enak badan saja." Bohong Naina.
"Boleh aku melihatnya?"
"Jangan! Dia tidak ingin diganggu jika sedang seperti itu."
"Baiklah." Jawab Delvin lesu.
"Kalau begitu, aku bersiap sebentar!" Pamit Naina seraya berdiri.
Naina lantas pergi ke kamarnya dan mengambil tas dan keperluannya. Tak lupa, ia berpamitan pada putrinya yang sedang dalam mood kurang baik.
"Aku antar Na!" Tawar Delvin saat Naina tiba kembali di ruang tamu.
"Tak usah Del. Aku akan pergi sendiri!" Tolak Naina cepat.
"*Jika aku memaksa, dia pasti akan ber*pikir macam-macam." Batin Delvin.
"Baiklah Na, aku akan menunggu hasilnya." Jawab Delvin ramah.
"Akan kukabari besok!" Jawab Naina datar.
"Kalau begitu, aku pergi dulu Na! Kamu hati-hati ya!" Pesan Delvin dengan senyumannya.
"Iya."
Delvin akhirnya pergi dari rumah Naina. Dan disusul Naina yang juga berpamitan pada Sinta dan Niko. Naina meminta Sinta di rumah sementara menjaga Rissa selama ia ke rumah sakit.
__ADS_1
Dan tanpa Naina ketahui, Delvin mengikutinya ke rumah sakit secara diam-diam. Ia mengikuti mobil Naina dari jauh. Ia tak ingin, rencananya gagal lagi karena ketahuan mengikuti Naina ke rumah sakit.