
"Dan kamu tahu Na, siapa yang Ibu temui setelah dua bulan di sana?" Ucap Sekar yang mulai tenang.
"Siapa Bu'?" Tanya Naina penasaran.
"Rendi. Asisten pribadi Romo." Jawab Sekar yakin.
Naina mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat laki-laki bernama Rendi yang Sekar sebutkan.
"Rendi?" Gumam Naina sambil mengingat.
"Iya. Dia selalu bersama Romo kemanapun beliau pergi. Kamu pasti pernah bertemu dengannya saat menemui Romo malam itu." Jelas Sekar.
Naina berusaha keras memutar kembali memorinya yang hampir tujuh tahun lalu. Ia berusaha menemukan sosok Rendi, sang asisten mucikari.
"Apa dia laki-laki yang bertubuh sedikit gempal Bu'? Wajahnya cukup tampan. Tapi, sepertinya, usianya tak begitu jauh dengan Romo." Terka Naina.
"Iya, dia Rendi." Jawab Sekar yakin.
"Dia selamat Bu' dari penyerangan itu?" Tanya Naina penasaran.
"Iya."
Flashback On
Sore yang mendung. Barisan awan hitam terlihat menaungi langit sore Kota Jogja. Mereka seolah sudah sangat siap menumpahkan segala isinya pada sang bumi, untuk menjadi sumber kehidupan para penghuni bumi.
Sekar baru saja keluar dari rumah sakit untuk yang kesekian kalinya. Dan pastinya, karena alasan yang sama seperti saat ia pertama kali menjalani rawat inap satu minggu setelah ia dibawa ke rumah Joko.
Dua bulan sudah, Sekar tinggal di rumah Joko. Meski Joko sangat memanjakannya, tapi hati Sekar benar-benar tertutup untuknya. Ia menolak Joko mentah-mentah, karena ia tahu semua hal buruk yang telah Joko lakukan selama ini.
Joko bukan hanya seorang pebisnis di dunia tempat hiburan malam, tapi ia juga memiliki bisnis sampingan yang sangat tidak bertentangan dengan kemanusiaan.
Joko memiliki bisnis jual beli narkotika yang sudah merambah ke berbagai kota. Selain itu, ia juga sering memperdagangkan perempuan-perempuan di bawah umur untuk dijadikan 'kupu-kupu malam' atau bahkan budak **** bagi beberapa rekan bisnisnya yang serupa.
Joko bisa dengan sangat rapi menutupi bisnis haramnya itu dari penegak hukum. Ia selalu lolos dari pemeriksaan para penegak hukum yang mulai mencurigainya. Dan itu semua, berkat kerja samanya dengan beberapa rekan bisnisnya, yang memiliki koneksi tersendiri di kantor penegak hukum setempat.
"Istirahatlah di kamar! Aku akan menemanimu nanti!" Pinta Joko lembut saat ia sampai di rumah setelah menjemput Sekar di rumah sakit.
Sekar hanya diam tak menjawab apapun. Ia hanya berjalan begitu saja menuju kamarnya dengan tubuh yang sedikit lemas. Ia sungguh tak menghiraukan Joko.
Joko sebenarnya sangat menyayangi Sekar. Ia sudah sejak lama menaruh hati pada Sekar dan ingin menjadikan Sekar sebagai istrinya.
Tapi karena bisnis haram yang dilakoni Joko, Sekar sama sekali tak menaruh hati padanya sedikitpun. Karena bagi Sekar, bisnis Joko memperdagangkan perempuan sama saja ia tak menghargai perempuan. Dan dirinya tak sampai hati jika harus menikmati uang dari hasil bisnis itu.
Dulu, Joko terhalang oleh Romo yang juga menyayangi Sekar. Tapi kini, Romo sudah tiada. Dan sekarang, Joko sedang berusaha untuk meluluhkan hati Sekar, agar ia mau menerima Joko seutuhnya.
BRUK.
Sekar yang sedikit melamun, tak sengaja menubruk seseorang yang ternyata sedang terburu-buru untuk menemui Joko. Sekar masih diam tak mengucapkan apapun. Hingga ia mendengar suara orang yang ia tubruk.
"Maaf Bu'!" Ucap laki-laki itu cepat sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Sekar segera menoleh pada orang yang bertubrukan dengannya. Ia mengerutkan keningnya karena berusaha melihat wajah orang itu yang masih menunduk.
"Rendi?" Ucap Sekar cepat.
Orang yang ditubruk Sekar ternyata seorang laki-laki. Laki-laki itu segera mengangkat wajahnya. Tubuhnya tegap dengan wajah tampannya. Wajah yang sangat Sekar kenali. Tapi, ada yang berbeda.
"Rendi? Apa itu kamu?" Tanya Sekar lagi.
"Saya Galih Bu'. Salah satu pengawal Pak Joko." Jawab laki-laki itu.
"Tidak, aku tak mungkin salah. Kamu pasti Rendi. Apa kamu tak ingat padaku? Aku Sekar." Ucap Sekar untuk memastikan.
"Iya, Ibu adalah calon istri Pak Joko, Ibu Sekar." Jawab Galih polos.
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Kamu asisten pribadi Romo kan, Rendi Irawan? Bagaimana kamu selamat dari penyerangan itu?"
__ADS_1
"Maksud Ibu?"
Sekar berusaha meyakinkan Galih bahwa ia adalah Rendi. Orang yang sama, yang selama ini selalu membantunya dalam banyak hal. Yang selalu setia pada sosok Romo karena telah menyelamatkannya semasa ia masih muda dulu.
"Saya Galih Yolanda Bu', bukan Rendi seperti yang Ibu katakan tadi." Sanggah Galih lagi
Tanpa berpikir panjang, Sekar menarik tangan Galih begitu saja. Ia masih ingat, Rendi memiliki tanda lahir berwarna cokelat di bagian luar lengan atasnya. Rendi juga memiliko bekas luka jahitan tepat di atas tanda lahir itu. Dan Sekar ingin memastikan itu.
Sekar menyingsingkan lengan kemeja Galih hingga batas lengan atasnya. Galih yang tak siap, sedikit terjingkat karena terkejut.
Dan benar, Sekar menemukan tanda lahir dan bekas luka jahitan itu.
"Kamu Rendi, bukan Galih. Ini tanda lahirmu dan bekas luka jahitan karena menolong Romo saat berkelahi dengan Joko tujuh tahun lalu." Ucap Sekar yakin.
Galih sedikit terpaku mendengar ucapan Sekar. Ia mulai kebingungan dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Galih!"
Suara Joko mengalihkan perhatian Galih dan Sekar. Keduanya menoleh ke arah Joko yang sedang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya.
"Kenapa kamu malah berhenti di situ?" Bentak Joko.
"Maaf Pak!" Jawab Joko sungkan.
Galih segera pergi menghampiri Joko. Sekar hanya menatap Galih yang berjalan meninggalkannya.
"Apa yang terjadi pada Rendi? Kenapa dia tak mengenaliku? Dan bagaimana bisa dia selamat?" Gumam Sekar sambil menatap sosok Joko dan Galih yang mulai memasuki ruang kerja Joko.
Sekar lalu kembali berjalan menuju kamarnya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia kembali ke kamarnya. Dan berusaha mencari cara, agar ia bisa mengobrol lebih banyak dengan Galih. Tapi, tanpa diketahui oleh Joko pastinya.
Hari terus berganti. Sekar kesulitan bertemu dengan Galih lagi. Ia mulai memikirkan cara lain agar bisa mendapatkan informasi lengkap tentang Galih. Dan ia mendapatkan sebuah cara. Meski sedikit nekat, tapi kemungkinan untuk berhasil cukup tinggi. Dan Sekar yakin itu.
Sekar akhirnya menjalankan rencananya perlahan. Ia mulai mau makan dan minum demi kelancaran rencananya. Dan Joko tidak mencurigai hal itu.
Hingga akhirnya, Sekar mengajak Joko untuk menemaninya minum minuman beralkohol dengan alasan rindu dengan kebiasaan lamanya. Joko pun menyambutnya. Joko segera menyiapkan minuman terbaiknya untuk Sekar.
Sekar merayu Joko begitu halus. Ia bisa membuat Joko meminum habis minuman beralkohol yang Joko siapkan tadi. Hingga Joko mulai mabuk. Dan Sekar, mulai melanjutkan rencananya. Ia menginterogasi Joko tentang Galih. Dan Sekar, mendapatkan jawabannya malam itu.
"Iya, dia Rendi, asisten pribadi Hartono. Aku sudah mengincarnya sejak lama, tapi dia terlalu setia pada Hartono." Ucap Joko disela ocehannya saat mabuk.
Sekar seketika merasa lega mendengar pengakuan Joko. Ia lalu segera meminta pengawal Joko untuk memindahkan tubuh Joko yang telah tidak sadarkan diri ke kamarnya. Ia bersandiwara bahwa Joko telah kembali memaksanya memenuhi hasratnya saat Joko sedang mabuk malam ini.
Dua minggu kemudian, Sekar kembali menyambangi rumah sakit. Ia kembali menolak apapun yang Joko berikan. Ia juga telah berhasil menemui Galih beberapa kali sebelum ia masuk ke rumah sakit lagi. Dan ia secara diam-diam berhasil meyakinkan Galih, bahwa ia adalah Rendi, teman lama Sekar dan bukan anak buah Joko.
Pihak rumah sakit mulai curiga. Karena Sekar sudah tiga kali ini kembali ke rumah sakit yang sama dalam waktu kurang dari tiga bulan dan dengan keadaan yang sama.
Joko memang membawa Sekar ke rumah sakit yang berbeda beberapa kali, demi menutupi ulahnya. Tapi, kini ia mulai dicurigai.
Hingga Sekar memberanikan diri meminta bantuan dari rumah sakit untuk membantunya kabur dari rumah sakit, meski kondisinya belum pulih. Ia pun sudah janjian dengan Galih, akan melarikan diri bersamanya dari kediaman Joko. Dan pihak rumah sakit bersedia membantunya setelah Sekar menjelaskan semuanya.
Pihak rumah sakit menawarkan bantuan polisi, tapi di tolak oleh Sekar. Karena ia tahu, Joko memiliki koneksi orang kepercayaan yang bekerja di kantor polisi.
Semua tak berjalan semulus yang Sekar harapkan. Ia dan Galih, ketahuan oleh pengawal Joko. Mereka berlari dari kejaran pengawal Joko.
"Lepas!"
Galih dan Sekar memberontak sekuat tenaga karena berhasil tertangkap. Dan dengan amarahnya, dua pengawal Joko menghajar Galih hingga babak belur karena berani melarikan diri bersama Sekar. Sekar pun mendapatkan sebuah pukulan yang tak begitu keras di wajahnya sebagai teguran karena berani melarikan diri.
Tubuh lemah Sekar tersungkur keras ke lantai trotoar. Kejadian yang terjadi di pinggir jalan yang cukup padat itu, menyita perhatian puluhan pasang mata.
"Hey! What are you doing? She's a woman. You can't treat her like that." Bentak seorang bule laki-laki yang baru saja keluar dari restoran, yang pelatarannya menjadi tempat Sekar dan Galih di hajar oleh pengawal Joko.
Puluhan pasang mata yang sedari tadi tak berani menolong Galih dan Sekar, segera menoleh pada bule tampan yang berjalan mendekati Sekar untuk menolongnya.
"Anda tidak usah ikut campur!" Bentak pengawal Joko.
Dua pengawal Joko, segera menarik tubuh lemas Galih dan menarik tangan Sekar yang sudah berdiri karena dibantu oleh bule tadi. Tubuh Sekar tersentak keras karena sangat lemah.
Tapi, bule itu ternyata tidak melepaskan tangannya dari Sekar. Hingga membuat Sekar tidak terjatuh. Dan ia pun segera menoleh ke arah bule itu kembali.
Tiba-tiba, seorang bule laki-laki lain maju menghadang pengawal Joko yang ingin membawa Sekar.
__ADS_1
"Ini menjadi urusan kami, karena Anda bersikap tidak baik pada wanita ini." Ucap bule itu dengan sedikit kurang jelas.
"Jangan halangi kami, atau kalian akan tahu akibatnya!" Bentak pengawal Joko lagi.
"Kalian salah memilih lawan!" Ejek bule itu santai.
"Tak usah sombong kau Bule!" Tantang pengawal Joko.
"Beat them!" Pinta bule itu singkat.
Pengawal Joko yang juga paham Bahasa Inggris, mengerutkan keningnya. Hingga empat orang laki-laki dengan perawakan tegap yang semuanya adalah orang Indonesia yang sedari tadi juga di sana, mulai menghampiri mereka. Mereka segera menghajar anak buah Joko dalam waktu singkat.
Sorak-sorai dan tepuk tangan puluhan pasang mata yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu, menjadi akhir dari perkelahian yang dimenangkan telak oleh empat orang yang ternyata adalah pengawal bule yang menolong Sekar tadi. Para pengawal Joko memilih kabur sebelum mereka tak bisa melarikan diri.
"Are you okay Madam?" Tanya bule itu.
Sekar hanya mengangguk.
"Rendi!"
Sekar segera menghampiri tubuh Rendi yang terkulai lemah dengan beberapa luka lebam dan robek kulitnya karena dihajar oleh pengawal Joko. Sekar yang masih lemah pun, tiba-tiba pingsan begitu saja.
Dua bule itu langsung membawa Sekar dan Rendi ke rumah sakit. Mereka bahkan menunggu hingga Sekar dan Rendi selesai mendapat pertolongan.
"Thank you." Ucap Rendi lirih setelah ia selesai mendapat pertolongan medis.
"You're welcome. Who is your name?" Tanya bule kedua.
"Galih. Oh bukan, Rendi."
"Dan wanita itu?"
"Dia Sekar, teman saya."
"Dia bukan your wife?"
"Bukan. Dan siapa Tuan ini?"
"My name is Joe. And he's Mr. Wiliam Robert, my boss." Jelas bule itu.
Joe menanyakan banyak hal pada Rendi. Ia pun menceritakan apa yang ia ingat saja. Ia juga menceritakan sedikit yang ia ketahui tentang Sekar.
Saat Sekar siuman, ia sudah berada di ruang rawat inap kembali, tapi di rumah sakit yang berbeda. Dan kini, ada seorang laki-laki yang menemaninya.
Wiliam menanyakan beberapa hal pada Sekar. Sekar pun menjawabnya perlahan.
"Come with me to America! You will be safe there." Ajak Wiliam tanpa ragu.
Sekar yang terlalu lelah, ia menerima ajakan Wiliam begitu saja. Ia dan Rendi lantas dibawa oleh Wiliam ke Amerika setelah kondisi mereka pulih. Sekar sejenak melupakan Naina.
Dan Joko, ia marah besar karena harus kehilangan Sekar. Ia bahkan melampiaskan amarahnya pada semua pengawalnya. Tapi, ia memegang janjinya pada Sekar. Ia tidak akan mengganggu kehidupan Lea, Hera dan Naina karena Sekar sudah mau ikut bersamanya kemarin. Meski kini, ia harus kehilangan Sekar dari sisinya.
Flashback Off
"Tuan Wiliam orang yang baik." Puji Naina.
"Iya. Dia sangat baik pada Ibu dan Rendi." Aku Sekar.
"Lalu, bagaimana kabar Pak Rendi sekarang?"
"Karena itulah Ibu memantaumu sebulan terakhir."
"Maksud Ibu?"
"Rendi sudah mendapatkan ingatannya secara sempurna saat ini."
"Syukurlah. Lalu, kenapa Ibu memantau Naina sejak sebulan? Kenapa Ibu tak menemuiku selama ini?"
"Ibu tak ingin membuat Joko menghampirimu. Dan untuk sebulan ini, karena pengakuan Rendi."
"Pengakuan Pak Rendi?"
__ADS_1
"Ada apa Bu?"
"Rendi bilang, Delvin bukan ayah Zia." Ucap Sekar yakin.