Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Fitting Baju


__ADS_3

Hari terus berganti tiada henti. Memberikan kebaikan demi kebaikan yang berbeda-beda setiap harinya. Memberikan kenangan demi kenangan yang akan terekam oleh memori setiap pemiliknya.


Naina dan Dean disibukkan dengan kesibukan mereka masing-masing. Pekerjaan demi pekerjaan mereka selesaikan setiap harinya tanpa terasa.


Bahkan, mereka harus melakukan fitting baju pernikahan mereka di sela-sela kesibukan mereka dalam mengurusi perusahaan mereka masing-masing. Dan jangan lupakan gadis kecil mereka yang ikut meramaikan suasana fitting baju pernikahan.


"You're so beautiful Mom." Puji Rissa untuk yang ketiga kalinya setelah Naina mencoba gaun pengantinnya.


"Ganti!" Pinta Dean lagi.


"Itu sangat pas untuk Mommy Dad. Kenapa harus diganti?" Protes Rissa.


"Daddy bilang ganti ya harus ganti Sayang. Itu terlalu terbuka untuk Mommy." Jujur Dean.


Rissa segera menoleh pada Naina yang makin kesal karena harus kembali berganti baju yang kesekian kalinya karena tidak sesuai dengan keinginan Dean.


Sebenarnya, gaun yang sudah Naina coba sedari tadi sangatlah pas di badan Naina. Mengingat, Naina memliki tubuh yang sangat proporsional. Ia bisa sangat pas mengenakan baju dengan model apapun dengan warna kulitnya yang putih.


Tapi Dean menolaknya. Dengan alasan, gaunnya terlalu terbuka untuk Naina.


"Apakah tidak ada gaun yang menutup bahu dan lengannya? Semua gaunmu, mengekspos bagian atas tubuh calon istriku." Protes Dean pada desainer yang menemaninya sejak tadi.


Naina akhirnya tersenyum kecil mendengar ucapan Dean.


"Oh, jadi itu keinginan Anda." Sahut desainer laki-laki yang bertingkah sedikit gemulai itu.


"Jika tidak ada, aku akan pindah butik." Jawab Dean singkat.


"Dewi! Antar Nona Naina berganti gaun kembali! Dan bawakan untuknya gaun terbaruku!" Pinta desainer itu lagi.


Naina pun kembali masuk untuk berganti gaun. Setelah beberapa saat, ia kembali keluar dengan gaun baru yang tadi disiapkan oleh asisten desainer yang menemaninya.


Dean menatap Naina tanpa berkedip.


"Perfect." Ucap Dean cepat.


"Tapi Dad, bagus yang gaun ketiga tadi." Protes Rissa lagi.


"No Baby! Mommy lebih cocok dengan gaun ini." Jawab Dean sambil mencolek hidung mancung Rissa.


"Tapi Dad,,"


"Nggak ada tapi Sayang! Mommy akan mengenakan gaun itu saat acara besok." Jawab Dean sedikit tegas.


Rissa sedikit kecewa dengan keputusan Dean. Tapi ia tak bisa mendebat ayahnya itu dengan mudah.


Semua orang di ruangan itu tersenyum lega. Mereka akhirnya bisa memenuhi permintaan Dean yang sedikit berbeda dari para calon pengantin yang pernah datang ke butik itu.


"Dan jangan lupa, kebaya yang aku pilih tadi." Imbuh Dean datar.


"Tentu Tuan Tampan." Jawab desainer itu manja.


"Don't forget about me Dad!" Rengek Rissa setelah Naina kembali masuk untuk berganti pakaian.


"Tentu Daddy tak akan melupakanmu Sayang." Jawab Dean ramah dengan senyum tampannya.


Rissa pun tersenyum bahagia. Ia segera beranjak dari kursinya dan bersiap untuk melakukan fitting bajunya.


"Tunjukkan gaunmu untuk putriku!" Pinta Dean datar.

__ADS_1


"Tentu Tuan."


Rissa lantas diajak masuk untuk memilih gaun dan mencobanya setelah Naina selesai. Kini, giliran putri kecil itu yang melakukan fitting baju.


Gaun pertama.


"No Baby! Itu kurang pas dengan kaki jenjangmu." Protes Dean.


Gaun kedua.


"Itu terlalu terbuka Sayang bagian atasnya. Kamu nanti bisa masuk angin jika terlalu lama mengenakan itu." Protes Naina.


Gaun ketiga.


"Sempurna." Ucap Dean dan Naina bersamaan yang kemudian saling pandang dan tersenyum.


"Oke Dad. Aku mau yang ini juga." Sahut Rissa bahagia.


Dean pun menganggukkan kepalanya. Dan kini, giliran sang pangeran tampan yang akan mencoba koleksi setelan jas dan tuxedo milik desainer bernama Raffi Kurniawan itu.


"Berikan Tuan Dean tuxedoku bulan lalu! Itu sangat cocok untuknya." Pinta Raffi pada salah seorang asistennya.


Dean pun mengikuti para asisten desainer yang menuntunnya menuju ruang ganti. Tak berapa lama, Dean pun keluar dengan setelan tuxedo berwarna putih yang nampak begitu pas di badannya.


"Kenapa Sayang? Apa ini tidak bagus?" Tanya Dean cepat saat tak mendapati respon apapun dari Naina.


"You're so handsome Dad. Pantas saja banyak orang yang mengatakan aku cantik. Aku terlahir dari ayah yang sangat tampan dan ibu yang sangat cantik." Ucap Rissa sambil terus menatap penampilan ayahnya yang nyaris paripurna saat ini.


"Apa kamu baru sadar kalau Daddy tampan?" Sombong Dean.


Rissa hanya cekikikan mendengar ucapan Dean.


"Bagaimana Mom? Bukankah itu pas untuk Daddy?" Tanya Rissa sambil sedikit menarik-narik tangan Naina yang termenung melihat penampilan Dean.


Dean tersenyum kecil melihat ekspresi Naina.


"Apa kamu tak malu menatapku seperti itu Sayang?" Goda Dean santai.


Naina sedari tadi tak berkedip menatap calon suaminya itu. Penampilan Dean begitu menakjubkan dengan setelan tuxedo pilihan Raffi. Ia terlihat lebih gagah dan berwibawa saat ini.


"Eh?"


Naina sedikit gelagapan. Ia segera menundukkan pandangannya demi menutupi rasa malunya karena tertangkap basah terpesona dengan penampilan Dean.


Semua di ruangan itu tertawa kecil melihat Naina. Dean pun segera kembali mengganti bajunya.


"Pilihlah sepatumu!" Ucap Dean setelah kembali dari berganti baju.


"Dewi, bawakan koleksi high heels kita kemari!" Pinta Raffi cepat.


Tiga orang asisten Raffi segera membawakan dua rak penuh sepatu high heels dewasa yang begitu menggoda mata. Dan satu rak penuh sepatu untuk anak-anak.


Naina dan Rissa pun segera sibuk memilih. Mereka sesekali saling bertukar pendapat. Hingga setelah sibuk memilih, mereka akhirnya menemukan sepatu pilihan mereka masing-masing.


"Daddy tidak memilih sepatu?" Tanya Rissa polos.


"Untuk daddymu sudah siap Cantik." Sahut Raffi sambil mentowel pipi Rissa.


Rissa bergidik geli setelah pipinya ditowel oleh Raffi. Semua yang ada di ruangan itu lantas tertawa melihat tingkah Rissa. Kecuali Naina.

__ADS_1


Dan bukannya Raffi meminta maaf pada Rissa, ia malah mencubit gemas kedua pipi Rissa.


"No Uncle! Daddy, help me please!" Teriak Rissa panik sambil menhentak-hentakkan kakinya.


Dan makin keraslah para orang dewasa itu menertawai Rissa. Rissa segera berlari ke pelukan Dean setelah Raffi melepaskannya. Ia melirik tajam ke arah Raffi dengan mata yang sedikit merah karena hampir menangis. Dean pun mengusap lembut kepala Rissa.


Karena tak mendapatkan sesuatu yang ia harapkan dari sang ayah, Rissa berpindah pada Naina yang segera menangkapnya.


"Mommy!" Rissa berpindah ke pelukan Naina.


Naina segera memeluknya erat Rissa. Karena ia tahu, jika tidak dipeluk, putrinya akan segera menangis.


"Tak apa Sayang, ada Mommy di sini! Om Raffi hanya gemas padamu." Jelas Naina.


Rissa mulai sesenggukan.


"Tenanglah Sayang!" Ucap Naina lembut.


Itulah Rissa. Dibalik sikap kerasnya, dibalik otak cerdasnya, hatinya masih begitu cengeng dan lembut. Ia tak suka bagian tubuhnya disentuh oleh orang asing tanpa izinnya. Meski hanya sekedar memegang tangan atau pipinya saja.


Dean sedikit panik karena Rissa mulai sesenggukan. Raffi pun ikut panik karena itu.


"Kamu kenapa Sayang?" Tanya Dean cepat.


"Dia memang seperti ini. Dia tak suka jika disentuh sembarangan oleh orang asing." Jawab Naina.


"OMG! Maafkan Om, Cantik! Om tidak bermaksud jahat padamu Sayang." Ucap Raffi cepat sambil mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Rissa.


"Astaga! Aku tak tahu tentang itu." Gumam Dean bersalah.


Naina tersenyum pada Raffi. Sedang Rissa, masih memeluk erat tubuh ibunya yang selalu memahaminya. Menyembunyikan wajahnya dibalik leher sang ibu. Dean pun segera mendekati mereka.


"Maaf Sayang." Ucap Dean sambil mengusap wajah Rissa yang sedikit basah.


Butuh beberapa saat bagi Rissa untuk tenang. Ia lalu melepaskan pelukannya pada Naina.


"Maafkan Om Raffi ya Cantik!" Ucap Raffi lagi setelah Rissa lepas dari pelukan Naina.


Rissa hanya mengangguk.


"Anda beruntung Pak Raffi, Rissa tidak menghajar Anda tadi." Ucap Naina santai.


"Maksudmu?"


"Putriku biasanya akan segera bereaksi lebih keras daripada ini. Dia mungkin bisa membuatmu menyesal melakukan hal sederhana tadi." Jelas Naina singkat.


Raffi mengerutkan keningnya.


"Dia baru saja memenangkan kejuaraan karate beberapa waktu yang lalu." Imbuh Dean.


Raffi menutupi mulutnya dengan keempat jarinya. Ia bergidik ngeri mendengar penuturan Dean dan Naina.


"Ah ya, aku ingat! Kamu Clarisaa yang beberapa tahun lalu main film itu bukan? Aku juga dengar, kamu memang jago bela diri sejak kecil." Celetuk Raffi lagi.


"Om mau mencobanya?" Tantang Rissa.


"Tidak Sayang. Om pasti kalah berhadapan denganmu." Ucap Raffi seraya berjalan mundur menjauhi Rissa sambil tersenyum kaku.


Dean dan Naina hanya tersenyum melihat putrinya sudah kembali.

__ADS_1


Butuh waktu untuk mengenal dan memahami seseorang. Meskipun dia adalah putri kita sendiri. Apalagi, jika kita lama terpisah darinya yang harusnya sangat kita pahami.


Dan itulah PR untuk Dean dan keluarga kecilnya. Mereka pasti butuh waktu untuk bisa saling memahami satu sama lain, meskipun mereka telah memiliki ikatan hati yang menyatukan mereka. Semua akan ada waktunya.


__ADS_2