
Waktu terus berjalan. Merangkai cerita bersama kenangan yang mungkin tercipta. Membingkai rasa yang selalu tersimpan dalam dada. Hingga selalu ada asa dalam setiap langkah yang tercipta.
Hari demi hari terus berlalu. Setelah pulang dari pantai hari itu, Naina dan Dean benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka kehilangan asisten mereka sementara waktu.
Dan itu berhasil membuat mereka tak pernah saling berkomunikasi atau bahkan bertatap muka untuk saling melepas rindu. Dean berusaha menghubungi Naina setelah ia pulang ke rumah, tapi tak pernah ada respon dari Naina. Meski Naina sudah menjawab pertanyaan Dean saat di pantai, tapi Dean masih tetap menanti Naina dengan sepenuh hati. Nama Naina tetap terukir dalam di hatinya.
Naina memang berusaha lebih keras untuk menjauh dari Dean. Meski itu sulit, tapi ia tetap berusaha. Salah satunya, dengan menyibukkan diri dengan segala aktivitasnya dan tak merespon semua pesan atau panggilan dari Dean.
Dan hari ini, tak terasa, sudah hampir dua minggu sejak pernikahan Sinta dan Niko. Pekerjaan Naina hampir tak pernah habis jika ia kerjakan sendiri. Ia harus lembur setiap hari, hanya demi menyelesaikan pekerjaannya.
Apalagi, Rissa pun mulai mendapat undangan dari beberapa stasiun tv swasta untuk acara talk show yang membahas tentang filmnya. Dan itu, juga menambah kesibukan Naina dalam melewati jadwal hariannya.
"Rissa! Nanti ke stasiun tv sama Mbak Atun lagi ya! Mommy harus mengecek laporan kafe yang sejak kemarin belum sempat Mommy cek." Pinta Naina saat ia mengambilkan sarapan untuk Rissa sebelum ke sekolah.
"Oke Mom!" Jawab Rissa patuh.
Saat Naina hendak mengambil sarapannya, ponselnya berdering. Ia pun segera menjawabnya dengan pergi ke halaman belakang rumah. Lagi-lagi, karena pekerjaan yang sempat tertunda, hingga ia harus melewatkan sarapan paginya hari ini, seperti beberapa hari terakhir.
Cukup lama Naina menerima telepon, hingga ternyata, Rissa sudah selesai dengan sarapannya.
"Ayo berangkat Sayang!" Ajak Naina setelah melirik arlojinya.
"Mommy nggak sarapan?" Tanya Rissa perhatian.
"Nanti saja Sayang! Nanti Mommy sarapan di kantor, atau kamu mau terlambat sekolah?"
"No Mom!"
Naina hanya tersenyum. Ia bahagia, putrinya bersemangat untuk sekolah.
"Mbak Atun nanti tolong jemput Rissa ke sekolah seperti kemarin ya! Juga nanti jam lima, jangan lupa antar Rissa ke stasiun tv! Pulangnya, nanti saya jemput." Pinta Naina cepat.
"Baik Bu'!" Jawab Atun paham.
Sudah dua kali Atun menemani Rissa ke stasiun tv menggantikan Naina. Naina sudah menyiapkan semua keperluan Rissa. Hanya saja, ia tak bisa menemani Rissa ke stasiun tv karena pekerjaannya yang menumpuk. Jadi, ia meminta Atun menemani Rissa selama Rissa di stasiun tv.
Selama Sinta cuti bekerja, Atun yang selalu menjemput Rissa ke sekolah dengan taksi online. Dan saat ia menemani Rissa ke stasiun tv, juga dengan taksi online.
Naina lantas mengambil tasnya dan mengantar Rissa ke sekolah. Ia pun juga langsung berkendara menuju kantornya. Banyak pekerjaan yang menunggunya hari ini.
Naina harus mengunjungi semua kafenya hari ini. Karena kemarin ia belum sempat mengunjunginya, untuk mengecek keadaan dan laporan mingguan kafenya.
Pukul tujuh malam, Naina harus ke Zee Cafe untuk kunjungan terkahirnya hari ini. Tubuhnya sudah lemas karena kelelahan. Belum lagi, maag akut yang mulai kembali menyapanya karena selalu melewatkan waktu makannya karena dilanda kesibukan. Ia harus menyetir sambil menahan perutnya yang mulai sakit sejak beberapa hari lalu.
Saat sampai di depan Zee Cafe, suasana begitu ramai. Banyak orang berkerumun di depan kafe.
"Ada apa itu?"
Naina segera melangkahkan kakinya yang masih mengenakan sepatu high heels berwarna cream, yang senada dengan A-line dress dibawah lutut yang ia kenakan.
"Permisi!" Naina berusaha masuk ke kafenya dengan menerobos kerumunan.
Dan betapa terkejutnya Naina, saat mendapati seorang wanita paruh baya yang sedang diapit oleh empat orang laki-laki berperawakan tegap seperti penagih hutang. Wanita itu, bahkan ditodong dengan senjata tajam. Naina lantas mengerutkan keningnya dalam.
"Mama?" Gumam Naina terkejut.
"Bukan! Itu bukan Mama Lita. Tapi wajahnyaa,,"
"Tante Jenita, mamanya Delvin? Apa itu dia?" Gumam Naina.
Naina menyadari perbedaan penampilan wanita itu dengan Lita tapi dengan wajah yang sangat mirip. Jadi ia pun teringat dengan kembaran Jelita, yang tak lain adalah ibu Delvin, Jenita Dewangga.
"Ada apa ini?" Bentak Naina tegas tanpa rasa takut pada ke empat laki-laki itu sambil berjalan santai menuju meja kasir.
Empat orang laki-laki dan wanita yang ditahannya, serta para karyawan Naina, lantas menoleh pada Naina yang berjalan santai.
"Anda tak perlu ikut campur. Kami hanya memiliki urusan dengan wanita ini." Jawab seorang laki-laki sambil menunjuk ke arah Jenita.
"Anda semua menakuti pengunjung kafe. Jelas ini menjadi urusan saya." Jawab Naina tegas.
"Anda lebih baik tidak ikut campur Nona! Atau Anda akan menyesal nanti." Ancam laki-laki lain.
"Anda semua membuat keributan di kafe saya. Dan jelas membuat kafe saya merugi cukup banyak malam ini. Anda semua harus bertanggung jawab untuk itu!" Bentak Naina lagi.
"Kami tidak peduli!" Jawab laki-laki tadi.
"Ayo!" Ajak laki-laki lain sambil mengibaskan tangannya.
__ADS_1
"Berhenti! Anda semua, harus mengganti kerugian kafe saya malam ini sebelum pergi!" Cegah Naina sambil meletakkan tasnya.
"Sudahlah Nona, Anda tak usah ikut campur!"
Naina mendengus kesal sambil menahan perutnya yang sudah mulai sangat tak bersahabat.
"Apa Fandi ada?" Tanya Naina seraya menoleh ke arah para karyawannya yang berada di dekat meja kasir.
"Saya disini Bu'." Jawab seorang laki-laki yang berusia tak jauh dari Naina dengan pakaian kokinya.
Laki-laki yang bekerja menjadi koki utama di kafe Naina itu, lantas berjalan mendekati Naina.
"Kamu ini gimana? Kafe dibuat kayak gini, kenapa diem aja?" Kesal Naina.
"Maksud Ibu?" Jawab Fandi bingung.
"Kamu bisa beladiri kan? Kenapa nggak lawan mereka?"
"Mereka berempat Bu', saya sendirian."
Naina melengos mendengar jawaban Fandi.
"Sebelum kalian pergi, kalian harus ganti kerugian saya malam ini. Atau kalian semua yang akan menyesal!" Ancam Naina tanpa ragu.
Empat orang laki-laki itu tertawa keras. Sedang para karyawan Naina kebingungan mendengar ucapan Naina.
"Tak usah sombong Nona! Anak buahmu saja, wajahnya sudah ketakutan. Bagaimana mungkin dia seorang diri bisa mengalahkan kami berempat?" Ucap seorang laki-laki dengan sombongnya.
"Tapi sayangnya, kami berdua. Dan sepertinya, kamilah yang akan menang nantinya." Jawab Naina tanpa rasa takut.
Fandi menoleh pada Naina.
"Saya sama siapa Bu'?" Tanya Fandi panik tapi sedikit berbisik.
"Sama saya. Siapa lagi?" Kesal Naina.
"Ibu bisa bela diri?"
Naina mendengus kesal.
"Oh, iya Bu'!" Jawab Fandi sekenanya. Ia masih bingung dengan atasannya itu. Tapi ia segera pergi ke dapur untuk mencari senjata.
Tak lama, Fandi keluar dengan dua buah pisau berukuran sedang yang biasa ia gunakan untuk memotong bahan.
"Kenapa senjata tajam? Kalau mereka terluka, kamu mau disidang dan kena pasal terus dipenjara?" Ketus Naina.
"Kan mereka juga pakai senjata tajam Bu'." Kilah Fandi.
"Biarin. Mereka berarti amatir, beraninya pakai senjata tajam. Ganti senjata yang tumpul!" Pinta Naina lagi.
Fandi yang kebingungan, kembali ke dapur untuk mengambil apapun yang mungkin ia bisa gunakan sebagai senjata. Tak lupa, ia membawakan juga untuk Naina.
"Sialan! Memang sehebat apa Anda mengatakan kami amatir?" Geram salah seorang laki-laki mendengar sindiran Naina.
Naina hanya diam tak menjawab. Ia memilih melepaskan sepatunya dengan santai tanpa menghiraukan ucapan laki-laki tadi.
"Ini Bu'!" Ucap Fandi sambil membawa dua buah teflon berukuran sedang di kedua tangannya.
Naina memasang wajah jengahnya.
"Kamu pakai saja! Aku pakai yang lain." Ucap Naina seraya mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia lantas mengambil dua buah sendok yang ditinggalkan oleh pelanggannya sembarangan di atas salah satu meja.
"Hah! Sombong sekali wanita itu!" Ucap salah satu laki-laki kesal.
"Karena saya wanita, boleh dong saya yang mulai lebih dulu?" Ucap Naina santai setelah selesai melepas sepatunya dan memindahkannya di dekat meja kasir.
"Baiklah! Kita lihat, sehebat apa Anda!"
Naina segera mengambil ancang-ancang untuk melempar dua sendok ditangannya. Dan,,
Plethak.
Dua sendok dari tangan Naina berhasil mendarat tepat di kening dua laki-laki yang berdiri paling depan. Mereka sedikit meringis kesakitan. Para karyawan Naina terkejut melihat itu.
"Sialan!" Umpat dua laki-laki.
Tiga laki-laki lantas bersiap menyerang Naina, sedang satu laki-laki, menjaga Jenita yang mungkin bisa kabur begitu saja. Mereka maju bersamaan.
__ADS_1
Seketika, meja dan kursi kafe berhamburan tak tentu arah. Piring dan gelas di atas meja pun berjatuhan menjadi kepingan-kepingan tak beraturan. Naina harus ekstra hati-hati melangkahkan kakinya karena itu.
Dan perkelahian pun tak dapat dihindarkan. Naina mengeluarkan semua sisa tenaganya demi menolong Jenita. Meski ia tak tahu, ada masalah apa antara Jenita dan keempat laki-laki itu. Tapi, ia tak tega jika Jenita harus berurusan dengan keempat laki-laki itu sendirian.
Naina dan Fandi berhasil mengalahkan ketiga laki-laki itu bersama-sama. Mereka benar-benar tak menyangka, wanita berpenampilan anggun yang menantang mereka, sangat hebat dalam hal bela diri. Bahkan, semua karyawan Naina pun tercengang melihat kemampuan Naina.
"Kalau kalian macam-macam, wanita ini akan mati!" Ancam laki-laki yang menjaga Jenita sejak tadi sembari mendekatkan ujung pisau yang dibawanya sejak tadi ke leher Jenita.
"Oke, kalau itu maumu." Jawab Naina terengah-engah sambil berpegangan pada salah satu meja.
"Ayo jalan!" Ucap laki-laki itu, memaksa Jenita melangkahkan kakinya.
"Tunggu!" Cegah Naina lagi.
"Biarkan aku bicara dengan ibu ini!" Pinta Naina sambil menegakkan tubuhnya.
"Cepat!"
"Tante! Dalam hitungan tiga ya?" Ucap Naina sekenanya.
"Maksudnya?" Jawab Jenita bingung.
"Apa saja Tante. Menunduk atau gigit tangannya atau apapun terserah Tante. Oke? Tapi jangan lari!" Ucap Naina berusaha menjelaskan sekenanya.
Jenita mencoba mencerna kalimat Naina. Ia pun mengangguk paham. Sedang sang laki-laki, semakin mendekatkan ujung pisaunya karena merasa terpojok.
"Jangan macam-macam kau!" Gertak laki-laki itu.
"Siap Tante?" Ucap Naina tak menghiraukan si laki-laki.
Jenita mengangguk.
"Tiga!" Teriak Naina keras tanpa awalan apapun.
Jenita segera menjauhkan lehernya dari ujung pisau. Sedang Naina, segera meraih teflon yang ada di tangan Fandi yang berdiri tepat disampingnya. Dan,,
Klothak.
Teflon itu melayang mengenai kepala sang laki-laki, dan reflek melepaskan Jenita. Jenita segera berlari ke arah Naina. Fandi pun dengan cepat menghajar laki-laki itu.
"Anda tidak apa-apa Tante?" Tanya Naina cemas.
"Iya, saya tidak apa-apa." Jujur Jenita.
"Duduk dulu Tante."
"Terima kasih."
Naina membantu Jenita duduk di salah satu kursi.
"Dinda! Ambilkan minum untuk ibu ini!" Pinta Naina cepat.
Seorang karyawan segera berlari ke dapur untuk mengambilkan minum.
"Anda Tante Jenita Dewangga bukan? Saudara kembar Mama Jelita?" Tanya Naina tanpa ragu setelah Jenita meminum minumannya.
"Apa?" Ucap Jenita terkejut. Ia memandangi Naina penuh tanda tanya.
Di sisi lain, Dean juga sedang mengecek laporan restorannya malam ini. Pintu ruangan kantornya diketuk seseorang.
"Maaf Pak, ada keributan di kafe sebelah." Ucap pengawal Dean yang mengetuk pintu.
"Keributan apa?" Jawab Dean datar.
"Ada seorang wanita yang disandera oleh empat orang pria. Jika tidak salah, beliau Nyonya Jenita. Dan ada seorang wanita yang berani menolongnya. Sepertinya, dia pemilik kafe." Jelas pengawal.
"Naina?"
Dean segera berdiri dan berlari keluar kantor. Ia pun segera keluar dari resto untuk melihat keadaan di Zee Cafe.
Saat ia sampai depan resto, keadaan Zee Cafe masih sangat ramai. Banyak orang berkerumun di depan kafe. Dean segera menerobos kerumunan itu dibantu oleh pengawalnya yang tadi mengikutinya keluar resto.
Saat Dean berhasil menerobos kerumunan, ia bisa melihat Naina sedang berbincang dengan seorang wanita yang tak asing baginya. Ia juga melihat, keadaan kafe Naina yang begitu kacau. Bahkan, keempat laki-laki yang nampak seperti preman amatir itu pun, semua tergeletak sembari menahan sakit.
Tapi, salah satu dari keempat laki-laki itu masih bisa bangun. Ia segera mengambil pisau yang tadi sempat mereka todongkan pada Jenita yang kebetulan jatuh tak jauh darinya. Ia pun bersiap melemparkannya pada Naina. Dan para karyawan Naina melihat itu.
"Bu Naina, awas!"
__ADS_1