
Pagi yang cerah di akhir pekan. Mentari bersinar dengan gagahnya dari arah timur. Menyinari dan menghangatkan setiap hati yang sempat merasa dingin karena malam yang telah terlewati.
Pagi ini, tepat dua minggu sebelum acara pernikahan Naina dan Dean, Naina dan Rissa sudah cukup sibuk. Mereka sedang bersiap pergi ke bandara bersama. Mereka pun sudah memiliki janji temu di bandara dengan beberapa orang. Sekar, Jonathan, Jelita dan Dean tentunya. Mereka akan terbang ke kota kelahiran Naina, Jogja.
Naina awalnya hanya mengajak Rissa dan Dean untuk pergi ke Jogja. Ia ingin mengunjungi pusara kedua orang tuanya sebelum melangsungkan pernikahannya tak lama lagi. Tapi ternyata, Sekar dan kedua orang tua Dean, malah ingin ikut pergi bersama ke Jogja. Dan itu terjadi pagi ini. Naina juga berniat mengabari keluarga dari mendiang ayah dan ibunya tentang pernikahannya esok.
"Ayo Mom, cepat! Nanti kita ketinggalan pesawat." Rengek Rissa tak sabar.
"Iya Sayang. Ini Mommy juga sudah siap." Sahut Naina seraya menarik koper kecil miliknya yang berisi beberapa baju gantinya dan Rissa.
Naina dan Rissa pun segera berangkat dengan mobilnya. Mobil Naina baru saja selesai diperbaiki kemarin. Jadi hari ini, ia sudah bisa pergi kemana-mana tanpa harus mencari taksi atau meminta Sinta untuk menjemputnya.
Mereka membelah jalanan ibukota dengan perasaan bahagia. Senyum nan merekah indah, menghiasi wajah cantik sepasang ibu dan anak itu.
Saat sampai di bandara, mereka sudah di tunggu oleh empat orang lainnya. Rissa pun segera menghambur ke pelukan ayahnya yang sudah merentangkan tangannya dengan sangat lebar.
"Akhirnya, putri Daddy sampai juga." Ucap Dean lega.
Rissa tersenyum bahagia. Ah, hati keenam orang itu sangat bahagia hari ini.
Setelah menunggu jadwal keberangkatan dan pesawat mengudara selama hampir satu jam, rombongan kecil itu sampai di kota penuh dengan kenangan masing-masing. Mereka segera menuju hotel yang telah Dean pesan untuk menginap malam ini.
Selepas makan siang, mereka mengunjungi keluarga Naina terlebih dahulu. Mereka berkumpul di rumah almarhum paman Naina. Naina sudah mengabari sebelumnya, bahwa ia akan pulang hari ini bersama beberapa orang. Jadi mereka pun disambut dengan hangat.
Naina bersama yang lain segera mengutarakan niat hati mereka datang kemari. Dan mengabarkan tentang pernikahan Naina yang akan dilangsungkan dua minggu lagi.
Semua memaklumi keputusan Naina yang memilih memutuskan setiap jalan hidupnya sendiri. Karena memang seperti itulah selama ini.
Semua saudara dari kedua orang tua Naina, tak begitu dekat dengan keluarga Naina sejak dulu. Bukan karena tak mau, tapi karena memang kedua orang tua Naina berbeda dengan saudara-saudaranya dalam banyak hal. Terutama agama.
Kedua orang tua Naina cukup taat agama dan tak mempermasalahkan tentang apa-apa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya. Mereka hanya sesekali mengingatkan dan menegurnya sebagai saudara. Tapi itulah yang terkadang disalah artikan oleh para saudaranya. Hingga hubungan mereka sedikit merenggang.
Dan semenjak kepergian kedua orangtua Naina, Naina benar-benar hidup dengan neneknya saja. Dan setelah ia bertemu dengan Sekar, ia sedikit memiliki harapan dan keluarga baru dalam hidupnya. Yang bisa ia jadikan tempat mencurahkan rasa hati dan berbagi banyak hal. Hingga ia pun lebih dekat dan makin dekat dengan Sekar.
Jonathan, Jelita dan Dean, sedikit terkejut mengenai respon dari keluarga Naina. Mereka tak mengira, keluarga Naina tak begitu hangat pada Naina selama ini.
Saat sore tiba, Naina dan yang lainnya berpamitan. Tak lupa, mereka mengunjungi pusara kedua orang tua Naina lebih dulu. Dan tak lupa, juga pusara nenek Naina.
"Bapak! Ibu! Naina pulang lagi, sama Rissa juga. Dan sekarang, ada ayahnya Rissa juga. Dean, Bu', Pak, namanya." Ucap Naina getir sambil mengusap pelan batu nisan ibunya.
Airmata Naina mulai mengalir begitu saja. Hatinya merasa pedih seketika mengingat kedua orang tuanya. Apalagi, ia akan menikah sebentar lagi. Dan tanpa kehadiran mereka esok.
"Naina akan menikah Bu', Pak, dengan ayahnya Rissa. Bapak sama Ibu' merestui kan?" Ucap Naina dengan hati yang bergetar hebat.
Tubuh Naina bergetar karena tangisan. Tak ia sangka, ia tak bisa menahan airmatanya saat meminta restu pada kedua orang tuanya yang telah tiada. Padahal, ia sudah membulatkan tekad bahwa ia bisa melakukannya tanpa airmata saat hendak berangkat kemarin.
Tapi ternyata itu tidaklah mudah. Sungguh hati kecil Naina, ingin bisa ditemani oleh kedua orang tuanya dihari yang begitu sakral esok. Meski ia tahu, itu tidaklah mungkin.
Dean dan Sekar segera mendekati Naina yang sudah terduduk lemas di atas tanah. Mereka tahu, hati Naina sedang sangat pedih saat ini.
"Tenanglah Na! Ibu tahu, Ibu tak bisa menggantikan mereka seutuhnya untukmu. Tapi, kamu tidak sendirian Na. Ada kami di sini bersamamu." Ucap Sekar setelah menarik Naina dalam pelukannya.
Naina tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya yang bersandar di dada Sekar.
Sekar sangat tahu bagaimana perasaan Naina saat ini. Karena ia pun mengalami apa yang Naina rasakan saat ia akhirnya akan menikah dengan Wiliam beberapa tahun yang lalu. Dan bahkan saat itu, hanya ada Rendi yang menemaninya di tempat yang begitu jauh dari tempat kelahirannya dan tumbuh dewasa.
__ADS_1
Mereka membiarkan Naina meluapkan perasaannya terlebih dahulu. Membiarkannya tenang kembali setelah apa yang baru saja ia rasakan dan ungkapkan.
Setiap orang memiliki ujian hidupnya masing-masing. Memiliki jalan takdir yang berbeda-beda untuk membentuk karakter dirinya masing-masing. Meski terkadang terdengar sepele, tapi nyatanya itu bisa sangat rumit dan tak mudah untuk dilalui.
...****************...
Pagi kembali menyapa. Menggantikan kegelapan malam dengan semburat warna jingga di ufuk timur. Menjadi pertanda, bahwa sang mentari siap untuk menghangatkan bumi dengan segala isinya.
Waktu yang berjalan dan terus berputar, mengantarkan seorang wanita cantik pada hari bahagianya. Ya, hari ini hari pernikahan Naina dan Dean. Sepasang calon pengantin itu sibuk dengan urusan mereka masing-masing pagi ini. Meski di hotel yang sama, mereka berada di kamar yang terpisah untuk dirias.
Acara ijab qobul akan dilakukan pukul delapan pagi. Dan resepsi pernikahan akan digelar siang harinya, mulai pukul satu. Karena Naina sudah tak memiliki wali nikah dari pihak ayah, ia akan menikah dengan wali hakim dari KUA.
Sejak selepas subuh, Naina sudah mulai dirias. Ia akan mengenakan kebaya modern berwarna putih pilihan Dean kemarin saat di butik. Sebuah kebaya modern, yang pastinya tidak mengumbar dada atas dan bahu tegap Naina.
Semua tamu undangan, sudah berkumpul di ballroom hotel yang dipesan Wiliam untuk dijadikan tempat seorang Dean Pratama Diedrich, akan mengucapkan janji sucinya pada Sang Kuasa, untuk menjadikan Naina halal baginya seorang.
Dean pun sudah siap dan duduk bersama penghulu yang akan menjadi wali nikah Naina. Sedang Naina, duduk terpisah dari Dean bersama para ibu-ibu hebat yang menyayanginya selama ini.
"SAH."
Kata itu menggema dengan indahnya disebagian ballroom. Menemani beberapa petugas dari WO mempersiapkan beberapa rangkaian acara lainnya nanti.
Tangis haru pun seketika mengalir tak terbendung dari wajah para wanita yang berada di sekitar Naina. Bahkan, netra indah Naina pun sudah berubah menjadi merah karena tak bisa menahan air matanya sejak sang penghulu mulai mengucapkan ijabnya. Dan tangis Naina makin tak terbendung. Hatinya bergetar hebat, kala Dean mengucapkan qobulnya dengan satu tarikan nafas dan begitu lancar.
Naina lalu diantarkan oleh Sekar untuk duduk disamping Dean, setelah penghulu membacakan do'a untuk mempelai.
Hati kedua mempelai itu berdetak bertalu-talu begitu keras. Memanggil dan menyeru dengan begitu tak beraturan. Hanya karena, tak bisa meluapkan segala rasa yang mereka hadapi saat ini.
Mungkin, jika saja mikrofon yang Dean gunakan tadi bisa menangkap suara detak jantung Dean dan Naina, semua orang di ruangan itu bisa merasakan bagaimana gugup dan bahagianya mereka saat ini.
Setelah semua rangkaian acara ijab qobul selesai, Naina dan Dean kembali ke ruangan mereka masing-masing kembali. Mereka akan kembali dirias dan berganti kostum, untuk menjamu tamu di acara resepsi siang nanti.
Pukul setengah satu siang. Dean dan Naina berjalan bersama putri kesayangan mereka di atas karpet merah. Wajah keluarga kecil itu dihiasi oleh senyuman indahnya masing-masing. Rissa berjalan dengan gemasnya diantara kedua orang tuanya sambil memegangi tangan mereka.
Naina nampak begitu paripurna siang ini. Dengan gaun putih pilihan Dean yang menjuntai panjang, rambut hitamnya yang disanggul indah dengan dihiasi tiara berhias permata di atasnya. Membuatnya nampak lebih cantik dari biasanya.
Sedang Dean, ah, laki-laki blasteran Indo-Jerman itu, selalu terlihat tampan dan gagah setiap saat. Dengan gen bule yang diturunkan dari ayahnya, membuatnya memiliki pesona tersendiri diantara laki-laki yang lain. Apalagi, mata biru dan lesung pipi yang terukir indah kala ia menyunggingkan senyumnya, sungguh membuat pesonanya sulit untuk ditolak oleh para wanita. Termasuk Naina.
Musik dengan lagu-lagu romantis menggema indah, mengiringi para keluarga dan sanak saudara dari kedua mempelai mulai melakukan foto bersama. Bersama putri cantik mereka pastinya.
Gadis kecil Dean dan Naina itu, tak kalah menjadi pusat perhatian diantara para tamu. Bukan hanya karena kemiripannya dengan Dean, tapi juga karena kecerdasannya dalam berbicara Bahasa Inggris saat meladeni para keluarga Dean yang datang dari Jerman.
"You are very much like your father." Ucap salah satu adik Jonathan.
"Thank you Grand Ma." Jawab Rissa bahagia.
Rissa sangat bahagia jika disebut mirip dengan ayahnya. Karena ia tahu, ia memiliki lebih banyak kemiripan dengan Dean dibanding dengan Naina.
Acara berlangsung dengan lancar. Pukul empat sore, suasana ballroom sudah mulai sepi. Para sanak saudara dan keluarga sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya tersisa keluarga Jonathan, keluarga Wiliam dan keluarga kecil baru kita.
"Oke Sayang! Rissa mau menginap di rumah Oma Sekar atau Oma Lita selama tiga hari kedepan?" Tanya Sekar yang paham perasaan Jelita yang pasti ingin bersama cucunya.
"Kenapa Rissa menginap di rumah Oma? Kan sekarang Rissa sudah ada Daddy dan Mommy." Jawab Rissa polos.
"Daddy dan Mommy ada pekerjaan sayang selama satu minggu kedepan. Mereka tidak akan pulang." Jawab Sekar perlahan.
__ADS_1
"Kan ada Mbak Atun dan Tante Lea dan Tante Hera."
"Tante Lea dan Tante Hera akan menginap di rumah Oma seminggu kedepan. Mbak Atun libur juga selama seminggu. Rissa mau di rumah sendiri?"
"Nginep di rumah Oma Lita aja ya Sayang! Nanti Rissa bisa main sama Rachel, Catherine, Bellinda dan yang lainnya. Mereka akan menginap di rumah Oma selama tiga hari." Rayu Jelita sepenuh hati.
Rissa menoleh pada Naina yang ada di sampingnya.
"Mommy mau kerja kemana? Kenapa lama?" Tanya Rissa polos.
"Maaf ya Sayang, kalau terlalu lama. Mommy hanya akan pergi selama satu minggu kedepan bersama Daddy." Jawab Naina pelan.
"Apa Rissa tidak diajak?"
"Rissa kan harus sekolah. Dan saat Rissa libur sekolah besok, Daddy akan ajak Rissa ke tempat Rachel dan Bellinda di Jerman. Okey Princess?" Rayu Dean setelah mensejajarkan tingginya dengan Rissa.
"Daddy promise?" Ucap Rissa sumringah.
"I promise you." Jawab Dean yakin.
Rissa pun mengangguk setuju. Gadis kecil itu sudah mulai akrab dengan beberapa saudara sepupunya yang datang dari Jerman. Mereka bisa cepat bergaul karena Rissa bisa dengan mudah berkomunikasi dengan mereka meski mereka berbicara Bahasa Inggris.
Rissa akhirnya setuju untuk menginap di rumah Jelita tiga hari kedepan. Dan tiga hari berikutnya, ia akan menginap di rumah Sekar. Itu rencananya.
Semua pun lantas pulang. Dan menyisakan kedua mempelai yang segera menuju ke kamar pengantin mereka yang sudah Dean pesan.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai." Ucap Naina seraya menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang dihiasi oleh ribuan kelopak bunga mawar.
"Aahh, lembut sekali tiduran di atas kelopak bunga." Gumam Naina sambil memejamkan matanya menikmati harumnya bunga yang ada di bawah tubuhnya.
"Kamu tak ingin mandi dulu Sayang?" Tanya Dean yang berjalan menghampiri Naina sambil membuka kancing kemejanya.
"Sebentar Mas! Capek dari tadi berdiri terus." Jujur Naina.
"Kalau begitu, kita tiduran saja sambil pemanasan!" Sahut Dean sambil mengungkung Naina di bawah tubuhnya.
Naina menelan salivanya dengan kepayahan sambil menatap Dean yang sudah di atasnya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali dan mencoba mencari jawaban dari ucapan suaminya itu, yang sebenarnya ia pahami maksudnya.
"Mas, Mas nggak mandi dulu?" Tanya Naina gelagapan.
"Kita mandi berdua setelah ini."
Mata Naina membola sempurna kala bibir Dean mulai mendarat di atas bibirnya. Ia yang awalnya terkejut, lama kelamaan terhanyut dan mulai membalas ciuman Dean yang begitu lembut menyapu bibirnya.
Dean memperlakukan Naina dengan begitu halus. Meski itu bukan ciuman pertama mereka, tapi terasa berbeda saat ini. Ia pun mulai turun menjelajahi leher jenjang sang istri dan mulai turun ke dadanya.
Naina mulai merasakan sesuatu bergejolak di tubuhnya, saat tangan Dean meraba dengan begitu lembut, payud*ranya yang sedikit menyembul karena ia sedang tiduran.
Bibir Dean pun kembali menyapu bibir lembut Naina. Dan Naina pun membalasnya sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Dean.
Bibir Dean kembali berkelana turun, menciumi dua buah gundukan yang belum terbuka sempurna tapi begitu menggodanya.
"Mas!" Panggil Naina tegas tiba-tiba.
"Iya Sayang." Jawab Dean sambil berusaha melepaskan hal yang menggodanya sedari tadi dari tempatnya.
__ADS_1
"Aku sepertinya datang bulan."
"Apa?"