
"Selamat pagi Bu'!" Sapa Sinta.
"Oh iya, pagi Sin." Jawab Naina datar.
Naina baru saja sampai di salah satu apartemen miliknya yang ia jadikan kantor kecil untuknya. Ia akan kesana setiap hari untuk menerima laporan langsung dari para karyawan kepercayaannya, termasuk Sinta.
Naina memulai rapat pagi seperti biasa. Ia mungkin terlihat lembut dan ramah dari luar, tapi akan sangat menyeramkan ketika berada di belakang meja kerjanya. Sikap tegas dan keras sangat dominan ketika ia menjelma menjadi Naina, sang pebisnis kecil.
Ponsel Naina berdering tatkala ia menyelesaikan rapat paginya. Nama wali kelas Rissa tertera jelas di layar ponselnya yang menyala. Ia segera menjawab panggilan itu.
"... ..."
"Iya Pak Ronald. Ada apa ya?"
"... ..."
"Baik Pak, saya kesana sekarang!"
"... ..."
"Terima kasih Pak."
Klek. Panggilan pun terputus. Naina segera merapikan isi tasnya. Ia segera berjalan keluar ruangan.
"Sinta, aku ke sekolah Rissa dulu! Tolong pesankan tempat seperti biasa di kafe!" Ucap Naina sembari berjalan melewati sang asisten yang sedang mengecek beberapa penawaran properti.
"Oh, baik Bu'! Apa ada masalah dengan Rissa?" Tanya Sinta perhatian.
"Aku juga tak tahu." Naina segera meninggalkan apartemennya dan segera menuju sekolah Rissa.
Butuh tiga puluh menit untuk sampai ke sekolah Rissa. Perasaan Naina sedikit tak tenang, karena tak biasanya wali kelas Rissa memintanya datang secara mendadak.
"Maaf Pak, saya tidak bisa mengizinkan Rissa mengikuti acara itu." Ucap Naina penuh penekanan ketika ia sudah berhadapan dengan wali kelas Rissa.
"Tapi Bu', ini bahkan produser filmnya sendiri yang memilih Rissa. Ia menyukai karakter Rissa." Jelas Sang wali kelas.
"Saya tidak peduli! Rissa anak saya, dan saya tidak akan mengizinkannya menjadi seorang public figure. Apalagi diusianya yang bahkan belum genap enam tahun." Tolak Naina kembali.
"Tapi sepertinya, Rissa begitu menginginkannya Bu Naina."
"Saya yang akan bicara sendiri padanya nanti!" Geram Naina.
"Kenapa semesta sepertinya mendukung Rissa menjadi public figure Ya Allah?" Batin Naina. Ia mencoba meredam amarahnya yang sedikit meledak karena hal yang ia dengar barusan.
Seorang produser film mencari tokoh utama cilik untuk sebuah film yang akan segera diproduksi. Ia mendatangi sekolah Rissa untuk mencari tokoh cilik itu sendiri. Dan ia tertarik pada Rissa.
Dan yang lebih membuat Naina tersulut amarahnya adalah aktor utama pria film itu. Orang yang selama ini ia hindari meski tak tahu keberadaanya. Orang yang telah membuat hidupnya kelam beberapa tahun lalu. Delvin Dewangga, itu anggapan Naina.
"Kenapa harus Rissa diantara ratusan siswa di sekolah ini?"
Naina meninggalkan sekolah dengan hati yang masih menahan amarah. Dengan mobil kesayangannya, ia menyusuri jalanan ibukota dengan hati yang sedikit kesal. Berusaha mencari makna dari takdir yang sedang menyapanya.
Zee Kafe pukul dua siang. Naina kembali menikmati waktunya ditemani secangkir caffe latte dan sepotong kue red velvet favoritnya.
"Takdir. Kenapa seolah tak berpihak padaku jika menyangkut perasaan? Mommy tak ingin kehilanganmu nak!" Gumam Naina setelah menikmati seruputan pertama caffe lattenya.
Tatapannya kosong. Menatap jalanan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor yang saling berpacu satu sama lain.
Flashback On
"Na, Ibu pergi dulu ya!" Pamit Sekar malam itu.
__ADS_1
"Ibu mau kemana?" Tanya Naina penasaran.
"Ibu ada urusan, beberapa hari. Kamu jaga Zia baik-baik ya! Minta tolong Hera sama Lea kalau kamu kesulitan!" Pesan Sekar lembut.
Naina mengangguk paham tanpa curiga atau berfikiran yang aneh-aneh. Ia menyalami Sekar sebelum pergi. Sekar pun bersikap biasa saja, tak ada yang mencurigakan darinya malam itu.
Malam itu, tepat empat bulan setelah kelahiran Rissa, Sekar pergi dari rumah dengan alasan ada urusan keluar kota beberapa hari. Tak ada yang curiga dengan kepergian Sekar.
Hingga sampai satu minggu setelah itu, Sekar belumlah kembali ke rumah. Dan tiba-tiba nomor ponselnya pun tak bisa dihubungi.
"Mbak, Ibu kenapa nggak ada kabar?" Keluh Naina ketika ia sampai di warung milik Hera dan Lea. Naina baru saja pulang dari kampus.
"Aku juga nggak tahu Na. Aku juga sudah tanya ke beberapa teman lama, tapi nggak ada yang tahu." Jawab Hera sedih.
"Kita lapor polisi Mbak?" Usul Naina setelah menggendong Rissa kecil yang terbangun dari tidurnya.
"Iya Ra, kita lapor polisi aja! Lagian Mbak Sekar kemarin pamitnya nggak begitu jelas dan cuma beberapa hari katanya. Dan sekarang sudah dua minggu. Ditambah nggak bisa duhubungi juga." Imbuh Lea.
"Yaudah, kita lapor polisi!" Sahut Hera yakin.
"Naina yang jaga warung aja Mbak, sama jaga Rissa!" Usul Naina.
"Yaudah, kita pergi dulu ya! Kamu hati-hati di warung ya! Kalau ada apa-apa langsung telepon!" Pesan Hera sebelum ia meninggalkan warung.
Naina mengangguk paham. Hera dan Lea pun segera meninggalkan warung makannya. Mereka melaporkan hilangnya Sekar ke polisi.
Memang Sekar bukan anak kecil dan masih waras, tapi hilang tanpa kabar dan tujuan yang jelas membuat tiga wanita beda usia beberapa tahun itu khawatir. Terlebih mereka ingat betul, jika kepergian Sekar begitu mendadak dan tak jelas tujuannya. Mereka takut terjadi sesuatu pada Sekar.
Satu minggu,
Satu bulan,
Hingga akhirnya, Naina menyelesaikan S1-nya satu tahun kemudian. Dan masih belum ada kabar apapun dari Sekar.
Setelah kuliahnya selesai, Naina ingin merantau ke ibukota bersama putrinya. Ia tak ingin merepotkan Hera dan Lea terlalu lama. Mereka sudah sangat membantu Naina selama ini. Naina ingin hidup mandiri, berbekal uang dari hasil penjualan rumahnya dan bayarannya di malam kelam itu.
"Sering-sering kesini ya Na! Aku pasti bakal kangen sama Zia." Ucap Lea tatkala Naina berpamitan.
"Mbak Lea dan Mbak Hera makanya nikah. Biar nanti punya Zia kecil juga." Celetuk Naina berusaha menghibur.
"Mana ada Na yang mau sama mantan pelac*r?" Sahut Hera dengan wajah datar.
"Jodoh kita nggak ada yang tahu Mbak. Lagian, itu kan udah masa lalu. Sekarang kan Mbak jadi pengusaha warung makan." Hibur Naina lagi.
"Kamu kalik Na yang nanti nikah duluan." Imbuh Lea.
"Enggak Mbak! Naina nggak akan menikah!" Tegas Naina.
"Kenapa?"
"Naina nggak mau. Naina cuma mau hidup bahagia sama Rissa aja, itu cukup buat Naina."
"Kalau nanti Rissa tanya ayahnya gimana? Atau kamu ketemu sama ayahnya Rissa gimana?" Tembak Hera.
"Nanti Naina jelasin ke Rissa pelan-pelan Mbak. Kalau memang takdir mempertemukan Naina dengannya, Naina mungkin akan bilang Rissa anaknya, tapi tidak akan menikah dengannya apapun alasannya. Rissa putriku."
Hera dan Lea tersenyum lega. Mereka kini yakin, Naina sudah menyayangi Rissa sepenuhnya. Meski dulu sempat tak menginginkan Rissa, tapi seiring waktu, Allah menumbuhkan rasa sayang itu di hati Naina. Dan kini rasa sayang itu telah mengakar kuat dihatinya. Hingga, ia tak ingin membagi Rissa pada orang lain, termasuk ayahnya.
"Kalau ada kabar tentang ibu, kabari Naina ya Mbak!"
"Iya Na, pasti." Sahut Lea seraya berpelukan dengan Naina.
__ADS_1
"Kamu jaga diri ya Na di sana!" Pesan Hera saat ia bergantian memeluk Naina dan Rissa.
"Naina pergi dulu ya Mbak! Makasih udah bantuin Naina selama ini. Mbak Lea dan Mbak Hera baik-baik ya! Jangan lupa kabarin Naina apapun itu!"
Lea dan Hera mengangguk bersama. Tangis tiga wanita itu pun pecah mengiringi keberangkatan Naina ke ibukota. Lambaian tangan pun tak lupa tercipta dari para wanita itu. Bahkan hingga mobil travel yang membawa Naina pergi menghilang dari pandangan Hera dan Lea.
Flashback Off
"Ibu' dimana sekarang? Ibu baik-baik saja kan?" Gumam Naina lirih. Tanpa terasa air mata itu jatuh membasahi pipi Naina.
Sebuah tangan tiba-tiba mengusap air mata yang membasahi pipi Naina.
"Astaghfirullah!" Naina terkejut bukan main. Tangannya mengibas cepat.
"Alhamdulillah, dia muslim."
"Kenapa nangis?" Tanya orang yang duduk dihadapan Naina yang tadi dengan berani mengusap airmata di pipi Naina. Ia sedikit tersenyum berusaha bersikap ramah pada Naina.
Siapa lagi kalau bukan Dean. Dean sudah berada di hadapan Naina sejak beberapa saat yang lalu. Naina terlalu fokus mengingat masa lalunya sembari melihat keluar kafe, hingga tak menyadari kehadiran Dean.
Dean pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia duduk manis dihadapan Naina tanpa mengganggu lamunannya sedikitpun. Dean benar-benar mengagumi Naina dari jarak sedekat itu. Ia dan Naina hanya berjarak sebuah meja bundar kecil. Dean menatap tanpa banyak berkedip wajah ayu di hadapannya itu.
Hingga akhirnya, Naina bergumam lirih dan airmatanya mengalir begitu saja.
"Kamu kenapa nangis? Ibu kamu kenapa?" Tanya Dean lembut. Ia sempat mendengar Naina bergumam.
"Apa yang Anda lakukan disini?" Bentak Naina. Mode sendunya mendadak hilang karena melihat Dean dihadapannya.
"Ngelihatin kamu dari tadi. Kamu ngelamun terlalu dalam, sampai nggak sadar aku datang. Ngelamunin apa? Kamu rindu sama ibu kamu?" Ucap Dean penuh perhatian.
"Bukan urusan Anda!" Naina bersungut kesal. Ia segera mengambil tas dan ponselnya, lalu berjalan pergi meninggalkan Dean.
"Tunggu Nona!" Teriak Dean sembari berlari membuntuti Naina.
"Hhiiisshh!" Gerutu Naina saat mendengar panggilan Dean.
"Apa masih ada meja kosong di atas?" Tanya Naina pada kasir di kafenya.
"Masih Kak. Kakak bisa langsung naik!" Jawab kasir itu ramah.
"Tunggu!" Dean mencegat Naina saat ia berbalik badan hendak menuju tangga.
"Saya tidak punya urusan dengan Anda. Jadi tolong menyingkir dari hadapan saya!" Mode kesal Naina masih aktif.
Beberapa pengunjung kafe mulai memperhatikan drama di depan meja kasir itu. Naina menyadari hal itu dan bertambah geram karenanya.
"Aahh, sial!" Batin Naina kesal.
Naina berbalik badan ke arah kasir. Ia mengambil dompetnya dan mengambil selembar uang berwarna biru dengan empat angka nol di nominalnya.
"Simpan kembaliannya!" Ucap Naina sedikit lembut pada sang kasir.
Naina segera melenggang pergi meninggalkan Dean dan para pengunjung yang menatap aneh padanya. Dean menggelengkan kepalanya melihat tingkah Naina yang selalu menolak kehadirannya.
"Kenapa dia seperti itu? Apa dia sudah punya kekasih atau malah sudah menikah? Astaga, kenapa aku baru terfikirkan hal itu? Aahh, sial! Aku kalah start kalau sampai dia sudah menikah." Gumam Dean seraya berjalan meninggalkan kafe.
Sedang di dalam sebuah mobil yang melaju cepat, Naina menggerutu kesal sendirian.
"Aarrgghh, sial!" Naina memukul benda berbentuk lingkaran yang ada dihadapannya.
"Kenapa aku sampai tidak sadar ada dia dihadapanku tadi?" Naina kesal bukan main karena kebodohannya sendiri.
__ADS_1