Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Hasilnya


__ADS_3

Tinta dari pena takdir sudah mengering. Takdir hidup ini, telah tertulis dan tercatat sempurna dalam rangkaian kata yang mungkin tak akan bisa kita ubah. Tapi yakinlah, selalu ada kebaikan setelah sekian banyak ujian yang dilalui oleh rasa.


Pagi ini, tepat tiga minggu sejak Naina mengirimkan sample DNA Rissa dan Delvin, ia mendapat kabar bahwa hasilnya telah keluar. Setelah mengantar sang putri ke sekolah, ia bergegas menuju rumah sakit untuk mengambil hasilnya.


Perasaan Naina sungguh sulit untuk dijabarkan. Ada rasa bahagia, karena akhirnya ia akan tahu, siapa ayah biologis Rissa yang sebenarnya. Serta menjawab rasa keraguannya selama ini. Tak akan ada lagi beban rahasia yang ia simpan dari dunia.


Tapi, Naina juga takut, jika harus kehilangan sosok yang telah menggoyahkan hatinya yang terkunci rapat demi menjaga rahasianya. Ia sungguh tak siap, meski ia tahu, hal itu mungkin saja terjadi.


Naina berjalan dengan langkah tak tentu menuju salah satu ruangan rumah sakit dengan berbagai fasilitasnya itu. Rumah sakit yang menjadi salah satu rumah sakit terbaik di dunia yang ada di negara ini.


"Ini hasilnya Bu." Ucap seorang perempuan dengan setelan jas putihnya yang duduk bersebrangan dengan Naina.


"Terima kasih Dokter." Jawab Naina ramah.


"Sama-sama Bu."


Naina lantas berpamitan. Ia segera keluar ruangan untuk mengetahui hasilnya di luar ruangan. Ia tak ingin dokter itu tahu, bagaimana perasaannya setelah mengetahui hasilnya.


Naina berjalan mencari koridor rumah sakit yang cukup sepi. Ia lantas duduk di salah satu bangkunya. Perlahan Naina membuka amplop yang tadi ia terima.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumam Naina seorang diri.


Tanpa terasa, airmata itu telah jatuh membasahi pipinya. Kenyataan itu telah di depan mata. Hasil dari tes DNA itu sudah selesai ia baca. Hasil yang sungguh membuatnya menghadapi sebuah kenyataan yang tak pernah siap ia hadapi.


Rissa terbukti adalah anak biologis Delvin. Hasil tesnya menunjukkan, 99,99% DNA Rissa dan Delvin cocok.


"Bagaimana aku harus menghadapi Rissa nanti?"


Lama Naina duduk sendiri di sana, ditemani oleh airmatanya yang masih setia mengalir di wajah cantuknya. Ia tak menghiraukan orang-orang yang berlalu lalang di depannya dengan berbagai macam pandangan dan pemikirannya masing-masing.


Naina berusaha keras menenangkan diri dan menghapus airmatanya seorang diri. Kenyataan yang lama ia ketahui, kini terbukti secara nyata tak akan bisa terelakkan lagi.


Setelah cukup tenang, Naina pun berdiri dan mulai melangkahkan kakinya keluar rumah sakit. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju kantornya. Tak lupa, ia membuat janji temu dengan Delvin untuk memberitahukan hasilnya.


"Sin, tolong kosongkan jadawalku hari ini! Dan, bisakah kamu menemaniku nanti bertemu dengan Delvin?" Ucap Naina saat ia sudah sampai di kantornya dan berhadapan dengan Sinta.


"Tentu Bu', saya akan menemani Ibu." Jawab Sinta paham.


"Terima kasih."


"Tapi Bu', apakah Pak Dean juga akan ikut nanti?"


"Bagaimana mungkin dia ikut Sin? Dia dilarang Mama untuk menemuiku."


"Apa Mas Niko boleh ikut?"


"Ajaklah Niko nanti." Jawab Naina datar.


"Baik Bu'."


Sinta sudah paham kenapa sikap Naina seperti itu. Ia yakin, itu berkaitan dengan hasil tes DNA yang baru saja diambilnya dari rumah sakit.


Sinta pun segera mengabari Niko untuk membuat janji dengannya siang ini. Niko pun menyambutnya. Tapi Niko merahasiakan itu dari Dean. Ia hanya meminta izin pada Dean untuk menemui istrinya saat makan siang.


Saat makan siang pun tiba. Naina dan Sinta keluar kantor bersama. Mereka sudah memesan tempat di restoran yang letaknya tak jauh dari kantor Naina.


"Hai Na." Sapa Delvin saat ia sampai di meja dimana Naina, Sinta dan Niko sedang mengobrol.


Naina, Niko dan Sinta pun menoleh pada Delvin.

__ADS_1


"Oh, hai Del." Jawab Naina datar.


Niko hanya menatap datar Delvin. Sedang Sinta, menganggukkan kepalanya sambil sedikit menyunggingkan senyumnya.


"Duduk Del dan pesanlah dulu!" Pinta Naina.


"Oke!" Sahut Delvin ramah.


Delvin pun segera memesan. Mereka menikmati makan siang tanpa banyak obrolan. Naina pun hanya diam, dan hanya berbicara saat Delvin menanyakan sesuatu padanya.


"Ini hasilnya." Ucap Naina sambil menyodorkan amplop yang ia bawa dari rumah sakit tadi.


Tiga orang lain yang ada di meja itu pun menatap amplop yang Naina berikan. Delvin pun segera meraih amplop itu. Hatinya berdebar-debar memikirkan hasil yang akan ia baca. Hasil yang mungkin akan merubah hidupnya.


Delvin menyunggingkan senyumnya.


"Rissa benar putriku Na?" Tanya Delvin tak percaya.


Naina menganggukkan kepalanya. Sinta dan Niko menghela nafas pendek. Mereka sedikit kecewa dengan hasil itu. Sungguh, Sinta dan Niko berharap bahwa Rissa bukan anak kandung Delvin. Dan Naina, bisa bersama dengan Dean.


Tapi, kenyataan itu berkata lain. Hasil tes DNA itu menunjukkan sesuatu yang bertolak belakang dengan harapan mereka.


"Maaf Na, aku terlambat menyadarinya!" Ucap Delvin yang tiba-tiba menarik tubuh Naina dalam dekapannya tanpa permisi.


Naina langsung meronta.


"Ini di tempat umum Del! Jaga sikapmu!" Tegur Naina kesal.


"Maaf! Aku terlalu bahagia Na." Ucap Delvin dengan wajah yang berbinar.


"Apa Rissa sudah mengetahui hal ini?" Tanya Delvin penuh harap.


Hati Delvin begitu bahagia. Dengan hasil itu, rencana yang ia buat akan berjalan dengan sangat mudah. Dan dendamnya yang selama enam tahun ini ia pendam, akan terbayarkan dengan sempurna.


Naina hanya diam. Pikirannya sedang sangat kacau hari ini. Dengan hasil itu, harapannya untuk bisa bersama dengan Dean, benar-benar sudah hilang. Ia tak tahu lagi apa yang akan dilakukannya nanti setelah Dean pergi ke Jerman.


Sinta dan Niko hanya menatap miris pada Naina. Mereka paham benar, bagaimana perasaan Naina kini. Tapi, mereka tak bisa berbuat banyak saat ini.


Sore harinya, Niko mengantar pulang Dean sampai rumah seperti biasa. Tapi, ia menemui Jelita terlebih dahulu sebelum pulang, untuk mengatakan hasil tes DNA Rissa.


"Jadi yang dikatakan Naina memang benar?" Tanya Jelita dengan nada lesu.


"Iya Nyonya. Saya membaca sendiri hasil tes DNA-nya siang tadi." Jujur Niko.


"Baiklah. Terima kasih Nik."


"Tentu Nyonya. Saya permisi!" Pamit Niko.


"Iya."


Niko membalikkan badannya. Dan betapa terkejutnya Niko saat mendapati Dean sedang berdiri diambang pintu ruang kerja Jonathan dan ternyata telah mendengar percakapan Jelita dan Niko sejak tadi.


"Kenapa kamu tak mengatakan itu padaku sejak tadi Nik?" Marah Dean.


"Maaf Tuan, saya,,"


Belum sempat Niko menyelesaikan kalimatnya, Dean sudah berlalu pergi dengan perasaan yang tak karuan. Ia segera berlari keluar rumah dan menuju mobilnya. Beberapa pengawal mencoba menghalanginya. Dean yang sedang dalam kondisi tak baik perasaannya, tak bisa mengalahkan para pengawalnya sendiri. Ia dipaksa mengalah oleh para pengawalnya, dengan beberapa luka di wajahnya.


"Biarkan dia pergi!" Ucap Jelita yang muncul dari balik pintu.

__ADS_1


Dean dan para pengawal yang sedang memeganginya, segera menoleh. Para pengawal pun melepaskan Dean dengan cepat.


"Ini kesempatan terakhirmu." Pesan Jelita sebelum Dean pergi ke mobilnya.


Tanpa berpikir panjang, Dean segera berlari dan masuk ke mobilnya. Ia segera melajukan mobilnya membelah suasana senja jalanan ibukota yang baru saja ia lalui tadi. Ia tak menghiraukan beberapa luka di wajah dan tubuhnya akibat melawan para pengawalnya tadi.


"Siapkan keberangkatan kami besok!" Pinta Jelita sembari melihat mobil Dean keluar dari halaman rumahnya.


"Urusan di sini, kuserahkan padamu sementara waktu. Kamu tak perlu melaporkan apapun pada Dean lagi, termasuk tentang Naina! Urusan pekerjaan, laporkan pada suamiku! Dan apapun yang terjadi pada Naina, katakan padaku! Dia tetap putriku." Imbuh Jelita.


"Baik Nyonya." Jawab Niko patuh.


"Jika sekali saja, kamu ketahuan memberikan kabar Naina pada Dean, kamu tahu sendiri, apa yang bisa kulakukan." Tegas Jelita.


"Tentu Nyonya."


Jelita lantas masuk kembali ke rumah. Niko pun segera meninggalkan kediaman Diedrich setelah Jelita masuk ke rumah.


Di rumah Naina, Dean langsung berlari menuju pintu rumah Naina. Ia tidak mengetuk pintu rumah Naina, tapi menggedornya sambil berteriak.


Naina yang baru saja selesai mandi, segera membukakan pintu, karena Atun sedang menyiapkan masakan untuk makan malam.


"Iya sebentar!" Jawab Naina sambil berlari menuju pintu depan.


Pintu pun segera terbuka. Dean segera menarik tubuh Naina ke dalam pelukannya.


"Katakan itu tidak benar Sayang!" Ucap Dean lirih.


Naina yang terkejut, hanya mematung begitu saja. Ia menghela nafasnya pelan.


"Itu benar De." Jawab Naina pelan.


"Ikutlah denganku! Kita akan hidup bersama. Dengan Rissa juga." Ucap Dean sembari melepaskan pelukannya.


"Kamu jangan gila De!" Tolak Naina cepat.


"Wajahmu. Kamu kenapa De? Kamu berkelahi dengan siapa?" Tanya Naina khawatir sambil mengusap lembut wajah Dean yang sedikit lebam.


"Ayo kita pergi sekarang! Dimana Rissa?"


"Rissa putri Delvin De. Apa kamu benar-benar bisa menerimanya?"


"Aku akan menerima semuanya Sayang."


"Bagaimana dengan Mama dan Papa?"


"Kamu tak perlu memikirkan itu! Kita akan membangun keluarga kita sendiri."


"Tapi De,,"


CUP. Dean menghentikan ucapan Naina begitu saja. Ia mengecup lembut bibir Naina tanpa aba-aba.


"Apa kamu meragukanku sekarang?" Ucap Dean semakin kecewa.


"Bukan begitu De. Hanya saja,,"


Hati Naina mulai bergelut tak karuan. Tawaran Dean sungguh menggoda hatinya.


Tak bisa Naina pungkiri, ia pun ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Dean dan putri kesayangannya, Rissa. Tapi, ia juga tak bisa melupakan begitu saja kedua orang tua Dean yang selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan, Jelita juga menganggapnya seperti putrinya sendiri.

__ADS_1


"Ayo kita pergi Sayang! Bersama Rissa tentunya."


__ADS_2