Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Luluh


__ADS_3

Pagi yang tenang. Di sebuah rumah sakit terbaik di ibukota, seorang laki-laki tampan sedang mengamati wajah wanita yang semalaman ia jaga. Wanita itu masih terlelap karena tubuhnya belum pulih sempurna. Perlahan, wanita itu membuka matanya. Sang laki-laki pun tersenyum hangat padanya.


"Pagi!" Sapa Dean dengan senyumannya.


Naina hanya tersenyum. Ia segera mengedarkan pandangannya.


"Apa Rissa belum datang?" Tanya Naina lirih.


"Belum. Niko dan Sinta sedang menjemputnya. Sebentar lagi mungkin sampai." Jujur Dean.


Naina pun mengangguk paham.


"Kamu tak pulang? Sudah semalaman kamu di sini."


"Aku ingin menemanimu di sini."


"Mama pasti menunggumu."


"Dia akan ke sini nanti."


"Sudah, kamu istirahatlah dengan nyaman sementara beberapa hari! Kamu harus memulihkan kondisimu bukan?" Imbuh Dean penuh perhatian.


Naina yang baru saja bangun tidur, ditambah badannya yang masih terasa lemas, ia enggan mendebat Dean lebih panjang lagi. Karena Dean juga pasti akan bisa membuatnya mengalah.


Dalam hati Naina, sebenarnya ia bahagia. Sangat bahagia. Diperhatikan oleh laki-laki yang ia cintai, adalah sesuatu yang begitu indah terasa baginya. Apalagi, laki-laki itu bisa menerimanya apa adanya. Meski, rahasia terbesar Naina belum ia ketahui.


"Apa kamu ingin mandi? Aku akan panggilkan perawat jika kamu kesulitan mandi sendiri di kamar mandi." Tawar Dean pelan.


"Aku akan mandi sendiri saja." Jawab Naina lirih.


Naina pun mulai bangun dari posisinya perlahan. Kepalanya sudah tak terasa sakit seperti tadi malam. Hanya perutnya yang masih terasa tidak nyaman. Mulutnya pun terasa pahit.


Dean mencoba membantu Naina turun dari ranjangnya.


"Aku bisa sendiri De!" Ucap Naina pelan.


Dean akhirnya membiarkan Naina turun dan berjalan ke kamar mandi sendiri. Ia hanya berjaga di belakang.


Cukup lama Naina di kamar mandi. Ia sedikit kesulitan mandi dengan tangan yang tersambung dengan selang infus. Dean pun dengan sabar menanti Naina di depan kamar mandi. Ia juga berusaha mengajak Naina mengobrol. Untuk memastikan, Naina baik-baik saja di kamar mandi.


Selesai mandi, Naina kembali berbaring di ranjangnya. Dean sedikit menaikkan ranjang bagian kepala Naina agar ia bisa nyaman untuk makan.


"Makan dulu Na! Kamu juga harus minum obat bukan?" Ucap Dean seraya menyiapkan jatah makan Naina pagi ini.


"Nanti saja. Aku belum ingin makan." Jawab Naina singkat.


"Perlu aku suapi?" Tawar Dean seraya duduk di tepi ranjang Naina.


"Tak perlu. Aku akan makan nanti. Kamu makan saja dulu!" Ucap Naina lirih.


"Aku tak akan makan, jika kamu belum makan."


Naina hanya diam, tapi hatinya bergemuruh dalam diamnya. Hatinya benar-benar tak bisa diajak berkompromi. Ingin rasa hati segera menerima setiap perlakuan manis Dean. Tapi, otaknya masih saja terus berusaha memenangkan logikanya. Agar ia dan Dean, tak akan terluka terlalu dalam nantinya.


Naina memejamkan matanya tanpa menjawab Dean.


"Buka mulutmu Na! Kamu harus makan sebelum Rissa sampai. Atau kamu ingin melihat Rissa menangis histeris seperti tadi malam?" Ucap Dean demi merayu Naina agar mau makan.


Naina segera membuka matanya. Ia menatap Dean penuh tanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Naina cepat.


"Rissa semalam menangis histeris karena kamu pingsan. Ia takut akan kehilanganmu." Jujur Dean.


Mata Naina mulai berkaca-kaca.


"Atun bilang, dia sering melihat Rissa seperti itu saat kamu sakit atau bahkan sampai pingsan. Rissa benar-benar menyayangimu Na. Dia takut kehilanganmu jika kamu terus menerus sakit."


"Rissa." Gumam Naina lirih dengan airmata yang sudah mengalir.


"Maka dari itu, jaga kesehatanmu Na! Kasihan Rissa jika kamu terus-menerus seperti ini."


Hati keibuan seorang Naina masih tetap ada. Ia tak bisa jika sampai melihat putri kesayangannya bersedih karena dirinya. Ia juga masih ingin melihat putrinya itu tumbuh dewasa.


"Buka mulutmu Na!"


Dean langsung menyuapkan bubur yang sedari tadi sudah terhidang sebagai jatah makan pagi Naina dari rumah sakit. Dan entah apa yang merasuki Naina, ia pun langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Dean. Dean pun tersenyum hangat padanya.

__ADS_1


Dean dengan telaten dan sabar menyuapi Naina. Meski hanya beberapa suap saja, Dean bersyukur Naina sudah mau makan. Ia pun membantu Naina meminum obatnya.


Setelah Naina meminum obatnya, Dean pun menikmati sarapan paginya yang tadi ia pesan melalui aplikasi jasa pemesanan online.


Ceklek.


"Mommy!" Teriak Rissa senang saat ia memasuki ruang rawat Naina.


Naina dan Dean pun menoleh ke arah Rissa yang langsung berlari ke arah ibunya. Naina pun tersenyum dan langsung memeluk Rissa yang sudah naik ke ranjangnya dengan dibantu Dean.


"Apa masih ada yang sakit Mom?" Tanya Rissa perhatian.


"Perut Mommy masih sedikit sakit Sayang. Kamu sudah makan?" Jawab Naina singkat.


"Sudah Mom di rumah."


Rissa langsung berceloteh banyak hal. Ia menceritakan banyak hal saat kemarin Naina pingsan.


Dan saat ibu dan anak itu asik berbagi cerita, Niko melaporkan kejadian pagi ini sebelum ia sampai di rumah sakit pada Dean. Mereka sedikit menjauh dari Naina.


"Bagus! Mereka pasti sedang sangat kesal sekarang." Gumam Dean.


"Tapi Tuan, Sinta tadi sempat meminta Nona Rissa agar tak menceritakan hal ini pada Nona Naina." Imbuh Niko.


"Iya. Rahasiakan ini dari Naina. Kita akan memberitahunya nanti setelah ia pulih." Jawab Dean yakin.


"Baik Tuan."


"Sepertinya aku harus memotong masa cutimu. Apa kamu keberatan?" Ucap Dean tak enak hati pada Niko.


"Tentu saja tidak apa-apa Tuan. Lagi pula, Tuan memberikan masa cuti pada saya terlalu lama." Jawab Niko merendah, yang paham maksud ucapan atasannya.


"Aku tak bisa meninggalkannya seperti itu sendirian di rumah sakit."


"Iya Tuan. Nona Naina tak memiliki kerabat di ibukota."


"Iya. Dua kakaknya berada jauh di Lombok." Ucap Dean sambil mengingat dua istri Ben yang sempat mengejutkannya.


"Anda benar Tuan."


"Bantulah Sinta sementara ini! Minta Raka membantu pekerjanmu seperti biasa!" Pinta Dean tulus.


Dean dan Niko lantas menghampiri keempat wanita yang sedang asik berbincang itu. Mereka pun ikut berbincang. Hingga, dokter yang menangani Naina datang berkunjung untuk mengecek kondisi Naina.


Naina masih harus menjalani rawat inap beberapa hari lagi. Hingga kondisinya pulih. Maag akut Naina sudah parah. Jadi, butuh waktu sedikit lama untuk memulihkan kondisinya.


Seperti halnya Niko, Sinta pun segera mengakhiri masa cutinya karena Naina terbaring di rumah sakit. Meski Naina sudah menyelesaikan setiap pekerjannya dengan baik, tapi karena ada pengusaha asing yang ingin bekerja sama dengan usaha properti milik Naina, Naina tak ingin melepaskan kesempatan itu. Jadi, Sinta yang sementara ini melanjutkannya, selama Naina di rumah sakit.


...****************...


Terik matahari menyapa dengan ribuan kehangatannya. Menelusup indah dalam setiap suara-suara alam yang tercipta, menjadikan sebuah irama merdu yang bersatu padu dengan semilir angin yang berhembus lembut. Membawa suasana yang menenangkan, di tengah hiruk pikuk para penduduk bumi dengan beragam aktivitasnya.


Siang ini, Naina sudah diizinkan pulang oleh dokter. Setelah lima hari dirawat di rumah sakit, kondisinya sudah jauh membaik. Dokter benar-benar mewanti-wanti pada Naina agar tak terulang kembali kejadian seperti itu. Karena itu akan membahayakan nyawanya.


Selama Naina di rumah sakit, Dean benar-benar menjaganya dengan baik. Ia hanya berkantor selama dua hari. Itu pun karena ia harus bertemu dengan kliennya yang akan melakukan kerjasama bisnis dengan perusahaannya.


Dan saat Dean berkantor, Naina ditemani oleh Jelita. Dean yang memintanya langsung pada Jelita. Jelita yang memang menyayangi Naina, ia pun dengan senang hati menemani Naina di rumah sakit selama Dean ke kantor mengurusi pekerjaannya.


Rissa setiap hari mengunjungi ibunya bersama Atun sepulang sekolah. Gadis kecil itu benar-benar takut kehilangan ibunya. Jadi, ia pun berusaha menjaga ibunya dengan baik, semampunya.


Naina benar-benar merasa bahagia. Banyak orang baik yang mengelilingi dan menyayanginya. Hingga, saat ia terbaring tak berdaya di rumah sakit, ia tak kekurangan apapun. Bahkan, Rissa pun bisa terurus dengan baik meski ia sedang dalam kondisi tak baik.


"Kamu ngapain kesini De?" Tanya Naina saat melihat Dean memasuki ruang rawatnya.


"Mommy!" Teriak Rissa dari balik tubuh Dean.


"Sayang! Kamu kok udah pulang? Mommy baru mau jemput kamu." Ucap Naina bingung.


"Rissa dijemput Om Dean Mom." Jujur Rissa sambil berjalan menghampiri ibunya.


"Sinta sedang bertemu dengan klienmu, jadi dia tak bisa menjemput Rissa ke sekolah. Dan kudengar, Atun pun pulang kampung tadi pagi karena orang tuanya sedang sakit." Sela Dean.


"Iya. Mbak Atun izin pulang beberapa hari kedepan." Jawab Naina datar.


"Mommy sudah selesai berkemas?" Tanya Rissa semangat.


"Sudah Sayang. Yuk pulang!" Ajak Naina tak kalah semangat.

__ADS_1


Naina mengurusi semua urusan rumah sakit sendirian hari ini. Dean ada urusan pekerjaan sejak pagi, jadi ia tak bisa menemani Naina di rumah sakit. Sedang Sinta, fokus mengurusi semua pekerjaan Naina selama Naina di rumah sakit. Jadi, Naina tak mungkin merepotkan Sinta untuk hal lain.


Atun pagi ini meminta izin untuk pulang kampung karena mendapat kabar bahwa orang tuanya masuk rumah sakit semalam. Naina pun segera memberikan izin pada Atun.


Dan tadi, saat ia selesai berkemas dan mengurusi semua administrasi rumah sakit, ia berniat untuk segera menjemput Rissa pulang sekolah. Tapi ternyata Dean sudah menjemputnya lebih dulu.


Dean pun mengantar Naina pulang ke rumah.


"Thank's De untuk semuanya." Ucap Naina tulus saat mereka sudah sampai di rumah Naina.


Dean tersenyum hangat pada Naina.


"Aku pergi dulu! Jika kamu butuh apapun, jangan sungkan untuk menghubungiku!" Pinta Dean tulus.


Naina hanya menganggukkan kepalanya. Dean pun lantas berpamitan pada Rissa. Ia lalu meninggalkan rumah Naina dengan perasaan lebih lega, bahkan sangat lega.


Sikap Naina berubah drastis selama beberapa hari. Ia tak menolak setiap perlakuan Dean padanya. Ia pun sudah tak lagi marah-marah tak jelas dengan Dean hanya karena hal sepele. Hati Naina benar-benar luluh dengan sikap dan perhatian Dean selama ia di rumah sakit.


Keesokan paginya, Naina harus menyiapkan keperluan pagi Rissa seorang diri. Ia masih enggan untuk banyak beraktivitas, jadi ia hanya menyiapkan sarapan sedehana untuk Rissa. Dan saat ia akan mengantar Rissa ke sekolah, Sinta sudah tiba di rumahnya dan siap mengantar Rissa ke sekolah. Rissa pun akhirnya berangkat sekolah diantar oleh Sinta.


Tok, tok, tok.


"Siapa pagi-pagi gini?" Gumam Naina sambil berjalan menuju pintu depan rumahnya.


"Assalamu'alaikum. Pagi Na!" Ucap Dean saat Naina membukakan pintu.


"Dean? Ada apa pagi-pagi kesini? Kamu nggak ke kantor?" Tanya Naina bingung.


"Tidak. Aku rindu padamu, jadi aku kesini menemuimu." Jujur Dean.


Tubuh Naina membeku seketika. Kejujuran Dean membuat hatinya berdetak lebih cepat. Darahnya pun serasa mengalir lebih deras ke setiap pembuluh darahnya. Memberikan perasaan yang tak bisa ia jelaskan dengan kata yang terucap.


"Aku juga merindukanmu De." Batin Naina sambil melamun.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Dean pelan, tapi berhasil membuyarkan lamunan Naina.


"Sudah." Jawab Naina sedatar mungkin.


"Apa kamu memasak tadi?"


"Tidak. Aku hanya membuat oatmeal untukku dan Rissa sarapan tadi. Masuklah!" Jawab Naina.


Naina dan Dean lantas masuk ke rumah. Naina kembali ke dapur, dan Dean pun mengikutinya.


"Kamu sedang memasak?" Tanya Dean setelah melihat meja dapur Naina yang penuh dengan bahan dan alat.


"Iya. Rissa minta dibuatkan macaroni schotel tadi sebelum berangkat sekolah."


Naina bersiap kembali mencampur bahan yang tadi ia siapkan, tapi tangan Dean segera menahannya.


"Kamu istirahat saja! Biar aku yang memasak untuk Rissa." Saran Dean perhatian.


"Kamu bisa membuatnya?" Tanya Naina penasaran.


Dean pun dengan santai melepaskan jas yang ia kenakan.


"Kamu tak tahu, memasak itu hobiku?" Jawab Dean santai sambil menggulung lengan kemejanya.


Naina mengerutkan dahinya.


"Tak usah De! Biar aku membuatnya sendiri."


"Kamu baru kemarin pulang dari rumah sakit. Kamu masih harus memulihkan kondisimu."


"Aku sudah lebih baik De."


"Pokoknya, aku yang akan membuatkan Rissa macaroni schotel." Rayu Dean.


"Aku bisa sendiri De." Ucap Naina sambil memulai kembali kegiatannya tadi.


Dean memegang tangan Naina yang sedikit terkena adonan. Naina pun menoleh.


"Biarkan aku yang memasaknya! Kamu istirahatlah!" Ucap Dean dengan tatapan penuh kelembutan.


Hati Naina benar-benar tak bisa ia kendalikan. Tatapan lembut Dean, membuatnya melayang tak terkendali. Ia berusaha mengatur perasaannya yang sudah tak karuan sejak kedatangan Dean tadi.


Naina pun menatap manik mata yang memantulkan bayangan dirinya dengan begitu jelas. Dua insan itu saling diam dalam tatapan mata masing-masing.

__ADS_1


"Ya Allah, kenapa harus dia yang bisa meluluhkan hatiku? Kenapa dia yang namanya terukir jelas dihatiku?" Batin Naina pedih.


"Aku mencintaimu, Naina Andini." Ucap Dean lembut, dengan tatapan yang tak lepas dari Naina.


__ADS_2