
"Rendi bilang, Delvin bukan ayah Zia." Ucap Sekar yakin.
"Apa maksud Ibu?" Tanya Naina bingung.
"Zia bukan putrimu dan Delvin. Delvin bukan laki-laki yang membayarmu malam itu." Jelas Sekar.
Naina mengerutkan keningnya dalam. Ia berusaha keras meyakinkan diri bahwa apa yang ia dengar tidaklah salah.
"Bagaimana mungkin Bu'? Bukankah Pak Rendi juga yang mencarikan informasinya saat itu?" Sanggah Naina.
"Iya. Tapi, dia dan Romo melupakan sesuatu. Sebuah perjanjian dengan seorang wanita muda yang meminta pada Romo untuk menggantikan posisimu malam itu."
Naina hanya diam. Ia masih berusaha memahami apa yang Sekar katakan.
Sekar lantas menceritakan pertemuannya dengan seorang wanita muda cantik yang nampak seumuran dengan Naina saat ia akan mengejar Naina malam itu.
"Rendi bilang, wanita itu meminta pada Romo untuk menggantikanmu di hotel. Karena ia adalah kekasih Delvin. Ia tak rela jika Delvin harus memerawani wanita lain selain dia." Imbuh Sekar.
"Lalu, siapa yang bermalam denganku di hotel waktu itu Bu'?"
"Rendi mengatakan, ada seorang laki-laki lain yang meminta perawan juga malam itu. Sesaat setelah Romo dan wanita itu melakukan perjanjian. Dan Romo segera menelepon pengawalnya untuk membawamu ke kamar hotel tepat di depan kamar hotel yang Delvin pesan. Karena laki-laki itu memesan kamar itu untuk dia menghabiskan malam denganmu." Jelas Sekar.
"Pantas saja! Saat di klab, Romo meminta Mbak Intan membawaku ke kamar 777. Tapi, pengawal Romo memintaku untuk masuk ke kamar 778." Celetuk Naina setelah mengingat hal janggal itu.
Sekar dan Naina mulai memahami semuanya.
"Kenapa kamu tak menceritakan hal itu pada Ibu waktu itu Na?"
"Naina tak berpikiran sampai sejauh itu Bu'."
Sekar menghela nafasnya berat. Ia menyadari, kondisi psikis Naina saat itu mungkin sedikit kurang stabil karena harus memikirkan neneknya yang dirawat di rumah sakit. Jadi, ia tak memikirkan hal sampai sejauh itu.
"Tapi Bu', Naina sudah mengetes kecocokan DNA Rissa dan Delvin bulan lalu. Dan hasilnya, cocok Bu'. Dan Naina akan menikah dengannya tiga minggu lagi sesuai permintaan Rissa." Ucap Naina bingung.
"Itu yang membuat Ibu menemuimu kemarin." Jujur Sekar.
"Maksud Ibu?"
"Rendi benar-benar yakin, jika bukan Delvin yang bersamamu malam itu. Tapi bagaimana mungkin, DNA Zia dan Delvin bisa cocok?"
"Lantas, siapa yang bersama Naina malam itu Bu'?"
Hati Naina makin tak tenang. Ia mulai gelisah karena cerita Sekar. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya, karena Rissa bukan putri Delvin. Tapi, ia sudah terlanjur menerima lamaran Delvin dan akan melangsungkan pernikahan tiga minggu lagi. Ia pun jadi makin penasaran dengan sosok ayah Rissa.
"Rendi tak tahu siapa identitas laki-laki itu Na. Dia juga sama seperti Delvin. Dia merahasiakan identitas aslinya demi menjaga nama baik keluarganya." Jelas Sekar perlahan.
Sekar tahu, Naina akan sangat terkejut mendengar jawabannya. Dan itu pasti akan mengecewakannya.
Naina yang tadi sempat memiliki harapan untuk mengetahui kebenaran yang sempat mengusik benaknya, tiba-tiba kehilangan harapannya lagi.
__ADS_1
"Bagaimana bisa begitu Bu'?" Marah Naina tanpa ia sadari.
Nada bicara Naina sedikit meninggi karena mulai putus asa. Ia mulai merasa dipermainkan oleh sang takdir. Bagiamana lagi ia harus menghadapi ini?
"Sabarlah Na! Kita akan pikirkan solusinya pelan-pelan!" Bujuk Sekar.
"Siapa wanita yang menggantikanku bermalam dengan Delvin Bu'?" Ucap Naina antusias.
Naina menegakkan tubuhnya menghadap pada Sekar. I berharap, dengan menemukan identitas wanita yang bermalam dengan Delvin malam itu, perlahan, sosok laki-laki yang bermalam dengannya malam itu akan terungkap identitasnya.
"Rere. Rendi bilang, namanya Rere."
"Rere? Siapa dia Bu'? Apa Pak Rendi tahu identitas lengkap wanita itu?"
"Tidak, dia tidak tahu. Wiliam juga sudah berusaha mencari tahu siapa Rere, tapi tidak mendapatkan hasil apapun."
Naina menghempaskan tubuhnya kembali ke sandaran sofa. Ia kembali kecewa karena kembali dihadapkan dengan jalan buntu untuk masalah barunya.
"Rere? Siapa dia? Mantan kekasih Delvin?" Gumam Naina.
"Ibu masih ingat jelas wajahnya yang cantik. Jika saja Ibu bertemu dengannya, Ibu pasti mengenalinya." Sahut Sekar yang ikut kembali menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Naina akan coba cari tahu Bu'! Siapa mantan kekasih Delvin yang bernama Rere." Naina coba menyemangati dirinya sendiri.
Ada secercah harapan dalam hati Naina bahwa ia tidak akan menikah dengan Delvin. Karena sungguh, ia sangat tidak menginginkan pernikahan itu. Bukan hanya karena dalam hatinya telah terukir nama orang lain, tapi ia juga tak menyukai sikap Delvin yang kadang semaunya sendiri dan sering memaksakan kehendaknya.
"Bagaimana aku mengatakan ini pada Rissa?" Batin Naina bingung.
"Benar juga apa yang Ibu katakan. Mana yang salah dan mana yang benar?" Ucap Naina sambil menatap kosong ke langit-langit rumahnya.
"Jika memang Rendi yang benar, bagaimana mungkin hasil tes DNAnya bisa cocok?" Gumam Sekar.
"Tapi, untuk apa juga Rendi berbohong padaku?" Gumam Sekar lagi.
Dua wanita berbeda generasi itu terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mereka berusaha mencari kebenaran yang masih tersembunyi sejak tujuh tahun lalu.
"Kita harus melakukan tes DNA ulang. Tapi, tanpa sepengetahuan Delvin." Ucap Naina pelan.
Sekar yang tadi bersandar santai sambil menatap lurus pada benda layar datar berukuran 40" milik Naina, segera menoleh pada wanita yang selalu ia rindukan selama hampir enam tahun itu.
"Kenapa tanpa sepengetahuannya? Apa kalian ada masalah?" Tanya Sekar penasaran.
"Tidak, kami tidak ada masalah."
"Lantas?"
"Naina sedikit paham sifat Delvin Bu'. Dia tipe orang yang akan melakukan apapun demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Meskipun dengan cara yang tidak baik. Dan dengan hal ini, Naina mulai curiga, jika Delvin memiliki tujuan tertentu setelah menikah denganku."
"Kenapa kamu berkata seperti itu?"
__ADS_1
"Delvin berusaha sangat keras Bu' untuk mendekati Naina dan Rissa selama ini. Meski Naina tak pernah merespon baik dengan sikapnya. Dan setelah ia mendengar bahwa Rissa adalah putrinya, ia lebih sering mendekati Rissa dan ingin segera menikah dengan Naina."
"Yang lebih aneh, dari luar Delvin bersikap seperti seorang ayah pada Rissa. Tapi, Naina tak pernah merasakan ikatan yang kuat pada Delvin untuk Rissa. Dan Rissa juga merasakan hal itu Bu'." Jelas Naina.
"Tapi, apa hubungannya denganmu?"
"Naina juga tidak tahu Bu untuk hal itu. Yang pasti, Delvin pasti memiliki tujuan tertentu setelah menikah dengan Naina. Tapi bukan untuk rasa tanggung jawabnya pada Rissa." Jawab Naina makin yakin.
"Jika memang seperti itu, lakukan tes DNA ulang! Ibu akan bantu!"
Naina pun menatap Sekar dengan perasaan yang bahagia. Ia tak menyangka, ibu sambungnya itu masih sangat menyayanginya. Naina langsung tersenyum hangat pada Sekar. Dan tanpa berpikir lagi, ia segera merengkuh tubuh Sekar dan meneluknya erat.
"Terima kasih Bu'." Ucap Naina haru.
"Iya. Kamu putri Ibu. Jadi, Ibu akan melakukan apapun untukmu."
Naina pun mengangguk bahagia.
"Maaf, Ibu tak pernah mengabarimu selama ini!" Ucap Sekar tulus.
"Tidak apa-apa Bu'. Yang penting, Ibu baik-baik saja dan hidup lebih baik sekarang."
Naina melepaskan pelukannya. Tanpa mereka sadari, wajah mereka sudah mulai berubah merah karena menangis haru dalam pelukan yang lama mereka nantikan.
"Tapi, apa Ibu tahu, betapa Naina mencemaskan Ibu? Mencari Ibu selama ini." Adu Naina manja.
"Maafkan Ibu Sayang! Ibu hanya takut, Joko dan anak buahnya akan mengganggu hidupmu jika Ibu pulang begitu saja. Tapi, Joko tak pernah mengganggumu bukan?" Tanya Sekar khawatir.
"Tidak Bu'. Tak ada yang mengusik Naina, Mbak Lea dan Mbak Hera selama ini Bu'." Jujur Naina.
"Syukurlah jika seperti itu." Sahut Sekar lega.
"Apa kamu belum menikah Na sampai sekarang?" Tanya Sekar penasaran.
"Naina tak ingin Bu'. Naina terlalu takut." Jujur Naina.
"Apa yang kamu takutkan?"
"Sudahlah Bu', Naina sedang tak ingin membicarakan hal itu." Jawab Naina sekenanya.
Hati Naina mendadak perih. Mengingat kegagalan hubungannya dengan laki-laki yang berhasil meluluhkan hatinya dengan begitu sempurna. Dan dengan cara yang sangat tak terduga.
"Sekarang, ceritakan kisah Ibu dan Tuan Wiliam!" Pinta Naina manja untuk mengalihkan perhatian Sekar.
"Kisah apa?" Jawab Sekar malu-malu.
"Bagaimana Ibu bisa menikah dengannya? Bukankah Ibu ikut ke Amerika bersama Tuan Wiliam enam tahun lalu?" Goda Naina.
"Ah, tentang itu,,"
__ADS_1
"Aahh, sepertinya kalian sangat saling mencintai." Timpal Naina.