
Flashback On
Siang yang cukup terik. Gumpalan awan hitam masih belum nampak menghiasi birunya langit ibukota. Membuat suasana siang menjelang sore ini, terasa cukup panas.
Siang ini, Sekar yang menjemput Rissa ke sekolah bersama Wiliam. Sekar berusaha mengenalkan dan mendekatkan Rissa pada Wiliam. Karena Sekar tahu, Rissa sedikit sulit untuk bisa menerima kehadiran orang dewasa asing di dekatnya. Jadi, Sekar berusaha mendekatkan Wiliam secara perlahan.
Sekar mengajak Rissa makan es krim di tempat favorit Rissa.
"Rissa! Bagaimana jika Mommy tidak jadi menikah dengan Om Delvin?" Tanya Sekar perlahan.
"Memangnya kenapa Oma?" Tanya Rissa penasaran.
"Kalau Oma bilang, Om Delvin bukan daddy kamu, kamu percaya?"
Rissa terdiam. Ia berusaha mencerna kalimat yamg Sekar ucapkan tadi. Ia pun mulai memutar otak cerdasnya untuk memahami ucapan Sekar.
"I believe in you Grandma." Jawab Rissa yakin.
Sekar dan Wiliam terbelalak mendengar jawaban Rissa. Mereka tak mengira, Rissa pandai berbicara dengan Bahasa Inggris dan bahkan ia percaya dengan ucapan Sekar.
"Apa yang membuatmu percaya Cantik?" Tanya Wiliam penasaran.
"I can't feel his true love Grandpa." Jujur Rissa.
Sekar dan Wiliam saling pandang. Tak bisa mereka pungkiri, anak-anak biasanya memiliki kepekaan rasa yang lebih baik dari pada orang dewasa.
"Kenapa Oma berkata seperti itu? Apa Om Delvin bukan ayahku?" Tanya Rissa penasaran.
"Iya. Dia bukan ayah biologismu." Ucap Sekar tanpa ragu.
"Tapi Oma, kami sudah melakukan tes DNA. Dan hasilnya cocok." Sanggah Rissa.
Sekar pun menceritakan pengakuan Rendi pada Rissa. Ia berusaha menceritakan apa yang Rendi katakan dengan bahasa sesederhana mungkin pada Rissa, agar Rissa memahaminya.
"Oke Oma. Rissa mau tes DNA ulang!" Jawab Rissa yakin setelah Sekar mengakhiri ceritanya.
"Baiklah. Oma akan bantu untuk itu!" Jawab Sekar yakin.
"Tapi, apa Mommy mau melakukannya?"
"Dia pasti melakukan apapun demi kebahagiaanmu Sayang." Jawab Sekar perhatian.
Rissa pun menganggukkan kepalanya. Sekar dan Wiliam tersenyum lega. Mereka pun berencana mencari sample DNA Delvin tanpa sepengetahuannya. Dan itu, bukan hal yang sulit untuk Wiliam.
Wiliam segera meminta anak buahnya melakukan tugasnya. Dan hanya butuh satu hari saja, Wiliam sudah mendapatkan sample DNA Delvin tanpa sepengetahuan Delvin pastinya. Sekar pun segera membawa sample DNA Delvin dan Rissa ke rumah sakit. Sekar bahkan meminta agar secepatnya mendapatkan hasilnya.
Karena jika sampai hasil tes itu terlambat keluar, maka Naina akan dimiliki oleh Delvin seutuhnya. Dan pasti akan lebih sulit bagi Naina untuk melepaskan diri dari Delvin. Dan yang pasti, Naina tak pernah tahu apa rencana Delvin baginya nanti.
Flashback Off
"Mari kita mulai acara ijab qobulnya!" Ucap penghulu yakin.
"Mari Pak!" Jawab Delvin tak sabar.
"Sebentar Pak!" Sela Naina.
Para hadirin menatap Naina penuh tanya. Mereka kebingungan karena mempelai wanita menunda-nunda acara sejak tadi.
"Rissa, tunggu di belakang sama Oma ya!" Pinta Naina halus.
Rissa menggelengkan kepalanya.
Naina tertegun mendapati sikap penolakan Rissa. Ia menoleh pada Sekar yang berdiri di belakangnya. Rissa pun melakukan hal yang sama. Dan Sekar pun menganggukkan kepalanya pada Rissa.
"Mommy tak perlu menikah dengan Om Delvin! He's not my bioligical father." Ucap Rissa lantang.
Semua hadirin tertegun mendengar ucapan Rissa. Terlebih, mereka yang bisa mengerti perkataan Rissa yang terakhir. Mereka menatap penuh tanya pada kedua mempelai.
"Apa maksud kamu Sayang?" Tanya Naina cepat.
Sekar menyerahkan sebuah amplop dengan logo sebuah rumah sakit ternama di ibukota pada Naina. Naina pun mulai bisa memahami ucapan Rissa tadi. Ia segera membuka dan membaca isi amplop tadi.
"Tidak cocok?" Batin Naina saat membaca isi amplop itu.
Naina menoleh pada Sekar dan Rissa.
"Mommy menikah dengan Om Delvin demi Rissa bukan? Karena Mommy ingin mendekatkan Rissa dengan ayah kandungku. But he's not Mom." Imbuh Rissa tanpa ragu.
__ADS_1
Naina menatap haru pada putrinya. Ia tak menyangka, putri semata wayangnya yang masih belum genap berusia enam tahun itu, bisa memahami hal semacam itu dengan baik.
"Mommy akan melakukan apapun demi kebahagiaan Rissa bukan?" Tantang Rissa.
Naina pun mengangguk mantap.
"Jangan menikah dengan Om Delvin. He's a bad guy Mom." Jelas Rissa.
"Kamu bicara apa Cantik?" Sela Delvin yang mulai panik.
Naina dan Rissa segera menoleh pada Delvin. Mereka menatap nanar pada laki-laki yang telah berdandan dengan begitu gagahnya pagi ini.
"Sudahlah Om! Om tak perlu berpura-pura lagi. Rissa sudah tahu apa maksud dan tujuan Om menikah dengan Mommy. Hingga Om harus repot-repot memalsukan hasil tes DNA kita bulan lalu." Jawab Rissa tanpa rasa takut.
"Apa maksudmu Sayang? Om tak pernah memalsukan hasil tes DNA kita." Sanggah Delvin.
"Om tak perlu mengelak lagi! Rissa sudah tahu, siapa karyawan rumah sakit yang Om bayar demi memalsukan hasil tes DNA kita bulan lalu." Jawab Rissa cepat.
"Tapi Om tidak pernah melakukan itu." Sanggah Delvin lagi.
"Lalu, bagaimana bisa hasil tes DNA ulang kalian berbeda hasilnya?" Sahut Naina mulai marah.
Naina melemparkan kertas isi amplop yang Sekar berikan tadi. Kertas yang berisi hasil dari tes DNA ulang antara Rissa dan Delvin. Dan hasilnya, kurang dari lima persen kecocokannya.
"Kamu diam-diam melakukan tes DNA ulang Na?" Tanya Delvin marah seraya berdiri dari kursinya.
"Iya. Karena ada banyak keanehan dari semua sikapmu selama ini Del." Sahut Naina cepat.
"Tapi aku tidak memalsukan hasil tes DNA yang pertama." Sanggah Delvin lagi.
"Benarkah itu Om?" Cibir Rissa dengan santainya.
Naina dan Delvin menoleh pada Rissa bersamaan.
"Benar Sayang. Om tidak memalsukan hasil tes DNA kita bulan lalu." Bela Delvin.
Rissa segera mengambil ponselnya yang ada di tas kecil yang sedari tadi menggantung di bahu kanannya. Ia mulai mengutak-atik sesuatu di ponselnya.Tak lama, Rissa memutar sebuah rekaman yang tadi sempat ia pindahkan ke ponselnya.
"Kita semakin dekat dengan tujuan kita Ma."
"Iya Vin. Sebentar lagi, kita bisa membuat Papamu tersenyum bahagia di atas sana."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini Vin?"
"Delvin pastinya akan mengikat Naina lebih erat Ma. Memaksanya menyerahkan semua perusahaannya. Dan setelah itu, Delvin akan mulai mengambil kembali perusahaan Papa yang telah di rebut oleh baj*ngan itu."
"Lalu?"
"Delvin juga akan memanfaatkan otak cerdas Rissa dan ibunya untuk bisa mengambil alih beberapa aset milik keluarga Diedrich. Bahkan jika perlu, Delvin akan membuat mereka jatuh bangkrut dan harus mengemis belas kasihan pada kita nantinya."
"Papa pasti bangga padamu Nak."
"Mama tak bangga padaku?"
"Tentu Mama bangga padamu. Tapi, sebenarnya, bagaimana kamu bisa memalsukan hasil tes DNA itu?"
"Itu mudah Ma. Delvin punya kenalan yang bekerja di rumah sakit itu. Jadi Delvin minta bantuannya untuk memalsukan hasilnya."
"Beruntung sekali kita, Naina mengirimkan sample DNA kalian ke rumah sakit itu."
"Karena Tuhan berpihak pada rencana kita Ma."
"Tapi, bukankah kamu juga mengirimkan,,,"
Tok, tok, tok.
"Acara akan segera dimulai. Mari ke ballroom!"
"Oh iya, baiklah!"
"Ayo Ma!"
Klek. Rissa mengakhiri rekaman suara yang ia putar. Semua orang terkejut mendengar rekaman yang Rissa putar. Karena tanpa sengaja, Rissa meletakkan ponselnya di dekat mikrofon yang akan digunakan oleh Delvin untuk mengucapkan janji sucinya di hadapan penghulu.
Naina menatap penuh amarah pada Delvin. Hatinya bergemuruh penuh kemarahan. Darahnya serasa mendidih dengan cepatnya karena rekaman itu.
PLAK. Sebuah tamparan keras dari tangan Naina, mendarat tepat di pipi Delvin. Semua sontak makin terkejut melihat adegan itu.
__ADS_1
"Kau pikir aku robot yang tak punya hati? Hingga bisa kau permainkan seenaknya seperti itu, ha?" Bentak Naina tanpa ragu.
"Itu tidak sepenuhnya benar Na. Dengarkan aku!" Sanggah Delvin sambil mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan Naina.
"Apa yang ingin kau katakan sekarang?" Tantang Naina.
"Aku mencintaimu Na." Ucap Delvin cepat.
"Cinta kau bilang? Cinta apa yang bisa memanfaatkan orang yang dicintainya demi balas dendamnya?"
"Itu awalnya Na, tapi kini aku benar-benar mencintaimu."
Naina segera menoleh pada Rissa yang sedang berdiri dengan Sekar di belakangnya.
"Sayang, dari mana kamu dapat rekaman itu?" Tanya Naina pelan.
"Dari ruang rias pengantin laki-laki. Baru saja Rissa dan Oma Sekar mengambilnya dari sana." Jawab Rissa jujur.
Ya, Rissa memasang penyadap di ruang rias pengantin laki-laki bersama Sekar tadi pagi sebelum Delvin dan Jenita tiba. Pagi ini, memang Naina dan Rissa tiba lebih dulu dibandingkan Delvin dan Jenita. Dan itu sangat dimanfaatkan oleh Rissa dan Sekar untuk melancarkan rencana mereka.
Dan tadi, saat Naina masih dirias, Sekar mendapat telepon dari pihak rumah sakit bahwa hasil tes DNAnya telah keluar. Sekar pun mengajak Rissa untuk pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA. Dengan harapan, bisa memberi alasan bagi Naina untuk menunda acara hingga mereka kembali dari rumah sakit nanti.
Dan itu berhasil dengan baik. Naina benar-benar tidak tahu jika Sekar pergi ke rumah sakit dengan Rissa. Rissa tadi beralasan ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah. Dan itu pula yang Rissa katakan pada Delvin saat ia berpapasan dengannya di depan hotel.
Semua orang ternganga mendengar jawaban Rissa. Bahkan, Delvin dan Jenita membolakan matanya karena tak percaya. Mereka tak menyangka jika itu akan terjadi.
"Kau dengar sendiri bukan apa yang Rissa katakan? Sekarang, apa lagi yang ingin kau katakan?" Cibir Naina.
Delvin yang tak siap, ia terdiam karena kebingungan mencari alasan atas tuduhan yang Naina berikan. Karena memang itu benar adanya.
"Kau memang pengecut Del! Kau egois!" Tuduh Naina tanpa ragu.
"Itu tidak benar Na." Sanggah Delvin cepat.
Delvin meraih tangan Naina. Mencoba merayu dan memohon pada Naina agar mau percaya padanya. Tapi Naina segera menghempaskannnya dengan keras.
"Percayalah padaku Na! Aku benar-benar mencintaimu. Benar itu adalah niat awalku, tapi kini tidak Na. Aku kini benar-benar ingin menikah denganmu, karena aku mencintaimu." Rayu Delvin.
"Lalu, kenapa kamu harus memalsukan hasil tes DNA kemarin? Apa itu juga karena kau mencintaiku?" Tantang Naina.
"Iya Na. Aku melakukan itu karena aku ingin menikah denganmu."
Naina membuang muka mendengar jawaban Delvin. Ia benar-benar tak menyangka akan mendengar jawaban itu dari mulut Delvin.
"Baiklah jika itu yang kamu mau." Ucap Naina penuh penekanan.
Delvin dan Jenita tersenyum lega mendengar jawaban Naina. Sedang Sekar sedikit terkejut mendengar jawaban Naina.
"Mommy!" Panggil Rissa tak rela.
Naina menoleh pada Rissa. Ia segera duduk dan menatap putrinya dengan penuh perhatian.
"Kamu percaya pada Mommy bukan Sayang?" Ucap Naina pelan.
Rissa segera menganggukkan kepalanya. Naina pun tersenyum.
Naina sedikit membungkuk. Ia meraih ujung bawah kain jarik yang ia kenakan. Menariknya sekuat tenaga hingga robeklah kain jarik itu hingga setinggi lututnya. Beberapa orang yang melihat itu kembali terkejut. Mereka kebingungan dengan sikap Naina.
"Maaf semua atas insiden kecil tadi!" Ucap Naina setelah kembali berdiri.
"Dan untukmu, Delvin Dewangga. Aku tidak bisa melanjutkan acara pernikahan ini. Kebahagiaan Rissa adalah segalanya bagiku. Dan dia, tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi aku, tidak bisa menikah denganmu." Jelas Naina tegas.
"Tapi Na, aku menyiapkan ini semua untuk kita. Aku juga akan menerima Rissa sebagai putriku. Rissa pasti akan menerimaku perlahan Na." Rayu Delvin seraya memegang kedua tangan Naina dengan wajah putus asanya.
"Maaf Del, aku tidak bisa!" Jawab Naina tegas.
Naina segera menarik tangannya dari genggaman Delvin. Ia segera berbalik badan dan meraih tubuh Rissa ke gendongannya. Ia tersenyum sangat hangat pada putri semata wayangnya itu.
"Ayo Sayang, kita pulang!" Ajak Naina bahagia.
Rissa pun mengangguk senang. Sekar yang tadi sempat mengira Naina akan melakukan hal gila, melanjutkan pernikahannya dengan Delvin, segera tersenyum bahagia mendengar keputusan Naina.
Naina segera melangkahkan kakinya menjauh dari meja penghulu. Ia berjalan dengan pasti meninggalkan Delvin dan penghulu yang hanya bisa berdiri menatap kepergiannya bersama Rissa, Sekar dan Wiliam serta keluarga Ben dan Sinta.
Naina benar-benar membatalkan pernikahannya dengan Delvin. Ia tak ragu sedikit pun saat membuat keputusan itu. Ia sangat bersyukur, putrinya datang tepat waktu tadi bersama Sekar. Hingga semua belumlah terlambat.
Sedangkan Delvin dan Jenita, merasa kesal, marah, dan malu karena insiden itu. Mereka tak menyangka, rencana yang sudah mereka buat, bisa terbongkar dengan sangat apik oleh seorang anak kecil yang belum genap berusia enam tahun.
__ADS_1
"Rissa bukan putri Delvin?" Batin seorang wanita yang berdiri di antara para tamu sambil menatap Naina dan Rissa yang berjalan keluar ballroom.