Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Kecurigaan Delvin


__ADS_3

Sinar surya kembali menyapa. Menghangatkan setiap rasa dan asa yang kedinginan. Memberikan semangat baru bagi jiwa yang kesepian.


Awal pekan. Rutinitas baru Naina benar-benar menyita waktunya. Menemani sang putri syuting, sungguh membuatnya sejenak melepaskan berkas dan data-data yang harus diperiksanya kala siang. Tapi, akan menjadi pekerjaan tambahan ketika malam telah menyapa.


Pagi ini, Rissa masih harus menyelesaikan syutingnya kembali. Masih ada beberapa adegan yang harus Rissa jalani. Rissa pun kembali ditemani Naina, tapi tanpa Atun.


"Tumben Dean belum ada kabar jam segini?" Gumam Naina kala Rissa sedang melaksanakan pekerjaannya.


Hati Naina mulai gelisah. Jarum jam ditangannya, sudah menunjuk ke angka sepuluh. Dalam beberapa hari terakhir, ia biasanya sudah menerima puluhan pesan dari Dean jika jam segini, tapi tidak hari ini. Bahkan satu pesan pun belum sama sekali.


Ingin rasanya Naina menghubungi Dean terlebih dahulu, tapi rasa gengsinya mendominasi. Ia urungkan niatnya itu dan menunggu Dean lebih dulu mengirimkan pesannya.


Ting. Ponsel Naina berbunyi, tanda pesan masuk. Ia bergegas membukanya. Wajahnya sudah sangat sumringah hanya karena tanda pesan masuk di ponselnya. Dalam hatinya berharap, bahwa itu adalah pesan dari Dean, yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.


Tapi wajah Naina berubah murung saat ia membaca nama pengirim pesan. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia pun membuka pesan itu dengan rasa malas.


From : Delvin


*Hai Na! Apa sore ini ka*mu ada waktu?


Naina pun membalas pesan Delvin dengan enggan. Ia sejenak melirik ke arah Delvin yang berada tak begitu jauh darinya. Dan kebetulan, Delvin pun tengah menatapnya.


To : Delvin


Iya, kenapa?


Sesaat setelah pesan terkirim, Delvin segera menelfon Naina. Ia mengajak Naina pergi sore ini.


"... ..."


"Boleh. Kebetulan aku juga ingin mengajak Rissa makan es krim sore ini."


"... ..."


"Baiklah."


Panggilan pun terputus. Naina menghela nafas panjangnya.


"Semoga dengan ini, Rissa bisa merasakan kasih sayang ayahnya." Batin Naina seraya menatap putrinya yang sedang beradu akting dengan Anneke.


Pukul tiga sore, syuting selesai. Syuting akan berlanjut esok di tempat yang berbeda. Naina pun membereskan perlengkapan Rissa dan berniat segera pulang. Moodnya sedang buruk, hanya karena tak ada pesan ataupun panggilan masuk dari Dean. Ia pun lupa bahwa ada janji dengan Delvin.


"Kita jadi pergi Na?" Sapa Delvin saat mereka bertemu di parkiran.


"Astaga, aku lupa ada janji dengan Delvin." Batin Naina.


"Oh, iya. Sebentar, aku masukkan barang Rissa dulu!" Sahut Naina sekenanya.


"Oke. Kita pakai mobilku saja ya! Mobilmu biar di antar Ivan ke rumahmu." Pinta Delvin. Delvin ingin lebih dekat dengan Naina.


"Oh jangan Del! Aku masih harus mampir ke tempat lain nanti setelah itu. Jadi, aku akan bawa mobilku sendiri saja." Tolak Naina halus.


Naina enggan satu mobil dengan Delvin. Naina tak merasa nyaman sedikitpun dengan Delvin. Rissa yang sedari tadi sudah menunggu di mobil, akhirnya berteriak memanggil Naina.


"Mommy, ayo cepat!"


"Iya sayang, sebentar!" Sahut Naina dari belakang mobil.


"Kita bertemu di D'Cafe ya! Tak jauh dari sini. Itu tempat favorit Rissa makan es krim."


"Baiklah! Kita bertemu di sana." Sahut Delvin senang.


"Aku duluan!"


Naina segera menutup pintu belakang mobilnya. Ia pun meninggalkan Delvin yang sedang menunggu Ivan merapikan barangnya. Naina segera melajukan mobilnya karena Rissa sudah tak sabar ingin makan es krim.

__ADS_1


"Katanya mau pergi sama Naina?" Sindir Ivan saat melihat mobil Naina meninggalkan parkiran.


"Iya. Ketemu di D'Cafe."


"Kenapa nggak pakai satu mobil saja?"


"Dia nggak mau." Sahut Delvin sedikit kesal.


"Hhahaha, emang beda dia itu. Baru Naina, yang berani nolak seorang Delvin Dewangga." Sindir Ivan.


"Sialan kamu! Belum, aku belum di tolak! Aku pasti bisa membuatnya jatuh cinta padaku!" Delvin bermonolog dengan seringai liciknya.


Ivan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah besar kepalanya Delvin. Ia tak yakin, jika Delvin bisa menaklukkan hati Naina.


"Pasti ada sesuatu dibalik perubahan sikap Naina ke Delvin. Tak mungkin wanita seperti Naina bisa berubah sikapnya begitu cepat. Apa karena Rissa?" Batin Ivan dengan tangan yang sibuk memasukkan peelengkapan syuting Delvin.


Setelah selesai, Delvin pun pergi ke tempat yang telah disetujui tadi bersama Ivan.


D'Cafe. Adalah salah satu kafe milik Naina. D'Cafe merupakan satu-satunya kafe milik Naina yang menyajikan berbagai macam menu es krim. Dan itu menjadi kafe favorit Rissa dibanding yang lain. Karena es krimnya pastinya.


"Rissa, Mommy mau ke toilet sebentar! Kamu mau ikut nggak?" Tawar Naina kala mereka sedang menunggu pesanannya tiba. Delvin dan Ivan pun sudah berada satu meja dengan mereka.


"No Mom."


"Oke. Mommy tinggal sebentar ya!" Naina mengusap lembut kepala Rissa sambil tersenyum hangat.


"Del, Van, titip Rissa sebentar ya!" Pamit Naina.


"Oke." Sahut Delvin dan Ivan bersamaan.


Naina segera meraih tasnya lalu berdiri. Ia segera mengambil ponselnya dan menelfon Sinta yang dari tadi sudah ada disana.


"Temui saya di kantor! Dan minta Leo mengawasi Rissa sebentar!" Ucap Naina dalam panggilannya seraya berjalan.


Sinta yang faham maksud Naina, langsung melaksanakan permintaannya. Ia meminta Leo, sang manajer kafe, untuk mengawasi Rissa selagi Naina mengecek laporan kafe bersama Sinta.


"Maaf lama!" Ucap Naina seraya duduk kembali di samping Rissa.


"Nggak papa. Rissa juga asik kok di ajak ngobrol." Sahut Delvin.


Keriuhan tak dapat dicegah. Kedatangan Delvin menarik banyak pengunjung kafe untuk berswafoto dengannya. Dan itu sukses membuat mood Naina bertambah buruk. Ia melampiaskannya dengan memakan es krimnya tanpa menikmatinya. Padahal itu es krim favoritnya.


"Maaf ya!" Ucap Delvin ketika orang-orang sudah tak mengerumuninya.


Naina hanya tersenyum. Ia malas menanggapinya. Mereka lalu mengobrolkan banyak hal sembari menikmati sisa es krimnya.


Senja mulai menyapa. Langit ibukota dipenuhi warna lembayung nan menggoda. Menjadi penyambut malam yang akan segera tiba.


Naina akhirnya memutuskan untuk pulang karena hari sudah senja. Rissa pun sudah nampak sangat kelelahan. Delvin pun ikut meninggalkan kafe bersama Ivan.


"Kalian dari mana? Syutingnya kan sudah selesai dari tadi?" Tanya seorang wanita paruh baya yang sedari tadi sudah menunggu Delvin pulang.


Dia Jenita Dewangga, kembaran Jelita, mama Dean. Wajah mereka sangat mirip karena kembar identik. Maka dari itu, wajah Dean dan Delvin pun terlihat mirip jika diperhatikan seksama.


"Ke kafe sebentar Ma." Sahut Delvin seraya duduk tepat disamping Jenita.


"Mama nggak diajakin?" Gerutu Jenita.


"Lain kali ya Ma! Tadi langsung berangkat dari lokasi syuting." Jelas Delvin.


"Sama Naina Tante." Celetuk Ivan


"Naina?"


"Iya. Dia ibu dari Rissa, lawan main Delvin di filmnya sekarang." Jelas Ivan.

__ADS_1


Jenita melirik Delvin dengan tatapan menyelidik. "Kenapa Mama lihat Delvin kayak gitu?"


"Kenalin donk sama Mama!"


"Besok Ma, kalau udah beres, pasti Delvin kenalin."


"Emang sekarang belum beres?"


"Belum Tante. Saingannya berat, jadi susah." Celetuk Ivan lagi.


"Kecil kalau dia! Pasti aku bisa dapetin Naina." Jawab Delvin sombong.


"Emang siapa saingannya?" Jenita penasaran.


"Dean Tante. Anaknya kembaran Tante." Jawab Ivan singkat.


"Apa? Dean?" Jenita mematung.


"Maaf Tante, Ivan pulang dulu! Ada janji sama Papa malam ini. Permisi Tante!" Ivan segera berdiri dan menyalami tangan Jenita yang masih terkejut mendengar ucapan Ivan tadi.


"Kamu nggak usah main-main sama Dean lagi! Mama nggak mau kamu kenapa-napa Vin! Cuma kamu yang Mama miliki sekarang." Ucap Jenita setelah Ivan pergi


"Tenang Ma! Delvin nggak ngrebut Naina dari Dean. Delvin udah tanya sama Naina, dia bukan kekasih Dean. Mereka cuma teman Ma." Jelas Delvin.


"Tetap saja, Dean sudah mendekatinya. Mama nggak mau kamu sampai dihajar lagi sama Dean."


"Tenang Mama sayang! Delvin akan bermain halus. Delvin akan rebut hati Naina dan Rissa hingga mereka sendiri yang akan datang pada Delvin nanti." Ucap Delvin seraya memeluk Jenita dengan tangan kanannya.


"Pokoknya, Mama nggak mau kamu kenapa-napa! Cuma itu."


"Iya Ma. Oh iya, Delvin mau nunjukin sesuatu ke Mama!"


Delvin segera mengambil ponselnya. Ia menunjukkan sebuah foto Rissa yang sedang asik memakan es krimnya.


"Mama kenal dia?" Tanya Delvin seraya menunjukkan foto Rissa.


"Rhea atau Dean? Ini foto Dean waktu kecilkan? Tapi kenapa rambutnya panjang?" Jenita melihat foto itu seksama.


"Bukan Dean, ini Rhea. Tapi kenapa bola matanya biru? Ini bukan foto masa kecilmu kan? Mama nggak ingat kamu pernah berfoto seperti itu." Ucap Jenita kebingungan.


"Dia Rissa Ma, putri Naina." Bisik Delvin di telinga Jenita.


"Apa? Tapi kenapa bisa sangat mirip dengan Rhea dan Dean waktu kecil?" Mata Jenita membola mendengar ucapan Delvin. Ia langsung mengalihkan pandangannya Delvin.


"Itu juga yang masih menjadi pertanyaan dalam benak Delvin Ma. Bagaimana mungkin, Rissa bisa sangat mirip dengan Rhea dan Dean?" Delvin menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa.


"Dan Delvin akan cari tahu itu." Gumam Delvin.


"Kamu nggak usah macem-macem ya!" Pinta Jenita cemas.


"Iya Mama sayang! Delvin udah punya rencana Ma, kalau sampai kecurigaan Delvin benar."


"Kecurigaaan apa?"


"Kalau Rissa adalah putri Dean."


"Bagaimana bisa?"


"Delvin juga nggak tahu Ma. Tapi, Delvin akan cari tahu semua tentang Naina dan Rissa."


"Dan kalau itu benar?"


"Delvin punya rencana untuk itu. Dan itu, bisa membalaskan kematian Papa." Ucap Delvin dengan seringai licik di wajahnya.


"Apa itu?"

__ADS_1


Delvin pun mulai menceritakan rencananya pada Jenita. Jenita pun mendengarkan dengan seksama rencana putranya.


"Mama setuju! Lakukan itu!" Ucap Jenita yakin dengan wajah jahatnya.


__ADS_2