Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Kehidupan Baru


__ADS_3

Bahagia. Hak bagi setiap hati. Menjadi pelengkap dalam setiap langkah para pemilik hati, untuk menapaki setiap waktunya. Menjadi rasa yang terkadang menjadi dambaan bagi setiap jiwa.


Malam pengantin. Dean benar-benar tak membiarkan Naina menganggur. Jiwa cassanova Dean memberontak begitu kuat ingin segera dilepaskan. Padanya, yang kini telah halal menjadi miliknya seorang.


Naina yang tak berpengalaman, sangat kewalahan menuruti kemauan dan gairah sang suami yang begitu menggebunya malam ini. Ia hanya menurut dan patuh pada sang suami yang mengajarinya banyak hal malam ini.


Siang menjelang. Naina terbangun dengan tubuh yang sangat lelah. Dean masih terlelap di sampingnya, dan dengan setianya memeluk tubuh Naina dengan begitu lembut.


Naina menatap wajah polos Dean yang sedang tertidur.


"Terima kasih, karena mengingatku dan menjaga cintamu untukku." Gumam Naina sambil mengusap lembut pipi sang suami.


"Tentu Sayang. Terima kasih juga karena kamu menjaga putri kita dengan sangat baik meski tanpa ada aku di sampingmu. Terima kasih juga, karena kamu memberikanku kesempatan untuk menjadi ayah Rissa dan menjadikanmu milikku seutuhnya." Sahut Dean sembari membuka kelopak matanya perlahan.


Naina tersenyum manis pada Dean.


"Mulai sekarang, jangan lupa untuk berbagi segala hal denganku! Kamu tak sendirian lagi Sayang." Imbuh Dean.


"Aku sudah memberikan segalanya padamu. Apa itu masih kurang?"


"Tentu tidak Sayang. Terima kasih karena kamu menjaga hal itu untukku."


"Siapa bilang aku menjaganya untukmu?" Cibir Naina.


"Lalu?"


"Aku menjaganya untuk suamiku bukan untukmu." Sahut Naina santai.


"Kan aku sekarang sudah menjadi suamimu Sayang."


"Iya. Tapi, kalau aku kemarin-kemarin udah nikah sama orang lain, berarti kan aku menjaganya bukan untukmu."


Dean yang sedikit kesal dan gemas dengan jawaban Naina, segera membungkam mulut Naina dengan mulutnya. Ia mengungkung Naina begitu saja. Naina yang terkejut, seketika membalas ulah sang suami yang begitu lembut dan sangat membuai dirinya.


"Coba katakan sekali lagi! Aku tak akan membiarkanmu turun dari ranjang ini sampai besok." Ancam Dean dengan seringai nakalnya.


Naina membulatkan bola matanya. Ia paham, apa yang suaminya itu maksudkan.


CUP. Naina mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Dean. Dean tersenyum tipis karena ulah Naina.


"Kamu harus dihukum." Sahut Dean santai.


"Dihukum?" Ulang Naina tak percaya.


Dean mengangguk. "Dan ini hukumanmu."


Dean segera ******* kembali bibir Naina yang sedikit bengkak karena ulahnya sejak kemarin sore. Ia kembali menyusuri setiap jengkal tubuh Naina yang masih polos setelah pertempurannya pagi tadi. Ia kembali membuat Naina mend*sah dan menggelinjang hebat. Hingga puncak kenikmatan itu kembali menyapa pasangan pengantin baru kita yang sedang menikmati masa bulan madunya.


Sore harinya, Dean dan Naina keluar dari hotel. Mereka segera berkendara kembali ke rumah Naina. Pasangan pengantin baru ini, tak ada niatan untuk menikmati bulan madu ke tempat yang jauh. Mereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama, di rumah.


Dan disinilah mereka sekarang. Di rumah Naina. Rumah dengan beberapa kenangan yang pernah mereka lalui bersama. Rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka nantinya.


Dean dan Naina sepakat, mereka akan tinggal di rumah Naina setelah menikah. Di rumah yang terbilang kecil bagi seorang pengusaha besar seperti Dean. Tapi itulah yang Dean inginkan. Dean hanya ingin menghabiskan waktu-waktunya bersama keluarga kecilnya di tempat yang tak begitu besar dan mewah. Dan Naina pun setuju akan hal itu.


Dan itu jugalah yang menjadi alasan bagi Jelita dan Sekar, merayu Rissa agar mau tinggal bersama mereka sementara waktu. Bahkan, Atun pun diminta untuk pulang kampung selama satu minggu, agar tak mengganggu waktu bulan madu pasangan pengantin baru itu pastinya.


Tiga hari berlalu.


Dean dan Naina masih betah di rumah selama tiga hari ini. Dan Dean benar-benar tak membiarkan Naina menganggur ketika mereka sedang bersantai. Selalu ada adegan panas tak terduga jika mereka sedang bersantai berdua.


Itu semua karena ide nakal Dean. Dean tak mengijinkan Naina berpakaian lengkap selama tiga hari ini. Dean sudah menyiapkan pakaian dinas untuk Naina selama mereka berbulan madu. Dan bahkan, Dean tak mengijinkan Naina mengenakan pakaian dalamnya selama di rumah. Benar-benar mantan cassanova suami Naina ini.

__ADS_1


Selama Dean dan Naina di rumah berdua, mereka saling berbagi tugas dalam mengurus rumah. Pastinya, karena tak ada Atun di rumah. Jadi, mereka mengerjakan semua bersama.


Dan tiga hari berikutnya, Dean dan Naina mulai berkencan keluar rumah. Mereka mengunjungi beberapa tempat wisata untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka benar-benar menikmati waktu bersama yang mereka dambakan selama dua tahun terakhir.


Benar kata pepatah, tak ada yang abadi di dunia ini. Termasuk kepedihan dan getirnya kehidupan. Semua pasti akan tergantikan oleh sebuah kebahagiaan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.


Seperti halnya kehidupan Naina. Hidupnya yang cukup keras bersama sang nenek selama bertahun-tahun, ditambah harus mengalami hinaan dan cibiran karena sebuah hal nekat demi menyelamatkan neneknya kala itu. Belum lagi ketika ia harus merawat putri kesayangannya seorang diri. Terasa begitu berat bagi Naina.


Tapi, setelah perpisahannya dengan yang terkasih secara paksa selama dua tahun, membawa Naina pada kebahagiaan yang ia nantikan selama beberapa tahun ini. Kebahagiaan yang sungguh seperti mimpi baginya.


...****************...


Rasa bahagia yang mengiringi setiap langkah kita, akan membawa kita pada banyak hal baik. Hal yang terkadang hanya ada dalam benak kita selama ini.


Naina dan Dean mulai menapaki perjalanan rumah tangganya. Mulai mengarungi luasnya lautan kehidupan dalam sebuah ikatan baru yang lama mereka nantikan dalam diam.


Dan jangan lupakan, putri kecil mereka yang sedang bahagia-bahagianya karena akhirnya bisa memiliki keluarga yang lengkap. Ada ayah dan ibu di sampingnya setiap hari. Ayah dan ibu yang selalu siap mendengarkan dan menemaninya dalam setiap langkahnya menuju masa depannya.


"Dad! Kapan kita ke rumah Rachel? Kami sudah janjian untuk menikmati musim gugur bersama." Rengek Rissa saat duduk dipangkuan ayahnya yang sedang asik di ruang keluarga.


"Kan Rissa belum libur sekolah. Masih tiga bulan lagi Sayang." Sahut Naina yang duduk di samping Dean, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Dean.


"Tapi Mom, di sana sudah mulai musim gugur sekarang. Dan saat aku libur sekolah, musim gugur sudah selesai." Jelas Rissa manja.


"Benar kata Mommy, Sayang. Kamu kan belum libur sekolah." Imbuh Dean halus, sambil mengusap lembut pipi putrinya.


"Come on Daddy! I wanted to enjoy autumn with Rachel. And in winter, I want to go to Bellinda's house. That's our deal." Jelas Rissa antusias.


Rissa sudah mulai berkomunikasi dengan dua sepupu jauhnya dari sang ayah, sejak mereka berkenalan di acara pernikahan Dean dan Naina, satu bulan yang lalu. Meski Rissa sangat sulit berdekatan dengan orang dewasa asing, tapi tidak dengan anak seusianya. Ia langsung bisa berteman baik dengan anak-anak seusianya. Termasuk dua sepupu jauhnya.


"Eemmhh,,"


"Come on Dad! Please!" Rengek Rissa lagi sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


"Eemmhh,," Dean masih tetap bergumam.


CUP. CUP.


Sebuah rayuan yang Rissa anggap cukup jitu akhirnya terlaksana. Rissa mencium gemas pipi sang ayah dengan sangat lama.


Senyuman indah di wajah sang ayah pun tercipta. Karena sebenarnya, Dean hanya menantikan ciuman dari Rissa yang selalu menghangatkan hatinya.


"Oke Sayang! Kita akan berangkat dua minggu lagi. Daddy harus menyelesaikan beberapa urusan kantor terlebih dahulu, agar Om Niko tidak kesulitan saat kita di Jerman besok." Sahut Dean semangat.


"Thank's Dad."


Rissa langsung memeluk tubuh Dean dengan erat. Hatinya begitu bahagia, karena akhirnya rencananya bersama dua sepupu jauhnya akan terlaksana.


"Mommy nggak diajak?" Sahut Naina sedih.


Dean dan Rissa menoleh dan menatap Naina dengan aneh. Seakan telah memiliki rencana yang matang, mereka saling mengedipkan sebelah matanya setelah kembali saling pandang. Dan Naina tak menyadari itu.


"Mommy di rumah saja! Rissa cuma mau liburan dengan Daddy." Sahut Rissa santai.


Naina yang tadi masih santai sambil bersandar pada bahu Dean, segera menegakkan kepalanya. Ia menatap bingung pada suami dan anaknya.


"Mommy nggak diajak?" Ucap Naina dengan nada sangat kecewa.


"No Mom!" Sahut Rissa singkat.


Naina terdiam. Ia menatap bergantian ayah dan anak yang sedang mengerjainya diam-diam.

__ADS_1


"Aku beneran nggak diajak Mas?" Tanya Naina dengan wajah bingung pada Dean.


"Itu kan permintaan Rissa Sayang. Memangnya kamu mau ikut?" Sahut Dean santai.


Tanpa berucap sepatah katapun, mata Naina segera berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan sesuatu yang terasa begitu pedih dalam hatinya. Dan sejurus kemudian, Naina segera berdiri dan meninggalkan Dean dan Rissa dengan air mata yang mulai lepas dari singgasananya.


Dean dan Rissa terkejut melihat Naina.


"Mommy kenapa Dad?" Tanya Rissa bingung.


"Sepertinya Mommy salah paham Sayang." Sahut Dean cemas.


"Ayo Dad!" Rissa segera turun dari pangkuan Dean.


"Biar Daddy yang bicara dengan Mommy. Kamu, tidur ya! Ini sudah malam. Besok harus sekolah."


"Daddy yakin?"


"Tentu. Serahkan pada Daddy! Daddy akan jelaskan pada Mommy."


Rissa akhirnya mematuhi permintaan Dean. Ia kembali ke kamar dan segera tidur. Sedang Dean, segera kembali ke kamarnya juga untuk menjernihkan kesalahpahaman yang terjadi


"Sayang" Panggil Dean lembut dari belakang Naina yang meringkuk membelakangi pintu.


Dean pun segera merengkuh Naina yang sedang tiduran. Ia bisa merasakan, tubuh Naina bergetar.


"Kamu kenapa nangis Sayang?" Tanya Dean panik.


Naina masih diam. Ia terisak di atas bantalnya yang sudah mulai basah.


"Jangan menangis Sayang! Maaf, karena aku mengerjaimu tadi." Jujur Dean.


Tangisan Naina mereda segera. Ia segera menoleh pada Dean yang sedang cemas karena Naina salah paham. Ia menatap suaminya dengan rasa tak percaya.


"Maaf Sayang! Kamu juga aneh. Masak iya, aku ninggalin kamu di sini." Sahut Dean penuh perhatian.


Naina segera mengusap wajahnya dan langsung memeluk erat Dean dengan perasaan kesal dan bahagia secara bersamaan.


"Jangan tinggalin aku lagi!" Rengek Naina sembari sesenggukan.


"Tentu Sayang. Aku tak akan meninggalkanmu lagi." Sahut Dean sambil membalas pelukan Naina.


Naina mengangguk haru dalam pelukan Dean. Ia tak bisa banyak berucap saat ini. Hanya ingin menikmati pelukan sang suami yang selalu bisa menghangatkan hati dan pikirannya.


"Tapi sebelum kita berangkat ke Jerman, kalian harus ikut aku ke suatu tempat." Ucap Dean lembut setelah mengecup puncak kepala Naina.


Naina mendongak dan menatap wajah suaminya dengan polos.


"Kemana?"


"Besok kalian juga pasti tahu. Aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian." Jelas Dean singkat.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan."


"Perempuan?" Ulang Naina tak percaya.


Dean pun menganggukkan kepalanya dengan pasti.


"Dia spesial bagiku. Seperti dirimu." Imbuh Dean.

__ADS_1


__ADS_2