Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Tamu Yang Mencengangkan


__ADS_3

"Siapa Na?" Tanya Dean singkat.


Dean menyusul Naina ke depan karena mendengar percakapan cukup ramai di sana. Ia penasaran dengan tamu Naina. Dan betapa terkejutnya Dean, saat melihat Naina sedang berpelukan dengan seorang laki-laki asing yang cukup tampan, meski usianya terlihat lebih tua darinya.


Empat orang yang tadi asik saling bertegur sapa dan sejenak melepas rindu, menoleh pada Dean yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Lea dan Hera sontak menoleh pada Naina dengan penuh tanya.


"Ayo masuk dulu Mas, Mbak!" Ajak Naina seraya melepaskan pelukannya dengan Ben.


Dean membantu membukakan daun pintu yang belum terbuka, agar semua tamu Naina lebih leluasa untuk masuk. Semua pun masuk ke rumah dengan bahagia. Naina membantu Ben membawa masuk barang bawaannya.


"Naaa,," Panggil Lea dengan nada menggoda.


"Iya Mbak,," Jawab Naina santai.


"Kamu nggak mau ngenalin seseorang?" Imbuh Hera yang tadi sudah saling berkedip mata dengan Lea untuk menggoda Naina.


"Oh, bentar Mbak! Ini kasihan Mas Ben. Atau, kenalan sendiri aja Mbak!" Jawab Naina polos yang sibuk membawa tas dan oleh-oleh yang dibawa Ben.


"Mas ini, pacarnya Naina ya?" Terka Lea tanpa basa-basi sembari menatap wajah tampan Dean.


"Iya???" Sahut Dean bingung.


"Bukan Mbak! Dia teman Naina." Sela Naina.


Lea dan Hera lantas duduk santai di kursi ruang tamu Naina sembari memangku putri kecil mereka.


"Yakin Na?" Goda Lea lagi.


"Ganteng gitu lho Na. Masak bukan pacar kamu? Kan sayang Na, kalau di embat Atun apa Sinta." Imbuh Hera tak kalah antusias menggoda Naina.


"Sinta udah mau nikah Mbak. Dua minggu lagi." Jawab Naina seraya menjatuhkan pantatnya di samping Lea dan Hera.


"Oh ya? Wah, kamu kalah berarti Na sama Sinta." Sindir Hera.


"Emang Naina lomba apa sama Sinta?" Tanya Naina polos.


"Lomba siapa yang nikah duluan." Jawan Hera santai.


"Nikah kok di buat lomba!" Gerutu Naina.


"Tadi katanya mau ngenalin?" Cibir Lea.


"Oh iya, belum Naina kenalin ya dari tadi." Sahut Naina cengengesan.


"Mbak! Mas! Kenalin, itu Dean, temen Naina. Dan De, kenalin, ini Mbak Lea sama Mbak Hera, kakakku dari Jogja. Yang duduk di sebelah kamu, Mas Ben, suaminya." Ucap Naina sembari menunjuk satu per satu pada orang yang ia kenalkan.


Semua saling menganggukkan kepalanya.


"Mas Ben, suaminya Mbak Lea apa Mbak Hera?" Tanya Dean penasaran.


"Semuanya." Sahut Ben santai.


"Hah?" Dean terkejut hingga melongo.


Naina, Ben dan dua istrinya tertawa melihat ekspresi Dean. Meski Ben dan dua istrinya terbiasa mendapat tatapan keterkejutan seperti itu, tapi ekspresi Dean dari wajah tampannya, benar-benar diluar dugaan mereka. Itu terlalu lucu bagi mereka.


"Iya De. Mbak Lea dan Mbak Hera ini, istrinya Mas Ben. Kenapa? Nggak percaya? Nih buktinya,, dua malaikat kecil dari rahim mereka." Sahut Naina seraya mencubit gemas pipi anak Lea dan Hera bergantian.


Bukannya Dean tersadar, ia malah makin terkejut karena ucapan Naina. Bagaimana tidak? Dua bayi perempuan itu terlihat berumur tak jauh berbeda, dan mereka adalah putri dari orang yang sama, dari istri yang berbeda.


Dean menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Lea dan Hera kembali tertawa karena Dean malah makin terkejut karena ucapan Naina.


"Udah Na, kasihan itu pacarmu kaget terus! Kalau dia kena serangan jantung kan bahaya. Kamu jadi jomblo lagi nanti." Goda Lea.


"Iya Na. Nanti Rissa batal punya ayah." Imbuh Hera semangat.


"Mbak Lea dan Mbak Hera yang cantik! Dean itu cuma temen Naina Mbak. Nggak Lebih." Sanggah Naina cepat dan tegas.

__ADS_1


"Sekarang temen. Besok? Nggak tahu yaaaaa,," Timpal Hera.


"Sebentar!" Sela Ben tiba-tiba.


Semua lalu menoleh pada Ben.


"Anda? Tuan Dean Pratama Diedrich? Pemilik bisnis properti terbesar di Indonesia?" Terka Ben.


"Mas Ben kenal?" Tanya Naina penasaran.


"Memangnya, dia beneran cucu keluarga Dewangga?" Tanya Ben meyakinkan.


Naina hanya mengangguk. Sedang yang ditanya, masih berusaha mengatur perasaannya karena terkejut, sembari menegakkan duduknya.


"Wah, beruntung sekali saya bisa bertemu Anda Tuan Dean." Ucap Ben seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Dean.


"Anda terlalu berlebihan Tuan Ben." Sahut Dean sopan sambil membalas uluran tangan Ben.


"Ah, panggil saja Mas Ben seperti tadi! Terdengar kaku jika dipanggil 'Tuan'." Jawab Ben santai.


"Kalau begitu, panggil saya Dean saja."


"Oh iya Na, Rissa mana? Kenapa sepi?" Sela Lea.


"Rissa sedang pergi bersama Sinta dan calon suaminya." Jujur Naina.


"Kamu nggak ikut?" Timpal Lea.


"Naina tadi pagi ketemu ulat sama belalang Mbak di halaman belakang." Jawab Naina sambil bergidik.


Lea hanya ber-oh ria. Lea dan Hera kembali menoleh pada Dean yang mulai mengobrol dengan Ben.


"Rissa!" Ucap Lea dan Hera bersamaan.


Lea dan Hera benar-benar kompak. Otak mereka seperti memiliki koneksi tersendiri. Tanpa berucap, mereka bisa saling memahami satu sama lain.


"Mas, titip Via sama Tasya sebentar ya!" Ucap Hera menyela obrolan.


"Kalian mau kemana?" Tanya Ben penasaran setelah ia menoleh dengan Dean.


"Ada urusan sama Naina sebentar." Jawab Hera seraya berdiri bersamaan dengan Lea.


"Aku? Kenapa Mbak?" Tanya Naina dengan wajah bingungnya.


"Pokoknya ayo ke dalam dulu! Penting!" Jawab Lea tak sabar.


Naina pun akhirnya berdiri. Tiba-tiba, Lea dan Hera mengangguk bersamaan. Mereka lantas membalikkan badan dan mengapit dua lengan Naina dan menariknya menuju kamar Naina. Jalan Naina sedikit terseret ke belakang. Ben dan Dean hanya memandang adegan itu penuh tanya.


"Eehh,, Mbak! Naina bisa jalan sendiri." Teriak Naina kaget.


"Kelamaan!" Celetuk Hera yang tetap menarik Naina.


"Itu Mas Ben di buatin minum dulu Mbak, kasihan!" Teriak Naina berusaha melepaskan diri.


"Biar dibuatin Atun!" Sahut Lea singkat.


"Atun ikut Sinta ke taman hiburan Mbak." Jawab Naina polos.


Hera dan Lea lantas berhenti begitu saja. Mereka saling pandang. Naina pun memanfaatkan hal itu untuk menegakkan badannya.


"Jadi kalian cuma berdua di rumah dari tadi?" Terka Lea tanpa basa-basi.


"Eh,," Naina gelagapan karena ketahuan berduaan dengan Dean di rumah.


Lea dan Hera lantas melirik Naina dengan lirikan penuh makna yang menggoda. Seringai nakal pun hadir di wajah dua wanita itu.


"Nggak terjadi apa-apa kok Mbak!" Ucap Naina mencoba membela diri.

__ADS_1


"Terjadi apa-apa juga boleh kok." Sahut Hera sembari mentowel manja dagu Naina


"Iiisshh, Mbak Hera apa-apaan sih?" Naina mengusap dagunya risih. Wajahnya mulai merona.


Lea dan Hera saling lirik lagi. Mereka lantas tertawa lepas karena melihat Naina salah tingkah karena kepergok berduaan di rumah bersama seorang laki-laki.


Ben dan Dean yang sudah kembali mengobrol, lantas kembali menoleh pada tiga wanita tadi. Mereka tak begitu menghiraukan urusan wanita.


"Mbak Lea sama Mbak Hera mau ngomong apa tadi?" Sela Naina saat mereka tertawa.


"Oh iya,," Lea dan Hera menghentikan tawanya. Mereka lantas masuk ke kamar Naina.


"Kenapa Mbak?" Tanya Naina lagi setelah mereka sampai di kamar.


"Siapa dia Na?" Tanya Lea.


"Kan tadi udah kenalan Mbak, namanya Dean."


"Dia cucu keluarga Dewangga?" Timpal Hera.


"Iya."


"Dia ayah Rissa?" Tembak Lea.


"Bukan Mbak, dia sepupunya."


"Tapi, kenapa wajahnya mirip dengan Rissa Na?"


"Mamanya Dean dan mamanya Delvin kan saudara kembar Mbak. Mereka kembar identik." Jawab Naina sekenanya.


"Tapi itu nggak bisa jadi patokan Na."


"Iya Mbak, Naina tahu. Tapi, bukankah kita tahu, jika ayah Rissa itu Delvin. Jika mereka disandingkan, wajahnya juga cukup mirip kok Mbak." Jujur Naina.


"Kamu sudah tes DNA?" Tanya Hera cepat.


"Apa yang akan dipikirkan Dean nanti Mbak, jika aku ketahuan melakukan tes DNA antara dia dan Rissa?"


"Tapi Na,," Sanggah Lea.


"Mbak Lea dan Mbak Hera meragukan informasi dari Romo?" Tanya Naina singkat.


"Bukan begitu Na. Hanya saja, fakta kemiripan itu nggak bisa diabaikan begitu saja Na." Sahut Hera.


"Tapi Na, apa dia juga cassanova seperti Delvin?" Tanya Lea.


"Kata Mama, iya dulu. Tapi, setelah adiknya meninggal, dia tidak melakukannya lagi." Jujur Naina.


"Mama?"


"Ibunya Dean. Kami sudah cukup lama saling kenal. Bahkan sebelum aku kenal sama Dean."


"Kalian dijodohin sama ibunya Dean?"


"Enggak tahu Mbak. Tapi, dari gelagat Mama, sepertinya iya."


"Yaudah Na, nikah sama Dean aja." Ucap Lea santai.


"Udah ah Mbak! Naina baru malas bahas ini. Naina keluar dulu, mau buatin Mas Ben minum!" Sahut Naina seraya berdiri dan berjalan keluar kamar.


Naina enggan membicarakan hal itu sekarang. Hati dan pikirannya sedang bergelut keras dengan logikanya. Ia memilih kabur agar pembicaraan itu tak berlanjut.


Lea dan Hera hanya diam tak mencegah Naina. Mereka tahu, kenapa Naina langsung pergi begitu saja tanpa menyelesaikan obrolannya. Mereka pun lantas keluar kamar dan menghampiri Ben dan Dean yang masih asik mengobrol.


Tak lama, Naina pun ikut bergabung. Setelah ia selesai menyiapkan minum dan camilan untuk para tamunya. Mereka pun mengobrol santai. Lea dan Hera tak membahas obrolan mereka tadi. Mereka berbagi cerita hingga sore menjelang dan Rissa pun pulang bersama lainnya.


Gadis kecil Naina itu sangat bahagia ketika melihat keluarga Ben datang. Ia selalu betah bermain bersama dua adik kecilnya yang menggemaskan.

__ADS_1


Dean dengan cepat bisa akrab dengan keluarga kecil Lea dan Hera. Lea dan Hera pun sesekali masih menggoda Naina dan Dean disela obrolan mereka. Dan saat senja menjelang, Dean memutuskan untuk berpamitan bersama dengan Niko dan Sinta.


__ADS_2