
"Ibu?" Sebuah kata itu akhirnya keluar dari mulut Naina.
"Benarkah ini kamu, Naina, putriku?" Ucap wanita itu cepat.
Wanita itu mengusap lembut wajah Naina dengan kedua tangannya. Ia mengamati Naina dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Tanpa terasa, air mata dua wanita yang saling pandang itu mengalir begitu saja.
Sinta yang menyadari kehadiran wanita itu pun, ikut berdiri. Ia mengamati dengan seksama, wanita yang menjadi sosok istri dari calon kliennya dan Naina hari ini. Hatinya pun tak kalah terkejut dari Naina.
Sinta yang mengetahui keseluruhan kisah Naina, ia pun sedikit mengenal sosok Sekar dari cerita Naina. Ia juga masih mencari keberadaan Sekar selama ini, tapi tak membuahkan hasil.
Ya, dia Sekar. Istri kedua Wiliam Robert adalah Sekar Arum. Ibu angkat Naina yang ia cari selama beberapa tahun terakhir. Sosok wanita yang sangat Naina rindukan selama beberapa tahun ini.
"Iya Bu', ini Naina, putri Ibu." Sahut Naina disela airmatanya.
Naina dan Sekar segera berpelukan erat. Mereka saling melepaskan rasa rindu yang begitu dalam di hati masing-masing. Saling menumpahkan rasa yang mereka pendam selama beberapa tahun tidak bertemu.
"Ibu kemana selama ini? Naina mencari Ibu. Naina rindu." Ucap Naina disela tangisannya dalam pelukan Sekar.
Naina bagaikan seorang anak kecil saat ini. Ia menangis sesenggukan begitu keras dalam pelukan Sekar. Ia bagaikan seorang anak kecil yang kehilangan sesuatu lalu mengadukannya pada sang ibu sambil menangis keras. Ia tak menghiraukan tatapan puluhan pasang mata yang ada di restoran itu. Ia hanya ingin memeluk erat ibunya yang sangat ia rindukan.
Wiliam, Joe dan Sinta tersenyum haru melihat Naina dan Sekar. Mereka ikut bahagia dan terharu atas pertemuan sepasang ibu dan anak itu. Mereka bertiga tahu, cerita masa lalu Sekar dan Naina.
Wiliam dan Joe tahu, alasan Sekar berpisah dengan Naina enam tahun lalu. Tapi tidak Sinta. Sinta hanya tahu, Sekar menghilang begitu saja enam tahun lalu.
"Ibu kenapa pergi ninggalin Naina?" Adu Naina dengan tubuh yang sedikit merosot karena perasaan yang tak dapat ia bendung.
Sekar yang tak siap menahan tubuh Naina, sedikit terhuyung karenanya. Sedang Sinta yang berada di belakang Naina, segera membantu Sekar menahan tubuh Naina dan mendudukkannya di kursinya. Sekar pun melepaskan pelukannya.
"Ibu akan ceritakan nanti. Bagaimana kabarmu? Dan bagaimana kabar Zia?" Sahut Sekar setelah ia pun duduk di kursinya.
"Naina baik Bu. Rissa sedang sekolah sekarang. Ibu bagaimana kabarnya? Kenapa tak pernah memberi kabar pada Naina? Naina mencari Ibu selama ini."
"Ibu juga baik. Maaf, Ibu tak mengabarimu selama ini. Bukan Ibu tak ingin, tapi Ibu hanya ingin menjagamu serta Lea dan Hera. Bagaimana kabar Lea dan Hera? Dimana mereka sekarang?"
"Mereka baik Bu. Mereka sudah menikah dan tinggal di Lombok sekarang. Mereka bahkan sudah memiliki seorang putri, Via dan Tasya. Naina dan Rissa bulan lalu baru saja mengunjungi mereka ke Lombok."
"Syukurlah jika kalian baik-baik saja." Sekar tersenyum lega.
"Astaghfirullah. Maaf Tuan Wiliam, saya terbawa suasana, hingga melupakan Anda." Ucap Naina cepat sambil menoleh pada Wiliam.
"Tidak apa-apa. Pertemuan kalian adalah salah satu tujuan saya menemui Anda di sini." Jujur Wiliam.
"Maksud Anda?" Tanya Naina bingung.
"Ibu ingin bertemu denganmu Na. Ada yang harus Ibu katakan padamu." Jawab Sekar.
Naina kembali menoleh pada Sekar. Naina hanya mengangguk tanpa berucap. Ia kembali merengkuh tubuh wanita yang ia cari keberadaannya selama beberapa tahun terakhir ini untuk melepaskan segala rasa yang telah ia pendam.
"Jadi Ibu tahu kabar Naina selama ini?" Tanya Naina setelah cukup lama memeluk Sekar berteman airmata bahagianya.
"Tidak. Baru sekitar dua bulan terakhir Ibu mengetahui kabarmu dari jauh." Jujur Sekar.
"Kenapa Ibu tak menemui Naina?" Manja Naina.
"Ibu akan ceritakan semuanya nanti." Jawab Sekar penuh perhatian.
Tiba-tiba, ponsel Naina berdering. Suara benda pipih itu mengalihkan perhatian semua orang. Naina segera meraih ponselnya yang tadi sempat ia letakkan di atas meja.
"Assalamu'alaikum Del." Ucap Naina saat ia sudah menjawab teleponnya.
"Wa'alaikumussalam Na. Aku tidak ada jadwal hari ini, bolehkan aku menjemput Rissa lagi?"
__ADS_1
Naina melirik pada Sekar.
"Maaf Del, aku yang akan menjemput Rissa hari ini. Ada yang ingin bertemu dengannya. Mungkin lain hari kamu bisa menjemputnya lagi."
"Siapa Na?"
"Lain waktu akan kukenalkan padamu. Dan beberapa hari kedepan, Rissa biar aku yang jemput."
"Baiklah Na."
"Oke."
Panggilan langsung terputus. Delvin mengakhiri panggilannya tanpa berpamitan. Naina yang sedang bahagia karena bertemu Sekar, tak begitu menghiraukan sikap Delvin tadi.
"Siapa Na?" Tanya Sekar perhatian.
"Ayahnya Rissa Bu'." Jujur Naina.
"Rissa sudah bertemu dengan ayahnya?"
"Sudah Bu'."
"Sayang, jangan bicarakan itu di sini! Kamu bisa membicarakannya di rumah nanti." Sela Wiliam cepat.
Naina dan Sekar segera menoleh pada Wiliam. Sekar pun mengangguk setuju dan paham dengan perkataan Wiliam.
"Ada apa Bu'?" Tanya Naina bingung.
"Bukan apa-apa. Sekarang, lanjutkan saja dulu pekerjaan kalian! Kita akan bicara banyak nanti di rumah!" Saran Sekar.
"Ibu mau menginap di rumah Naina?" Tanya Naina antusias.
Sekar menoleh pada suaminya untuk meminta izin. Wiliam pun paham dengan tatapan sang istri. Dia pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Hati Naina makin bahagia. Naina menggenggam erat tangan Sekar, seolah tak ingin kehilangannya lagi. Ia bahkan melupakan lagi keberadaan Wiliam dan asistennya serta Sinta yang ia belakangi duduknya.
"Maaf Bu Naina, apa kita jadi membicarakan kerja sama dengan Tuan Robert?" Sela Sinta perlahan.
"Astaghfirullah!" Naina segera melepaskan pegangan tangannya pada Sekar.
"Maaf Tuan Robert, saya terbawa perasaan karena bisa bertemu dengan ibu saya lagi. Hingga melupakan rencana kerja sama kita." Jelas Naina.
"Tidak apa-apa Nona. Saya ikut bahagia jika kalian bahagia." Jawab Wiliam tulus.
"Jadi, apa kita bisa mulai membahasnya sekarang?" Tanya Naina sedikit merasa bersalah.
"Kapan pun Anda siap Nona." Jawab Wiliam yakin.
Naina kembali menoleh pada Sekar.
"Sebentar ya Bu', Naina diskusi dengan Tuan Robert dulu!" Pamit Naina, seolah ia tak ingin ditinggalkan oleh Sekar lagi.
"Iya. Ibu menunggu kalian di sini!" Jawab Sekar pelan.
Naina pun tersenyum lega mendengar jawaban Sekar. Ia lantas segera memulai rapatnya dengan Wiliam. Mereka mulai sibuk dengan pekerjaannya. Sekar pun menunggu mereka dengan sabar.
Pukul setengah tiga, rencana kerja sama Naina dan Wiliam telah mencapai kesepakatan. Mereka pun kembali berencana untuk menyelesaikan penandatanganan kontrak kerja sama dalam waktu dekat. Naina segera melirik arlojinya.
"Ibu jadi kan ketemu sama Rissa? Maksud Naina, Zia." Tanya Naina setelah ia merapikan beberapa berkas di atas meja.
"Iya. Ibu juga rindu dengannya." Jawab Sekar antusias.
__ADS_1
"Kita jemput Rissa ke sekolah ya Bu'! Sebentar lagi dia pulang." Ajak Naina.
Sekar mengangguk patuh. Ia lalu berpamitan pada sang suami untuk pergi bersama Naina dan akan menginap di rumah Naina malam ini seperti janjinya tadi. Wiliam pun memberikan izin atas permintaan Sekar. Tak lupa, Wiliam menyertakan beberapa pengawal untuk melindungi Sekar saat tak bersamanya.
Naina pun segera berangkat ke sekolah Rissa bersama Sekar. Sinta yang tadi berangkat bersama Naina pun, harus kembali ke kantor menggunakan taksi karena ia tak ikut menjemput Rissa. Wiliam membiarkan Sekar menghabiskan waktunya bersama Naina untuk melepaskan rindu yang selama ini ia pendam.
"Mommy!" Sapa Rissa saat melihat sosok ibunya keluar mobil, bertepatan dengannya yang keluar dari pintu sekolah.
Naina pun bergegas menghampiri putrinya yang nampak sedikit lelah karena seharian berkutat dengan beberapa mata pelajaran di sekolah. Naina segera menggendong tubuh mungil Rissa menuju mobilnya, dimana Sekar telah menantinya di samping pintu.
"Itu siapa Mom?" Tanya Rissa penasaran saat melihat Sekar melambaikan tangan padanya.
"Itu, Oma Sekar, dia yang menjagamu saat kamu masih bayi." Jelas Naina.
Rissa hanya diam tak merespon. Ia sama sekali tak mengingat sosok Sekar, karena saat itu Rissa masih sangat kecil. Memorinya belum terukir sempurna oleh sosok Sekar.
Sekar jelas tersenyum bahagia melihat bayi kecil yang dulu ia jaga dengan sepenuh hati, kini telah tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik. Dan yang tidak bisa Sekar lupakan adalah mata biru Rissa. Yang membuat gadis kecil itu nyaris sempurna.
"Ayo, salim sama Oma!" Pinta Naina saat ia sudah tiba di dekat Sekar.
Rissa begitu ragu mengulurkan tangannya. Ia tetaplah Rissa yang tidaklah mudah merasa dekat dengan orang dewasa asing. Ia sejenak menoleh pada Naina.
"Dia ibu angkat Mommy." Jelas Naina.
"Benarkah?" Tanya Rissa tak percaya.
Naina mengangguk gemas pada putrinya. Rissa seketika merasakan dorongan dalam hatinya untuk menjabat tangan Sekar. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menyalami Sekar, dan Sekar pun segera menyambutnya.
Seketika, Rissa merasakan sebuah getaran dari hatinya yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Getaran yang sama yang ia rasakan saat ia pertama kali menjabat tangan Dean. Rissa menatap wajah Sekar dengan seksama.
"Kamu pasti tidak mengingat Oma Sayang? Karena waktu itu, kamu masih sangat kecil." Ucap Sekar yang mengerti tatapan Rissa.
Rissa menoleh lagi pada Naina.
"Iya Sayang. Waktu itu, usiamu masih sekitar empat atau lima bulan. Oma pergi karena suatu alasan dan baru sekarang dia bisa menemui kita." Jelas Naina.
"Maaf, Oma pergi meninggalkanmu waktu itu." Ucap Sekar tulus.
Tanpa Sekar sadari, pipinya mulai basah karena mengingat masa lalunya. Mengingat alasan kenapa ia harus pergi meninggalkan Naina dan Rissa yang masih bayi saat itu.
Naina segera merengkuh tubuh Sekar dan memeluknya. Ia belum tahu, alasan apa yang membuat Sekar pergi enam tahun lalu tanpa kabar apapun. Tapi ia yakin, ada sesuatu yang tidak benar dengan kepergiannya saat itu, hingga membuat Sekar menitikan airmatanya saat mengingat masa itu.
"Oma Sekar, yang ada di foto di kamar Mommy bukan? Foto yang bersama Tante Lea dan Tante Hera?" Celetuk Rissa.
Naina dan Sekar segera melepaskan pelukannya. Naina pun tersenyum pada Rissa.
"Pintar anak Mommy!" Puji Naina sambil mencubit gemas pipi Rissa.
Sekar tersenyum lega karena Rissa mengenalinya meski hanya karena sebuah foto yang Naina pajang di kamarnya.
"Ayo pulang! Kita lanjutkan mengobrol di rumah!" Ajak Naina cepat.
"Oma ikut ke rumah kita?" Tanya Rissa.
"Iya. Oma akan menginap di rumah malam ini." Jujur Naina.
Rissa melirikkan matanya pada Sekar. Meski ia masih merasakan getaran aneh ketika dekat dengan Sekar, tapi ia masih merasa asing dengannya. Dan itu membuat Rissa sedikit bersikap aneh pada Sekar.
"Tak apa Sayang. Kamu pasti akan senang nanti ketika sudah mengenal Oma lebih baik." Bujuk Naina.
Rissa akhirnya mengangguk pasrah. Mereka bertiga lantas masuk ke mobil untuk pulang ke rumah Naina. Rissa masih banyak diam di dalam mobil. Ia berusaha menafsirkan getaran hati yang ia rasakan tadi saat bersalaman dengan Sekar. Sedang Naina, banyak menanyakan berbagai hal pada Sekar. Dan Sekar pun dengan sabar menjawabnya satu per satu.
__ADS_1
Takdir. Tak ada yang tahu apa yang dibawa sang takdir pada diri kita nantinya. Tapi satu yang pasti, takdir akan selalu membawa kita pada kebaikan-kebaikan yang mungkin tak pernah kita pikirkan sebelumnya.