
Perkara hati, selalu menjadi sang pemilik hati dan Sang Pemilik Kehidupan yang mengetahuinya. Tak ada orang lain yang bisa mengetahuinya secara sempurna. Bahkan terkadang, sang pemilik hati pun tak tahu apa keinginan hatinya.
Naina menatap kosong keluar mobilnya yang dikendarai oleh Ben. Pikirannya menerawang jauh tak tentu arah. Ia bahkan tak mendengar pembicaraan Lea dan Hera yang sedang sibuk membahas tentang hasil tes DNA Rissa dan Delvin.
"Lalu, siapa ayah Rissa? Mungkinkah dia, yang bisa dengan mudah dekat dengan Rissa?" Batin Naina disela lamunannya.
"Na! Na!" Panggil Lea beberapa kali dari kursi depan.
Naina masih belum menoleh pada Lea yang sudah memanggilnya beberapa kali. Hingga Hera yang duduk tepat di belakang Lea, harus menepuk bahu Naina yang sedang melamun menatap barisan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Iya?" Ucap Naina terkejut saat Hera menepuk pelan bahunya.
Naina segera menoleh pada Hera yang duduk di sampingnya. Hera dan Lea hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa? Nyesel nggak jadi nikah sama Delvin?" Ucap Lea tanpa ragu.
"Mbak Lea bilang apa sih?" Sahut Naina singkat.
"Lha kamu kenapa ngelamun dari tadi? Kamu mikirin apa?" Sambung Hera.
"Nggak papa kok Mbak." Sahut Naina sekenanya.
"Udah, nggak usah ditutupin! Kamu mikirin ayahnya Rissa kan?" Tanya Lea tanpa basa-basi.
Naina hanya diam. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca pintu mobil. Ia kembali menatap gedung-gedung yang berjajar di tepi jalan.
"Kita cari sama-sama Na! Semua pasti ada jalan keluarnya." Ucap Hera menenangkan.
"Naina nggak tahu lagi Mbak." Ucap Naina putus asa.
Hati Naina terlalu lelah saat ini. Kemelut hatinya karena harus berpisah dengan laki-laki yang berhasil membuka kunci hatinya, masih menyisakan awan hitam yang belum sepenuhnya hilang. Dan kini, ditambah dengan kenyataan bahwa Delvin bukanlah ayah kandung Rissa, menambah satu lagi ganjalan di hatinya.
Bukan berarti Naina sedih karena ia gagal menikah dengan Delvin, tapi karena Naina harus kembali mencari sosok ayah kandung Rissa, yang sungguh ia tak tahu siapa dia.
Tak dapat Naina pungkiri, kedekatan Rissa dan kemiripan dari segi fisik dan sifat Rissa dengan seseorang membuat Naina memikirkan hal itu kini. Tapi, ia juga tak bisa serta merta mengambil kesimpulan bahwa ia adalah sosok ayah kandung Rissa yang sebenarnya. Apalagi, ia kini sudah berada jauh dari jangkauan Naina. Yang rasanya, sangat tidak mungkin untuk Naina gapai.
Di mobil lain, Rissa sedang mengobrol dengan Sekar. Sekar memuji keberanian Rissa mengungkapkan semuanya tadi. Tapi gadis kecil itu, malah sedang memikirkan ibunda tercintanya.
"Apa Mommy baik-baik saja Oma?" Tanya Rissa khawatir.
"Kita akan segera tahu saat sampai di rumah nanti. Tapi Oma yakin, Mommy sekarang baik-baik saja. Oke?" Ucap Sekar menenangkan Rissa.
Sekar sebenarnya juga mengkhawatirkan keadaan Naina sekarang. Ia masih sangat paham sifat Naina, meski telah berpisah selama beberapa tahun terakhir dengannya.
Semua terjadi begitu saja. Banyak hal yang mengejutkan Naina hari ini. Dari Delvin yang mengingkari janjinya untuk tidak mengundang reporter hingga kenyataan tentang rencana Delvin yang tak pernah ia pikirkan.
Saat sampai di rumah, Naina segera menuju taman belakang rumahnya. Ia duduk di atas rumput yang dirawat oleh Atun dengan cukup baik. Menyandarkan punggungnya pada kursi taman yang ada di sana. Naina tak menghiraukan para tamunya yang juga baru sampai di rumahnya.
"Mommy!" Panggil Rissa saat ia memasuki pintu rumahnya.
Tapi panggilan Rissa, dicegah oleh Lea yang sudah sampai lebih dulu bersama Naina.
"Sayang, jangan ganggu Mommy dulu ya! Biarkan Mommy menenangkan pikirannya sebentar!" Pinta Lea seraya mensejajarkan tinggi badannya dengan Rissa.
"Apa Mommy baik-baik saja Tante?" Tanya Rissa penasaran.
__ADS_1
"Mommy hanya lelah Sayang. Kamu istirahatlah dulu! Kamu hebat hari ini." Puji Lea tulus.
"Terima kasih Tante." Jawab Rissa dengan senyum manisnya.
Lea mengusap lembut kepala Rissa. Mereka lantas menghampiri Sekar dan Wiliam yang baru saja tiba bersama Niko, Sinta dan Atun.
"Dimana Naina?" Tanya Sekar cepat.
"Di taman belakang." Jawab Lea singkat.
"Dia baik-baik saja bukan?"
"Dia sudah bukan Naina yang dulu Mbak. Pemikirannya sudah cukup dewasa sekarang. Memang, terkadang dia masih Naina yang manja dan pendiam, tapi dia sudah cukup bijaksana sekarang." Jelas Lea.
"Biarkan Naina menyendiri sebentar Mbak! Dia hanya perlu menjernihkan pikirannya beberapa saat." Imbuh Hera yang baru saja keluar dari kamarnya untuk menidurkan Tasya dan Via.
Rissa yang tadi khawatir dengan ibunya, mulai sedikit teralihkan perhatiannya karena bercengkrama dengan Niko dan Sinta. Sinta memang sudah biasa menemani Rissa jika Naina sedang memikirkan sesuatu yang cukup mendalam.
Selepas makan siang, Naina sudah kembali mengobrol dengan yang lain. Para tamunya pun masih betah untuk menghabiskan waktu di rumah Naina.
Hingga, sepasang laki-laki dan perempuan datang ke rumah Naina mencari Wiliam dan Sekar.
"Mas Rendi?" Ucap Lea dan Hera bersamaan saat mereka melihat sosok tamu Sekar.
"Hai Ra, Ya!" Sahut laki-laki itu ramah.
Lea dan Hera terkejut melihat kehadiran Rendi di rumah Naina. Mereka tak menyangka, Rendi kini tengah kembali ke Indonesia setelah menikmati masa bulan madunya bersama sang istri barunya.
Ya, Rendi dan istrinya, Monika, tiba di ibukota kemarin. Mereka sengaja datang ke Indonesia untuk mengunjungi negara asal Rendi. Karena Monika adalah warga berkebangsaan Amerika. Dan sekaligus, untuk menemui Naina dan meminta maaf padanya.
"Tidak apa-apa Pak Rendi. Maaf, saya merepotkan Bapak dan Romo waktu itu." Jawab Naina perhatian.
Saat yang lain sibuk mendengar cerita Rendi, ada seseorang yang sedang mengamatinya dengan seksama.
"Sepertinya, aku pernah bertemu dengan laki-laki ini. Tapi dimana? Dan, Romo? Siapa dia? Kenapa sepertinya nama mereka tak asing bagiku?" Batin Niko.
Niko menatap dengan seksama wajah Rendi yang tadi sempat berkenalan dengannya. Mencoba menemukan jawaban dari ganjalan yang ada dihatinya.
"Apa kamu tidak ingat Mas, siapa yang menyerang kalian dan Romo saat itu?" tanya Hera penasaran.
"Aku tidak tahu siapa mereka. Mereka datang begitu saja dengan wajah yang tertutup. Mereka orang-orang yang sangat terlatih." Jawab Rendi singkat saat mereka mengobrol santai di ruang tamu Naina.
"Apa mungkin, itu orang suruhan dari musuh Romo?" Terka Lea.
"Tidak mungkin. Romo tak pernah memiliki masalah yang rumit dengan para saingan bisnisnya. Apalagi kita tahu sendiri, Romo sudah sangat di segani di antara para rekan dan saingan bisnisnya." Jelas Rendi yang sangat paham tentang bisnis mantan atasannya itu.
"Lantas, siapa mereka?" Timpal Hera penasaran.
"Menurut pendapat saya, orang yang menyerang Tuan Hartono dan anak buahnya, memiliki dendam pribadi dengan Tuan Hartono. Atau mungkin, Tuan Hartono tidak sengaja menyinggung orang itu atau keluarganya, hingga membuatnya marah dan menghabisi Tuan Hartono dan anak buahnya." Tutur Wiliam yang sudah sedikit paham dengan masa lalu Rendi.
"Saya juga berpikiran sama dengan Tuan Wiliam." Jawab Rendi mengiyakan.
Semua mulai sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Hartono? Rendi?" Batin Niko penasaran.
__ADS_1
Ingatan Niko melayang jauh ke kejadian beberapa tahun lalu. Kejadian yang cukup ia ingat, karena sikap atasannya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sisi gelap seorang Dean Pratama kala itu.
Flasback On
"Ini Tuan, mucikari yang membuat kesepakatan dengan Nona Rhea. Hartono. Mucikari yang sama, yang saya minta menyiapkan gadis perawan untuk Anda saat di Jogja." Ucap Niko seraya menyerahkan beberapa lembar kertas berisi data diri pada Dean.
Dean pun menerima dan membacanya cepat. Ia sedikit meremas kertas di tangannya. Ia geram karena mengingat adiknya telah ditukar sebagai ganti seorang pel*cur untuk menemani Delvin malam itu.
"Nona Rhea sendiri yang menemui Romo malam itu." Imbuh Niko.
"Apa? Rhea yang memintanya?" Tanya Dean tak percaya.
"Iya Tuan. Saya mendengar sendiri dari pengawal Nona Rhea yang mengantarnya menemui Romo di kelab malam Romo, malam itu."
"Dan wanita yang seharusnya menemani Tuan Delvin, menemani Anda malam itu." Imbuh Niko.
"Begitu rupanya." Sahut Dean mulai sedikit mereda amarahnya karena teringat akan wanita yang menemaninya malam itu.
"Habisi dia! Dan kamu harus melihatnya dengan mata kepalamu sendiri!" Pinta Dean tegas.
"Baik Tuan!"
Hati Dean tetaplah hati seorang kakak yang menyayangi adiknya. Ia tak pernah rela jika adiknya dipermainkan oleh laki-laki bejat yang tak mau bertanggung jawab.
Niko segera melakukan tugasnya dengan baik. Ia mengumpulkan para anak buahnya yang sudah sangat terlatih dalam banyak hal. Mereka mulai membuat rencana untuk melakukan tugasnya. Dan pastinya, Niko pun ikut untuk memastikan sendiri sesuai permintaan Dean.
Saat hari penyerangan, perkelahian pun tak bisa dihindarkan. Niko bahkan ikut turun tangan berkelahi dengan Romo dan Rendi yang sedang berada di rumah Romo. Niko dan anak buahnya pun berhasil melaksanakan tugasnya, karena memang mereka menang jumlah.
Flashback Off
"Mucikari itu. Romo adalah Hartono, dan dia adalah Rendi Irawan, asistennya. Jadi, Nyonya Sekar serta kakak Nona Naina adalah kupu-kupu malam milik Romo?" Batin Niko yang mulai ingat dengan kejadian beberapa tahun lalu itu.
",, wanita yang seharusnya menemani Tuan Delvin, menemani Anda malam itu,,"
",, He's not my biological father,,"
",, Bukankah Rissa sangat mirip dengan Rhea saat kecil?"
Kalimat itu menari indah di benak Niko. Ia berusaha mencari jawaban dari ganjalan di hatinya yang cukup membuatnya gelisah.
"Jangan-jangan, wanita yang malam itu menemani Tuan Dean adalah Nona Naina? Dan Rissa adalah putri kandung Tuan Dean?" Batin Niko yang mulai memahami beberapa hal.
Niko tiba-tiba berdiri dari duduknya. Semua orang yang sedang mengobrol santai, sontak menoleh pada Niko. Sinta yang duduk bersebelahan dengannya pun ikut menoleh.
"Kenapa Mas?" Tanya Sinta penasaran.
"Maaf semuanya, saya pamit undur diri lebih dulu, karena harus menemui seseorang." Ucap Niko cepat.
"Mas mau ketemu siapa?" Tanya Sinta bingung.
"Tuan Jonathan. Beliau baru tiba kemarin dari Jerman. Saya harus melaporkan beberapa hal padanya." Jelas Niko.
Semua mengangguk paham. Sinta pun akhirnya juga mengerti keadaan suaminya. Ia membiarkan sang suami menemui atasannya, sedang ia masih betah untuk menghabiskan waktu di rumah Naina. Niko pun akhirnya meninggalkan Sinta di rumah Naina. Dan akan menjemputnya kembali nanti, setelah ia selesai menemui Jonathan.
Rahasia Tuhan, pasti hanyalah Tuhan yang tahu. Manusia, hanya bisa menerka dan mencoba mencari tahu, hingga Sang Kuasa-lah nantinya yang tetap akan menunjukkan segalanya, dengan caranya sendiri.
__ADS_1