
"Tenanglah Na!"
Kalimat itu berkali-kali Sekar ucapkan demi menenangkan Naina. Ia tahu, hati Naina sedang sangat kecewa saat ini. Dan itu juga yang ia rasakan beberapa minggu yang lalu saat mendapati kebenaran itu.
"Apa salahku Bu', sampai Mama melakukan itu padaku? Rissa adalah cucunya Bu'. Kenapa Mama bisa melakukan itu pada cucunya sendiri?" Ratap Naina dalam pelukan Sekar.
"Cukup Na! Jangan bicara seperti itu! Kamu tak salah apa-apa." Hibur Sekar.
"Sebegitu jijikkah Mama pada masa laluku, hingga ia tak bisa menerimaku dan rela memisahkan cucunya dengan ayahnya?"
"Cukup Na!" Bentak Sekar.
Sekar segera melepaskan pelukannya. Ia menatap tajam pada Naina yang tertunduk lemas dengan wajah yang sudah berubah merah dan basah.
"Itu bukan salahmu Na. Itu bukan salahmu. Sudah berapa kali Ibu mengatakan itu padamu?" Ucap Sekar sedikit kasar.
"Lalu kenapa Bu'?"
"Dengarkan Ibu dulu! Ibu belum selesai bercerita." Pinta Sekar lebih lembut.
Sekar mengambilkan beberapa lembar tisu yang ada di atas meja untuk Naina. Naina pun segera mengusap wajahnya yang basah dan sembab.
"Mommy!"
Rissa tiba-tiba muncul dengan wajahnya yang sangat mengantuk. Ia tadi terbangun karena suara bentakan Sekar yang sedikit keras.
Naina dan Sekar pun langsung menoleh. Mereka terkejut melihat Rissa berdiri sambil menatap mereka sambil sedikit mengucek sebelah matanya. Mereka pun segera menghampiri Rissa.
"Oma kenapa marah-marah malam-malam?" Tanya Rissa polos saat Naina dan Sekar sudah menghampirinya.
Naina dan Sekar saling pandang.
"Tidak Sayang, Oma tidak marah-marah tadi. Oma hanya sedang bercerita sedikit dengan Mommy." Kilah Sekar sambil mengusap pipi Rissa.
Rissa pun mengangguk paham.
"Tidur lagi ya Sayang!" Pinta Naina.
"Dengan Mommy!" Rengek Rissa.
"Yuk, tidur sama Mommy!" Ajak Naina cepat.
"Malam Oma." Pamit Rissa.
"Malam Sayang."
Sekar mengecup lembut kening Rissa sebelum Rissa pergi ke kamarnya.
"Makasih ya Bu'." Ucap Naina sebelum menyusul Rissa.
"Iya. Besok Ibu ceritakan lagi. Istirahatlah!"
"Ibu juga istirahat ya!"
Sekar pun mengangguk. Naina pun segera menyusul Rissa ke kamarnya. Sedang Sekar, segera pergi ke kamarnya untuk beristirahat juga.
Satu rahasia kecil telah Naina ketahui. Sekeping rasa kecewa muncul begitu saja dalam hati Naina setelah mengetahuinya. Ia pun mulai bimbang dengan apa yang akan ia hadapi kedepannya. Tapi ia yakin, ada orang-orang baik yang selalu peduli padanya yang siap membantunya dan menasehatinya kapanpun ia membutuhkannya.
...****************...
Siang yang basah. Beberapa kawasan ibukota sedang diguyur oleh ribuan liter air langit yang akan menjadi sumber penghidupan para penduduk bumi. Meski tidak sampai menimbulkan banjir, tapi di beberapa tempat mulai tergenang oleh air hujan.
Naina hendak keluar kantor untuk makan siang, saat pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang.
"Masuk!" Sahut Naina sambil membereskan beberapa pekerjaannya.
"Selamat siang Ibu Naina Andini." Sapa seseorang yang sudah berada di ambang pintu dan sedang mengamati Naina yang masih sibuk di meja kerjanya.
Naina pun segera menoleh. Senyumnya merekah dengan indahnya tatkala melihat sosok yang baru saja masuk ke ruangannya. Sang tamu pun meletakkan apa yang ia bawa ke atas meja tamu di ruangan Naina.
__ADS_1
"Kamu ke sini Mas?" Sapa Naina bahagia sambil berdiri dan segera menghampiri sang tamu.
"Iya dong. Kan aku pengen makan siang sama calon istriku." Sahut tamu itu tanpa ragu, yang tak lain adalah Dean.
"Gombal!" Cibir Naina sambil melipat dua tangannya di dada.
"Buktinya, hujan badai ku terjang. Genangan air di jalan ku arungi. Antrian panjang para pembeli pun ku nanti. Hanya demi, bisa makan siang denganmu, wahai Calon Istriku." Ucap Dean sedikit cekikikan.
"Bohong banget sih Mas!" Ucap Naina sambil tertawa.
"Beneran." Bela Dean.
"Yang bener ya, hujan badai sama genangan air tu, yang ngelewatin kan mobil kamu. Antrian pembeli, palingan juga Niko yang antri. Iya kan?" Sindir Naina santai.
"Kok sayangku pinter sih?" Ucap Dean seraya menarik pinggang Naina dalam pelukannya.
"Kalau nggak pinter, nggak bakalan aku punya kantor sendiri Mas." Jawab Naina sambil bergelayut manja di pelukan Dean.
"Iya."
CUP. Dean mengecup pipi Naina begitu saja.
"Mas, ini di kantor." Tegas Naina.
"Kan di kantor kamu. Nggak papa dong." Kilah Dean.
"Ya kan harusnya aku kasih contoh yang baik Mas, bukan malah memulainya." Gerutu Naina.
"Sedikit."
Naina mengerutkan keningnya kesal. Ia bahkan mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Dean yang mengelak ketika diberi tahu.
Dan Dean tak menyia-nyiakan kesempatan langka itu pastinya. Ia segera menarik tubuh Naina lebih dekat dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Naina.
Naina segera meronta. Ia tak ingin, karyawannya sampai melihatnya melakukan hal itu di kantor. Tapi Dean sama sekali tak melepaskannya. Dean malah semakin meminta Naina menyambut perlakuannya.
"Hanya sebentar Na. Kumohon!" Ucap Dean yang tiba-tiba menghentikan aksinya nekatnya sambil menatap lembut mata Naina.
"Terima kasih. Aku akan mengajarimu lagi esok." Ucap Dean setelah menyelesaikan sesi ciuman dadakannya dengan Naina.
Wajah Naina berubah sangat merah saat ini. Ia benar-benar malu, bisa sangat terhanyut dengan permainan Dean yang begitu memabukkannya tadi.
"Yuk makan! Aku sengaja bawa makan siang ke sini karena sedang hujan lebat di luar." Jujur Dean.
Naina yang tadi menunduk malu pun, segera mengangkat wajahnya. Ia pun tersenyum dan mengangguk setuju dengan ucapan Dean. Mereka segera menikmati makan siang yang tadi Dean bawa ke kantor Naina.
Setelah selesai, Naina dan Dean pun mengobrol banyak hal. Tak lupa, mereka menjalankan kewajiban mereka di mushola yang ada di kantor Naina. Mereka kembali menikmati waktu sembari menunggu waktu makan siang selesai dan hujan mereda.
"Mas, kapan Mas tahu jika Rissa adalah putrimu?" Tanya Naina disela obrolannya sambil bergelayut manja di bahu Dean.
"Satu bulan sebelum aku kembali ke Indonesia." Jujur Dean.
"Bagaimana kamu mengetahuinya? Apa Mama memberitahumu?"
"Tidak, Mama tidak memberitahuku secara langsung."
Flashback On
Pagi yang indah di kota Munich. Suhu dingin mulai menerpa kota dengan sejuta pesonanya itu. Musim dingin hampir tiba di kota itu.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" Gumam Jelita saat mendengar salah satu asisten rumah tangganya memberi tahu bahwa ada tamu yang datang.
Jelita dan Jonathan pun berjalan menuju ruang tamu mereka bersamaan.
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Jonathan Diedrich." Sapa sang tamu cepat saat menyadari kedatangan sang pemilik rumah.
Jonathan dan Jelita terkejut melihat tamu mereka yang sedang berdiri menyapa mereka dengan ramah.
"Tuan dan Nyonya Wiliam Robert?" Ucap Jelita tak percaya.
__ADS_1
"Panggil saya Sekar saja Nyonya Jonathan." Jawab sang tamu ramah.
"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya Robert." Ucap Jonathan menengahi.
Mereka pun duduk di kursi yang tersedia.
Ya, tamu Jonathan dan Jelita pagi ini adalah Wiliam dan Sekar. Wiliam dan Sekar mencoba berbasa-basi banyak hal pada Jonathan dan Jelita.
"Ma, Pa, Dean berangkat dulu!" Sela Dean tiba-tiba sambil menenteng jas kerjanya.
Dean tak begitu menghiraukan siapa tamu yang datang ke rumahnya pagi ini.
"Rissa." Ucap Sekar tiba-tiba seraya berdiri saat melihat Dean secara langsung.
Dean yang tadi tak menghiraukan tamu kedua orang tuanya, segera menoleh pada Sekar yang mengucapkan sebuah nama yang familiar di telinga Dean.
Kemiripan wajah Dean dengan Rissa tak bisa dipungkiri. Terlebih, bola mata biru yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang Indonesia. Itu yang membuat Sekar segera teringat oleh cucunya.
"Siapa beliau Ma?" Tanya Dean cepat.
"Dia,,"
Jelita yang sedikit gugup karena ulah Sekar, kebingungan menjawab pertanyaan putranya. Dan itu dimanfaatkan segera oleh Sekar.
"Aku Sekar, ibu Naina." Jawab Sekar yakin.
Tubuh Dean mematung seketika mendengar nama itu. Darahnya berdesir cepat seiring dengan jantungnya yang mendadak berpacu lebih kencang. Suasana pun mendadak hening seketika.
"Ibu Naina? Bukankah kedua orang tua Naina sudah meninggal saat dia masih kecil?" Sanggah Dean.
"Iya. Aku ibu angkatnya. Teman Lea dan Hera. Kamu mengenal mereka bukan?" Tembak Sekar tanpa ragu.
Dean terdiam. Ia mencoba mengingat sosok yang beberapa kali Naina bicarakan yang ia cari keberadannya selama beberapa tahun. Teman Lea dan Hera.
"Iya, saya mengenal mereka." Jujur Dean.
"Iya Sayang, berangkatlah! Kamu ada rapat pagi bukan?" Sela Jelita sambil sedikit mendorong tubuh Dean menuju pintu utama.
Jelita memaksa Dean segera berangkat agar tak bertemu dengan Sekar terlalu lama. Kedatangan Wiliam dan Sekar pagi ini, sudah menjadi firasat tak baik bagi Jelita.
Dean yang paham sikap ibunya, hanya menurutinya saja. Ia pergi keluar rumah begitu saja.
"Kenapa Nyonya Jelita? Apa Anda takut rahasia Anda akan diketahui oleh putra Anda?" Terka Sekar tanpa ragu setelah Jelita kembali duduk di ruang tamu.
"Apa maksud Anda Nyonya Sekar?" Polos Jelita.
"Rahasia yang Anda sembunyikan dari putra Anda dan dari mata dunia."
"Saya tidak memiliki rahasia apapun Nyonya Sekar."
"Apa Anda yakin? Lalu, bagaimana dengan kenyataan bahwa Rissa adalah cucu kandung Anda? Putri dari putra sulung Anda, Dean Pratama Diedrich." Ucap Sekar lantang.
Jonathan dan Jelita terkejut mendengar ucapan Sekar. Mereka saling pandang dengan tatapan tak percaya.
"Ada apa Tuan dan Nyonya Jonathan? Apa istri saya salah bicara? Bahkan kami sudah melakukan tes DNA antara Dean dan Rissa seperti yang Anda lakukan dua tahun lalu setelah batalnya pernikahan Naina. Dan hasilnya sama seperti yang Anda terima. DNA mereka cocok hampir 100%." Imbuh Wiliam yakin.
Jonathan dan Jelita terdiam.
"Apa yang Anda bicarakan Tuan Wiliam?" Ucap Jonathan basa-basi.
"Sudahlah Tuan Jonathan! Anda tak perlu mengelak lagi. Kami sudah memiliki bukti bahwa Anda berdua mengetahui fakta itu. Bahkan, asisten pribadi Dean di Indonesia, Niko, juga mengetahui hal itu bukan?" Jawab Wiliam santai.
"Kami datang kemari bukan untuk memberitahukan ini pada Anda berdua atau pada putra Anda. Tapi kami ingin mengetahui, apa alasan Anda merahasiakan hal ini dari putra kalian dan dari mata dunia? Apa karena masa lalu Naina?" Imbuh Sekar lagi.
Jonathan dan Jelita kembali terdiam. Mereka bagaikan seorang anak kecil yang ketahuan melakukan sebuah kesalahan oleh ibunya dan tak bisa mengelak lagi. Mereka tak bisa menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang Sekar ajukan. Karena memang, itu benar adanya.
"Apa itu benar Ma, Pa?" Sela Dean tiba-tiba.
Dua pasang suami istri itu langsung menoleh ke arah Dean yang ternyata mendengar percakapan mereka tadi. Dean tadi sebenarnya berniat mengambil tas kerjanya yang tertinggal. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Sekar. Dan kehadirannya tidak disadari oleh empat orang itu.
__ADS_1
"Dean?"