Sebuah Ikatan Hati

Sebuah Ikatan Hati
Suami Siaga


__ADS_3

Pagi yang tenang di kediaman Diedrich. Seperti biasa. Tak banyak keributan dan kegaduhan. Jonathan sedang menyesap kopi pagi buatan Lita.


"Dean mana Pa? Tumben belum keliatan." Lita melirik arloji di tangan kanannya.


"Masih di kamar mungkin Ma. Ini hari Minggu." Sahut Jonathan santai


"Dean kalau hari Minggu nggak pernah bangun siang Pa. Dia jogging pagi keliling kompleks kalau enggak ke taman." Ketus Diana.


"Lha itu Mama udah hafal. Kenapa masih tanya?"


"Bik, tolong siapin sarapannya ya! Buat Dean nanti saja kalau Dean udah pulang jogging." Pinta Lita pada asisten rumah tangganya yang kebetulan melewatinya.


"Oh iya Nyonya. Tapi Nyonya, Tuan Dean sepertinya tidak jogging." Jawab wanita paruh baya yang menjadi asisten rumah tangga Lita sejak Dean masih kecil.


"Nggak jogging? Dia masih tidur di kamar Bik? Tumben."


"Tadi pagi-pagi, Tuan Dean sudah pergi Nyonya. Pakaiannya rapi."


"Hah? Dean pergi pagi-pagi?"


"Iya Nyonya."


"Kemana anak itu? Mau dibantu deketin Naina malah ilang." Gerutu Lita.


"Ya di telfon Ma! Kan bisa. Kenapa pakai sewot pagi-pagi?" Sahut Jonathan santai.


"Oh iya ya Pa. Mama sampai lupa."


Lita pun segera mengambil ponselnya. Sumi, sang asisten rumah tangga pun kembali melanjutkan pekerjaannya setelah Lita dan Jonathan asik mengobrol.


"Kamu dimana De? Pagi-pagi udah pergi nggak pamitan Mama?" Gerutu Lita kala panggilannya tersambung dengan putra tersayangnya.


"... ..."


"Di rumah Naina?"


"... ..."


"Oh, begitu. Yasudah kalau kamu kesana. Salam buat Naina sama Rissa ya!"


"... ..."


"Hati-hati ya!"


"... ..."


"Wa'alaikumussalam."


Panggilan pun berakhir. Lita lantas kembali duduk bersama Jonathan menikmati paginya. Lita pun menceritakan Dean yang ternyata sudah berangkat ke rumah Naina pagi-pagi.


...****************...


Ceklek, pintu pun terbuka.


"Dokter Juan? Dean?" Naina menatap dua orang pria yang berada di depan pintu rumahnya.


"Kalian ada apa kesini pagi-pagi sekali?" Tanya Naina penuh kebingungan.


"Aku,,"


Dean dan Juan kebingungan mengutarakan maksud hati kecil mereka sejujurnya. Terlebih, ada rival yang mencurigakan disampingnya satu sama lain.


Naina masih menanti jawaban dua pria beda generasi itu. Naina sebenarnya sudah biasa menerima kunjungan Juan jika ia baru saja memanggilnya ke rumah untuk profesinya sebagai dokter. Juan akan beralasan memastikan pasiennya meminum obatnya dengan baik. Aneh memang, tapi itulah dia.


Juan memang menaruh hati pada Naina. Pria yang baru saja menginjak usia kepala lima itu, tertarik pada Naina setelah kepergian istrinya sepuluh tahun lalu. Setelah ditinggal mati oleh istrinya, ia tak pernah sekalipun tertarik dengan wanita manapun. Meski putrinya berulang kali mengenalkannya pada banyak wanita.


Tapi saat Juan bertemu dengan Naina dua tahun lalu di rumah sakit miliknya, ia merasakan ada getaran aneh di hatinya ketika berada di dekat Naina. Dan ia akan merasa rindu pada Naina jika lama tak berjumpa dengannya. Dan itu membuat Juan berusaha mendekati Naina.


Juan pun berusaha sangat keras mendekati Rissa. Butuh lebih dari satu tahun bagi Juan untuk dekat dengan Rissa. Tapi bagi Juan, itu tidak masalah dan sudah cukup melegakan. Karena artinya, hanya tinggal meluluhkan hati wanita yang telah mencuri perhatiannya itu.


Naina sebenarnya tahu maksud hati Juan. Ia pun berusaha bersikap normal dan biasa pada laki-laki yang lebih pantas menjadi ayahnya itu. Ia sudah sangat sering menolak berbagai bentuk perhatian Juan. Bahkan Naina pernah menolak Juan mentah-mentah kala ia mulai bersikap romantis. Tapi Juan tak pernah menyerah.


"Seperti biasa Na, aku mau memastikanmu minum obatnya. Kalau tidak, aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga." Jawab Juan santai sambil melirik sinis pada Dean.


"Aku ingin memastikanmu makan teratur Na. Seperti perintah Dokter Juan kemarin, kamu harus makan teratur." Jawab Dean tak kalah santai.


"Aku,," Belum sempat Naina menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ponsel dua orang laki-laki itu berdering bersamaan.

__ADS_1


Dean dan Juan pun akhirnya menjawab panggilannya masing-masing dengan sedikit menjauh dari pintu dan rivalnya.


Naina hanya menghela nafas panjang melihat dua laki-laki itu. Ia menggelengkan kepalanya lesu. Ia menunggu dua laki-laki itu menerima telfon.


Dean dan Juan bersamaan mengakhiri panggilannya. Wajah Dean tampak sumringah. Tapi tidak dengan Juan. Ia tampak sedikit panik dan kecewa.


"Ada apa Dokter? Apa ada pasien?" Tanya Naina yang cukup paham kebiasaan Juan yang bisa kapan saja dibutuhkan oleh pasien-pasien ruangan VVIP khusus di rumah sakitnya.


Dean memandangi Juan dengan tatapan sombong. Ia merasa menang jika memang benar apa yang ditebak Naina.


"Iya Na." Jawab Juan sedikit lesu.


Juan sebenarnya biasa meninggalkan Naina untuk urusan pasien. Tapi tidak saat ini. Ada rival yang sungguh terlihat sulit untuk dikalahkan. Dari segi manapun.


"Tunggu apa lagi Dokter? Pasien Anda pasti sudah menunggu. Akan sangat buruk akibatnya jika Anda terlambat." Ucap Dean penuh semangat.


"Yes! Bye Dokter Ganjen!" Teriak Dean dalam hatinya.


"Aku pergi dulu Na. Kamu harus janji, minum obatnya teratur dan sampai habis. Jangan kelelahan, karena itupun akan memperburuk kondisimu!" Pesan Juan penuh perhatian.


"Tentu Dokter. Terima kasih." Sahut Naina santai.


"Baiklah! Aku permisi!" Ucap Juan lalu melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Naina.


Naina dan Dean menatap kepergian Juan. "Kamu ngapain De kemari? Sendirian?"


"Aku mau jadi sopir kamu hari ini." Jujur Dean dengan senyum tampannya.


"Aku nggak butuh sopir De. Aku udah bisa bawa mobil sendiri." Sahut Naina santai.


"Kamu lupa yang dibilang Dokter Juan tadi? Kamu nggak boleh kelelahan. Rissa ada syuting perdana kan hari ini di puncak? Kemarin dia sendiri yang cerita."


"Iya. Terus?" Naina masih cukup ketus menanggapi Dean.


"Aku akan antar kalian ke puncak. Kamu nggak boleh nyetir sendirian dengan kondisi seperti itu. Akan sangat bahaya buatmu dan Rissa." Sahut Dean ramah.


"Nggak perlu De, aku masih bisa nyetir sendiri sampai puncak."


"Ayolah Na! Kamu nggak kasihan sama Rissa kalau nanti kamu kenapa-napa waktu disana?" Dean menyandarkan tubuhnya pada daun pintu yang masih tertutup sembari menatap Naina lembut.


Naina memikirkan ucapan Dean. Ia pun tak yakin dengan kondisi tubuhnya saat ini. Tapi, ia juga tak ingin merepotkan orang lain terlebih jika orang itu adalah Dean.


"Baiklah! Terima kasih sebelumnya. Masuklah, kita sarapan dulu!"


Naina akhirnya mengalahkan egonya. Ia juga tak ingin terjadi sesuatu pada Rissa jika nanti tubuhnya tak kuat saat syuting belum selesai.


Dean menyunggingkan senyum indahnya. Naina pun membalas senyuman itu dengan tulus. Aahh, hati Dean seakan mendapatkan pasokan energi dari tongkat sihir Ibu Peri-nya Cinderella, hanya karena senyuman tulus Naina.


Dean pun mengikuti Naina masuk ke rumah untuk sarapan. Saat mereka sampai, Rissa dan Atun telah selesai sarapan.


"Mbak, tolong ambilkan piring untuk Dean!" Pinta Naina. Atun pun segera mengambilkan piring untuk Dean.


"Hai Om!" Sapa Rissa ramah.


"Hai cantik! Waah, cantik bener hari ini?" Puji Dean sembari duduk tepat di samping Rissa.


"Iya dong Om! Kan mau ketemu idolanya." Celetuk Rissa.


"Makanlah De! Setelah itu kita berangkat." Ucap Naina berusaha memotong pembicaraan Rissa.


Naina tahu, jika Rissa melanjutkan ucapannya, pasti akan mengubah mood laki-laki tampan itu menjadi buruk. Mungkin.


"Om Dean mau ikut Rissa syuting?" Tanya Rissa antusias.


Dean mengangguk lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Rissa. "Bolehkan?"


"Boleh Om." Jawab Rissa dengan senyum lebarnya.


"Makasih cantik. Om hari ini akan jadi sopir pribadi kamu dan Mommy. Oke?" Ucap Dean sambil mengisi piringnya.


"Oke Om!" Sahut Rissa lagi.


Rissa segera berlari ke arah tv untuk menonton acara kartun pagi kegemarannya. Naina dan Dean akhirnya makan berdua di meja makan. Tak banyak yang berbicara. Dean hanya sesekali melirik Naina yang fokus pada makanannya. Ia pun akhirnya melakukan hal sama seperti Naina.


"Kamu sudah minum obatmu?" Tanya Dean Pada Naina saat mereka akan berangkat.


"Sudah." Sahut Naina singkat.

__ADS_1


"Kamu bawa kan obatnya?" Tanya Dean lagi.


"Iya, sudah aku bawa di tas." Sahut Naina sedikit kesal.


"Oke. Kita pakai mobilku saja ya!" Saran Dean.


Naina yang malas berdebat, hanya diam tak menggubris. Ia hanya mengikuti langkah Dean dan Rissa yang terlihat begitu ringan dimatanya. Dean pun membantu Naina memasukkan beberapa keperluan Rissa ke bagasi mobilnya.


SUV mewah berwarna hitam milik Dean itupun akhirnya melaju setelah Naina duduk tepat di samping Dean dan Rissa duduk di kursi belakangnya.


Rissa sibuk dengan tab milik Naina di kursi belakang. Ia memeriksa beberapa harga saham yang sempat ia lewatkan kemarin, meski ini hari Minggu. Itulah kesibukan Rissa dibalik sifatnya yang masih kekanak-kanakan.


Tak banyak obrolan di dalam mobil. Hanya Dean dan Rissa yang saling berbincang tentang banyak hal. Naina memilih diam, karena sebenarnya perutnya terasa nyeri sejak tadi.


"Kamu baik-baik saja Na?" Tanya Dean kala melihat Naina sedikit meringis kesakitan di sampingnya setelah hampir empat puluh lima menit berkendara.


"Nggak papa, cuma sedikit nyeri saja perutku." Sahut Naina lirih.


"Are you okay Mom?" Tanya Rissa khawatir.


"Mommy nggak papa sayang." Sahut Naina berusaha menutupinya agar Rissa tak khawatir.


Naina pun tersenyum ke arah Rissa seraya mengusap kepala Rissa yang sedikit melongok ke arah Naina.


"Kamu tidurlah dulu! Ini masih cukup jauh." Saran Naina pada Rissa. Ia tahu, putrinya itu terlihat mengantuk dan mulai jenuh karena tak kunjung sampai.


"Oke Mom, Rissa tidur dulu saja."


Rissa akhirnya menyerahkan tab yang tadi ia bawa pada Naina. Ia mulai memposisikan tubunya sembari mendengarkan musik melalui headphone kesayangannya yang berwarna biru. Rissa pun mulai terlelap dengan cepat. Sedang Naina masih terus meringis kesakitan di samping Dean.


"Kamu juga tidurlah! Nanti akan kubangunkan jika sudah sampai! Mungkin sakitmu akan berkurang." Saran Dean.


Dean melirik pada Naina. Buliran bening nampak melewati pipi kanan Naina. Dean segera menepikan mobilnya.


"Apa sangat sakit?" Tanya Dean panik.


Naina hanya mengangguk. "Dimana obatmu?"


"Lanjutkan saja per,,jalanannya! Nanti kita bisa ter,,lambat. Rissa akan dimarahi sutradara jika ter,,lambat." Ucap Naina lirih dan terbata-bata.


"Kamu masih bisa memikirkan hal itu saat kondisimu seperti ini?" Marah Dean.


Dean segera mengambil ponselnya. Ia menghubungi Juan untuk menanyakan bagaimana meredakan sakit Naina.


Dean lalu mengambilkan obat Naina seperti yang disarankan Juan. Ia membantu Naina meminum obatnya.


"Maaf,," Ucap Dean seraya mengusap lembut perut Naina.


Naina hanya pasrah karena rasa sakitnya yang benar-benar tak tertahankan. Keringat dingin sudah membasahi tangan dan tubuhnya karena menahan sakit. Airmatanya pun terus mengalir.


Setelah beberapa saat, Naina terlelap karena pengaruh obat seperti kata Juan. Dean menghela nafas panjang.


"Kamu membohongiku ternyata tadi." Gumam Dean setelah Naina terlelap.


Dean pun kembali melajukan mobilnya menuju lokasi syuting Rissa. Dengan dua wanita yang tertidur di kursi penumpangnya. Ia tersenyum kecil mengingat keadaannya kini.


"Aku udah kayak suami siaga aja."


...****************...


Assalamu'alaikum..


Hai readers semua πŸ€—πŸ€—


Terima kasih semuanya yang sudah berkenan membaca karya othor yang amatir ini πŸ₯ΊπŸ˜


Maaf kalau ceritanya sangat sederhana dan membosankan 😁😁 ini karena keterbatasan othor pastinya πŸ˜„


Yuk yuk yuk jangan lupa tinggalkan jejak buat othor 😁


Jangan lupa LIKE, VOTE, RATE dan KOMENnya ya πŸ™πŸ™ biar othor tambah semangat πŸ˜‰


Kritik dan saran juga boleh kok πŸ‘πŸ‘


Mampir juga ke karya othor yang lain yuk 😁😁


Silahkan mampir di profil othor yaa πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


Terima kasih semuanya 😘😘😍😍


Wassalamu'alaikum..


__ADS_2