Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Pengorbanan!


__ADS_3

Tatapan mereka semua tak lekang dari sepasang pasutri yang tengah berjalan menuju tanah tepat dibawah Portal yang memberontak dari kuncian Ardelof, kemilau cahaya merahnya semangkin menyilaukan membuat Sofea terus memukul kepalanya agar tetap sadar.


Tentu semua itu membuat mereka prihatin, Ardelof tetap memeluk Sofea yang begitu ingin menyerap energi Ardelof yang hanya sedikit tersisa hingga ia ingin menjauh tapi Ardelof tetap menariknya kembali.


"A..Ard!"


"Hm?"


Ardelof membelit pinggang Sofea yang menatap keatas sana, cengkraman tangan Sofea ke lengan Ardelof menguat menggeleng saat ada suara yang seakan menyuruhnya untuk menghisap jiwa Ardelof membuatnya ingin berteriak.


"A..Ard, aku..aku mohon."


Sofea memelas menurunkan tangan Ardelof dari pinggangnya karna ia mulai sulit mengendalikan dirinya hingga Sofea lansung menjauh menatap langit diatas mereka.


"Mungkin ini akhirnya!"


"Jangan..jangan bicara begitu."


Ardelof ingin mendekati Sofea yang menggeleng menunjukan tangannya yang sudah mulai berubah, nafas Sofea sangat berat menolak untuk mengikuti bisikan itu.


"Seranglah dia!"


"T..Tidak!"


"Dia yang mengahalangimu untuk makan!"


"Tidak!!!!!"


Bentak Sofea lansung berlari menuju kawah sana tapi Ardelof dengan cepat menariknya hingga Sofea Refleks menghempaskan tangannya mengenai dada Ardelof.


Whuss..


Brughh..


Ardelof terpental kearah Kakek Brent yang lansung terkejut dengan kekuatan Sofea yang sudah mulai dikuasi aura hitam. tubuh Ardelof yang pasrah tersungkur itu menatap Sofea yang juga memandangnya penuh luka dan air mata.


"M..Maaf, M..Maafkan aku!"


Lirih Sofea mundur perlahan menatap semua orang yang memandangnya, Renoval merasakan jelas kalau Sofea menolak Wujud Gelap ini dengan sesekali sadar.


Whusss...


"A..***!!"


Sofea mencengkram dadanya hingga ia luruh ke bawah dengan ringisan penuh kesakitan, suara deritan dari portal sana lansung berbunyi seperti memberontak ingin lepas membuat Kakek Brent dan Raja Hangton lansung dilanda kebingungan.


Sofea sebentar lagi akan berubah menjadi seperti Mahluk itu dan akan meratakan mereka, inilah kekuatan dua arah yaitu Kegelapan dan Sofea belum menemukan Wujud Dewinya.


"Aaaaarddd hiks!"


"S..Sayang!"


Lirih Ardelof menatap Sofea yang menjerit kuat mencengkram dadanya, hujan yang tadi terhenti berganti dengan kekuatan angin yang bergejolak membuat Kakek Brent menatap berat Ardelof yang benar-benar dilanda kerumitan.


"Itu kesempatannya!"


Gumam Kakek Brent menatap mereka semua, inilah saat untuk menghancurkan semua musuh dengan menyerang saat Sofea masih belum sempurna.


"Bersikaplah selayaknya pemimpin!"


"Kau bilang apa?"


Renoval sudah naik pitam hingga ia menatap Kakek Brent yang tahu ini sangat sulit, apalagi mereka jiga sangat menyayangi Sofea. tapi, berapa banyak nyawa yang berkorban agar Tanah ini kembali jaya? dan ia rasa mengorbankan satu orang itu tak masalah.


"Hanya ini caranya, semuanya akan bebas jika.."


"Jaga bicaramu, Brengsek!!"


Renoval ingin menyerang Kakek Brent tapi Raja Hangton menariknya, mata pria paruh bayah itu juga sudah merah menahan sesak karna ia juga seorang ayah dan itu adalah putrinya.


"Dia benar!"


"Kau gila, ha!!!!"

__ADS_1


Bentak Renoval menyala-nyala, tak ada yang tahu ia siapa disini kecuali orang-orang yang melihatnya dulu. itu Sofea adiknya dan ia tak akan sanggup melihat wanita itu tiada dihadapannya.


"Lalu aku harus apa??"


Raja Hangton yang tak sanggup lagi berdiri disini, ia sangat sakit, bahkan sangat. Sofea itu putrinya dan ia sangat menyayanginya, tak mungkin baginya melihat wanita itu terluka tapi, tapi ia berfikir sebagai seorang Pemimpin.


Suara petir diatas sana kembali menggelora dengan Portal langit yang mulai koyak membuat Ardelof mematung melihat Sofea yang menahan sakit yang mengoyak jiwanya.


"Ard!"


Renoval menatap Ardelof yang melangkah mendekati Sofea dengan tatapan mata kosongnya, langkah yang hampa menelan luka dengan pandangan tak bisa dimengerti, mereka terkejut saat Portal diatas sana terbuka hingga lansung mengeluarkan Mahluk-Mahluk yang sama membuat Renoval dan yang lainnya kembali bertarung disuasana yang mendingin.


Sofea meremas kuat dadanya dengan gertakan gigi yang nyaring menarik diri dari langkah Ardelof yang terus mendekatinya tanpa rasa takut, seiring dengan wajah Sofea yang mulai berubah begitu pula banyaknya mahluk yang datang dari atas sana.


"*Bunuh dia!!!"


"Kau lapar, bukan*?"


"J..Jangan mendekat!"


Sofea menggeleng menolak dengan tangan yang mulai tak bisa ia kondisikan, mata Sofea mulai berubah menghitam dengan tubuh yang kejang karna menolak semua ini membuat Sofea benar-benar merasa tak kuat.


"Pergi!!!!!"


Teriak Sofea melempar Ardelof dengan tanah yang ia genggam, ia takut akan membunuh semua orang termasuk Suami dan Putranya ditengah keadaan yang genting.


Duarrr..


Suara ledakan diatas sana memecah kuncian Ardelof pada Deugon hingga Sofea lansung merasa tersengat dan akhirnya ia hilang kendali berdiri tegap menatap Ardelof dengan pandangan iblisnya, tiba-tiba tangan Sofea mengeluarkan pisau membuat Kakek Brent lansung berteriak.


"Sekarang, Ard!!!!"


Ardelof hanya diam menatap mata Sofea yang sepenuhnya menghitam, wajah yang pucat membayang tengkoraknya hingga perlahan Sofea mendekati Ardelof dengan seringaian iblisnya.


"Bunuh dia!!!!"


Kakek Brent yang tengah menghalang Jiwa Deugon untuk kembali membentuk, tapi Ardelof seakan membatu menghentikan langkahnya dengan Sofea yang sudah ada dihadapannya.


"Hay!"


"Aku menginginkanmu!"


Sofea mengarahkan pisau ditangannya keleher Ardelof dengan nafas yang berat dan nyaris terhenti, mata Sofea masih dikelabui aura hitam dengan asap pekat keluar disela-sela jarinya menyentuhkan ujung pisaunya ke leher Ardelof yang tetap diam tak ada pergerakan.


"Sekarang, Ardelof!!!!"


Sofea menyeringai dengan cepat menarik pisaunya keatas ingin menikam leher Ardelof yang memejamkan matanya untuk menerima.


Oeeekkk...


Suara tangisan bayi itu membuat perhatian mereka teralihkan hingga Sofea kembali sadar lansung terkejut menatap pisau ditangannya yang hampir saja menyentuh kulit leher Ardelof yang tetap diam.


"A..Ard!"


"Semuanya akan baik-baik saja."


Jawaban Ardelof selalu membuat Sofea termenggu dengan gemetar melepas pisau ditangannya lalu luruh begitu saja menatap kebelakang sana, Mama Netty yang susah sembab menggendong putra mereka hingga Ardelof lansung membawa Sofea kepelukannya.


"A..Ard, aku..aku ingin me..membunuhmu, S..Sayang!" Suara Sofea bergetar.


"Tidak, itu bukan kau. tidak Sofeaku!"


"Ard!!!! Lakukan sekarang!!!!"


Kakek Brent yang kualahan karna mahluknya bertambah banyak mendengar tangisan Putra Sofea, Ardelof tersenyum kecil mengelus pipi Sofea yang dijalari urat hitam dengan mata yang kembali seperti semula tapi hanya sebelah kanan.


"Aku ingin kau membangun Tanah ini kembali."


"A..Ard."


"Berjanjilah kau akan membangunnya dan menjadi Ratu yang baik dan sangat baik!"


Bibir Sofea bergetar akhirnya ia menagis didekapan Ardelof yang menghujami puncak kepala dan pundak mulus Sofea dengan kecupan penuh cinta.

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu! dan Putra kita. hm?"


"A..Aku..Aku juga, hiks! aku..aku sangat mencintaimu, Ard!"


Ardelof mengangguk menatap keatas sana, ia rasa ini waktunya ia membuat semuanya kembali seperti semula. ia yakin Sofea bisa membangun Negri ini dengan baik tanpa dirinya.


"Peggang tanganku!"


"A..Ard."


"Ayolah, aku tahu caranya bagaimana!"


Keduanya menatap Mama Netty yang menunjukan wajah si kecil itu hingga keduanya tersenyum hangat melihat wajah tampan putranya, pelukan Ardelof menguat ketubuh Sofea menyampaikan Cinta dihatinya.


"Dia..Dia mirip sepertimu."


"Tentu, aku yang paling tampan!"


Sofea terkekeh dengan bibir pucatnya hingga keduanya kembali saling tatap dengan Ardelof yang menggenggam kedua kalung miliknya dan milik Raja Petra dalam Genggaman mereka.


Perlahan wajah itu mendekat, tak perduli akan suara petir dan suara pertarungan disekitarnya Sofea dan Ardelof larut dalam kisahnya sendiri hingga.


Cupp..


Sofea lansung mencengkram bahu Ardelof yang sudah menautkan bibir keduanya, satu lengan Ardelof membelit pinggang Sofea erat dengan satu tangan keduanya menggenggam erat, Kelembutan bibir Sofea masih bisa Ardelof rasakan dengan rasa manis yang sama, hanya sedikit dingin hingga keduanya menghangatkan lidah masing-masing.


Whusss..


"Emmm!"


Sofea menggeram saat ia merasakan ada yang menjalar disekujur tubuhnya, hisapan Ardelof kelidahnya juga menguat hingga membuat tubuh mereka dikilaui cahaya biru.


"Ardmm!"


Sofea memberontak saat merasakan Ardelof menghisap aura gelap ditubuhnya dengan kalung yang mereka peggang bercahaya merah bergabung biru menerangi langit malam.


"Y..Ya Tuhan, Ard!"


Nenek Eliz tak lagi bisa berdiri melihat Ardelof memindahkan Kegelapan dalam tubuh Sofea kedalam dirinya hingga membuat Alam ini memberontak.


"Ardelof, Hentikan!!!"


Kakek Brent yang ingin mencegah tapi Renoval dengan cepat menariknya membuat Ratu Rosmeryna dan Ratu Lamoria tak kuasa menahan tangis.


"N..Nak, hiks!"


"Ardelof sudah salah! dia bisa mati menaggung semua itu!!"


"Itu pilihannya!"


Renoval yang mengakui dirinya Egois, ia tak bisa berbuat banyak selain membiarkan Ardelof melakukan hal itu karna kalau tidak Sofea yang akan jadi korbannya.


Lengan kekar Ardelof berurat keras menahan semua rasa sakit yang menjalar ditubuhnya, bahkan tubuh Sofea yang tadi dipenuhi uratan Hitam malah berpindah ke lengan Ardelof yang tak mau melepas sampai ia benar-benar menyerap semua Energi Negatif ini.


"Ardmmm!"


Ardelof memaksakan tubuhnya menyerap semuanya bahkan darah itu keluar dari hidung Ardelof membuat mata Sofea terbelalak memukul punggung Atdelof yang tetap diam melakukan Spirit Transnya membuat Kakek Brent terdiam.


"Hentikan!!!"


Jeritan batin Sofea memberontak keras ketika merasakan suhu tubuh Ardelof yang panas seperti ia tadi hingga saat merasakan Tubuh Sofea mulai lemah Ardelof lansung menekan tengkuk Sofea agar sempurna memuntahkan cairan hitam itu ke kerongkongannya.


"Aku sangat mencintaimu!"


Batin Ardelof lalu mendorong Sofea kuat menjauh darinya hingga ia lansung menghentakan kakinya keras menyambar Jiwa Deugon ke Portal sana.


"Ard!!!!!"


Duarrrrrr....


.......


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


Maaf ya, tadi Author lahi ada acar Isra' Miraj di Sekolah


__ADS_2