
Langkah besar pria itu lansung cepat masuk kedalam Istananya dengan wajah datar yang semangkin kelam melihat jam sudah berdetik di pukul 10, ia tadi harus kualahan saat Penjual Sosis goreng dan bakar yang Sofea minta tadi pagi itu ternyata sudah tak berjualan lagi hingga Ardelof harus memaksanya untuk membuat sekarang agar lebih terasa dan masih panas.
"Yang Mulia."
Ardelof hanya diam terus melangkah ke Lift membuat Ratu Rosmeryna yang baru saja pulang lansung mengkerutkan dahinya saat Ardelof terlihat sangat terburu-buru apalagi Berita di Televisi tadi membuat ia sangat terkejut.
"Ard!!"
Ardelof menghentikan langkahnya tepat masuk kedalam Lift saat suara Ratu Rosmeryna menyangga kakinya, ia berbalik menatap datar wanita paruh baya yang diiring pelayan itu mendekat.
"Yang Mulia, Ratu."
"Kenapa terburu-buru?"
"Tidak ada."
Jawab Ardelof seraya menenteng Paper-bag ditangannya, ia menunggu apa Ibu Ratu masih bertanya atau tidak hingga ia bisa melesat keatas sana. tapi pandangan wanita itu lansung menyelidik saat melihat benda yang ia bawa.
"Itu apa? dan tak biasanya kau berkeringat dingin."
"Aku hanya lelah!"
Jawab Ardelof lalu membungkuk setengah badan untuk memberi salam hormat pada Ibunya dan menekan Tombol Lift agar membawanya keatas dengan helaan nafas berat Ardelof yang muncul, sungguh ia sangat khawatir karna tadi Sofea Flu dan bisa saja sekarang wanita itu marah padanya.
Setelah beberapa lama berperang dengan perasaannya, Lift itu terbuka hingga Ardelof lansung berlari kedepan pintu kamar tapi ia melepas Pakaian khas Pangeran Alison agar tak terlihat begitu Formal.
"Penyihir!!!"
Panggil Ardelof mencengkram peggangan pintu yang terkunci dari dalam, ia mengetuk pintu ini seraya mepaskan wajahnya dari sensor dipermukaan dinding hingga wajah Ardelof lansung terlihat didalam sana lewat Tab kecil disamping pintu tapi wanita yang sedari tadi berbaring membelakangi kedua bocah itu hanya diam membatu.
"Penyihir!!! kau..kau baik-baik saja?"
Quxi menggaruk tengkuknya yang tak gatal memandang rumit Sofea, wanita ini demam tinggi tapi tak ingin memberitahu siapapun karna sedari tadi ia menunggu tapi Ardelof tak pulang hingga ia sudah tak ingin makan apapun dan hanya diam mengunci mulutnya rapat.
"Penyihir!!"
"Fea, Yang Mulia memanggilmu."
"Dewi, Ayah dibelakang pintu!" sambung Beclie menimpali ucapan Quxi yang takut jika Sofea kembali menyemburnya, sedari tadi mereka dibuat kualahan dengan sikap Sofea yang sangat pemarah dan ketus terutama pada Quxi yang menurutnya menyebalkan.
"Aku akan buka!"
"Sekali kau melangkah, maka jangan temui aku lagi!!!"
Suara Sofea menggelegar seakan menjadi tikaman bagi Quxi yang lansung diam menatap Beclie yang menunduk, Beclie bisa melihat Quxi karna Sofea minta mereka untuk berteman mulai sekarang tapi tentu tak semudah itu karna Quxi tak pernah percaya penuh pada siapapun selain Yang Mulianya.
"Dewi, Ayah bisa marah jika kau mengacuhkannya."
"Aku tak perduli, kau mau keluar silahkan saja!"
Beclie menghela nafas berat turun dari ranjang, namun ia kembali menatap punggung Sofea yang ditutupi selimut hingga ia kembali naik keatas ranjang lalu mendekati Sofea yang masih marah dan demam.
Cup..
Quxi landung menarik lengan Beclie yang mengecup pipi Sofea yang tak terkejut lagi karna tatapan Beclie padanya bukan sebagai seorang Teman, tapi lebih dari itu karna terbukti tadi Beclie sangat sayang pada Sofea yang mengobati luka memar di tubuhnya.
"Kau apa-apaan, ha? bukan berarti kau Temannya kau bisa seenaknya saja."
"Aku hanya ingin dia cepat sembuh."
"Bulshit, kau pasti disuruh Ibumu mendekatinya, kan?"
Beclie lansung terdiam mendengar ketusan Quxi yang membuat Sofea lansung duduk dengan wajah pucatnya menatap tajam Quxi, ia sama sekali tak mengerti jalan pikiran Ardelof dan bocah ini.
"Kau.. jaga bicaramu, Xi!"
"Maaf, tapi aku sangat tak percaya pada anak hasil.."
"QUXI!!!"
Geram Sofea membekap mulut Quxi yang benar-benar melaksanakan kewajibannya menjawa Sofea dan waspada karna bisa saja semua kemungkinan terjadi nantinya.
"H..hasil apa?"
"Tidak ada, kau jangan menangis, hm?"
Sofea merangkuh Beclie yang tampak menunduk menghapus lelehan bening di Pipi Beclie yang lansung ingin pergi tapi Sofea menarik lengannya hingga ia kembali menubruk ranjang.
"L..Lepas hiks."
"Hey, kau jangan menangis."
__ADS_1
"A..aku mau kekamar, dia..dia membenciku hiks! dia..dia sama saja dengan ayah."
Grep..
Sofea membawa Beclie kepangkuannya seraya mengelus kepala bocah ini lembut, mata Coklat dengan raut wajah polos ini sama sekali tak mirip dengan Ardelof yang terkesan memiliki auranya sendiri, tapi bukan berarti setiap masalah akan dilampiaskan pada Beclie yang jelas hanya benih bukan ia yang membuat masalah.
"I..Ibu hiks."
"Hey, aku tak suka kalau kau menangis."
"D..Dewi hiks, aku..aku benci mereka hiks, benci!!"
"Aku tahu, aku juga sama! bahkan aku ingin sekali memarahinya sampai dia meminta maaf padaku dan kau, tapi dia tak akan minta maaf kalau kau menangis, hm?"
Beclie yang sekugukan menatap rumit Sofea yang memberi senyum cantik nan hangatnya membelai rambut Beclie tenang keibuan, ada saatnya ketika wanita ini menjadi teman sekaligus Ibu baginya.
"Kita kuat, jangan pernah melakukan apapun yang menurutmu itu salah, dan tak benar. tetap teguhi apa yang kau yakin dan percaya bahwa itu benar. kau harus percaya kalau Aku Dewimu akan selalu menyayangimu walau mereka membencimu. kita Teman, kan?"
"Fea kau.."
"DIAM!"
Tekan Sofea pada Quxi yang lansung mendecah kesal memunggungi mereka, wajah Beclie perlahan membaik mendengar ucapan Sofea yang sangat ia pahami karna mereka Teman.
"Hm, kita Teman."
"Yah, dan sesama Teman kau tak bisa menangis, aku butuh perlindunganmu, Lie! kau itu laki-laki dan aku perempuan, hanya kau yang bisa menjagaku."
"Aku akan menjaga Dewi, tapi Dewi tak akan pergi, kan?"
Sofea tersenyum seraya menggeleng mengecup kening mungilnya lalu mengelus memar yang tadi sudah diobati Sofea dilengan Mungilnya.
"Apapun yang terjadi, Temui aku. jangan pernah takut kalau kau benar, hm?"
Beclie mengangguk mengecup pipi Sofea lalu pamit pergi dengan Sofea yang mengantarnya sampai kedepan pintu hingga benda itu terbuka memperlihatkan seorang pria yang telah bersandar ke daun pintu dengan raut wajah mengerasnya menatap Beclie yang menunduk.
"Sampai Jumpa, Lie."
"Dahh, Dewi!!"
Beclie pamit lalu berlari kearah Lift membuat Sofea memandanginya dengan damai hingga bocah itu menghilang bersamaan dengan Quxi yang tak lagi bertugas karna Ardelof sudah datang.
"Kau membiarkan dia masuk?"
"Dia bisa saja mencelakaimu, kau dengarkan aku!"
"Aku tak perduli."
Ketus Sofea menutup pintu dengan kasar hingga berbunyi nyaring membuat Ardelof mematung melihatnya, ia sebenarnya ingin marah tapi rasanya ini sudah malam untuk bertengkar dan bertengkar.
"Untuk sekali saja, kau menurut apa bisa?"
"Terserah kau saja, tak sekalian saja kau pulang pagi atau 1 Tahun lagi, ha?"
Ardelif lansung terbungkam dengan suara geram Sofea yang kembali menggulung tubuhnya didalam selimut dengan suara bergetarnya membuat nafas Ardelof sesak diremangan kamar ini.
"Tadi aku ada urusan."
"Tapi..tapi kau janji padaku akan pulang cepat, aku menunggumu sedari siang, sore malam dan sekarang tengah malam, dan ternyata kau.."
"Sayang aku.."
"Kau ke Berpesta, kan?"
Degg..
Ardelof terkejut dengan makna ucapan Sofea yang seakan mengatakan ia sedang bersenang-senang diluar sana padahal Ardelof sibuk kualahan mencari sosis ini.
"Kau..Kau bersenang-senang dengan para Putri raja itu sampai kau..kau melupakan aku!"
"Sa..Sayang aku..itu..itu tak benar."
Ardelof dengan cepat melangkah mendekati Sofea seraya menghidupkan lampu hingga Ardelof terkejut melihat Nampan makanan yang masih utuh bahkan tak tersentuh.
"Kau belum makan?"
"Apa perdulimu, pergilah keluar."
"Aku bersumpah aku tak bersenang-senang, aku..aku mencari ini."
Ardelof menunjukan Paper-bagnya tapi Sofea tetap memalingkan wajahnya yang begitu pucat membuat Ardelof khawatir sampai lansung membuka selimut ini paksa.
__ADS_1
"Lepas!!"
"Tubuhmu panas, kau demam tinggi."
Sofea hanya diam tetap tak ingin menatap Ardelof yang lansung menghubungi Ximous Dokternya ke Istana, wajah Ardelof mengeras menatap Sofea yang masih engan menoleh.
"Kau kehilangan akal, ha? sedari pagi aku bilang kau Istirahat, jaga kesehatan dan sekarang apa? kalau tahu begini aku tak akan bekerja!!"
"A..aku.."
"Tutup mulutmu dan sekarang jangan pernah membantah ucapanku."
Geram Ardelof seraya menghempaskan tangannya membuka pintu lalu menyelimuti Sofea dengan rapi agar tubuh wanita ini tak terlihat dari sosok seorang pria berstelan kemeja biru itu datang dengan Jas Putihnya.
"Yang Mulia."
"Periksa dia!"
Dokter Ximous lansung mendekat dengan kulit yang begitu Putih sampai Sofea melihat urat lehernya yang agak kehijauan, tapi Ardelof tak suka hingga pria pencemburu itu menolehkan wajah Sofea ke dada bidangnya yang memakai Kaos putih tipis membentuk tubuh Atletisnya.
"Maaf, tapi apa anda mengalami keluhan?"
"Aku mau mencekiknya."
Ketus Sofea membenamkan wajahnya ke rangkuhan hangat ini hingga Ardelof hanya menghela nafas agar tak terpancing sedangkan Dokter Ximous bergidik mendengar suara tajam itu.
"Katakan dengan serius."
"Aku serius, aku ingin menelanmu."
"Kauu!!!"
Sofea lansung menunduk saat Ardelof menatapnya tajam sampai membuat Ximous terperangah, yang dikatakan Fu padanya itu benar bahwa Yang Mulia Drak sudah terkena Virus beberapa tahun yang lalu tapi ini lebih parah.
"KATAKAN."
"Ss. emm, tadi aku mual, muntah dari siang, rasanya tak mau makan apapun karna tak ada yang masuk selain air putih. dan rasanya aku mau keluar tapi aku takut dia marah, kau tahu kalau dia marah maka dia akan mengurungku didalam ruangan gelap dan mayat-mayat itu dia.."
Sofea lansung menelan ludahnya kasar saat melihat Ardelof sudah menatapnya dingin hingga ia lansung menutup wajahnya agar tak melihat itu.
"Kau pemarah sekali."
"Katakan dengan serius, berhenti bercanda."
"Aku..aku serius, Ard! aku tak bisa makan apapun, selain air! perutku rasanya melilit dan Flu berat, kepalaku juga pusing tapi semangat mencakarmu itu lebih tinggi."
Ardelof terdiam mendengar penjelasan Sofea yang masih belum menyadari arah pembicaraannya sedang Ardelof sudah menatap Dokter Ximous yang pucat menduga apa yang terjadi, melihat Ardelof yang diam dengan raut wajah datarnya dan raut pucat pada Dokter Ximous lansung membuat Sofea duduk.
"A..Apa aku...aku kena Kangker?"
"B..bukan?"
"L...Lalu? kenapa? kenapa kau begitu pucat? dan..dan kau Ard kenapa kau diam?"
Tanya Sofea menatap Ardelof yang menatap wajah pucat Sofea dengan rumit, mata birunya berkecamuk sampai membuat Sofea gelisah sendiri takut ada hal serius.
"Kalian...kalian kenapa?"
"Tatap mataku."
"Ard kau kenapa?"
Grett..
Ardelof mencengkram pipi Sofea hingga mata wanita itu lansung bersitatap dengan matanya, hingga Sofea lansung terkurung dalam aura mata laut Ardelof yang seakan mengunci tatapanya.
Degg..
Ardelof terkejut melihat Galaksi Dunia ini terlihat dari mata Sofea dengan kilatan kecil yang tentu Ardelof sangat tahu itu hingga ia lansung berbalik memutuskan pandangan.
"K..Kenapa? ada apa?"
Ardelof hanya diam dengan pikirannya sendiri sementara Dokter Ximous mengerti akan kehawatiran Yang Mulianya sampai seperti ini. tapi semuanya sudah terjadi dan ia yakin Ardelof sudah memikirkan ini dari lama.
"Apa? katakan padaku kalian kenapa?"
"Anda hamil!"
Duarrr..
....
__ADS_1
Vote and Like sayang..