
Wajah pucat itu membuat mereka khawatir terjadi sesuatu pada Sofea yang tengah hamil Muda, semua Dokter dikerahkan hingga memenuhi Ruang Tamu Istana yang luas dan megah dengan Unsur Gold yang mewah.
Mata Sofea sudah terpejam pusing mendengar suara Ratu Lamoria yang memarahi para Dokter yang sudah datang tapi tak bisa menangani Putrinya dengan baik.
"Apa Kinerja kalian menurun, ha? apa perlu kalian ku Sekolahkan lagi?"
"Maaf, Yang Mulia! Putri Mahkota mempunyai Trauma dan ketakutan saat masa kecil, cara mengatasinya hanya dengan membantu Putri keluar dari rasa takutnya, hanya itu."
Jelas Dokter Gremous menunduk hingga Raja Hangton lansung berdiri karna melihat Sofea hanya nyaman dengan pelukan Ardelof yang sedari tadi tak mau melepas Istrinya.
"Biarkan Putriku sendiri bersama Suaminya, dia butuh Istirahat."
"Baiklah, kalau begitu bawa Sofea kekamarmu." Titah Raja Petratolison seraya melangkah pergi dengan diiringi yang lainnya kecuali Ratu Rosmeryna yang mematung melihat Sofea tengah dipeluk mesra Putranya.
Ardelof hanya diam menyangga keringat di kening Sofea yang benar-benar lemah dan butuh ketenangan, auranya seakan membatasi Ratu Rosmeryna untuk bicara memperburuk keadaan Istrinya.
"Tunggu!"
Ratu Rosmeryna menyangga Ardelof yang sudah ingin menggendong Sofea menuju kamar dilantai atas, wajah datar Ardelof meruak berjaga akan kata-kata wanita ini.
"Sudah puas membuat Istriku, Ragu?"
"A..Ard!"
"Aku sudah bilang pada siapapun termasuk kau, hanya dia yang ku mau dan saat aku jatuh siapa yang menopang?"
Ratu Rosmeryna terdiam penuh sesal, ia dulu memang begitu tak berguna mementingkan Jalinan Persahabatan dua Kerajaan mengikuti Perintah Raja Petra dibanding Kebahagiaan Putranya sendiri. ketika Sofea datang, dan membuat hidup Ardelof lebih berwarna ia malah berusaha untuk menjatuhkan Sofea karna ia sudah tak percaya.
"M...Maafkan Ibu, Ibu hanya tak ingin kau mendapatkan Wanita seperti Vanel lagi, Nak."
"Bukan berarti kau terus menganggunya!"
Tekan Ardelof penuh intonasi yang tak bersahabat, ia akan tunduk jika memang itu benar tapi Ibunya sama sekali tak mengerti dengan Posisi dan Kemauannya hingga wanita ini selalu melakukan hal yang ia suka.
"Maafkan Ibu!"
"Ard."
Lirih Sofea mendengar segalanya hingga ia membuka mata sayunya menatap netra Ardelof yang hanya menguarkan kedataran tanpa mau menganggap semua lebih, karna dalam Pikirannya hanya keadaan Sofealah yang terus membayang.
"Kita kekamar!"
"Maafkan Ibu, ibu hanya ingin kau tak seperti yang dulu lagi, Nak."
Ratu Rosmeryna begitu menyampaikan isi hatinya, ia hanya takut, sebagai seorang Ibu yang begitu menyayangi Putranya Ratu Rosmeryna hanya ingin semuanya yang terbaik.
"Ard, Sayang! Sudahlah, hm?"
Ardelof hanya diam menggendong Sofea lalu melangkah keluar dari Ruangan ini meninggalkan Ratu Rosmeryna dengan beribu sesal di hatinya, ia dulu ragu pada Sofea itu karnanya Ratu Rosmeryna mencoba melihat bagaimana Sofea menanggapi Masa Lalu Putranya.
"Maafkan aku!"
Ratu Rosmeryna menatap nanar kepergian Ardelof yang sudah menghilang diambang pintu sana membawa Kata maaf yang telah diombang angin kemana pergi.
Disepanjang perjalanan Ardelof hanya diam dengan gendongannya yang sangat kokoh, Sofea hanya bisa diam menatap wajah datar Suaminya yang entah kenapa membuatnya tenang disetiap rangkuhannya.
"Apa aku setampan itu?"
"Eh!"
Sofea tersadar lansung bersemu mendengar kalimat menggoda yang keluar dari mulut Ardelof dengan suara yang datar tapi terkesan lembut.
Sudut bibir Ardelof terangkat pelit melihat Sofea menyembunyikan wajah merahnya diceruk lehernya hingga kecupan lembut itu Ardelof hadiahkan ke bibir Sofea meyampaikan rasa gemas yang sulit ia jabarkan.
Setelah beberapa lama, mereka sampai kedalam kamar yang masih sama, terlihat asri karna renjana senja dilangit sana menerobos masuk disela tirai-tirai balkon yang menari karna hembusan anginnya, tempat luas ini telah cerah dan bernyawa setelah kaki kokoh itu menapak membawa sang Mahadewi ke peraduannya.
__ADS_1
"Sayang!"
"Apa masih sakit?" Tanya Ardelof membaringkan Sofea keatas ranjang seraya tangan yang jadi bantalan kepala Sofea yang belum ingin berbaring.
"Sudah lebih baik, tapi.."
"Kenapa?"
"Itu.. soal Kerjasama Agensi dan Produser Filim kemaren, bagaimana? janjiku akan bertemu siang tadi."
Khawatir Sofea takut jika Perusahaan Agensi Kakek Brent hancur karnanya, padahal ia yang bertanggung jawab menghendel pekerjaan itu.
"Tenanglah, itu bukanlah masalah."
"Sayang, itu hari pertamaku bekerja. kau lihat apa yang aku lakukan? Klien tetap Kakek malah tak menerima saranku." Sangga Sofea mendecah seraya jari yang terulur merapikan helaian rambut Ardelof yang jatuh kekening mulus itu.
"Aku yang akan mengurusnya!" suara Ardelof datar.
"Kau yakin?"
"Hm, pulihkan kondisimu baru kau pikirkan itu."
Ardelof menarik diri dari atas ranjang lalu menatap kearah Gaun Sofea yang belum ia sidang, sedari tadi Ardelof berusaha menahan kekesalannya melihat Potongan Gaun Istrinya yang dibuat terbuka dibagian punggung, menurutnya ini terlalu berlebihan apalagi Dada Sofea itu ukurannya sangat Spesial tapi malah diketatkan begitu dengan diselumbungan Kain tipis.
"Kenapa, Sayang?"
"Kau masih sakit?"
Pertanyaan Ardelof bermakna ambigu tapi Sofea sudah lebih baik walau ia belum bisa berjalan turun.
"Hanya lemas, dan sedikit pusing. memangnya kenapa?"
Ardelof mendengus kasar duduk diatas Meja rias Sofea dengan mata menyelidiknya penuh penghakiman ke wajah Sofea yang mencari salahnya apa.
"Sayang, kau kenapa?"
"Apanya?
Tanya Sofea menutup bagian dadanya karna ia sudah tahu kemana arah hunusan Netra biru menebas tajam itu hingga Ardelof menggeram sendiri, ingin marah ia tak bisa karna Istrinya sedang sakit apalagi kondisinya tak memungkinkan.
"Siapa yang memilih Gaun itu?"
"Kata Cessa, Nenek Eliz!"
"Shitt!"
Ardelof mengumpat melepas Jasnya dan melonggarkan dasi yang mencekik lehernya, Wanita tua itu memang benar-benar membuatnya naik darah. tapi kalau marahpun ia tak akan di perdulikan sama sekali.
"Sayang, apa salahnya Gaun begini? cantik."
"Terserah kau saja."
"Eh, kau cemburu kalau aku pakai yang begini, aku biasa saja saat kau berciuman dengan orang lain!"
Ketus Sofea melempar bantalnya kearah Ardelof yang gesit menangkapnya, wajah Ardelof terkesan cuek mendengar itu.
"Kau suka mengungkit."
"Aku benar, kau sangat bernafsu saat menciumnya."
"Kau membual, sudah, aku tak mau membahasnya."
Sofea hanya menggerutu melepas Gaunnya karna sangat gerah, ia tak ingin menjadikan Masa Lalu Ardelof sebagai patokan karna tak ingin hubungannya yang sekarang hancur.
"Kau tak marah?" tanya Ardelof kembali berhambur keatas ranjang berbaring disamping Sofea yang memunggunginya dan hanya memakai Daleman dan Bera saja membuat tubuh indahnya terekspos nyata.
__ADS_1
"Sayang."
"Hm?"
"Kau tak cemburu membahas itu? hm"
Tanya Ardelof memiringkan tubuhnya memeluk Sofea yang tak merubah posisinya hingga ia hanya membiarkan satu tangan Ardelof mengelus perutnya lembut dengan bibir yang menempel ke puncak kepalanya.
"Aku cemburu."
"Lalu kenapa kau bahas?" tanya Ardelof ingin tahu seraya terus membelai perut istrinya lembut membuat Sofea memejamkan matanya menikmati itu semua.
"Supaya terbiasa, lebih baik aku yang menyebutnya dari pada orang lain. responmu juga bisa ku lihat jadi menurutmu Jadikan masa lalumu sebagai candaan itu lebih baik."
"Benar kau tak sakit hati?"
"Aku memang tak suka dengan Masa lalumu, tapi apa aku harus marah-marah? hanya orang tak waras yang begitu."
Ardelof menyunggingkan senyuman hangatnya, entahlah ia begitu suka jika Sofea membawa semua masalah itu dengan damai dan tak mempermasalahkannya secara berlebihan membuat ia juga menyikapinya dengan santai.
"Sayang!"
"Hm? ada lagi?" tanya Sofea menimpali.
"Semalam Masa lalumu datang menantangku!"
Dahi Sofea mengkerut hingga ia lansung berbalik menatap Ardelof yang juga memandangnya, ada guratan tanda tanya dari mata Sofea yang menerka.
"Masa laluku! apanya?"
"Pria itu datang menemuiku!"
Degg..
Sofea terkejut bukan main hingga ia lansung menangkup pipi Ardelof dengan rasa khawatirnya.
"Apa apa dia.."
"Aku tak apa!"
"Bukan kau, maksudku dia?"
"Ha?"
Tanya Ardelof menyeringit menyentil dahi Sofea yang serius, kalau Ardelof ia tak khawatir kalau Gibran menyerangnya karna pasti Ardelof tak akan terluka, tapi berbeda dengan sebaliknya.
"Aku serius, Sayang! kalau dia kenapa-kenapa bagaimana dengan Yella, mereka itu mau jadi orang tua."
"Aku tak mau membahasnya."
Ketus Ardelof menutup kupingnya dengan bantal menolak ucapan Sofea yang mengkhawatirkan Pria lain, sungguh Laki-laki tak akan pernah bisa menahan jika Kekasihnya mengkhawatirkan orang lain atau memuji orang lain dihadapannya, sangat berbeda dengan wanita yang menganggap itu sebagai gurauan belaka.
"Kau tahu?"
"Tidak." jawab Ardlelof tak bersahabat karna ia sudah tak mau membahas yang namanya masa lalu itu, apalagi Masa lalu Istrinya.
"Jika kau melukainya, maka akan banyak yang menimpamu. aku tak ingin Anakku mempunyai seorang Ayah Pembunuh atau sangat Brengsek kelak."
Ardelof terdiam, bagaimana jika kau tahu jika sudah banyak yang aku bunuh dan menghanguskan harapan orang lain? bahkan tak perduli apa dia wanita biasa atau wanita berkelas sekalipun yang penting ia bisa membangun Klannya. itulah Moto dirinya dulu setelah dihancurkan oleh Pengkhianatan.
"Aku harap, kau tak akan membenciku. Sayang!"
,,,,,
Vote and Likr Sayangku..
__ADS_1
Maaf ya sayangku semua.. Author Baru pulang Sekolah, 😩 tadi upacara jadi lambat Up nya😥