
Tubuh wanita itu tak berhenti turun naik dari atas ranjangnya lalu kembali berbaring tak tentu arah, terkadang ia terlentang lalu tengkurap dan kembali duduk menatap kearah pintu kamar.
Mata indahnya terus terbuka menatap Jam dipermukaan dinding sana yang berdetik seakan girang melihatnya uring-uringan begini.
"Dia bilang hanya sebentar, ini sudah malam tapi dia tak pulang!" Gerutu Sofea merenggut, sumpah demi apapun ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Ardelof atau pria itu tengah dalam bahaya. walau ia tak tahu posisi Pria itu apa dihatinya yang jelas Sofea sangat khawatir.
Karna sudah tak tahan, akhirnya Sofea bangun dari ranjang seraya menggulung tubuhnya dengan selimut tebal itu lalu melangkah menuju Balkon dengan wajah yang ditekuk masam.
Sofea menjatuhkan dirinya ke Sofa disana seraya menekuk kakinya menyerapi malam sunyi ini, Istana dengan Tampak depan Balkon Ardelof ini sangatlah luas dan megah, tapi anehnya sangat sunyi seakan tak ada kehidupan disini.
Semuanya datar selayaknya Gurun tanpa rerumputan yang asri, semuanya seakan menjadi patung seperti para pengawal Istana yang berjaga siang dan malam tiada henti.
Namun, mata Sofea menangkap ada yang aneh dari dekat Dermaga sana. ia melihat ada tubuh seorang wanita yang tengah berdiri tegap dengan gestur seperti sangat kesal dan samar-samar ia melihat bocah yang menggeleng seperti menolak.
"M..Mereka kenapa?"
Gumam Sofea menyeringit, digelapnya malam hanya remangan bulan itu saja ia benar-benar memfokuskan penglihatannya pada Visual remang dimatanya.
"Prince, kau harus membantu. Ibu!"
"T..Tapi a..aku tak bisa berenang, Bu!" Ciut Beclie karna Ibunya Vanelope menyuruhnya untuk terjun ke Dermaga tepat tak jauh dari Balkon Ardelof yang juga agak gelap hingga Sofea bersembunyi.
"Nak, kau mau ayahmu memperhatikanmu, bukan? dengan kau seakan tenggelam dan Rakyat kota Batalion tahu, maka kau akan mendapat keadilan. Sayang!"
"T..Tapi, a..airnya dingin, Bu! L..Lie takut!"
Vanelope menggeram hingga ia lansung menarik lengan Beclie kasar untuk mendekat ke tepian Dermaga, dengan cepat Sofea yang samar melihat itu lansung menyambung tirai dan selimutnya lalu ia ikatkan ke pinggir Balkon hingga Sofea mau tak mau harus turun disini.
"Buuu, hiks! Lie takut!!"
"Sutt, banyak yang akan mendengarmu! Ratu dan Raja sedang tak ada di Istana, ini kesempatanmu. Nak!"
Vanelope dengan tega membekap mulut Beclie yang menjerit tertahan memberontak saat tubuhnya terus didorong masuk ke pinggir Dermaga, akal sehat Vanelope telah hilang karna yang ada diotaknya hanya bagaimana Ardelof kembali bisa jatuh ke pelukannya?
"Ayo, Ibu akan membantumu nanti!!"
"Buu!! hiks, Li..Lie takut!!"
Byurrr..
Beclie lansung tercebur kedalam air menghitam karna malam itu hingga Vanelope lansung berlari menuju para pengawal sana agar membantunya menyelamatkan Putranya.
Namun, ia kalah cepat dengan Sofea yang nekat menceburkan dirinya kedalam air itu seraya berusaha berenang didinginnya cairan yang nyaris membekukan tulang itu.
"Ehmm!!"
__ADS_1
Beclie sudah kehabisan nafas semangkin menyeruk kedalam sana hingga tangan jenjang Sofea lansung menarik tangan mungil itu kembali berenang keatas denga suara ramai dipermukaan Dermaga.
Terlihat para Pengawal yang mulai berdatangan membuat Sofea yang mengigil lansung membawa Tubuh Beclie yang masih setengah sadar menepi bersembunyi dibalik patung pancoran.
"D..Dingin!"
Sofea yang mendengar itu lansung memeluk hangat tubuh Beclie yang tampak kehabisan nafas, bocah itu menatap samar-samar wajah Sofea yang disinari rembulan, pipi mulus putihnya begitu cantik dengan bibir Pink yang bergetar karna merasa beku, mata wanita ini juga sangat cantik membuat Beclie terdiam dibuatnya.
"Putraku, hiks! Tolong!!"
Suara Vanelope semangkin mendekat hingga Sofea lansung membaringkan Beclie ke bawah lantai seraya menggosok punggung dan menepuk tengkuk bocah itu.
"Uhukk!!"
"Kau akan baik-baik saja!"
Ucap Sofea menyandarkan Beclie ke pinggir pembatas Dermaga, ia menyelimuti tubuh Beclie dengan Selimut yang tadi sempat ia bawa hingga bocah itu perlahan bernafas lebih stabil membuat Sofea lansung bersembunyi kembali didalam gelap.
"Tolong hiks, Lie!!"
"Anda harus tenang, Putri!"
Para pengawal sana menghidupkan lampu tepi Dermaga hingga semuanya terlihat dengan Vanelope yang masih belum tahu Putranya sudah tersandar didekat pembatas.
"Yang Mulia, Prince!!!"
Degggg
Vanelope terkejut saat melihat Beclie telah ada diatas permukaan beriringan dengan deru Mobil yang masuk dari Gerban beserta pengawalan yang mengetat.
Itu adalah Yang Mulia Raja Petratolison bersama Ratu Rosmeryna yang terkejut melihat para pengawal mengerumuni tepian Dermaga hingga membuat tanda tanya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Raja Petratolison keluar dari Mobilnya dengan tegas melangkah membelah kerumunan.
"Yang Mulia Raja, Prince Beclie tenggelam!"
"Apa???"
Ratu Rosmeryna lansung berlari mendekat hingga ia menutup mulutnya tak percaya melihat Si kecil itu telah diigendong didalam kurungan kekar Pengawal dengan wajah pucat dan selimut yang mengerat.
"Bagaimana bisa, ha??? Kalian tak becus menjaga, Cucuku!!!"
"Maafkan kami, Yang Mulia!"
Ucap Para Pengawal itu memberi salam seraya terus membawa Prince Beclie masuk kedalam Istana dengan Dokter Gremous lansung dihubungi oleh Raja Petratolison untuk menangani Beclie.
__ADS_1
Sementara itu Vanelope terdiam diluar sini meatap lurus kedepan, sejak kapan Beclie pandai berenang dan kenapa ada selimut ditubuh Putranya?
Brumm..
Mobil hitam itu melaju masuk kedalam lingkungan Istana hingga perlahan lansung terparkir di tempatnya, Vanelope berbinar melihat siapa yang keluar dari Benda mewah itu dengan wajah datarnya yang tampak perlahan lebih baik dari siang tadi.
"Ard!!! hiks!"
Vanelope berteriak berlari menghampiri Ardelof yang lansung mematung diam menatap tajam Vanelope yang mendekatinya dengan tangisan itu.
"Putraku, hiks! Putraku, Ard!!"
"Urus dia!"
Ucap Ardelof datar pada Kristof seraya melangkah masuk ke istana, tapi ia merasa ada yang aneh karna ia kenal aroma harum diluar sana itu milik siapa, tak ingin menduga lama Ardelof hanya ingin menemui Sofea.
"Yang Mulia Putra Mahkota!"
"Ada apa?"
Tanya Ardelof pada Pelayan yang menyambutnya tampak panik, salah satu wanita paruh baya dengan seragam Khas kepala pelayan itu mendekat menundukkan kepalanya.
"Yang Mulia, Prince Beclie baru saja tenggelam!"
Tak ada reaksi apapun dari raut wajah datar Ardelof seakan ia memang tak perduli hingga Ardelof melanjutkan langkahnya menuju Lift, tapi ia terhenti saat matanya kilas melihat sesuatu yang menjulur dilantai dekat Sofa Beclie diberi pertolongan pertama.
"Lie hiks, Prince!"
Ratu Rosmeryna menangis melihat wajah pucat bocah ini dengan Vanelope yang sudah masuk lansung mencari perhatian banyak orang dengan pura-pura merasa pingsan dihadapan Ardelof yang mendekat.
"Putri!!!
"P..Putraku, hiks!" Isak Vanelope luruh dihadapan Ardelof yang terhenti tepat didekat betisnya, batin Vanelope sudah kegirangan menduga Ardelof akan menenagkannya.
"Se..Selimut, itu?"
Batin Ardelof sangat yakin itu selimut di kamarnya, ia menatap tubuh Pengawal didalam Istana ini tak ada yang basah dan lalu ia menatap tubuh Vanelope membuat wanita itu terbakar kebahagiaan tapi sayangnya Ardelof tak seperti yang ada dikepalanya.
"D..Dia.."
Ardelof dengan cepat melempar Tas kerjanya ke arah Kristof seraya berlari keluar sana dengan wajah panik membuat para Manusia diruangan itu menyeringit, tapi mereka tak sempat bertanya karna Ardelof sudah menghilang di pintu utama.
...
Vote and Like Sayang..
__ADS_1