Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Kejadian itu lagi!


__ADS_3

Mata indah wanita itu terperangah melihat Bangunan megah bulat seperti Cakram ini menjulang tinggi dengan begitu mewah, dua pilar dikedua sisinya sedari tadi membuat Sofea benar-benar takjub.


Beginikah Perusahaan ACB yang dari omongan orang disekitar sini sangatlah megah dan bergengsi. tak main-main dalam mendesain sampai kilauannya mampu membuat mata Sofea tak mampu berkedip.


"Kosongkan Perusahaan!"


Kristof yang mendengar dari Loby-pun lansung terperanjat kaget saat Ardelof berbicara serius seraya menatap kearah halaman yang hanya satu persatu orang yang lewat, itupun atas perintah Ardelof yang ingin Prusahaannya tak berpenghuni, pria ini terus menatap lurus entah apa yang menarik ia tak tahu.


"Maaf, Yang Mulia! tapi kita ada rapat besar hari ini!"


"Batasi yang masuk, maksimal 5 orang!"


Tegas Ardelof masih berdiri disamping mobil menatap lurus kedepan dengan kedua tangan masuk dikedua sisi sakunya, terlihat sangat berkharisma membuat siapa saja terpesona.


Tapi, Ardelof sudah gila dengan wanita yang terlihat senang melihat Bangunan Perusahaannya dengan Quxi yang tampak ikut melayani Sofea dengan girang, keduanya sangat akur dan nyambung karna Quxi juga periang.


"Hey! kenapa Yang Muliamu masih disana?" tanya Sofea merasa canggung dengan tatapan Ardelof padanya.


"Itu urusan Yang Mulia, yang penting kau harus memanfaatkan kebebasan yang dia berikan sebaik mungkin." bisik Quxi pelan masih didengar Sofea yang salah tingkah dipandangi begitu hingga ia melangkah menuju samping Perusahaan.


"Jalankan sekarang!"


"Baik!"


Kristof lansung mengikuti langkah Ardelof masuk ke Perusahaan dimana ratusan Manusia itu lansung menyambut dengan penuh hormat dan segan, tentu Kristof berhenti melangkah bersamaan dengan Ardelof yang juga sama.


"Perhatian semuanya!!!"


Mereka semua menatap Kristof yang tampak tegas untuk menyampaikan ini semua, sementara Ardelof hanya diam menatap lurus kedepan tanpa melirik kemanapun, sangat angkuh.


"Khusus hari ini, Kalian bisa pulang cepat!!"


"Apa????"


Pekikan mereka tertahan mulai saling pandang tak percaya, tak pernah dalam sejarah Perusahaan yang sangat besar ini meliburkan Kariawannya kalau tak di tanggal merah atau diluar kerja, Aturan yang begitu ketat dengan sanksi tegas berlaku. melihat itu Ardelof kembali menciptakan kerusuhan.


"Gaji kalian akan dinaikan 3 kali lipat!"


"A..Apa anda serius, Y..Yang Mulia?"


Ardelof mengangguk datar lalu melangkah pergi membuat semua kariawan sana nyaris pingsan mengipas dirinya sendiri dengan kertas yang dipeggang, 3 kali lipat itu sama saja membobol Berlian di Tambangnya, sangat fantastis dan besar untuk satu hari libur.


"Pergilah, sebelum Yang Mulai berubah pikiran!"


"Baik!!"


Mereka bergegas pergi mengemas barang-barangnya lalu berlari keluar secepat mungkin takut jika Yang Mulia angkuh itu kembali berubah dan menghancurkan hayalan tinggi mereka pada Mobil-Mobil keluaran terbaru.


Melihat itu Kristof menggeleng, Putra Mahkota mulai aneh bahkan lebih parah dari kegilaannya yang dulu saat dikhianati seorang kekasih.


"Tuan!"


"Ikuti aku!"


Ucap Kristof pada 5 orang laki-laki beragam usia, dari mulai berumur 30 an sampai 45 yang datang dengan Jas lengkap pengawalan dari Perusahaan mereka, wajah bingung itu terlihat jelas karna mereka melihat jelas para Kariawan di Perusahaan besar ini sudah pergi dan tak tahu apa penyebabnya.


.......

__ADS_1


"Xi!!"


Sofea yang duduk dikursi Taman seraya menikmati pemandangan air pancur dan Labirin bunga dihadapannya, apalagi cuaca sedang mendung hingga ia bisa bersantai menikmati satu botol Kopi dingin ditangannya.


"Apa?"


"Sebenarnya Ardelof itu siapa?" tanya Sofea seraya menatap wajah polos Quxi yang menghela nafas bersandar ke punggung kursi.


"Dia itu Yang Mulia Putra Mahkota Kerajaan Batalion Alison yang terkenal dimana-mana. walau dia itu orang yang terkesan Kasar, Angkuh dan Arogan Tapi, dia itu sangat menyayangimu!"


Sofea lansung terbahak mendengar ucapan Quxi yang sangat menggelikan dihatinya, ia sama sekali tak percaya Tuan Pemarah itu pasti ada niat tersendiri hingga mau padanya.


"Hey! ayolah, apa ada orang yang menyayangi sesuatu dengan cara Membentaknya, mengkasari bahkan tak segan mengatakan hal yang menyakitkan? aku rasa kau perlu diperiksa!" Kekeh Sofea kecil menoleh kearah samping membuat Quxi terdiam.


"Dia berbeda, Yang Mulia tak lagi mau seperti dulu, dia tak ingin memperlihatkan bagaimana Cinta, Kekaguman dan rasa itu! dia tak ingin kecewa untuk yang kedua kalinya"


Sofea menyeringit, ia agak bingung sebenarnya Ardelof itu kenapa? terkadang ia ingin menjadi detektif muda.


"Dia kenapa?"


"Aku tak bisa mengatakannya, yang jelas Yang Mulia tak ingin kau terluka, dia itu perduli padamu. buktinya dia membiarkanmu melakukan apapun asalkan masih bersamanya!"


Sofea hanya menaikan bahunya acuh, walau rautnya seakan tak perduli tapi ia menyerap semua hal yang dikatakan Quxi tadi hingga ia rasa ia harus lebih berhati-hati pada pria itu.


"Baiklah, untuk saat ini aku tak mau membahasnya! aku mau kau carikan aku satu benda."


"Benda?"


"Iya, Ponselku hilang saat ada di ruangan yang menyeramkan itu, padahal aku butuh untuk melihat Teman-temanku dan Mamaku!"


Quxi terdiam, jika ia katakan ini pada Yang Mulianya apa dia akan marah? tapi ia rasa Sofea masih dibatas normal meminta hal miliknya itu.


Sofea mengangguk lalu melepas sepatunya seraya melangkah menuju air pancuran, ia asik bermain air sendiri menikmati kehidupannya tanpa tatapan datar itu, walau rasanya ingin pulang tapi Sofea tak mau memberontak lagi.


Ia tak sadar semua gerak-geriknya selalu dipantau Ardelof yang tak sia-sia dalam melepas begitu saja, ia menatap CCTV didekat Taman dari Laptop dihadapannya sesekali menatap Para Klien yang sedang mempresentasikan hasil Proyek mereka.


"Shitt!"


Gumam Ardelof mengusap dagunya agak geli melihat wanita itu seperti Tarzan bergelantungan di Pohon besar yang jadi tempat ayunan, sangat menggelikan dan menjadi objek yang paling menarik dimata Ardelof membuat Kristof yang meliriknya tampak menghela nafas berat.


"Bagaimana keputusan anda, Yang Mulia?"


"Hm, aku butuh laporan keuntungan Perusahaan kalian! untuk hari ini cukup sampai disini."


Mereka mengangguk menurut saja walau mereka agak kesal karna Ardelof tampak sangat teliti dalam memilih rekan Proyek besar ini.


"Baiklah, Yang Mulia! kami pamit pergi."


"Hm!"


Kristof mengantar sampai pintu hingga ia kembali mendekati Ardelof yang sudah gila dengan Dunianya sendiri hingga ia sangat Frustasi.


"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?"


"Aku mau kau ubah Desain Ruanganku, buat dinding ini lansung tembus ke Taman, bila perlu lapisi kaca agar lebih baik!"


Kristof semangkin terkejut hingga ia hanya mengangguk menatap Ardelof yang tampak berdiri menatap Jam tangan dipergelangannya, waktu sangat berlalu cepat hingga ini sudah sore belum lagi ia harus menepati janjinya untuk menemani Sofea membeli pita.

__ADS_1


"Kau urus Pekerjaanku, aku ingin tak ada yang mengangguku khusus malam ini!"


"Baik!"


"Hm!"


Ardelof dengan cepat melangkah keluar ruangan, tapi ia merasakan ada yang aneh dari aura yang menyelimuti Perusahaan ini seperti ada sesuatu yang akan datang. hingga Ardelof melangkah pelan kedekat jendela kaca Perusahaan. seketika wajahnya mengeras melihat langit yang mulai menghitam.


"Black Clover."


Gumam Ardelof dengan cepat berlari menuju Taman Perusahaan, disetiap tapakannya Ardelof memberi pagar pembatas agar para Klan gelap itu tak masuk kedalam Wilayahnya.


Dan benar saja, Quxi yang sedang diayun Sofea itu segera melompat dari benda itu membuat Sofea menyeringit bingung.


"Ada apa? apa kau mau yang lain?"


"Merapat kearahku!"


Quxi menarik lengan Sofea kuat saat suara angin mulai menghitam pekat dengan langit yang tadi mendung lansung gelap seperti menginjak malam membuat Sofea benar-benar terkejut.


"A..Apa yang terjadi?"


"Kita..Kita harus menemui Yang Mulia!"


Ucap Quxi ditengah badai yang mulai terjadi dengan hembusan angin yang mulai kuat lansung menerbangkan Jaket Sofea hingga membuat wanita itu kebingungan mengikuti langkah Quxi.


Whuss..


"Jangan hiraukan apapun, kau hanya perlu berjalan stabil!!"


"T..Tapi anginnya sangat kencang!!"


Suara Sofea meninggi memeggangi Pita dikepalanya takut terlepas terbang, sekuat tenaga Quxi mencoba melawan aura hitam yang ingin memperngaruhi Sofea.


Dedaunan itu berterbangan dengan retakan Pepohonan Taman membuat suara dentuman keras memporak-porandakan Daerah luar ini.


Brakk..


Satu dahan pohon didekat Sofea retak karna angin ini hingga tumbang nyaris mengenai wanita itu, untung saja Quxi dengan cepat menepiskan tangannya membuat benda itu terlempar kerah lain.


"Kau pergilah kedalam!"


"Xi, kau.."


"Pergilah, aku akan mengurus ini"


Sofea akhirnya menurut berlari masuk menuju Perusahaan, jantungnya berdetak kencang saat merasakan ada sesuatu yang seakan membawanya menuju keluar Area ini.


"M..Mama!"


Gumam Sofea saat sekilas melihat Mama Netty berdiri di Gerbang sana hingga ia terhenti dengan raut wajah sendunya, ia sangat mengkhawatirkan wanita itu hingga Sofea mulai melamun.


"Fea!!! Ini Mama, Sayang!!"


"M..Ma hiks!"


Gumam Sofea tak mampu bertahan hingga ia lansung berlari menyonsong wanita itu, pahatannya sama dan itu adalah Mamanya.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2