Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Pemburuan Pekerjaan!


__ADS_3

Tumpukan berkas itu lansung menggunung diatas mejanya, lembar demi lembar ia buka dengan tatapan mata meneliti dan sangat cermat melihat bagian-bagian yang kurang atau masih perlu di Revisi.


Semua kebijakan didalam Document itu sudah ia rangkap dengan analisa Bisnis yang akurat, apalagi ia punya rencana untuk kedepannya ingin membuat Kejutan khusus untuk Sofea kelak.


Tapi sayangnya, sedari pagi Ardelof harus dibebankan dengan Pekerjaan Perusahaan dan urusan Istana, sedangkan Raja Petratolison sedang berkunjung ke beberapa penduduk terpencil di Batalion, tentu semuanya harus Ardelof yang mengurus.


"Yang Mulia!"


"Hm."


Gumam Ardelof tanpa mengalihkan tatapannya dari Laptop dan Berkas itu, sesekali ia tampak melirik jam dipergelangan tangannya seraya mengetuk kecil permukaan meja.


"Jam berapa Penjual Sosis di Tepi jalan sini, Tutup?"


Kristof mengkerutkan wajahnya, kenapa Yang Mulia Putra Mahkota menanyakan hal yang sangat tak penting? bisanya pria ini tak akan pernah mau makanan jalanan seperti itu.


"Kau mendengarku?"


"M..Maaf, Yang Mulia! biasanya mereka tutup saat jam 8 Malam."


Ardelof terdiam, ia juga harus menghadiri Pesta itu malam ini bisa jadi ia akan terlambat pulang dan membuat Istri tercintanya yang dalam masa aneh itu merajuk kembali.


"Yang Mulia, Tuan Agreta dan Nyonya Spenila juga akan menghadiri Pesta itu."


"Hm, aku hanya tak ingin ada yang membahas urusan Pribadi."


Tegas Ardelof lagi-lagi dibuat menghela nafas tenang, Tuan Agreta adalah paman dari Vanelope dan Spenila adalah istrinya. dua orang itu dulu sangat perduli pada hubungannya dan Vanelope tentu nanti akan sangat menguras tenaga membungkam mulut para Bangsawan itu.


"Kau sudah menemukannya?"


"Untuk itu saya sudah menemukannya, tapi perlu anda lihat. Yang Mulia."


Kristof memberikan Amplop itu lagi keatas Meja Ardelof yang lansung mengambilnya, disana terlihat beberapa Foto Vanelope yang sedang berciuman dibalik Tirai tepat diruangan yang sekarang ia jadikan gudang mayat, sedangkan mayat pria itu masih ia simpan didalam Dimensinya.


"Kau sebarkan ini kesemua Jaringan Media. jangan sertakan asal pengirim, buat seakan ini muncul begitu saja."


"Apa tak akan berdampak pada Kerajaan Hangalay, Yang Mulia?"


"Ini Konsekuensinya, aku tak ingin Masyarakatku menduga kalau disini yang salah Istriku, dan akan menganggu Hidupnya."


Kristof terdiam, ia memang salut pada wanita yang baru satu kali ia lihat didekat Perusahaan dulu dan itu sangat cantik, mata indah dan kulit bening ditubuh molek itu memang benar-benar Bak Mahadewi yang sangatlah cantik, ia akui itu bahkan lebih dari aura Putri Vanelope dulu saat bersama Putra Mahkota.


Whuss..


"Y..Yang Mulia."


Kristof luruh bertekuk lutut saat Ardelof seakan mencekik lehernya dengan udara disini, wajah Ardelof sudah mengeras menatap lurus dengan raut tak menentunya.


"Berani kau memikirkannya?"


"M..Maaf, Yang Mulia."


"Jaga fantasimu."

__ADS_1


Whuss..


Kristof terbatuk pucat menghirup udara dengan cepat karna Ardelof sudah melepaskannya, tapi tetap saja rasa panas membelenggu kulit lehernya.


Ia menatap Paper-bag yang tadi ia bawa karna Ardelof meminta agar semuanya selesai sekarang tanpa pulang ke Istana karna kalau sudah bertemu Sofea maka tak akan bisa kemana-mana lagi.


"Yang Mulia, Pakaian anda!"


"Hm, aku tak butuh Pelayan."


Kristof mengangguk karna para Pelayan khusus diluar sana sengaja ia siapkan agar bisa melayani Putra Mahkota, tapi sayangnya Pria ini tak ingin dilayani sama sekali.


.........


Wajah wanita itu sudah pucat pasih sedari tadi keluar masuk kamar mandi karna mual yang teramat ia rasakan mengaduk perutnya, mata Sofea sudah berair merah dengan tubuh yang bersandar ke pintu kamar mandi membuat Quxi yang melihatnya lansung gelisah.


"Kau..kau kenapa? apa yang sakit?"


"P..Perut.. Hoeekmm."


Sofea membekap mulutnya kembali berlari ke Wastafel hingga memuntahkan kembali cairan kekuningan yang terus keluar karna tak ada yang masuk kedalam Perut Sofea.


Quxi lansung panik, ia takut Yang Mulianya marah besar kalau sampai Wanita ini sakit padahal tadi ini tanggung jawabnya.


"Kau..kau tenang saja, aku..aku akan memberitahu, Yang Mulia."


"Emm."


Sofea menggeleng masih membekap mulut seraya menarik lengan mungil Quxi keluar kamar mandi hingga keringat dingin itu mampu dirasakan oleh bocah Elf ini.


Sofea terengah-engah mengusap keringat dingin didahinya seraya melangkah menuju Sofa dengan Quxi yang lansung memijat tengkuk Sofea agar lebih rileks tapi nyatanya panas tubuh wanita ini tinggi hingga membuat Quxi lansung pucat.


"K..kau demam."


"Aku tak apa, aku hanya ingin Istirahat. jangan beritahu siapapun, aku tak ingin Suamiku khawatir."


Quxi memanyunkan bibirnya karna ucapan Sofea terdengar sangat merdu mengatakan SUAMIKU, padahal dulu wanita ini selalu memanggil TUAN PEMARAH.


"Tapi nyawaku ancamannya."


"Diamlah, kau pergilah bermain dengan Beclie, dari tadi merusak Suasana dikamar ini."


"Kauu!!!"


"Hm, apa? kau mau marah?" ketus Sofea yang mengelus perutnya melilit, rasanya hari ini ia hanya mau marah dan menyembur orang saja padahal ia sudah makan satu potong roti tadi.


"Kau sangat menyebalkan."


"Aku laporkan ke Suamiku."


"Fea!!! kau gila, ha?" Pekik Quxi frustasi mengacak rambut Silvernya seraya menggeram menahan rasa kesal yang teramat, apalagi Sofea sangat menyebalkan.


"Xi, kenapa baumu sangat busuk?"

__ADS_1


"Terserah kau saja."


"Aku benar, baumu seperti mayat hidup."


Quxi menghela nafas halus mengelus dadanya agar lebih sabar, telinga runcingnya lansung menciut kalau ia melawan Wanita sang Penguasa ini maka nyawanya ada diambang batas.


"Kau mau makan apa?"


"Em, Tidak ada. yang penting kau jangan dekat-dekat padaku!"


"Baiklah, Yang Mulia Ratu Sofea Ratna Mahadewi!"


Sofea tersenyum kecut, entahlah rasanya hari ini sangatlah sesak tanpa pria itu. apalagi ia sudah tak sabar menunggu pesanannya datang mungkin Sore ini atau saat makan malam tiba.


"Dewi!!"


Sofea tersentak saat suara Beclie terdengar dari balik pintu sana, ia menghela nafas halus saat membayangkan cerita Ardelof semalam sangatlah menguras emosinya, tapi ia masih punya hati nurani kalau disini Beclie tak salah.


"Dewi!!"


"Aku keluar sebentar."


"Tidak."


Quxi menahan tangan Sofea yang ingin pergi, mata Sofea berubah menajam menatap Quxi yang lansung menelan ludahnya kasar.


"Lepas!"


"A..itu, Yang Mulia tak mengijinkan kau bertemu dengannya."


"Sekarang dia tak ada, lagi pula dia hanya anak kecil, Xi! sudahlah."


Quxi akhirnya melemah akan bujukan Sofea tapi ia mengiringi langkah wanita ini menuju pintu, ia yakin ada maksud lain dari kedekatan Beclie dengan Sofea tapi wanita ini begitu baik.


"Dewi."


Sofea tersenyum saat Beclie lansung memeluknya saat pintu terbuka, wajah bocah ini berbinar terang menghirup dalam aroma bunga dari tubuh Sofea dengan sangat riang.


"Dewi, aku sangat merindukanmu."


"Benarkah? aku juga! tapi kenapa kau sendirian, kemana Ibumu?"


Sofea berjongkok dihadapan Beclie yang lansung berubah murung membuat Sofea saling pandang dengan Quxi yang berjaga.


"Ibu sudah pergi pagi-pagi tadi, dia bilang ada Pesta malam ini."


"Kenapa kau tak diajak? disana pasti banyak makanan."


Beclie tersenyum kecut mengulur tangannya merapikan helaian setengah Poni Sofea yang memakai Pita, terlihat sangat cantik dan imut walau wajahnya pucat.


"Itu sudah biasa, mungkin Ibu sedang sibuk."


Jawab Beclie seraya menyenbunyikan luka dilengannya membuat Sofea terdiam melihat sekilas memar biru kemerahan dilengan mungil ini serta kening Beclie yang juga memar tapi diselumbungi oleh rambutnya.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2