Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Keterkejutan!


__ADS_3

Detikan Jam itu terus berlalu diselingi tatapan yang terus tertumpu pada barang-barang yang sudah ia tata sesuai dengan pemikirannya, ia menyatukan Lagu yang ia buat semalam untuk membentuk Melodi disetiap Bait kata yang ia tulis. satu persatu gelas itu ia ketuk lalu ia isi air satunya dan mengosongkan yang lainnya.


Tak Lupa Sofea juga mencatat semua yang ia temukan di Selembar Kertas dibalik Skrip Libreto lagunya, sesekali ia bergumam bernada menandakan ia sudah menemukan beberapa Melodi dan Ritme Tempo untuk Lagu Slow Sad yang ia buat.


"Yeah!!!"


Sofea berjingkrat saat kertasnya sudah penuh dengan tulisan dan perhitungan tepatnya hingga Sofea meletakan kertas itu diatas meja yang sedikit kosong lalu memeggang satu Stik dan sendok Besi yang telah ia perkirakan ketukannya.


Sedangkan pria tua yang tengah duduk diatas Sofanya dengan angkuh itu menyeringai menatap Jam, ini sudah Sore dan ia yakin tak semudah itu membuat sebuah lagu yang penuh emosi dan makna dalam waktu yang singkat.


Ia terus mengesap secangkir Kopi ditangannya dengan mata terpejam dibalik kacamatanya menunggu suara dengusan Putus asa itu terdengar.


*Ku Ciptakan Kenagan..


Yang Indah Terpuaskan.. Sudah*..


Degg..


Pria tua itu lansung terlonjak kaget mendengar alunan suara merdu yang sampai ketelinganya, Renin yang mendengarpun sangat terperangah saat ketukan dan dentikan bernada itu mengalun menciptakan Emosi dari bait yang terucap.


*Tawaku.. Terngiang saat kau puja.


Sayangku.. Ohh Cintaku..


Kau ada disetiap tarikan nafasku*..


Pria tua itu memejamkan matanya menikmati lantunan suara yang penuh rasa ini, disetiap Melodi yang beritme sedang sesuai irama maka suara lembutnya seakan bergejolak menyampaikan Emosi dan Perasaannya yang sebenarnya.


*Kau Pergi..


Ku sendiri..


Tak tahu apa yang akan ku lakukan.. tuk menjemputmu. Pulang.


Tanpamu... aku rapuh, denganmu ku jemput Mahligai Cinta yang bersemayam Indah.


Kasihku.. aku mencintaimu..


Disini aku Merindukanmu.. Sayang..


Sangat rindu*..


Suara Sofea mengisi kesunyian dan deairan angin yang berlalu seakan membawa setiap bait kata itu dihati mereka, Pria tua itu membuka matanya saat suara Sofea terhenti karna bait lagu yang telah usai dibagian Chorus yang tak Sofea ulang kembali.


"Siapa dia?"


Tanya Mister Hewlow yang baru kali ini menanyakan Identitas seseorang, setiap orang yang ingin kesini ia tak akan mau membiarkannya lebih lama didalam Bangunan Minimalis ini, tapi untuk Wanita yang sekarang dia sangatlah berbeda. dalam hitungan Jam, menulis dan menganalisis Emosi dan Makna itu sangat tanggap ia cerna.


"Panggil dia."


"Baik, Mister!"


Renin pamit pergi menuju ruangan latihan Sofea yang ternyata sudah berdiri didepan pintu sedang membaca Kertas ditangannya.


"Kau."


"Iya, kenapa?"


Tanya Sofea menyimpan Kertasnya didalam tas lalu mendekati Renin yang merasa sangat tak percaya, ia kira paras Sofea yang sangat cantik ini sama seperti Putri-putri Bangsawan lainnya dalam penampilan Sofea yang tak main-main.


"Mister memanggilmu!"


"Baiklah!"


Jantung Sofea sudah berdebar kuat, ia takut jika ia melakukan kesalahan yang fatal tapi Jam masih menunjukan pukul 4 Sore dari pemergiannya tadi siang. karna tak ingin beranggapan banyak Sofea hanya menuruti Renin hingga kembali ke Ruang Tamu tadi hingga Sofea memandang Mister Hewlow yang tetap duduk dengan angkuhnya.


"Mister!"


"Namamu?"


"Sofea Ratna Mahadewi."


Nama itu saja sudah menunjukan betapa sempurnanya wanita ini, dalam segi penampilan yang Outfit kekinian dan tak menghilangkan kesan Feminim serta wajahnya yang sangatlah bersinar sangat cocok menjadi sebuah Karya seni Bernilai tinggi.


"Kau ingin apa kesini?"


"Tadinya saya mau mengajar atau mungkin saya bisa belajar juga disini, tapi saya rasa saya akan belajar banyak dengan beberapa Ruang latihan anda, Mister!"


Jawab Sofea lugas, ia juga tak mau membuang waktu dengan melakukan hal yang tak berguna seperti mengemis, lebih baik jika tak diterima ia akan keluar ketempat lain.


"Aku tak membuka Lest apapun!" dahi Sofea mengkerut mendengarnya. Quxi tampak diam hanya menunduk entah apa yang dia perbuat Sofea-pun tak tahu.


"T..tapi bukannya didepan itu.."

__ADS_1


"Itu sudah lama, tak dibuka lagi!"


"Ouhh, ya sudah. saya tak memaksakan tapi saya hanya mau bilang kalau Tempat anda bagus dan tenang! jadi semua Inspirasi akan cepat terserap benak."


Sangga Sofea dengan senyuman membuat Pria tua itu menghela nafas halus lalu berdiri dengan tegap.


"Kau terpilih."


"M..Maksudnya?"


"Kau harus menggantikan aku menjadi Master Composer mulai sekarang!"


Degg.


Renin terkejut bukan main menatap Sofea yang juga sama, Master Composer adalah sebutan sebagai seorang Penulis lagu sekaligus seorang Genius yang bisa menghasilkan Karya Murni dari Inovasinya.


"M..Maaf, tapi aku rasa aku.."


"Tugasmu hanya memantau Agensi MJM(Management Joscel Mouscel). besok datanglah kesini."


Pria tua itu meletakan Kartu diatas meja lalu ia melangkah pergi disela langkah Sofea yang ingin mengejar.


"Tapi, Maaf aku..aku tak bisa.."


"Kau yang terpilih, Mis Composer!"


Sofea lansung mendecah, ia memang tak percaya bisa memeggang gelar itu tapi rasanya tak mungkin karna ini hanya satu kali, keberhasilan itu perlu proses.


"Maaf, bukannya aku tak mau! tapi ini terlalu berat, Sebuah Agensi itu punya banyak Aktris dan Selebritis lain. ini terlalu sulit!"


"Mister mempercayaimu, maka lakukan sebaik mungkin."


Renin mengawal Sofea keluar hingga mereka sampai ke luar pintu yang telah ditutup rapat membuat Sofea lansung menatap Quxi yang mengangkat tangan tak mau ikut campur.


"Aku masih kecil, Fea!"


"Xi! aku bingung, bagaimana bisa seorang Master sepertinya bisa memilih wanita pemula sepertiku?"


"Terima saja, atau kau katakan pada Yang Mulia dulu. siapa tahu dia tak setuju."


Sofea akhirnya mengangguk menatap rumit rumah ini lalu melangkah menuju Mobilnya, ia masuk ditengah tatapan rumitnya pada rumah ini membuat Quxi menggeleng.


"Fea."


"Hm!"


Sofea lansung mengambil Ponsel dari tangan Quxi seraya mengendalikan kemudi keluar dari pekarangan in.


Citttt...


"Fea!!!"


Pekik Quxi saat Sofea me Rem mendadak hingga ia nyaris mau keluar dari kaca Mobil ini, wajah Sofea sudah pucat menelan ludahnya kasar melihat isi pesannya.


"X..Xi.."


"Apa? kau kalau mau mati jangan mengajakku!"


"Sekarang..sekarang nyawaku mau melayang!"


Sofea menunjukan isi pesan itu hingga mata Quxi terbelalak.


Temui aku di Resto Kgulkais Eher jam 2.


Sofea seakan ingin menangis menatap Ponselnya, ini sudah Jam 4 sore pria itu pasti marah besar padanya, apalagi ia tadi hanya berjanji akan pulang cepat.


"Bagaimana ini? a..apa..apa aku pulang atau.."


"F..Fea.." gugup Quxi menatap kesamping Jendela Sofea.


"Apa? kau..kau jangan menakuti aku!"


"H..Habislah kau.."


Degg..


Sofea terperangah melihat Mobil yang sudah terparkir didekat persimpangan jalan sana dengan kaca Jendela yang terbuka memperlihatkan sesosok wajah keras namun mempesona itu tengah menatapnya tajam hingga Sofea pucat pasih meraba tangan Quxi.


"Qu..Quxi, tolong...tolong aku ka.." sayangnya Quxi sudah menghilang membuat Sofea menggeram Frustasi ditempatnya. apalagi Ardelof sudah turun dari Mobilnya dengan begutu gagah dan berkharisma Pria berjas Formal itu melangkah mendekati Mobilnya membuat Sofea ingin lari.


"Sial..Sial!!! apa yang akan ku lakukan?"


Sofea gelisah hingga ia lansung membuka Pintu Mobil disebelah Quxi duduk tadi untuk melarikan diri hingga Sofea berhasil keluar dan bersiap melangkah namun..

__ADS_1


"Mau kemana?"


Glek...


Sofea menelan ludahnya kasar mendengar suara itu, sudah dipastikan ia akan mengalami bencana hari ini.


"S..Sayang!"


Cengir Sofea menatap Ardelof yang sudah berdiri disamping Mobil dengan kacamata Elegan itu menutupi mata birunya sedangkan Sofea memperbaiki letak kacamata ditenggeran hidung mancungnya.


"Masuk!"


"A..Ard, aku..aku mau ke Toilet tapi.."


"MASUK!"


Tekan Ardelof yang juga Masuk kedalam Mobil Sofea yang masih berdiri di pintu disamping sana membuat Ardelof membunyikan Klakson Mobil hingga Sofea pasrah masuk kedalam.


"Yang Mulia."


"Kembali bekerja!"


Kristof mengangguk lalu melangkah menuju Mobilnya tadi, sementara Sofea merapat ke pintu Mobilnya yang dikunci rapat Ardelof yang sedang menyetir stabil menuju jalur menjauhi Lingkungan Wilayah Istana.


"Sayang, apa kau lelah?"


"Aku rasa kau yang lelah." jawab Ardelof dingin.


"Tidak, juga! tapi cukup melelahkan untuk hari ini."


"Hm, kau tak akan bekerja setelah ini."


"Apa???"


Pekik Sofea melengking hingga Ardelof membuka kacamatanya menatap murka Sofea yang lansung mendekat memeggang lembut lengan kekar Ardelof yang memeggang kemudi.


"Sayang, kau bercandakan?"


"Tidak! kau lebih perduli pekerjaanmu dari pada aku."


"Sayang, bukan begitu! tadi Ponselku dipeggang Quxi, aku sedang sibuk menyusun Misi yang mereka berikan, itu karnanya aku tak main Ponsel." jelas Sofea mengiba.


"Alasanmu!"


Dingin Ardelof tapi ia menggenggam tangan Sofea erat hingga tubuh wanita itu merapat kearahnya, mata Sofea memperhatikan wajah serius Ardelof yang selalu melakukan sesuatu dengan sempurna, tak ada raut candaan sama sekali.


"Sayang."


"Hm!"


"Aku minta maaf, kau pasti sudah menunggu sedari tadi, bukan?"


Ardelof menghela nafas halus, ia memang sudah menunggu sedari siang karna ia tak bisa tenang tanpa berbicara dengan Istrinya atau sekedar bertanya kabar hingga Ardelof menyusul ke sini.


"Tidak lama, aku baru saja datang!" Elak Ardelof takut Sofea merasa bersalah, tapi Sofea tahu kalau Ardelof hanya pura-pura saja.


"Kau sudah makan?"


"Belum, apa kau lapar?" tanya Sofea menyandarkan kepalanya ke bahu Ardelof dengan satu tangan digenggam pria itu dan dibawanya menuju bibir untuk mengecupnya penuh kasih membuat Sofea meleleh.


"kau tak marahkan, Sayang?"


"Dari mana kau tahu?"


"Kau masih mau menciumku." jawab Sofea mengecup kilas bibir Ardelof yang tertarik kecil hingga pria itu menoleh menatap Sofea yang juga memandangnya.


"Kau pasti lelah, aku hanya ingin kau sehat itu saja!"


"Ouhh, Suamiku tersayang!"


Sofea naik kepangkuan Ardelof yang dengan senang memangkunya mesra, kedua tangan Sofea berkalung ke leher Ardelof yang tersenyum kecil menyatukan kening mereka berdua dengan satu tangan menyetir, sesekali ia melihat Jalan yang cukup ramai sore ini.


"Sayang, boleh pinjam Ponselmu?"


Tanpa banyak bicara Ardelof memberikannya hingga Sofea menyandarkan kepalanya miring ke dada Ardelof yang kembali fokus ke jalan, sandi Ponsel Ardelof adalah nama Sofea membuat wajah wanita itu bersemu hingga ia mencari Permainan yang biasa ia mainkan disini.


Namun, Sofea tak sengaja menekan bagian Galery membuat Sofea merasa penasaran apa isinya. dulu ia tak berani mengeceknya karna takut Ardelof marah.


"Apa isinya?"


Sofea membukanya hingga ia melihat beberapa Berkas yang ada disini, tapi mata Sofea menatap Album Foto yang ada disamping File resminya hingga tanpa bertanya Sofea membukanya dan..


Degg..

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2