
Suara riuh langkah kaki itu lansung terdengar keluar dari Persembunyiannya, ada yang saling membopong karna telah terluka akibat reruntuhan bangunan kota, mereka semua keluar dari tempat yang sudah hancur bahkan tak bisa lagi ditinggali.
Hanya beberapa gedung yang tinggal yaitu Perusahaan ACB yang masih berdiri kokoh walau pagarnya sudah remuk ditimpa puing-puing bagunan lain disekitarnya.
Mereka melangkah menuju arah Istana karna tak tahu lagi harus kemana, saudara dan kerabat mereka telah hilang entah kemana dan kemungkinan besar sudah tiada.
"Yang Mulia!!!"
Teriak mereka menyerupai tangisan putus asa, tak tahu lagi akan melangkah kemana dan tak tahu lagi harus apa selain bernaung ke Istana Alison.
Setelah beberapa lama, mereka sampai disana dengan segerombolan orang yang menatap nanar tanah rata dihadapan mereka, mentari diatas sana sudah kembali menarik Awan gelap yang semalam mengguncang badai.
"A..Apa ini?"
Mereka saling pandang tak percaya, mereka kira Istana ini masih berdiri tapi nyatanya tanahnya sudah menghitam bahkan retak seperti gersang, tanah seluas ratusan Hektar ini malah menjadi ladang bagi tumpukan bangunan tanpa rerumputan sama sekali.
Mata mereka tersita perhatiannya pada para petinggi Kerajaan yang terlihat tengah menatap hal yang sama seperti pandangan mereka, tepat ditengah-tengah puing bangunan itu seorang wanita cantik yang semalam mengguncang langit dengan Wujud Dewi Aforrdite-nya telah diam bungkam menatap kedepan dengan bedong berwarna coklat senada dengan bunga di kembannya, matanya menatap kosong kedepan membuat mereka tak bisa membawa Sofea dari tempat ini.
"Nak, ayo kita pulang!"
"K..Kemana?" pertanyaan berirama datar keluar dari mulut Sofea tanpa ada semangat atau intonasi ceria seperti biasa membuat Raja Hangton benar-benar tercabik berjongkok disamping Sofea.
"Hey, kita punya Istana sendiri, Nak! pasti putramu haus."
"A..Aku tak punya tempat pulang!"
Jawab Sofea dengan suara bergetarnya membuat Renoval lansung memeluknya penuh kasih, ia tak pernah melihat Sofea serapuh ini dalam hidupnya.
"Aku tahu, disini banyak sekali kenagan! tapi perdulikan juga Putramu. mau sampai kapan kau merenunginya, ha?"
Mata Sofea beralih menatap wajah mungil Putranya yang tertidur, sungguh air matanya selalu menetes setiap melihat pahatan mungil ini karna sangat mirip dengan Ardelof.
"Ayo, Nak! Ayah..Ayah berjanji akan kembali membantumu membangun semua ini, kau tak akan kehilangan apapun! semuanya akan sama."
"A..Aku b..butuh suamiku, A..Ayah hiks!" isak Sofea membuat para Masyarakat sana termenggu, mereka ikut merasakan kesedihan Sofea karna walau bagaimanapun Ardelof mengorbankan dirinya agar Tanah ini tak hancur dan menyelamatkan mereka.
"A..Apa yang mulia telah.."
"Dia sudah tiada!"
Jawab yang lainnya hingga membuat suasana berduka yang dalam, Ratu Rosmeryna melihat kebelakang saat mendengar suara tangisan hingga ia kembali diterpa oleh hal seperti ini, para Rakyatnya yang berdombong meminta perlindungan.
"A..Apa yang harus ku lakukan? A..Ardelof, S..Suamiku t..telah tiada, aku..aku tak tahu lagi." Gumam Ratu Rosmeryna merasa putus asa hingga Ratu Lamoria lansung merangkuhnya.
__ADS_1
"Untuk sementara waktu, tinggalah di Kerajaan kami dan kita akan pikirkan jalan selanjutnya!"
"Iya, Yang Mulia! apalagi kami tak lagi mampu untuk memikirkan sementara Rakyat Alison sudah terbengkalai."
Panglima Guina yang berucap serak karna kerongkongan sudah seakan mau pecah menghirup asap, sementara Panglima Lester telah terkapar tak berdaya dibopongannya.
Ratu Rosmeryna akhirnya menghela nafas lalu melangkah menuju Rombongan Rakyatnya yang memenuhi semua jalan yang tepat berada di gerbang Istana jika masih ada, ratusan yang masih selamat memenuhi jalan dengan bervariasi keadaan.
"Yang Mulia!"
"Yang Mulia, apa..apa Putra mahkota telah.."
Mereka terhenti saat Ratu Rosmeryna mengangkat tangannya untuk segera berhenti membuat mereka bungkam, sesekali mereka melihat Renoval yang tengah menggendong Sofea yang masih menatap daerah disekitarnya dengan sendu.
"Untuk sementara Perbaikan dilakukan, kalian bisa menggunakan Fasilitas yang ada belum terlalu rusak sambil menunggu Team penyiagga datang."
"Tapi banyak dari kami yng mengalamai luka parah, Yang Mulia!"
"Team medis akan datang dari Negara kami, kalian tenang saja." Sambung Raja Hangton tahu kekhawatiran para Rakyat Batalion Alison ini hingga mereka lansung menyampaikan kabar ini dari mulut-kemulut sampai meratakan semuanya.
Mobil-Mobil bantuan itu mulai berdatangan karna Renoval sudah mengantisipasi sebelum perang tadi, ia tahu Tanah Alison akan hancur dan ia memerintahkan pada Anggotanya agar datang tepat waktu.
"Tuan!"
Asisten Kai yang keluar dari Mobilnya lansung berlari mendekati Renoval yang menatapnya datar, kening Asisten Kai terlihat berdarah dan itu pasti akibat bencana tadi.
"Kau kerahkan anggota untuk membantu Proses Evakuasi korban yang terluka."
"Baik!"
Mereka lansung berdombong dengan Team Militer Kerajaan Hangalay yang datang bersama beberapa Aparat Kepolisian, mereka sangat prihatin akan kondisi Sofea yang pasti sangat terpukul hingga memberi salam hormat.
Sofea hanya diam dimasukan kedalam Mobil tapi matanya masih menatap kearah Tanah lapang hangus itu, tak ada yang berani meneggur Sofea yang tengah ada didalam titik terendah yang tak akan bisa dkketahui kapan ia akan bangkit.
"Kau lapar?"
Tanya Renoval pada Sofea yang hanya diam tak menjawab membuat ia dan Ratu Lamoria yang duduk di samping Sofea saling tatap lemah, Renoval mengecup kening Sofea lalu menutup pintu Mobil.
"Hey, Putramu bangun!"
Sofea menatap wajah Bayinya yang telah bangun dengan mata biru berkilau laut meneggelamkan mata Sofea didalamnya, tangan mungil itu bergerak mengentuh wajah Sofea yang sudah sembab dengan raut rapuhnya.
"Dia mungkin lapar, kau bisa memberinya Asi, hm?"
__ADS_1
Sofea membuka simpulan kembannya dengan Ratu Lamoria mengambil tisu membersihkan kulit putih Sofea yang tampak pucat dengan kemban kering dibadan.
"Apa Asimu banyak?"
Sofea mematung diam hingga Ratu Lamoria lansung melihat Si kecil ini dengan sangat kehausan menyesap Dot ranum itu dengan lahap, matanya menatap Sofea yang hanya diam karna pikirannya tak disini, ia tak bisa tahu apapun yang ada disekitarnya.
Disepanjang perjalanan Sofea hanya menatap ke Jendela, Jalan yang kacau dan telah ditangani Petugas Keamanan, Mobil mereja juga dikawal menuju Bandara hingga Mobil ini melewati jalan tepat didepan Perusahaan ACB yang dipadati banyak Mobil yang kacau perlu dipinggirkan termasuk memanjang ke bangunan tempat Lest Musik Sofea dulu, tentu Mobil mereka yang dikendarai Anggota Renoval lansung berhenti menunggu beberapa saat.
Semua orang berlalu begitu saja, tapi mata Sofea memanas saat melihat persimpangan jalan dimana dulu ia merajuk dan Ardelof juga sama.
"*Jangan mengikutiku!!!"
"Aku tak mengikutimu!"
"Pergi*!!!"
Bahkan, Sofea masih melihat bayangan dimana ia melempar Heelsnya ke arah Ardelof yang tak marah sama sekali, bahkan pria itu mengambilnya lalu mengikutinya kembali, semua itu berputar dikepala Sofea seakan menjadi putaran Filem.
"*Sofea!! jangan berlari kau sedang hamil!"
"Pergilah, kau..kau jahat, Ard hiks!"
"Sayang, Maafkan aku!"
"Kau..Kau membuang makananku, aku..aku sudah lelah membuatnya, kau jahat*!!"
Bibir bergetar Sofea meloloskan kekehan kecil lalu menatap Ratu Lamoria yang juga memandangnya, mata wanita itu juga menyampaikan hal yang sama padanya.
"D..Disana.."
"Kenapa, hm?"
"D..Dulu, A..Ard bertengkar denganku dan.."
"Dan?" tanya Ratu Lamoria mengelus kepala Sofea yang tersenyum nanar dengan air mata yang menetes terus membuat si kecil itu menatap Intens wajah Momynya.
"A..Aku sangat mencintainya." Ratu Lamoria mengangguk merangkuk Sofea kepelukannya.
"Ibu tahu, dan kau harus kuat, hm! Putramu membutuhkanmu."
Sofea tak bicara melainkan ia hanya memandang penuh kerinduan jalan itu, sumpah demi apapun jika tak memikirkan Putranya Sofea akan membunuh dirinya sendiri karna ia memang tak mengenal apapun selain Ardelof.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Buat yang ngatain ini cerita kayak Ikan Terbang kalian salah😁.. Cerita ini kayak Gajah terbang😄.. Author membenahi