Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Dia Penyihir Milikku


__ADS_3

Perdebatan itu terdengar nyaring dengan 10 Pelayan yang diperintahkan untuk menyiapkan jamuan makan pagi ini, semua orang tampak bingung kenapa Putri Vanelope ingin mengadakan Jamuan ? sedangkan Pesta atau kerabat pun belum ada kabar untuk datang.


Ratu Rosmeryna hanya diam, ia pun juga kebingungan harus apa karna Vanelope keras kepala untuk menyingkirkan Wanita cantik itu, ia hanya khawatir jika Ardelof semangkin menjauh hingga tak akan perduli lagi dengan Kekeluargaan Alison.


"Aku ingin semuanya sempurna, kalian harus tahu kalau wanita itu tak akan suka kalau kita tak menyambutnya meriah!"


"ۢBaik, Putri!"


Mereka lansung bergegas menyiapkan segalanya hingga Raja Petratolison yang baru saja datang lansung menatap datar Vanelope yang lansung menghampirinya.


"Salam Yang Mulia!"


"Hm!"


"Yang Mulia, silahkan ke meja makan!"


Vanelope menata semuanya dengan rapi membuat mereka bingung, ada raut aneh dari Raja Prtratolison saat melihat Vanelope begutu berambisi mendapatkan kembali hati Ardelof.


"Ibu!" Beclie datang dengan tampilan santainya terlihat lebih segar dari kemaren.


"Prince!!"


"Salam Yang Mulia!" Beclie memberi hormat pada Ratu Rosmeryna dan sedikit takut pada Raja Petratolison yang hanya diam menatap piringnya membuat Beclie sendu.


"Lie. Ayo, temani Ibu memanggil Ayahmu!"


"I..Ibu, Lie disini saja!"


Namun, Vanelope lansung menarik lengan Beclie menuju Lift membuat Ratu Rosmeryna lansung menyangkal dengan suara kerasnya.


"Vanel!! Lie ingin makan!!"


"Ibu, ini hanya sebentar!!"


Jawab Vanelope yang sudah masuk ke dalam Lift membuat Ratu Rosmeryna lansung mendecah, ia menatap suaminya yang benar-benar sangat aneh dan ia tak bisa bungkam terus begini.


"Suamiku, maaf tapi ini sudah keterlaluan!"


"Biarkan Ardelof dewasa, dia harus menyelesaikan semuanya!"


"Tapi ini bukan lagi pengujian sebagai Putra Mahkota! putraku tak lagi hidup tenang, kau pikirkan itu!"


Brakk..


Meja digebrak kuat membuat Ratu Rosmeryna terkejut melihatnya, wajah Raja Petratolison berubah meradang seakan menghisap semua energi diruangan ini.


"Sudah ku bilang, jangan ikut campur dalam mendidik Putraku! kau mengerti?"


"Yang aku tahu, kau sudah berubah!"


Ratu Rosmeryna lansung melangkah pergi meninggalkan Meja makan, hatinya sebenarnya sakit melihat Ardelof begitu tertekan sedari Pengkhianatan Vanelope, tapi ia tak bisa berkutik saat suaminya mengatakan kalau itu ujian bagi Ardelof kejenjang Putra Mahkota.


.........


Sofea hanya diam saat Ardelof duduk disampingnya seraya melihat Ponselnya tentang Bisnis yang Sofea tak ketahui, ia hanya fokus pada makananya karna tak ingin kembali dibuat sakit hati.


"Apa kau sudah selesai?"


"Sudah!"


Jawab Sofea menyuap satu suapan tanpa berselera melanjutkan, ia menegguk susu digelasnya lalu merapikan tempat makan itu lagi. hanya satu sendok dan itu membuat Ardelof mengerti kalau Istrinya sedang sakit dan marah padanya.


"Kau mau keluar?"


"Tidak, kau bekerja saja!"


Jawab Sofea nyaris tak ada intonasi lebih, ia seperti menjaga pembicaraan untuk hanya sekedar bertanya kabar lalu berlalu begitu saja membuat Pagi Ardelof benar-benar hancur.


Sofea terus bungkam walau Ardelof mengatakan ia akan pulang larut lalu akan ada Mainan baru di Taman Perusahaan dan akan ada tempat indah di luar sana, ia hanya diam menatap lurus kedepan dengan pikirannya sendiri.


"Kau benar tak mau ikut aku?"


"Iya, aku mau istirahat!"

__ADS_1


Ucap Sofea lalu melangkah menuju ranjang tanpa mengkhiraukan Ardelof yang lansung merasa tak berguna, kemaren wanita ini baik-baik saja dan begitu ceria menebar bunga disetiap harinya. tapi sayangnya sekarang, dia tak lagi mau membuka diri.


Lama Ardelof termenung di Sofanya hingga ia kembali menatap Sofea yang telah menggulung tubuhnya dengan silimut dan hanya puncak kepala wanita itu saja yang terlihat.


Perlahan, Ardelof berdiri dan melangkah mendekati ranjang seraya mengulur tangannya untuk menyentuh kepala Sofea namun jarinya tertahan untuk itu.


"Pergilah, kau akan terlambat!" Suara Sofea bergetar nyilu dihati Ardelof yang bungkam duduk dibelakang punggung Sofea.


"Kau benar tak ingin ikut?"


"Hm."


"Aku akan membelikan mu apapun yang kau.."


"Aku tak ingin apapun!" sambung Sofea membuat Ardelof menjadi pria penyabar di Dunia ini hingga helaan nafas halusnya dapat Sofea dengar tapi ia berusaha acuh.


"Tidurlah, tak akan ada yang menganggumu!"


Ardelof membungkukan tubuhnya hingga ia mengecup puncak kepala Sofea lama membuat wanita itu bergetar, ingin rasanya ia seperti dulu dimana Ardelof sangat terlihat menginginkannya, tapi setelah kejadian pagi tadi Sofea sadar kalau ia harus membuat jarak dengan pria ini.


"Kau tak ingin melihatku?"


Sofea menggeleng membiarkan Ardelof tenggelam dengan sendirinya, namun, suara ketukan pintu diluar sana menyadarkan keduanya hingga Ardelof berdiri melangkah kearah pintu.


"Sayang!"


Degg..


Sofea terlonjak kaget saat suara itu sangat ia kenal, wanita yang tampak sangat dekat dengan Ardelof sedari kemaren seperti mengemis cintanya.


Berbeda dengan Sofea yang terkejut, Ardelof lansung menutup pintu tapi sebelum itu Vanelope mendorong Beclie untuk masuk hingga benturan itu terjadi di lututnya.


Brugh..


"Aass.. Buu!!!"


"Lie!!!"


Vanelope ingin masuk tapi Ardelof lansung menutup pintu itu rapat hingga membuat ia terperangkap diluar tak sesuai rencana yang ia buat, hingga ia terus menggedor pintu kamar itu.


Ardelof hanya diam menatap lurus kedepan tanpa memandang Beclie yang menangis sekugukan memeggangi lututnya yang berdarah, melihat itu Sofea lansung meloncat dari ranjangnya dengan panik mendekati Beclie yang manangis.


"Kau..Kau tak apa?"


"S.Sakit hiks!"


Beclie memeggangi lututnya yang berdarah membuat Sofea lansung menggendong si kecil itu keatas Sofa membuat Ardelof tertegun diam.


"Buu hiks!"


"Sebentar, ya! Aku akan ambilkan obatnya!"


Sofea berlari menuju Walkcloset seraya membuka Laci mencari kotak obat yang biasa ia gunakan untuk menghilangkan pegal dan kembali menghampiri Beclie yang masih menangis.


"Buu hiiks, sakit!"


"Maaf, tapi ini agak perih! tapi janji setelah ini sakitnya hilang, hm?"


"T..Tidak!!! hiks, Ibuu!!!"


Beclie merasa takut hingga membuat Ardelof naik pitam ingin mendekat tapi Sofea lansung menatapnya membunuh membuat nyali Ardelof ciut dan tetap ditempat berusaha sabar mendengar tangisan buah Pengkhianatan ini.


"Hey, kau laki-laki, kan?"


"I..Iya!" jawab Beclie polos seraya sekugukan menutup matanya dari Ardelof yang hanya diam memupuk rasa sabar, tapi matanya masih mengawasi Sofea karna takut wanita itu memegang Gunting atau hal yang bisa melukainya.


Dan benar saja, Sofea mengeluarkan Gunting dari kotak obatnya hingga Ardelof lansung gesit merampas benda itu.


"Kau!!!" geram Sofea menatap tajam Ardelof yang serius.


"Ini berbahaya, dia bisa melukaimu!"


"Kau bukan anak kecil lagi! berikan itu padaku!" Kekeh Sofea mengadahkan tangannya meminta disertai ke angkuhan Ardelof yang juga tak ingin memberikannya.

__ADS_1


"Kau bisa menggunakan hal lain, tapi tidak dengan ini!"


Ardelof melempar benda itu ke Balkon hingga membuat Sofea lansung mengupat kasar lalu menatap Beclie hang mematung melihat perdebatan dua manusia ini, agak aneh karna Pria Pemarah ini tak melawan Nona cantik dihadapannya.


"Lalu kau pikir aku bisa memotong Perban dengan Sendok, ha?"


"Berikan padaku!" dengan kekesalan yang menggunung Sofea memberikan gulungan Perban ditangannya ketangan Ardelof yang ikut berjongkok menyamakan tingginya dengan Sofea.


"Hm!" Ardelof memberikan potongan yang ia putus tadi ketangan Sofea tapi Sofea sudah jengkel setengah mati.


"Kau saja yang pasangkan!"


"Aku tak main-main." Geram Ardelof membuat Beclie takut hingga kembali ingin menangis, sungguh Sofea bingung kenapa Ardelof sangat membenci bocah ini.


"B..Bu hiks!"


"KAU BISA DIAM!!!"


Grep..


Sofea lansung memeluk Beclie yang ingin lari karna bentakan Ardelof memang sangat menyeramkan, iapun juga ikut meremang tapi Sofea tak ingin memperburuk rasa takut Beclie.


Sadar akan hal itu Ardelof lansung mengusap wajahnya kasar karna ia kelepasan membentak dihadapan Sofea.


"Aku pikir kau suka anak! tapi nyatanya tidak!"


"A..Aku hanya .."


"Pergilah!" Tegas Sofea menatap tajam Ardelof yang mematung diam hingga Sofea lansung menghela nafas halus agar ia pun tak terpancing untuk berdebat dihadapan Beclie yang masih kecil.


"Jika kau memang tak berniat membantu, buka pintu kamarmu dan pergi!"


Beclie benar-benar dibuat takjub dengan keberanian Sofea bicara ketus begitu, padahal tadi ia kira Ayahnya Ardelof akan marah besar sampai mencincang mereka habis.


"Aku akan lakukan!"


Akhirnya Ardelof pasrah karna tak ingin memupuk kemarahan Sofea padanya, ia dengan datar mengobati luka memar biru dan goresan dilutut Beclie yang berdarah membuat Beclie mematung kaku.


"A..Ayah!"


Ardelof menghentikan tangannya dengan amarah yang kembali tersulut hingga..


"Kau.."


"Selesaikanlah, hm?" Pinta Sofea lemah karna ia sudah tak sanggup berdebat, yang ia rasakan sekarang adalah bingung dan perih saat Beclie memangil kata AYAH pada Ardelof.


"Baiklah!"


Ardelof lansung menyudahi ikatan perbannya hingga ia kembali berdiri duduk disamping Sofea yang menghapus sisa air mata dipipi gembul Beclie yang tertegun melihat wajah Sofea begitu mirip dengan Dewi Rembulannya.


"Sudahlah, jangan menangis lagi, hm? kau itu kan Calon Raja. harus menjadi Pemimpin yang tangguh dan berwibawah, jangan cengeng!"


"M..Maha Dewi!"


Sofea terkekeh mendengar ucapan Beclie, terkesan sangat lembut seperti mengenalnya hingga tak segan Sofea berjabat tangan mungil itu.


"Yah, namaku, Sofea Ratna Mahadewi. hmm.. Tapi, dari mana kau tahu aku Mahadewi?"


"Karna kau cantik!"


"Ouhh, kau sangat manis!"


Sofea mengecup pipi Beclie yang tersenyum senang dibuatnya, hingga ia larut tanpa menghiraukan suara Ibunya yang sudah ditelan angin menghilang dari pintu.


"Kau tak jadi bekerja?"


"Hm, Kau salah! dia bukan Mahadewi." suara datar Ardelof seperti ingin menyulut emosi Sofea hang menaikan tangannya untuk memukul.


"L..Lalu.."


"Dia Penyihir milikku!"


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2