
Mobil itu terparkir disebuah tempat dengan keindahan alam yang luar biasa mempesona, dimana Pantai disebelah sana terbentang indah dari hampran birunya membawa ratusan manusia untuk bermain menenggelamkan tawa.
Tepat liburan yang sangat cocok diminati berbagai kalangan dari mulai muda, berumur, hingga tua yang terkubur. rombongan anak-anak bermain air berlarian tanpa henti melempar candaan. yah, mata sendu bening seorang wanita yang melihatnya dari dalam Mobil sangatlah iri.
"Turun!"
"Em, aku tak bisa."
Dahi Ardelof mengkerut mendengar ucapan Sofea, sebenarnya ia agak tak percaya ada seorang wanita yang takut akan keramaian, dari laporan anggotanya Sofea memang memiliki Trouma atau Sindrom dari kerumunan.
"Aku bilang, TURUN!" tekan Ardelof menghakimi.
Sofea tampak diam meremas jari-jemarinya, ia menatap daerah disekeliling Mobil yang mulai menyusut para Manusia yang pergi ke arah lain hingga ia lega membuka pintu Mobil.
Ardelof juga melakukan hal yang sama, ia memakai Masker dan Topinya tak lupa ia juga menenteng Masker hitam yang sama keluar Mobil, tanpa pikir panjang atau membuang waktu Ardelof menarik Sofea mendekat kesamping Mobil seraya memasangkan benda itu kewajahnya, tentu jantung Sofea tak mau diam karna jarak mereka begitu dekat.
"T..Tuan, banyak orang disini."
"Kau suka di kamar?"
Sofea lansung menggeleng mendengar godaan Ardelof yang terkesan menjerumus panas, ia memalingkan wajah cantiknya kearah Pantai sana membiarkan Ardelof memandangi wajah merah redam itu.
"Kita hanya berjalan-jalan, tapi kau tetap disisiku. kau mengerti?"
"Iya, tapi apa mereka bisa melihatku?"
"Tidak, kau bebas melakukan apapun selagi tak menentang perintahku!"
Tekan Ardelof lalu kembali melangkah maju tapi tangannya menyambar tangan lentik Sofea yang kelagapan mengikuti langkah santai Ardelof yang berjalan ditempat yang agak sepi.
Banyak pasang mata yang menatap Ardelof penuh daya pesona, walau wajah pria itu tak terlihat jelas tapi dari bentuk tubuh tinggi semampai dan auranya yang kuat membuat mereka meleleh.
"Pakai kacamata?"
"Kenapa?"
"Matamu biru, mereka bisa tahu kau siapa. Tuan!"
Akhirnya Ardelof memakai kacamata hitam dari gantungan Baju Kaosnya hingga menyempurnakan penampilan pria itu, Sofea hanya mengulum senyum geli karna Ardelof ternyata menurutinya.
Tapi anehnya, Ardelof tak memiliki pergi ke beberapa tempat yang rapi dan santai diduduki para Koglomerat atau Miliarder, ia pergi ke sebuah Resort di Tepi pantai ini karna hanya tempat ini yang sunyi hanya beberapa pelanggan yabg ada, sedangkan Reseort disampingnya sangat ramai.
"Selamat datang, Tuan!"
"Hm."
Ardelof mengangguki para Pramu saji sana lalu membawa Sofea untuk duduk dekat Dapur, ada satu meja dan Sofa panjang disana agak tersembunyi membuat para Pelayan itu kebingungan karnanya.
"Tuan. anda pesan apa?" Ucap Vujren pria berseragam Pelayan seraya menyerahkan Daftar Menu didalam Buku lebarnya.
"Hm."
Ardelof menggenggam tangan Sofea penuh isyarat hingga Sofea mengerti mau pesan apa, ia menatap makanan disana ada Udang Saos Tomat, sejenis Sefood, Steak, Pasta, dan banyak lagi. tapi Sofea menunjuk udang saos Tiram dan Tomat itu membuat Ardelof mengerti.
"Pesan ini dan..!"
"Dua Teh, Satu Ice Cream dan Sosis Blueberi!"
Sambar Sofea girang karna ia memang menyukai itu sejak lama, dan Ardelof menyebutkan semuanya dengan hafal membuat Pelayan itu hanya diam merasa janggal tapi tetap pergi.
"Kau suka itu?"
"Em, Iya! tapi tak tentu, aku suka semuanya."
__ADS_1
"Lalu apa lagi?"
Tanya Ardelof tertarik seraya bersandar dikursi menatap datar Sofea yang tampak berbinar karna keluar, sepertinya wanita ini memang merindukan dunia luar yang asri.
"Banyak, aku tak ingat."
"Hm."
Setelah beberapa lama Makanan itu datang, wajah Sofea berbinar terang melepas Maskernya karna Ardelof hanya mengantisipasi jika Sofea melakukan sesuatu nanti.
"Ini, Tuan! Silahkan dinikmati."
"Hm."
"Terimakasih!"
Sambung Sofea lalu mengambil Makanannya, santapan lezat ini dengan lahap ia gigit tanpa embel-embel basa basi pada siapapun. tapi Sofea segera sadar saat merasakan tatapan Ardelof lansung melihatnya sedari tadi.
"Emm, Maaf!"
Sofea meletakan kembali makananya seraya menunduk , ia tak sopan begini karna seharusnya Ardelof makan pertama kali. melihat itu Ardelof hanya diam menganbil tisu disampingnya seraya menarik pinggang Sofea merapat kearahnya.
"Makanlah dengan pelan."
Ucap Ardelof seraya membersihkan sisa Saos dibibir dan pipi mulus wanita ini, satu tangannya membelit pinggang wanita itu Posesif dan satunya lagi memeggang tisu merapikan belopatan itu.
"S..Sudah, aku..aku tak Apa"
"Kau bisa diam?"
"Em, I..Iya!"
Ardelof menyelesaikan kegiatannya hingga ia kembali mendekatkan piring itu kedepan Sofea, namun, Ardelof datang kesini bukan untuk makan. ia sedang menjelikan telinganya seraya memanggil Pelayan tadi.
"Duduklah!"
Pria itu duduk dihadapan Ardelof tapi kepalanya menunduk, entahlah seakan ada tekanan dari keberadaan pria ini agar ia tetap sopan dan tunduk hormat.
"Sejak kapan Resortmu sepi?"
"Sebenarnya Resort ini sebelumnya ramai, Tuan! tapi saat Resort Humberque disamping sana berdiri tempat kami jadi sepi, apalagi kami diancam mau tutup oleh Dewan Keadilan Rakyat dari Istana."
"Kenapa?"
"Pajak tanah di Pantai ini sangat besar, Tuan! hampir setengah dari keuntungan kami diserahkan ke Istana, kami sudah banyak berunding dengan ketua Wongton dan wakilnya, tapi tak ada dapat keringanan."
Seketika Ardelof terdiam, begitu besar data Pajak beberapa tahun belakangan ini hingga membuat rakyat kecil seperti mereka terpinggirkan, seharusnya Raja Petratolison harus menyeleksi para Anggota bawah terjun ke Lapangan.
"Ambilah!"
"A..Apa?"
Ardelof menyodorkan Kartu dimana ia menjamin Resort ini untuk berdiri lebih lama sesuai perpanjangan waktu, mata Vujren berbinar lepas memeggang benda itu. dimana ini kartu lansung atas nama Putra Mahkota.
"Y..Yang Mulia!"
Sofea menghentikan suapannya saat pria itu lansung berdiri membungkuk penuh hormat, ia beralih menatap Ardelof yang hanya menganggukinya datar membuat satu isi Resort itu lansung memberi salam dari depan sana, tentu Sofea menggeggam erat lengan Ardelof karna mulai merasa sesak.
Tapi, mata Ardelof terkejut saat melihat Mobil merah seseorang yang sangat ia kenal melesat terparkir didepan Resort ini, para pengawal itu membuka pintu Mobil hingga menimbulkan keriuhan dari Resort sebelah berdombong mengerumuni Wanita itu.
"Putri!!!"
"Yang Mulia, Putri Vanelope!!!"
__ADS_1
Teriak mereka hitteris, Vanelope dengan gaya khasnya yang angkuh tak memperdulikan para Manusia yang mulai mengerumuninya, aparat Keamanan sana lansung menjaga wanita itu dan Yang Mulia Prince si tampan yang tampak ciut.
"Putri Mahkota!!"
"Yang Mulia, minta foto sebentar, aku Mohon!!"
Vanelope hanya acuh hingga ia memasuki Resort itu membuat para Manusia diluar sana memberontak mendesak masuk membuat suara keriuhan yang begitu menyesakan.
"Yang Mulia, Putra Mahkota!"
Vanelope memberi salam hormat pada Ardelof yang sudah mengeraskan wajahnya, ratusan orang diluar sana memekik keras memanggil Vanelope dengan penuh kekaguman, apalagi Beclie yang tampak bersembunyi dibalik tubuh Ibunya karna takut melihat tubuh Ardelof yang seakan menelannya hidup-hidup.
"Prince, mendekatlah kesana!"
"Kau sudah tak waras!"
Geram Ardelof masih duduk dengan angkuh ditempatnya, ia membuat sebuah Portal jarak agar Vanelope tak menduduki tempat disebelahnya, tentu semua itu membuat Sofea mematung dengan mulut yang penuh akan makanan.
"Apa aku harus mengatakan kalau ada seorang Putra Mahkota disini hingga kau dan aku akan dipuja mereka semua?"
"Kau pikir aku takut dengan ancaman, butamu?"
Tegas Ardelof membuat Sofea bingung, sebenarnya dia siapa dan anak itu anak siapa. ia menatap Ardelof dan Vanelope bergantian dengan bocah itu. tak ada kemiripan dengan Tuan Pemarah ini.
"Prince, lihatlah! Ayahmu makan sebanyak ini tanpa mengajakmu."
Ardelof hanya diam dengan Sofea yang menyelesaikan makannya karna ada yang curiga dengan makanan yang tiba-tiba hilang dari tempatnya.
"Yang Mulia!!!"
Ardelof menatap tajam Vanelope yang menyeringai saat melihat Media yang datang, wanita ini benar-benar licik mengendalikannya dalam urusan Rakyat dan Publis.
Sofea mulai tak tahan dengan keriuhan ini hingga ia melepas genggamannya dari tangan Ardelof seraya berdiri memeggangi dadanya yang mulai sesak.
"A..Aku ke Toilet!"
Sofea dengan cepat pergi kebelakang sana menjahui keadaan yang mulai tak stabil, namun sayang ia salah masuk ruangan hingga pergi masuk ke Dapur dimana puluhan Koki yang tengah berdombong melihat dari kaca sana.
"Apa itu Putri Mahkota?"
"Dia sangat cantik, pantas saja Putra Mahkota sangat mencintainya!"
Sofea sudah limbung dihapit para Manusia itu hingga ia berpeggangan ke dinding, Dapur ini penuh oleh para pelayan dan juga Koki yang mengerumuni pintu membuat Sofea lansung tersungkur ke lantai sana.
Brughh..
"M..Maa!!"
Gumam Sofea mencengkram kepalanya yang sakit, suara teriakan dan pujian diluar sana seakan berputar mengisi otaknya. keringat dingin itu tiba hingga menyusuri kening dan pelipis Sofea yang terus berkngsut mundur menjauh dengan wajah pucatnya.
"Maa."
Semuanya berkunang, Sofea terus mencoba berdiri namun tubuhnya tak sekuat itu karna kerumunan didapur ini seakan mengendapkan udara bagi pernafasannya.
"T..Tolong hiks, T..To..Tolong!"
Sofea menggapai meja diatasnya dimana ada Kompor yang menyala sedang menggoreng dagging, tangannya terus menggapai hingga tanpa sadar ia menepis Toples kaca diatasnya hingga tumpah wajan minyak dan lansung tumpah dengan suara gebrakan dipintu sana.
.....
Vote and Like Say..
Maaf ya.. tadi ada kendala😂
__ADS_1