
Mereka semua sangat terkejut saat melihat seorang wanita yang beberapa hari ini telah menghilang dari Dunia maya dan Dunia nyata. biasanya mereka selalu memantau apa saja yang dilakukan Putri Hangalay ini di Akun Medsosnya yang sudah menjadi Bintang setiap harinya.
Apalagi kedatangan Yang Mulia Putra Mahkota yang juga baru saja datang dengan wajah datar yang sama namun mengagumkan, mereka hanya bisa menunduk diam saat Pria itu melaluinya lalu kembali melihat ketika sudah hilang dipelupuk netra.
"Apa, Yang Mulia ingin berbalikan?"
"Aku juga tak tahu!"
"Haiss, sayangnya wajah Putra Mahkota tak bisa kita tebak apa dia bahagia atau tidak, selalu datar seperti Aspal, tapi aku suka!!"
Para Kariawan yang berbincang kecil lalu melanjutkan pekerjaannya saat pemantau di Ruangan ini mulai menajamkan matanya membuat Blokade penggosipan.
"Kerjakan Urusan kalian!"
"B..Baik, Bu!"
......
Seketika semuanya hening, Ardelof yang telah berdiri didepan pintu sana lansung menatap seorang wanita dengan paras yang sama dan keangkuhan yang sama tengah duduk dengan begitu Elegannya diatas Sofa dengan mata yang menatapnya penuh Cinta dan gebuan rasa.
"Kau sudah datang, Sayang?"
Suara itu mendayu tapi sayangnya, Respon Ardelof tak lah seperti dulu yang sangat senang dipanggil dengan kata itu dari Mulut wanita ini. tak ada raut bahagia melainkan wajah datar dingin yang tak pernah ditunjukan saat bersama Istrinya kalau sedang baik-baik saja.
Ardelof melangkah menduduki Sofa Singel tepat didepan Vanelope yang menatapnya penuh akan Ambisi, tentu Ardelof tahu siapa yang sekarang tengah menguasai Hasrat keras wanita ini hingga mengendalikan akal sehatnya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Sudah cukup bersembunyi!"
Suara dingin menghakimi itu membuat Vanelope tersenyum penuh kemenagan, ia menatap Ardelof yang begitu membuat ia menggila sampai aura yang dikeluarkan Vanelope sudah sangat hitam dan kelam.
"Aku tak bersembunyi, Sayang! aku kesini ingin menemui, Istrimu!"
"Hukuman anda masih berlanjut, Putri! bahkan Raja Petra mengatakan kalau anda akan tetap melaksanakan pengasingan dan Hukuman Cambukan Ganda karena berani melarikan diri."
Kristof yang menjelaskan Aturan Kerajaan hanya mendapat seulas senyum remeh dari Vanelope, Tujuannya kesini adalah membuat kehidupan Ardelof dan Sofea hancur. ia sudah muak melihat wanita itu terus menempel dan dimanja bak seorang ratu oleh pria ini.
"Kau tak tahu, hm?"
"Maksud anda, Putri?"
Vanelope mengeluarkan secarik kertas dari Tasnya dan ia letakan diatas meja tepat dihadapan Ardelof yang hanya diam dengan kharismatik yang kuat, Kristof mengambil kertas itu hingga matanya terbelalak tak percaya melihat apa yang tertera disini.
"Bacakan!"
"Dengan segala hormat dan perundingan dari dua Kerajaan Batalion Alison dan Kerajaan Hangalay, Putri Vanelope Ev Hangalay dinyatakan Bebas dari Hukuman Kerajaan Alison tapi akan menjalani Pengasingan selama 5 Tahun."
__ADS_1
Wajah Ardelof mengeras mendengarnya hingga ia menatap lurus penuh dengan kekelaman, mata berubah mengintimidasi dengan kebijakan yang telah dikeluarkan Kerajaannya.
"Ini dibuat oleh Raja Petra, Yang Mulia!"
"Kapan?"
"Sejak Perundingan dengan Yang Mulia Raja Hangton!" jawab Kristof membuat Vanelope terkekeh pelan lalu mengibas rambutnya kebelakang memperlihatkan leher jenjang yang sangat menggiurkan, tapi sayangnya Ardelof tak terpancing akan aura Seksual Vanelope yang bertambah setelah kemaren menghilang.
"Ayolah, Istrimu tak ada disini. kita bisa bersenang-senang, Sayang!"
"Belum saatnya!"
Jawab Ardelof memberi seringaian Misterius membuat Vanelope meredam rasa kelamnya, sungguh ia sudah tak bisa menahan lagi dan lihatlah saat itu tiba semuanya akan hancur membuat semua orang menangis darah.
"Baiklah, aku akan meminta Ayahku mengumumkan kebebasanku tepat dihadapan Media besok pagi."
Ardelof hanya diam hingga Vanelope berdiri lalu melangkah mendekat kearahnya dengan mengulur tangan ingin menyentuh dada Ardelof namun hembusan angin itu menepis tangannya hingga membut Vanelope terhuyung menjauh hingga 1 Meter darinya.
Mata Ardelof berubah merah menyala menatap Vanelope yang mengalihkan pandangan seperti takut dan tak berani membuat Kristof tersenyum miring, kalau Yang Mulianya mau sudah habis wanita ini menjadi bangkai.
"Katakan pada Pimpinanmu, pilihlah tempat bersembunyi."
Tegas Ardelof lalu mengibaskan tangannya membuat Vanelope mulai merasa tak nyaman dengan aura diruangan ini, sepertinya Ardelof perlahan menyerap Energi didalam tubuhnya hingga tungkai Vanelope mulai melemah hingga ia lansung melangkah keluar diselingi tatapan aneh Kristof.
"Maaf, Yang Mulia! apa dia tak akan mengusik, Nona!"
Ucap Ardelof lalu melihat tempat duduk yang tadi Vanelope duduki, ada sisa asap hitam yang lekat disana hingga ia telah mengambil kesimpulan sejak lama kalau Vanelope bukan lagi menjadi dirinya, dia sudah mengenal Klan Gelap itu hingga siapa yang terlalu berambisi dan terlalu menginginkan sesuatu dengan menghalalkan cara apapun maka akan banyak yang membantu termasuk Mahluk tak sejenisnya juga.
"Biarkan dia melakukan apapun, kau hanya perlu Jaga wanita itu dengan baik!"
"Baik, Yang Mulia."
..........
Air mata itu terus keluar melihat kedalam kamar sana, tumpukan botol-botol Minuman yang telah berserakan bahkan tak hayal pecah akibat kegilaannya sedari kemaren. ia tak bisa menghentikannya karna ia takut Gibran nekat melukainya.
"Fea!!!! Aku..Aku mencintaimu, Sayang!!! aku..aku mencintaimu!!!!"
Teriakan yang terus keluar membuat Yella teriris, batinnya sakit dengan tubuh yang lunglai. tak pernah Gibran memikrikan perasaannya bahkan pria ini terus terang mengatakan hal itu sampai menghancurkan hidupnya sendiri dengan meneggak minuman berulang kali.
Mata yang sudah sembab dan merah dengan bau minuman yang telah kental ditubuhnya, ia terus menganggap Sofea ada didekatnya mendengarkan setiap keluh kesah yang selama ini ia tahan untuk tak diungkapkan.
"S..Sayang, aku..aku sangat mencintaimu! kau tahu, kalau malam itu aku tak mabuk dan melakukan itu bersama Yella aku tak akan begini, Fea! aku mencintaimu, Sayang, aku..aku mencintaimu."
Jelas Gibran menatap Bantal dihadapannya tak hayal memeluknya penuh cinta meneriakan nama yang telah membuat hidupnya bercampur aduk karna kesalahan yang ia lakukan.
Namun, mata Gibran menangkap mata berair Yella yang mengintip dari balik Pintu seraya memeggangi Perutnya yang agak besar dari yang kemaren, raut wajah Gibran mengeras membuat Yella gemetar didepan pintu.
__ADS_1
"G..Gibran!"
Lirih Yella agak mejauh saat Gibran sudah berdiri dengan sangat susah payah karna Dunianya sedang berputar, sesekali pria itu terjatuh lalu bangkit kembali mendekati Yella yang berusaha berfikir positif.
"B..Bran!"
"Hey!!"
Sapa Gibran tersenyum melambaykan tangannya kearah Yella yang benar-benar takut hingga perlahan mundur dengan langkah Gibran yang sudah semberaut itu maju dengan senyum menakutkannya.
"Kau mencintaiku, kan?"
"G..Gibran aku..aku.."
"Ayo kesini, Sayang!"
Gibran terhenti melangkah lalu merentangkan tangannya menatap Yella yang juga terhenti melangkah dengan berpeggangan ke meja disampingnya, mata Yella gemetar takut hingga ia ingin berlari namun.
Bughh..
"***!!"
Yella meringis saat Gibran melempar kakinya dengan botol hingga membuat ia tersungkur dengan na'as ke lantai sana, Yella menangis memeggangi perutnya menatap takut Gibran yang telah kehilangan akalnya.
"Kau!!! Kau sengajakan?"
"G..Gibran hiks, aku..aku mohon jangan."
Isak Yella menggeleng saat Gibran mengacungkan pecahan kaca padanya, mata Gibran sudah merah menyala setelah ia tahu siapa yang membuatnya mabuk malam itu.
"Kau sengaja membuatku mengkhianati, Sofeaku!!! kau mencampur Minumanku dengan Obat sialan itu dan sekarang, Cintaku pergi hanya karna Keegoisanmu!!!"
Degg..
Yella terkejut mendengar ucapan Gibran yang sudah tahu segalanya, mata Yella semangkin memanas dengan bibir bergetarnya melihat rasa benci itu sangat besar untuknya.
"Kau!!! Kau menghancurkan hidupku, Yella!!! kauu!!!"
"B..Bran hiks, aku..aku mencintaimu, aku..aku sangat mencintaimu!"
"Benarkah? tapi aku tak percaya!"
Seringaian Gibran lalu menendang botol dibawah kakinya hingga mengenai perut Yella membuat wanita itu menjerit keras dengan Gibran yang tak perduli.
Entah keman akal sehatnya pergi hingga sekarang ia ingin menemui seseorang dan mengajaknya berunding atu lebih tepatnya ingin meminta kembali Miliknya.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..