
Whuss..
Tubuh Sofea lansung diraih cepat oleh lengan kekar seorang pria dengan raut wajah kelamnya membekukan Bangunan ini, pelukannya mengerat ketubuh Sofea yang sudah gemetar takut meraih leher kokoh Ardelof kuat seakan meminta perlindungan.
"T..Tolong, hiks!"
Isak Sofea merasa sangat sesak dan sulit bernafas, dengan cepat dan ringan Ardelof menggendong Sofea seraya berbalik meninggalkan Dapur yang sudah berantakan dengan Asap dari tumpahan minyak mengenai beberapa alat masak disampingnya.
Degg..
Vanelope dan semua orang disana terkejut setengah mati melihat Ardelof menggendong seorang wanita dengan kulit sebening susu itu terpapar jelas namun wajah Sofea samar-samar terlihat dari balik Jaket besar itu.
"Y..Yang Mulia!"
"MENYINGKIR!!!"
Brakk..
Kursi-Kursi Resort itu terlempar kearah Vanelope yang terkejut hingga menghindar, namun tak semudah itu Ardelof membiarkan wanita ini lolos karna telah membuat Penyihirnya sampai kambuh begini.
Whuss..
"Ard!!!!"
Pekik Vanelope saat jantungnya seraya diremas kuat membuat Pengawal sana lansung mengamankan Putri Mahkotanya dari kerumunan masyarakat, para Media sana memanfaatkan kesempatan menangkap Moment langka Ardelof yang tengah menggendong mesra seorang wanita dengan raut Khawatir dibalik masker itu.
Tubuh Ardelof menguarkan arua kelam hingga para Manusia itu perlahan menyingkir dari jalannya, sedangkan Beclie menatap nanar Ardelof dari kejahuan dengan mata yang mengembun tapi ia segera sadar saat Ibunya tengah mengerang sakit mencengkram dadanya menuju Mobil.
"Bu, hiks!"
"Yang Mulia, Prince!!"
Mereka kasihan melihat Beclie yang menangis, bisikan dan gunjingan itu mulai meruak melihat keadaan Pasutri Istana yang mereka idolakan itu malah berbeda begini, dulu Putra Mahkota Ardelof yang mereka kenal sangat Romantis pada Putri Vanelope hingga menghasilkan seorang putra. tapi, apakah wanita tadi orang ketiga dikehidupan mereka?
Bisik-bisik itu isa didengar Sofea yang masih sadar, ada rasa sakit dihatinya saat mendengar gunjingan orang yang mengatakan ia perebut suami orang apalagi Media sana malah menyorot Visualnya.
Berbeda dengan Sofea yang tampak termenung masih dalam kesesakan, Ardelof malah dihantui rasa paniknya seraya membuka pintu Mobil dengan cepat mendudukan Sofea keatas pangkuannya.
"Apa masih sesak?"
"Em, Y..Yah!"
__ADS_1
Sofea masih terengah-engah bersandar ke dada bidang Ardelof yang menguncir rambut panjang wanita ini dengan Pita diatas kepala Sofea, ia membuka Jaket tebal itu agar Sofea lebih rileks hingga Ardelof melihat jelas keringat dingin menyimbah ditubuh Sofea yang lunglai.
"Kau sangat ceroboh! sudah ku bilang jangan jauh dariku."
Sofea tak bisa membantah, dadanya masih naik turun membuat Ardelof tak tega memarahinya. sekali tarikan Ardelof mengambil Tisu menghapus lelehan keringat itu seraya meniup bahu dan ceruk leher jenjang wanita ini agar segar.
"Katakan, ada lagi yang sakit?"
Sofea menggeleng diam saja, jujur Sofea merasa bersalah jika memang ia menjadi perusak rumah tangga pria ini karna ia melihat Vanelope begitu pantas bagi Ardelof.
"Jangan memikirkan apapun."
"D..Dia siapa?"
Ardelof hanya diam tapi tangannya sudah terkepal, perlakuan Vanelope tadi benar-benar keterlaluan tanpa harga diri mempermalukan dirinya sendiri, Ardelof tak lagi segan bermain kasar hingga ia mengirim serangan dari dalam dan ia pastikan Vanelope tak akan sembuh dalam satu hari.
"Aku ingin minum!"
"Minum?"
Sofea mengangguk menunduk hingga Ardelof mendudukannya kekursi disamping kemudi, pria itu terlihat sangat berubah 190° dan sangat lembut membuat Sofea sangat takut akan jatuh kedalam lubuk yang salah.
"Aku tak percaya pada mereka."
Sambar Sofea pada Ardelof yang tadinya ingin memanggil Pengawal yang baru saja datang, pria bernetra biru tanpa kacamata itu menghela nafas halus lalu menatap datar Sofea.
"Aku akan segera kembali."
"Terimakasih!"
Ucap Sofea tulus tersenyum lembut membuat Ardelof menghangat keluar dari pintu Mobil, ia tampak bicara dengan beberapa pengawalnya untuk menjaga Mobil ini lalu melangkah kembali menuju Resort tadi.
Melihat semua itu Sofea terdiam memandangi Ardelof yang perlahan menjauh dengan penjagaan ketat dari para Pengawalnya, ia menunduk menatap Masker yang tadi Ardelof berikan padanya.
"Maaf! aku..aku tak bisa, kau sangat asing. Tuan!"
Gumam Sofea berat menatap arah kepergian Ardelof, ia dengan cepat mencari pena dan kertas diatas tempat Mobil hingga ia menemukannya. tanpa pikir panjang Sofea menggoreskan ujung benda itu hingga membuat sebuah tulisan.
*Terimakasih dan Maaf karna aku pergi tanpa pamit! kau uruslah masalahmu, jika kau sudah menikah. Sampaikan permintaan maafku, Tuan! kau orang baik, aku tak ingin namamu tercemar hanya karna ini.
Salam hangat.
__ADS_1
SOFEA*..
....
Sofea lansung meletakan kertas itu keatas kursi yang tadi Ardelof duduki lalu menatap keluar Mobil, para Pengawal itu sudah tak menatap Mobil ini lagi disamping sebelah kanan sana hingga ia dengan hati-hati membuka Jendela samping hingga perlahan tapi Pasti Sofea memasang Maskernya seraya mengendap keluar.
Langkahnya sangat hati-hati menutupi tubuhnya dengan Jaket besar itu agar semua orang tak tahu, ada rasa berat saat pergi hingga Sofea sesekali menoleh kearah Mobil yang sudah tertinggal jauh.
"Kenapa? aku..aku tak bisa begini."
Sofea mengumpat karna ia mulai salah jalan, ia menggeleng harus kekeh untuk pergi karna jalan pertamanya adalah keluar dari genggaman pria itu, dengan perjuangan yang keras akhirnya Sofea meninggalkan Daerah pantai yang mulai berdatangan banyak orang karna berita itu sudah terpublis di berbagai Media.
Tentu, Sofea tak menyerah menembus jalan yang mulai tak teratur hingga ia melewati Jalan sepi ditepi hutan. ia kenal daerah ini karna saat Keluar Istana Sofea mengamati semua jalan yang mereka lewati.
"A..Apa Mama baik-baik saja?"
Gumam Sofea tak sabaran berlari menyuri tepi hutan, sesekali ia mengelus pipinya karna suasana mulai mendingin dengan kelembapan dari dedaunan yang agak basah.
Hingga setelah beberapa lama, Sofea sudah sangat sesak karna ia memaksakan kondisinya yang belum Stabil untuk berjalan jauh, apalagi Heels itu selalu terbenam ketanah sana hingga Sofea harus melepasnya dan berlari menuju Tepi kota.
"K...Kau..Kau bisa, Fea!"
Gumam Sofea menyemangati dirinya sendiri, wajahnya sudat pucat karna terlalu lama berlari sedangkan ia haus karna saat makan tadi ia tak sempat minum karna keadaan yang tak memungkinkan.
Brugh..
"Auss!!"
Sofea meringis memeggangi lututnya yang tergores ranting karna terjatuh, ia berpeggangan ke dahan pohon itu untuk sekedar menampung tenaga agar tumbuh kembali.
Wajahnya sudah sangat pucat karna Sofea selalu tak bisa kalau tak istirahat saat Sindrom itu ada, ia akan mengalami pusing yang menyesakan kepala.
Sofea tak sadar, ada sepasang mata elang yang tengah menguntit dan memantaunya sedari tadi. wajah pria itu sudah kelam mengeras kuat dengan kepalan tangan berurat teggang.
"Yang Mulia, dia..!"
"Biarkan saja!"
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1