Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Dia Saudara laki-laki!


__ADS_3

Malam itu berkemalut gelap dengan kabut yang mulai menyelumbungi jalan-jalan disekitar hutan, rembulan diatas sana bersinar terang memebuat mata malam nan tajam hewan-hewan buas yang beraktifitas saat ini tengah menatap mereka yang telah berada di Perbatasan dengan lapar.


Netra Tajam biru itu penuh dengan kewaspadaan. Tubuh tegapnya tetap berdiri menantang setiap apa yang akan menyerang, Fu yang ada dibelakangnya hanya diam dengan sebilah pedang khusus yang ia bawa.


"Periksa Hutan ini."


"Baik!"


Para Klan Elf berjumplah 5 Orang itu lansung melesat masuk kedalam Hutan sementara Fu ia berjaga dibelakang Yang Mulia Darknya untuk mencari sesosok yang telah diduga bersembunyi didalam Hutan Kematian ini.


Tanah lembab itu mereka pijaki kokoh, dedaunan yang kering dengan pepohonan tanpa dedaunan yang hijau. semuanya gersang dengan aroma bangkai yang menyengat. tapi ini hal biasa bagi Klan Dark yang telah melakukan hal yang sama.


Srekk..


Suara disemak-semak kering yang tepat ada dibelakang Ardelof terserobok, deritan langkah, kecepatan berpindah itu dengan jelas terdengar dipendengaran tajamnya yang menangkap satu anggota Black-Clover tengah memata-matai mereka.


"Yang Mulia!!!"


Whuss..


Fu lansung menghadang satu sosok berjubah hitam setengah badan berbentuk tengkorak yang ingin menyerang Ardelof dari belakang, ia menyabitkan pedangnya dengan lincah sesuai dengan asap pekat yang mengiringi separuh tubuh tengkorak itu melayang diudara menimbulkan aroma busuk mayat yang kuat.


Srett..


Satu tebasan pedang itu membuat Mahluk tengkorak berasap itu lansung terbakar hingga meledak menjadi abu dipermukaan udara hingga Fu kembali ketempatnya. sementara itu, Ardelof memejamkan matanya merasakan ada lagi yang akan menyerang tapi kali ini bukan dari atas.


"Perhatikan kakimu."


Benar saja, tak lama Ardelof bicara getaran tanah mulai tercipta membuat pepohonan disekitar mereka tumbang seperti Gempa besar, Ardelof mengibaskan tangannya hingga ia tak lagi bertapak ketanah dengan Fu yang mengimbangi Energi Yang Mulianya.


"Dibawahmu."


Brakk..


Tanah itu pecah hingga Fu lansung meloncat diringi dengan seekor Harimau hitam bercorak api dengan mata merah menyalanya lansung tiba dibawah Tanah membuka mulutnya lebar dengan suara menyeramkannya yang menggeleggar memecah gendang telinga.


Mahluk Harimau Hitam atau Tiger Black itu menyerang Fu dengan cakaran tajamnya menggores udara hingga menimbulkan kemilau api disetiap sayatannya, Ardelof hanya diam tetap ditempat dengan kedua tangan dibelakang sangat terkesan Cool dan berwibawah, netra birunya belum berubah merah karna masih melihat betapa Kuat Mahluk Peliharaan Klan Black-Clover ini.


Benar saja, kelincahan tubuhnya bergerak digelapnya malam ini membuat Fu kualahan, Binatang buas ini seakan bisa membaca gerakannya hingga saat Fu ingin berbalik menyerang dengan cepat cakaran tajam itu mengenai lengannya.


Srett..


"***!!"


Fu meringis memeggangi lengannya yang berdarah merah yang seketika menghitam karna racun dari cakaran kuku tajam itu lansung menyerang sel sarafnya.


Melihat itu, sudut bibir Ardelof terangkat. ia tertarik untuk mengurung Mahluk ini dalam ruang Dimensinya agar ia bisa mengambil satu persatu Mahluk andalan para Iblis itu.


"Y..Yang Mulia."


Fu berteriak saat Harimau Hitam itu menyerang balik Ardelof yang dengan cepat menghindar hingga auman Binatang liar itu seakan bergelombang menciptakan dengungan, terlihat mata merahnya menggeram murka menatap Ardelof yang hanya diam berdiri menatap intens setiap pahatan menyeramkan ini.


"Beraninya kau menginjak Tanah kekuasaanku!"


"Yang kuat, itulah yang menang!"


Whusss..


Ardelof menghilang membuat Hewan itu bersiaga menepiskan ekornya menuju arah samping yang terlihat bayangan, namun sayang ternyata itu hanya gumpalan angin hingga..


"Disini!"


"Kauu.."


Ardelof yang menyerang dari atas dengan melempar sebuah batu biasa tapi ia memberi energi benda itu hingga menghantam tempat tepat diubun Mahluk itu hingga menimbulkan ledakan yang nyaring sampai menggetarkan tanah ini.


Duarrr..

__ADS_1


Melihat Mahluk itu yang telah hangus menyisakan cahaya lentera Merah darah, Ardelof lansung mengulur tangannya yang terkepal lalu membukanya hingga Fu lansung menyingkir saat melihat Portal Dimensi Biru yang terbuka melalui tengah tangan Ardelof yang menghisap Energi dan Visual Mahluk ini.


Angin yang bergejolak seakan menahan kepergian Mahluk itu tapi mereka seakan kalah dengan Kekuatan Ardelof yang mengurung semua ini dalam Sihir Kegelapannya.


"Tunduklah pada Pimpinan barumu!"


Whuss..


Ardelof lansung menguncinya dengan mengepal kembali diiringi dengan senyayu angin yang tadi bergejolak akhirnya kembali membaik dengan suasana yang tadinya dingin menusuk tulang seketika menghangat karna Ardelof menetralkannya agar luka di lengan Fu kembali membaik membentuk kulit baru.


"Terimakasih, Yang Mulia!"


"Hm!"


Ardelof kembali menatap Hutan lebat dihadapannya, ia baru saja menginjak Perbatasan. bagaimana kalau ia masuk maka akan banyak yang akan ia temukan, tapi sangan disayangkan waktunya terbatas karna ini sudah larut malam.


"Kau kawal pasukan Ellf, tangkap salah satunya dan bawa ke Dimensi!"


"Baik."


Whusss..


Ardelof menghilang seperti angin keluar dari dari Perbatasan ini hingga Fu lansung mengambil alih pengawasan ketat yang tadi Ardelof lakukan.


.......


Tatapan sendu itu lansung menghunus Dermaga dibawah sana, hiasan lampu yang mengelilingi Dermaga gelap itu sangatlah cantik tapi mata Sofea bukanlah berniat melihat itu semua melainkan pikirannya tengah berkelana kesemua kejadian yang baru saja ia alami.


"B..bocah itu.."


Gumam Sofea terdiam bungkam menatap lurus bahkan matanya sangat beraut gelisah, ia merasa gambaran itu sangatlah Familyar dibenaknya, seakan ia pernah melihatnya sebelumnya.


Seorang bocah 5 Tahun yang digendong Raja Petratolison saat Foto Keluarga Bangsawan Alison, disana ada Ratu Rosmeryna. dua pria paruh baya yang tampak gagah tapi Sofea tak fokus kesana melainkan Bocah laki-laki 5 Tahun yang digendongnya. jika itu Ardelof kenapa matanya hitam, bukan biru.


"Kenapa denganku?"


"Hoeekmm!"


Sofea tiba-tiba mual hingga lansung muntah dipagar Balkon membuat kepalanya lansung berputar dengan pandangan yang berkunang membuat Quxi yang baru saja mengambil air lansung menghampiri Sofea yang oleng.


"Fea!!!"


"A..Aku..A..Hoekmm!"


Sofea membekap mulutnya yang masih ingin muntah hingga Quzi lansung membantu Sofea untuk duduk diatas Sofa, ia menyodorkan air tapi Sofea menggeleng karna ia tak bisa minum karna kerongkongannya seakan digulung dengan perut yang melilit mual.


"Sayang!!"


Suara Ardelof diluar sana lansung membuat Quxi menyingkir hingga ia menunduk saat Ardelof yang sudah datang berlari ke Balkon saat mendengar suara muntahan Istrinya.


Wajah Ardelof kelam melihat wajah pucat Sofea yang terus ingin muntah padahal tak ada lagi yang ingin dimuntahkan karna pagar dan lantai ini sudah habis oleh Muntahannya yang sangat membuatnya malu.


"A..Ard, aku..Hoekmm. Aku.. itu.."


Ardelof tak perduli hingga ia lansung mencempol rambut panjang Sofea keatas hingga Wanita itu lebih leluasa mengeluarkan isi perutnya ke lantai sana, Ardelof menepuk tengkuk dan punggung Sofea lembut seraya menyangga tubuh lemah wanita ini agar tak jatuh.


"Tak apa, Muntahkan saja!"


"Sa..sayang.. ke..kepalaku.."


Ardelof menggendong Sofea ringan melangkah masuk kedalam kamar menuju ranjang King Size mereka sedangkan Quxi mengikuti seraya membawa gelasnya tadi.


Dengan telaten Ardelof membaringkan Sofea yang masih tampak mual, keringat dingin dikening dan lehernya muncul senada dengan mata yang berair karna terus menahan muntahan.


"Pangila Ximous ke sini!"


"Baik!"

__ADS_1


Quxi lansung pergi menghilang hingga meninggalkan Ardelof dalam wajah kerasnya, ia membuka Blezer ditubuh Sofea hingga Gaun malam berwarna Hitam wanita ini terlihat sangat Sexsi tapi Ardelof khawatir melihat kondisi Istrinya.


"Apa perutmu sakit?"


"A..Aku..Aku hanya mual, Sayang!"


Ardelog mengelus perut datar Sofea lembut dengan tubuh yang ikut setengah berbaring bersandar ke kepala ranjang dengan memeluk Sofea yang meletakan kepalanya keatas dada bidang Ardelof yang masih memakai kaos putihnya seperti biasa, satu tangan pria itu mengusap kening Sofea lembut dengan mengecup pelipis wanita itu lama, sedangkan yang satunya lagi masuk kedalam Gaun Sofea hingga ia mengelus perut datar itu penuh kasih menyalurkan keberadaannya.


"Sejuk, Sayang."


"Apa masih nyeri atau mual?"


"Sedikit, tapi ini lebih baik!"


Jawab Sofea menarik sudut bibir pucatnya memejamkan mata indahnya yang sayu karna sudah kehabisan tenaga, ia menakikan baju Kaos Ardelof sampai ke dada tapi Ardelof lansung membukanya hingga ia tersenyum hangat kembali membenamkan wajahnya ke tonjolan Atletis dada bidang suaminya.


"Ard!"


"Hm, apa masih sakit?"


"Bukan itu, Sayang!" jawab Sofea lemah mengadah menatap Ardelof yang juga memandangnya. Ardelof memang merasa aneh karna sejak Sofea pulang dari jalan-jalan sore tadi ia jadi pendiam dan irit bicara sering melamun.


Saat Ardelof pergi tadi ia meninggalkan Sofea yang sedang tidur, tapi Ardelof tak mau membangunkannya untuk bertanya hingga ia pergi menjalankan Tugasnya yang tertunda kemaren.


"Ada apa? katakan padaku!"


"Di Ponselmu aku.."


Ardelof lansung mengeluarkan Ponselnya dan membukanya membuat Sofea menyeringit tapi ia juga ingin bertanya sesuatu pada Ardelof.


"Apa? masalah wanita itu aku bersumpah tak ada lagi barang-barangnya di tempatku, Sayang! bahkan aku mengganti Ponselku, semuanya baru! tak ada bekas atau sisa darinya."


Jelas Ardelof tegas dan jelas, bahkan Kartu Ponselnya saja ia ganti dengan Nomor baru agar tak ada yang tersisa. ia tahu Sofea pasti akan merasa sakit jika ia masih menyimpan barang-barang Vanelope atau Foto.


"Benarkah?"


"Iya, selama ini aku tak pernah Berfoto dengan siapapun yang tak penting. Ponselku hanya khusus untuk Bisnis hanya itu atau urusan Kerajaan." jelas Ardelof masih takut jika Sofea meraggukannya, sejak ia mengatakan kalau ia Serius dan menyatakan Perasaannya dulu Ardelof benar-benar menghapus semuanya bahkan Sofea tak tahu ada hal gila lagi yang telah ia lakukan.


"Aku sangat percaya padamu!"


"Lalu? kau sedari tadi diam. apa kau marah padaku?"


"Bukan itu, Ard! aku hanya merasa aneh saja. aku tak marah sama sekali, tapi aku mau tanya tentang ini.."


Sofea membuka Galery Ponsel Ardelof hingga ia lansung mengarah pada Album Foto, disana hanya ada satu Foto Keluarga Alison yang sangatlah lengkap dan Berkharisma. tapi semuanya hanya berwajah datar tapi mengembirakan, sangat berbeda dengan Foto Kerajaan yang pernah ia lihat didalam Istana ini.


Tapi, Sofea lebih fokus pada bocah laki-laki yang digendong Raja Petratolison yang sedang menatap datar Kamera.


"Ini siapa?"


"Yang mana?"


"Ini, yang digendong Raja Petra!"


Ardelof melihatnya kilas lalu menghela nafas halus memperbesar bentuknya hingga terlihatlah sesosok menggemaskan dari foto kecil yang sudah lama ini.


"Sayangnya aku tak ingat."


"Sayang, apa ini kau? tapi kenapa matanya tak biru?"


"Apa itu penting?" tanya Ardelof mengambil Ponselnya kembali.


"Penting, sangat penting!" Sofea bersikeras ingin tahu hingga membuat Ardelof menghela nafas halus lalu kembali memposisikan Sofea agar berbaring tenang.


"Dia Saudara laki-laki, Vanelope!"


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2