Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Pertentangan!


__ADS_3

Tatapan gusar pria itu lansung menghunus langit gelap tanpa Bintang diatas sana, sudah sedari sore ia tak keluar kamar ini dan terus hilir-mudik entah apa yang dicari ia pun tak tahu.


Terkadang tubuhnya terhempas ke Sofa dan lagi ia berdiri melelahkan tungkai agar mau berbaring lelap, mata birunya tak bisa dipejamkan, pikirannya tak bisa dialihkan dari sesosok wanita yang sudah membuat dirinya terasa asing di kamar sendiri.


Dan disinilah, tempat terakhir ia berlabuh dimana dingin menyapa kuat. Namun, rasanya tak bisa menepis kegelisahan dalam dirinya, setiap ia melihat kearah ranjang maka ia akan terbayang kehangatan itu lagi.


"Kau memang benar-benar. Keluar dari pikiranku, Penyihir!"


Geram Ardelof mencengkram kepalanya lalu mengusap wajahnya frustasi, ia tahu saat Sofea memintanya membeli minuman sore tadi perempuan itu punya rencana sendiri. setiap langkah lemah itu selalu ada langkah tegap berkuasa dibelakangnya, Ardelof tak ingin Black Clover menangkap Sofea yang sangat berarti dalam dunia sihir.


"Yang Mulia!"


Quxi yang tampak datang berdiri dibelakang Ardelof yang menormalkan raut wajah kusutnya kembali angkuh, ia tetap menatap lurus walau hatinya sudah berbelok keseberang sana.


"Hm!"


"Dia sampai dengan aman. tapi, yang saya takutkan kalau misalnya Ayah dan Kakaknya menemukan Wanita itu dan membawanya pada Pria yang telah membelinya."


Ada raut aneh dari wajah Ardelof yang mendengar semua itu, matanya sangat menguarkan keggeraman dan rasa marah menyala.


"Biarkan saja. itu yang dia mau, bukan?"


"Y..Yang Mulia. maaf kan hamba tapi.."


Quxi agak takut menentang membuat Ardelof berbalik menatapnya tajam membunuh.


"Dia pergi dari sini dengan Keberanian. dia juga akan datang sendiri kesini!"


"A..Apa maksudmu, Yang Mulia?"


Ardelof menyeringai iblis, ia sudah sangat baik memberikan kehidupan selayaknya manusia pada Wanita pemberontak itu. dan kali ini, Ardelof tak akan lagi melepasnya karna sudah membuat Tidur tak nyenyak dan makan tak enak yang baru kali ini ia rasakan.


"Wanita itu sesekali perlu di ajari. biarkan dia menikmati hidup diluar sana, dan saat itu tiba. kau tentu tahu apa yang ku mau!"


"Baik, Yang Mulia!"


Quxi lansung menghilang mendengar titahan Ardelof yang akan bersabar sampai wanita itu puas bersenandung dengan Ibunya, ia tak akan bisa mengekang Sofea tanpa melepas rindu bersama wanita paruh baya itu.


"Kau yang memaksaku melakukan ini."

__ADS_1


Ardelof lansung melangkah keatas ranjangnya, ia menatap selimut disampingnya dimana biasanya Penyihir itu menggunakan benda tebal lembut itu untuk menyelumbungi tubuh indahnya dari gejolak hasrat Ardelof yang tak terbendung setiap saat bersama.


"Sial!!!! Biarkan aku tidur sejenak saja, keluar dari Pikiranku!!"


Ardelof melempar gelas disamping mejanya ke lantai sana hingga bersuara nyaring melenting keras membuat Kristof yang ada dibalik pintu sana lansung terkejut.


"Yang Mulia!!!"


"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?"


Ardelof lansung mengupat, dengan kasar ia bangkit dari ranjang lalu turun mendekati pintu agar pria bermata sipit itu tak menganggunya.


"Hm."


"Yang Mulia, apa anda baik-baik saja?"


"Hm, memangnya kenapa?"


Kristof menunduk segan, sebenarnya semenjak berita itu Booming Yang Mulia Raja Petratolison marah besar hingga memerintahkan mereka mencari wanita yang bersama Putra Mahkota ini, tapi Kristof tak mampu bicara dan bertindak kalau Ardelof sampai marah besar padanya.


Melihat kebungkaman Kristof, tentu Ardelof sudah tahu dampak dari aksi nekatnya tadi Sore. Yang Mulia Raja pasti akan murka padanya tapi Ardelof tak perduli karna Vanelope benar-benar keterlaluan.


"Yang Mulia Raja ada diruang bacanya, Yang Mulia Putra!"


Ardelof lansung melangkah menuju lantai khusus Yang Mulia Raja Petratolison, dari menginjak pertengahan Lift ini Ardelof merasakan betul ada yang berusaha menyerangnya tapi ia bisa meredam itu dengan tapakan tegapnya.


Setelah beberapa lama berlawanan batin, Ardelof tiba dilantai ruang baca Ayahnya. Kristof sudah menelan ludahnya kasar karna pasti akan terjadi pertentangan antara sepasang ayah dan anak ini.


Ceklek..


Pintu itu terbuka hingga memperlihatkan ruangan luas dengan deretan Buku tebal, tipis beragam bentuk tengah berjejer rapi dengan sesosok pria paruh bayah yang tengah berdiri memunggungi Ardelof seraya menatap Foto Keluarga Kerajaan Batalion Alison yang ada terpapang lebar didinding sana.


Whusss..


Netra biru Ardelof menangkap serangan dari bawah lantai hingga ia lansung berputar tegap menghindar dengan Cool tanpa menganggu kharisma tubuhnya


Brakk..


Serangan itu merobohkan dinding disamping sana hingga hangus membentuk bulatan terbakar seperti api, Krustof menelan ludahnya kasar merasakan aura panas ini berbenturan dengan aura dingin dari Tubuh Ardelof yang lansung sigap menyerap semua kekuatan Sihir yang tadi terlepas membuat Raja Petratolison berbalik menatap murka Ardelof yang hanya berdiri santai tanpa ada guratan takut sama sekali.

__ADS_1


"Beraninya kau memperburuk Citra Kerajaan ini, ARDELOF!"


"Memangnya apa yang aku lakukan?"


Raja Petratolison menghempaskan tangannya kearah Televisi lebar disamping sana hingga benda itu menyala menyiarkan lansung berita panas yang sedang dikonsumsi oleh publik, bahkan Dewan Direksi Organisasi Hombers mengakui kalau berita ini menurunkan sedikit Martabat Keluarga Kerajaan.


*Berita mengejutkan, Putra Mahkota Ardelof Douglas Alison telah jelas bersama wanita dihadapan Putri Vanelope Ev Hangalay.


Pengkhianatan yang terungkap setelah sekian tahun lamanya, Putra Mahkota Alison berani menduakan Istrinya secara terang-terangan*.


...


Ardelof diam melihat gejolak Publik memakan semua gambaran tadi Sore, helaan nafasnya muncul duduk di Sofa didepan TV seraya berpangku kaki angkuh menatap kelayar lebar itu.


"Sekarang kau mau apa? Namanu sudah tercemar, Ard! Kerajaan kita akan memberi peluang pada Kerajaan lain untuk menerobos menjadi yang terbaik. kau tak waras, ha?"


"Kau yang memaksaku bersama dengannya. tapi aku tak pernah ingin berstatus seperti ini."


"Kau yang meminta menikah dengan Putri Kerajaan Hangalay, kau begitu Mencintainya sampai kau lupa kalau dia bisa saja menguasaimu, dan sekarang.. apa yang kau lakukan sudah sangat kekanak-kanakan."


Kepalan tangan Ardelof meruak mendengar peryataan Raja Petratolison yang menyalahkannya atas segala hal, pria ini hanya perduli akan bagaimana nama baik Kerajaan, pandangan Masyarakat terhadap Anggota Bangsawan Alison dan Citra baik nan luhur, sungguh Ardelof sudah muak dengan semua ini.


"Kau menyalahkan aku?"


"Tentu. kalau bukan karna kau yang ingin menikahinya maka Kondisimu tak akan begini."


"Kau tanyakan pada Menantu kebanggaanmu itu! kalau dia tidak mengkhianati Pernikahan kami aku tak akan begini, dan kau..!"


Ardelof berdiri dari duduknya berhadapan tegap dengan Raja Petratolison yang tengah menahan amarah, Ardelof jauh berubah dari yang dulu. semenjak pergi dari Istana Ardelof sudah tak mau menuruti aturan hingga menentang Kerajaan.


"Jangan mengaturku sedangkan Pemerintahanmu ditahun lalu Anjlok terbawah!"


"Kauuu!!!"


"Dia wanita itu, jangan pernah mencoba menyentuhnya atau aku akan menghancurkan KERAJAAN KU SENDIRI!"


Geram Ardelof lalu melangkah pergi dengan aura tak bersahabat, dengan kemurkaan menggunung Raja Petratolison menghempaskan tangannya memberi bongkaman panas kearah punggung Ardelof yang lansung menghempaskan genggamannya membuat ledakan dibelakang Istana.


...

__ADS_1


Vote and Like Sayang


__ADS_2