Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
A..Apa yang akan terjadi!


__ADS_3

Mata Sofea membulat sempurna melihat Tubuh pucat yang kemaren itu telah Ardelof bawa secara diam-diam dari ruangan Raja Petra telah tumbang didekat pintu sana. wajah membiru dengan darah yang keluar dari hidungnya membuat Sofea lansung menatap Ardelof yang segera menggendong tubuh mungil itu keatas Ranjang.


"L..Lie."


Sofea melirih kecil memeggang kening Beclie yang panas, bahkan sangat panas dari biasanya membuat Ardelof yakin kalau Raja Petra hampir saja menyerap Energi bocah ini dulu dan sekarang Beclie mengalami sakit dan terus berulang.


"D..Dewi."


"Kenapa kau keluar dari kamarmu? kau masih sakit, Lie."


Beclie hanya diam ditengah rasa pusing dan takutnya, ia selalu dihantui bayangan menyeramkan itu hingga ia tak tahu harus kemana selain ke kamar ini, itupun lututnya sudah lebam seperti terjatuh atau membentur benda keras.


Lama Ardelof terdiam merenggu wajah pucat polos ini, keggeramannya sangatlah kuat pada Mahluk sialan itu, ia dengan mudah mengambil Beclie yang saat itu dirantai diruangan kerjanya penuh darah, mental Bocah ini sudah terganggu dengan melihat jelas bagaimana Klan Menyeramkan itu ingin mmebunuhnya lalu mengkambing hitamkan Ardelof yang membenci Beclie.


Tentu Beclie Ardelof sembinyikan atau bisa dibilang tak terlihat oleh siapapun, Ardelof tak ingin semua orang mencurigai Raja Petra yang sekarang tengah menyembunyikan kebusukannya, begitu juga Identitas Renoval yang belum dipublis karna masih banyak hal yang perlu diselesaikan.


"D..Dewi!"


"I..Iya, tenanglah! kau akan baik-baik saja."


Sofea menatap Ardelof memelas, ia tak bisa melihat Beclie selalu begini seakan dia anak buangan yang tak seorangpun perduli, walau Vanelope ibunya tapi Beclie tak tahu apapun.


"Aku bisa menyembuhkan Luka Fisiknya tapi tak dengan Mentalnya."


"S..Sayang, bagaimana ini?"


Sofea memangku kepala mungil Beclie yang terus mengerang menahan sakit di bagian dadanya, Ardelof membuka atasan bocah itu hingga melihat dada Beclie membiru membuat Sofea semangkin Prihatin.


"A..As hiks, sakit!"


"Tahanlah sebentar."


Ucap Sofea saat Beclie mendesis saat Ardelof memeggangi dadanya, Ardelof menyalurkan Energi positif darinya menyerap kekuatan hitam ini, dulu Beclie tak mau mendekatinya karna takut dan baru saja sadar dari sakitnya hingga sekarang Ardelof leluasa karna Beclie sendiri yang datang padanya.


"S..Sakit, hiks!"


"Tak apa, hanya sebentar, hm?"


Sofea mengelus kepala Beclie yang terus mendesis hingga perlahan rasa sejuk itu menerpa dadanya hingga Beclie merasakan mual diperutnya, tentu Ardelof tahu itu hingga lansung menarik tengkuk Beclie yang lansung muntah darah kebawah lantai membuat Sofea benar-benar khawatir melihat Ardelof menepuk tengkuk Beclie yang masih muntah.


"Oekkkm.. D..Dewimm!"


"Muntahkan saja."


Ardelof terus melakukan beberapa tepukan dipunggung Beclie yang benar-benar pucat hingga Sofea meraih tisu didekatnya seraya membersihkan mulut Beclie yang merah dan amis.


"Bawa dia ke kamar mandi, Sayang!"


"Baiklah, kau tunggu disini. jangan turun kemanapun!"


Sofea mengangguk hingga Ardelof menggendong Beclie ke kamar mandi, mata Beclie sayu-sayu menatap wajah datar Ardelof seperti sangat merindukan sosok ini.


"A..Ayah."


Ardelof menghentikan tangannya yang menepuk tengkuk kecil ini, matanya berubah mengosong membuat Beclie sesak, apa lagi yang ia punya diatas dunia ini. Ibunya ia tak tahu dimana apalagi Ayahnya, tak ada yang perduli padanya.


"A..Ayah hiks."


"Hm, tenanglah!"


Ardelof memandikan Beclie didalam Bathub seraya menyeggarkan fisiknya, mata Beclie tak berhenti menatap wajah Ardelof seakan ia benar-benar merindukan sosok ini, seorang pria yang selalu ia impikan menjadi Ayahnya yang begitu sempurna.


"A..Ayah."


"Aku bukan ayahmu!"


Tekan Ardelof membuat Beclie terdiam lansung bungkam menunduk dengan begitu memprihatinkan membuat Ardelof lansung melempar Shower ditangannya ke lantai sana hingga bersuara nyaring.


Brakkk..


"D..Dewi, hiks!"


"Kau bisa diam, ha? aku sudah bilang padamu kalau aku bukan ayahmu! berhenti menyebutku dengan kata itu."


"Ard!"


Ardelof tersigap saat Sofea tengah berdiri didepan pintu sana dengan mata menajamnya menatap Ardelof yang lansung menghela nafas halus menatap kesembarang arah.


"Kau apakan dia?"


"Tidak ada!"


"Ard, kau sebentar lagi menjadi seorang Ayah. kalau begini aku ragu padamu."


Ardelof mendecah halus menatap Sofea yang benar-benar marah kali ini.


"Aku tahu, tapi aku tak suka dengan panggilan itu."

__ADS_1


"Kau masih mencintai Ibunya?"


"Sofea, sudah!"


Tekan Ardelof pada Sofea yang memang sekarang tak mau lagi jika Ardelof dan Beclie masih ada jarak, memang benar aneh rasanya Ardelof sebaik itu sedangkan ia begitu tak suka hal yang berhubungan dengan Masa lalunya.


"Jawab!"


"Tidak."


"Lalu kenapa kau marah? seharusnya kalau kau memang tak ada rasa sama sekali kau tak merespon apapun, termasuk padanya." Sofea berusaha membuat perbedaan sudut pandang dirinya sendiri.


"Aku hanya tak ingin, kelak dia membuat ulah."


"Apanya? kalau kau bersikap seperti ini padanya maka dia akan memusuhimu, aku dan anak kita! apa salahnya kau bicara baik-baik, aku tak perduli dia Anakmu, Anak siapapun. tapi dia tak tahu masalah kalian, berhenti membuat keributan dengan hal seperti ini."


"Lalu kau mau apa?" tanya Ardelof menatap langkah Sofea yang ia khawatirkan akan kepeleset di sini.


"Dia juga anakku!"


"Ini tak semudah yang kau kira."


"Aku tak perduli, yang jelas dia bisa ku didik dengan baik, Keturunan seorang pembunuh belum tentu membunuh juga kalau tidak diajari dengan baik."


Sofea melangkah mendekat hingga Beclie tampak termenggu mendengar jawaban Sofea yang sangat ia harapkan datang dari seseorang.


"D..Dewi."


"Sudahlah, di dunia ini banyak anak yang tak punya ayah, tapi mereka juga hidup bahagia, hm?"


"D..Dewi."


Ardelof menatap Sofea yang menghela nafas halus mengulur tangannya menggenggam tangan besar Ardelof yang sangat tak mau membuat bahaya datang dari segi apapun.


"Aku hanya tak ingin dia sama seperti Ibunya."


"Tidak akan, dia berbeda jika kita sayangi dengan baik."


Ardelof menghela nafas menatap Beclie yang masih menunduk tapi menatap perut besar Sofea dengan pandangan yang polos, tangan kecilnya terulur menyentuhnya lembut membuat Sofea tersenyum cantik.


"Kau bisa menganggap kami orang tuamu!"


"B..Benarkah?"


Sofea mengangguk mengelus kepala mungil Beclie penuh kasih, ia sudah tak mau membuat Sofea yang kedua dimana tak dikasihi dengan baik oleh seorang Ayahnya yang dulu, ia tahu rasanya hidup tanpa orang tua yang lengkap.


" tapi jika dia menyusahkanmu biarkan aku mengasingkannya ke perbatasan."


"D...Dewi!"


"Dia hanya bercanda, ayo bawa dia keluar, Sayang!"


Ardelof mengambil handuk disampingnya lalu membawa Beclie keluar dengan satu tangan sedangkan tangan satunya lagi membelit pinggang berisi Sofea yang bejalan pelan.


Namun, Sofea lansung memeggang perutnya merasakan nyeri dibagian punggung dan bawahnya.


"Kenapa? apa ada yang sakit?"


"A.. hanya nyeri, mungkin terlalu lama berdiri."


Ardelof lansung sigap mengiring Sofea keatas ranjang dengan Beclia yang sudah ia baringkan lalu memeriksa perut Sofea yang menahan ringisan, perutnya terasa diremas pelan lalu dilepas kembali.


"Apa sangat sakit?"


"Sayang, aku rasa kalau dibawa tidur akan lebih baik."


"Hm, kau tidurlah!"


Ardelof membaringkan Sofea dengan pelan menyangga kiri kanan perut hang begitu teggang meranum, Beclie menyentuhnya dengan asik karna penasaran dengan perut Dewinya yang besar.


"Kau ada rapat hari ini, kan?"


"Tapi tak terlalu penting."


"Pergilah, lagi pula kau sudah terlalu lama tak keluar! pasti kau banyak tugas, hm?"


Ardelof menghela nafas, jujur ia tak mau meninggalkan Sofea sendiri apalagi dalam hamil Tua begini. ia sering menolak untuk keluar kecuali bersama Bumil ini.


"Bakklah, kalau kau keberatan. Panggil Mama Netty kesini! dia akan menjagaku, bagaimana?"


"Tapi.."


"Kau hanya pergi sebentar, kan? aku akan menunggumu!"


Akhirnya segala bujuk Rayu itu membuat Ardelof gusar dan mengikutinya selagi ada yang menjaga Sofea di kamar ini.


"Baiklah, aku akan panggil Mama. kau tunggu disini, bersama Quxi!"

__ADS_1


Ucap Ardelof seraya mengibaskan tangannya membersihkan sisa muntahan tadi.


"Ingat pesanku!"


Sofea mengangguk menatap Ardelof yang melangkah ke Walkcloset untuk berpakaian sementara Sofea meredam rasa sakit karna nyeri dibagian bawahnya.


"Sayang, kau letakan Ponselmu diatas ranjang. jangan kemana-mana, kalau butuh sesuatu telfon aku atau bilang sama Mama atau Quxi!" dari dalam Walkcloset


"Iya."


Jawab Sofea memejamkan matanya hingga setelah beberapa lama, ia mendengar Ardelof bergegas dengan Parfum wanginya membuatnya tenang hingga merasakan kecupan dibibirnya dengan lembut.


"Jaga Momymu baik-baik, Boy!"


Ardelof mengecup lama perut besar Sofea lalu melangkah pergi menutup Pintu kamar pelan, tak lupa ia memanggil Mama Netty sementara Quzi sudah ada didalam kamar.


"Fea!"


Lirih Quxi dengan tampilan yang sama seperti dulu, terlihat sangat pucat bertambah hari dan berjalannya waktu membuat Sofea bingung.


"Kau datang?"


"Hm, apa kau butuh sesuatu?"


Sofea menggeleng lalu menatap Beclie yang tampan malu akan kedatangan Quxi kesini membuat senyum gelinya muncul.


"Kenapa Pipimu merah?"


"T..tidak ada."


Jawab Beclie memeluk perut Sofea menyembunyikan raut menggemaskan itu hingga Quxi mendecah melihat bocah penyakitan ini ternyata sudah mendapatkan hati Yang Mulianya.


"Xi, kenapa wajahmu tambah pucat?"


"A.. ini biasa."


Jawab Quxi duduk disamping ranjang menatap perut Sofea, ia menatap wajah cantik agak pucat ini dengan rautnya sendiri.


"Apa ada sesuatu?"


"Ini hanya hal biasa, aku memang kurang makan."


Sofea menggeleng jengah, ia meraih tangan Quxi yang benar-benar dingin membuat raut wajahnya mulai berubah.


"Kau...Kau tak baik-baik saja."


"Fea, kau orang yang pertama berteman denganku." ucap Quxi sedikit bergetar membuat Beclie menoleh menatap wajah pucat berkuping runcing dan rambut Silver ini.


"Aku tahu, lalu kenapa?"


"Kau tak akan melupakan aku, kan?"


Tanya Quxi membuat Sofea tersenyum geli, ia tak mengerti maksud dari bocah ini tiba-tiba jadi cengeng.


"Kau tak biasanya begini, memagnya kenapa?"


"Aku hanya takut." ciut Quxi menunduk.


"Kenapa?"


"Aku tak bisa kesini lagi."


Jawab Quxi membuat Beclie lansung bangun walau tenaganya masih lemah tapi ia tertarik dengan ucapan Quxi.


"M..memangnya kau, kemana?"


"Aku tak tahu, mungkin akan hilang!" Quxi sedikit bersedih mengucapkannya membuat Beclie menatap Sofea dengan mata mengembun.


"Kau jangan bercanda, memangnya kau menghilang kemana? kau kan Klan suamiku!"


"Itu karnanya, padahal aku mau melihat Anakmu."


"J..Jangan pergi."


Ciut Beclie menunduk membuat Quxi mendecah menoyor bahu lemah Beclie yang tumbang, mereka mempunyai tubuh yang sama besar tapi tidak dengan mental.


"Apa urusanmu? aku disini atau tidak bukan karnamu."


"T..tapi kau tak adil." Polos Beclie membuat Quxi membelo.


"Apanya? aku disuruh menjagamu oleh Yang Mulia! yang benar saja, Bocah sepertimu ini melihatku 24 jam!"


Ketus Quxi bertengkar kecil, tak ada yang menyadari kalau Sofea tengah menatap kearah langit di Balkon sana yang tiba-tiba salju yang tadinya turun dipandangan matanya itu adalah darah yang berceceran.


"A..Apa yang akan terjadi?"


.........

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2