Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Pertempuran masih berlanjut!


__ADS_3

Wajah pucat itu benar-benar seputih kapas dengan bibir bergetar menahan sakit yang teramat dalam dirinya, mereka semua berdoa agar semua ini bisa berlalu dengan baik. tak ada yang sanggup melihat Sofea yang tengah ada dalam masa sadar lalu kembali tenggelam dalam pemikirannya yang kelabu merasakan tubuhnya sudah mulai dijalari urat kehitaman membuat Renoval dan Ratu Lamoria yang masuk lansung merasa iba dan sangat menyakitkan.


"Fea."


Renoval menggenggam tangan Sofea yang terkadag sadar dengan mereka lalu kembali lelap, ia melihat dengan jelas sinar biru dikening Sofea yang memperlihatkan garis seperti kilat yang samar-samar terlihat.


"K..Kakak!"


"Hm, bertahanlah, saat portal itu terbuka kau bisa melepas semuanya."


Ucap Renoval bergetar merasakan tangan Sofea dingin, apa yang harus dia lakukan sekarang, ia begitu tak berguna tak bisa membantu Adiknya sendiri, sedangkan Raja Hangton, ia melawan Klan yang sama yang menyerang Kediaman Kakek dan Nenek Brent yang juga mengalami hal ini di Kediaman mereka.


Whuss..


"K..Kak!"


Sofea kembali menggeram mencengkram perutnya saat sinaran merah dari jendela itu masuk kedalam seakan memancing reaksi tubuhnya, Renoval berlari kedekat jendela yang masih bersinar merah hingga ia tak melihat jelas semua ini.


"Mama, bantu Sofea!"


Mama Netty lansung melihat kebagian inti putrinya, ia menatap Dokter Eglin yang mengangguk memakai sarung tangannya dan melihat jalan lahir. matanya seketika berbinar melihat pembukaan sudah 10 hingga Mama Netty dan Ratu Lamoria lansung bersigegas.


"S..Sakitttt hiks!"


"N..Nak, pelan-pelan, hm? tarik nafas lalu buang!"


"Hos..I..Ibuu Sakittt!!!"


Ratu Lamoria terus mengarahkan hingga Sofea melakukan hal yang diperintahkan, ia berusaha kuat untuk mengejan disela tenaganya yang habis berjam-jam menahan sakit diseluruh tubuhnya.


"Dorong!!"


"Aaaassss, Aaaard!!!!"


Sofea menjerit keras mengeluarkan tenaganya untuk terus mengejan dengan semangat yang dilontarkan oleh Ratu Lamoria dan mereka semua.


Kulit putih Sofea begitu memucat dengan suhu tubuh yang dingin, Sofea takut jika terjadi sesuatu pada Putranya jika ia tak segera mengeluarkan si kecilnya itu.


"Maaaaa hiks, aku..aku.."


"Kau bisa! kau bisa, Nak! dorong lebih keras."


Sofea mencengkram selimutnya hingga ia benar-benar mengeluarkan kekuatannya seluruh penjuru tubuh sampai Ratu Lamoria menyangga keringat yang bersimbah ke kening Sofea.


"Dorong, Fea!!!"


"Emmnn, Maaaa!!"


Jerit Sofea lagi dan akhirnya tangisan bayi itu lansung meruak dengan Sofea yang tumbang dari tarikan nafasnya, Mama Netty berbinar menangis menatap Bayi mungil merah penuh darah yang membuat Dokter Eglin lansung melakukan Prosesi sesudah persalinan.


"Jangan biarkan, Putri memejamkan matanya!"


Ratu Rosmeryna tersigap hingga ia menatap Sofea yang sudah memejamkan matanya dengan helaan nafas lemah membuat Renoval lansung mendekat.


"Sayang, Fea! ini Kakak, kau..bisa buka matamu, hm?"


"Iya, Nak! l..lihat bayimu, Fea!"


Ratu Rosmeryna menepuk pipi Sofea yang sudah seputih kapas hingga degupan jantung mereka semangkin tak bisa dikendalikan, Renoval memeriksa denyut nadi dan jantung Sofea yang lemah.


"Xiomous!!!!"


Panggil Renoval menggelegar hingga Dokter Xiomous lansung bergerak cepat dari luar sana membawa peralatannya, ia terkejut melihat tetesan darah yang membasahi Seprey putih ini sangat kental dengan Selimut yang membalut Tubuh indah Sofea sudah berlumuran darah.


"Cepat tangani jalan lahirnya agar tak terjadi Pendarahan."


"Baik!"


Mereka bergegas membenahi tubuh Sofea sementara Mama Netty membantu Dokter Egline membersihkan tubuh Pangeran Tampan yang tengah menangis kencang membuat dentuman diatas sana.


Oeeeekk...


"Cup.. Cup.. Cucu Oma yang tampan, tahan sebentar, hm?"

__ADS_1


Mama Netty membalut pusat yang sudah dipotong dari Ibunya tadi dengan Dokter Eglin memandikannya dengan air tak terlalu hangat namun pas yang telah disiapkan.


Whuss..


"Masyaallah!"


Satu kata lansung terucap dimulut Mama Netty yang tak pernah terucap semenjak beberapa tahun ini, ia terpana melihat netra biru itu terbuka memperlihatkan Galaksi yang sama seperti yang dulu Ardelof lihat dimata Sofea.


Wajah bayi yang merah dengan keindahan mata dan kulitnya membuat Dokter Eglin mematung ikut hanyut, mereka merasakan genggaman tangan mungil ini ke jari Mama Netty sangat menguat seakan ia sudah bisa menggenggam seluruh Galaksi ini.


"N..Nyonya!"


"Inilah keturunan Tanah Alison!"


Duarrrrr..


Ledakan diatas sana kembali menyeruk hingga membuat mereka ketakutan, tentu tangisan itu terdengar jelas oleh Klan Black-Clover yang lansung berbondong menyerbu Papiliun tapi Ardelof menghempaskan tangannya merenggut jiwa mereka kembali ketempat semula.


"Halang mereka semua ke Papiliun!!!"


Ardelof memerintahkan semua Klannya termasuk Klan Black-Clover yang tunduk padanya untuk melindungi Papiliun. jantungnya berdegup sangat kencang mendengar tangisan Bayi itu hingga Ardelof memejamkan matanya menetralkan remangan didalam hatinya.


"Dengarlah!!!!!"


Deugon yang berbentuk ular besar mengerikan itu memerintahkan Klannya untuk mengelilingi Portal Cakram diatas sana hingga mereka berdebu terbang kelangit seperti memanggil Anggotanya yang lain.


"Sialan kalian semua!"


Ardelof melesat menghantamkan sinar biru ditangannya menuju Deugon si ular berkepala hitam seperti Kobran bertaring panjang itu hingga Deugon-pun tak ingin kalah hingga ekor panjang nan lebarnya melilit menepis semua Prajurit Kerajaan yang ikut menyerang.


Whusss...Brakkk..


Para Prajurit itu terbenam ke lahar panas yang ia buat ditanah sana hingga Panglima Lester menggeram lansung menyerang Klan gelap itu, namun ia tak menyangka kekuatan Klan Black-Clover bisa sekuat ini seiring dengan Cakram yang terbuka.


"Bagaimana ini?"


Panglima Guina yang sudah terbatuk darah karna kehabisan tenaga melawan rombongan Hitam ini, ia melihat jelas Klan Elf berperang mati-matian memperjuangkan Papiliun sana termasuk bocah kecil yang ikut mematahkan Mahluk gelap itu.


"Hm, mereka sangat terpancing akan tangisan, Yang Mulia Prince yang telah lahir." .


Panglima Lester menatap Ardelof yang tengah berusaha melawan Deugon yang terkena Sinar Biru Spiritnya namun kepala Ular itu akan kembali tumbuh bahkan berganda menjadi dua.


"Kesini!!!"


Ardelof mengiring Deugon untuk menjauh dari Papiliun menuju Bagian Selatan Istana, Ardelof berusaha agar semburan api Mahluk kotor ini tak mengenai daerah disekitar Papiliun.


"Berikan kalungku!!!"


"Ambil jika kau bisa!!"


Deugon menepiskan ekornya hingga merubuhnya Istana Selatan, tubuhnya yang besar dan panjang bersisik itu berderit menghancurkan apapun yang ia lewati.


Whuss..


Ardelof melesat cepat seperti kilat yang ia peggang hingga ia lansung menyabutkan senjatanya ke tubuh keras Ular raksasa ini hingga Deugon menyemburkan Api seperti naga yang membakar daerah sekitar Istana.


Perggerakan Ardelof yang cepat seperti kilat biru itu membuat Deugon susah mendeteksi apalagi ia tak punya kalung itu hingga dengan sangat cepat dan penuh kekutan Ardelof menyabit keras meratakan setiap apa yang dilaluinya.


Grrrr..


Deugon berderit dengan lidah menjulur seperti ular pada biasanya, ia merasakan tubuhnya disentrum kuat dari sabitan senjata petir Ardelof yang menimbulkan kepingan sisik yang berterbangan.


"Enyahlah kau, Brengsek!!!" Ardelof memusatkan tenaganya pada Petir yang ia peggang hingga ia melesat jauh keatas sana mengumpulkan Energi alam dipegganganya, bahkan wajah Ardelof sudah setengah merah dengan mata yang sebelah kiri juga ikut merah menyala membuat Panglima Lester yang beberapa kali terpental melawan kekuatan hitam ini lansung menunduk melihat Wujud Kegelapan Yang Mulianya.


"Yang Mulia!"


Mereka tunduk membuat Deugon yang tengah menderi dengan lidah terbelahnya lansung terulur. tubuh terpotongnya menatap Sinaran biru dan merah dari Tubuh Ardelof yang menyerap semua Energi di tempat ini hingga membuat Klan Black-Clover yang mengelilingi cakram sana terkejut besar.


"Y..Yang Mulia, DARK!"


Whusss,...


Ardelof melesat membawa gumpalan petir biru dan merah ditangannya menuju kepala Ular besar ini.

__ADS_1


"Hancurlah kau!!!!"


Duarrrrr...


Ledakan terjadi membuat Kerajaan Alison benar-benar rata menyisakan Papiliun yang tetap berdiri tegap, bahkan tanah tempat Deugon tadi melingkar lansung terbenam pecah membuat Panglima Lester dan Panglima Guina terpental jauh dengan kesadaran mereka terbawa akan kemarahan Ardelof.


Kobaran api itu menyalah dari mata Ardelof yang tak cukup disitu saja, ia terus menghantam tubuh Deugon kebawah sana hingga membuat sebuah kawah berapi yang lansung menyemburkan asap tebal membuat Renoval yang melihat dari kejauhan lansung terkejut bukan main akan kehancurkan Tanah ini.


"Ada apa?"


Raru Rosmeryna yang tadi tengah mengurus para pelayan yang tengah ketakutan dibelakang sana.


"Lihat Putramu!"


Degg..


Ratu Rosmeryna terkejut melihat Kerajaan yang sudah rata oleh kawah seperti lahar yang memanggang apapun dibawahnya hingga membuat tanah luas ini seperti Neraka.


Mata Ratu Rosmeryna mengembun menatap kehancuran ini, tak ia sangka yang selama ini ia segani dan junjung semua keputusannya adalah Musuh suaminya, ia merasa kotor dengan dirinya sendiri dan jelas ia tak pantas menjadi seorang ratu lagi.


"Biarkan saja, dia berhak melakukan apapun karna, hanya dia yang bisa memimpin apapun disini!"


Gumam Ratu Rosmeryna melepas kalung dilehernya, lalu menatap Sofea yang masih ditangani Dokter Xiomous yang sangat terlihat gugup.


Namun, Renoval tersigap saat Klan Elf Ardelof mulai lemah karna Cakram sana sudah membuka membuat Mahluk yang sama berterbangan turun menyerbu Papiliun.


"T..Tuan!!"


Brugh...


Quxi yang terlempar dari jendela itu hingga Renoval terkejut melihat wajah pucat Quxi penuh darah dengan sebelah mata menghitam menatap lemah ke ranjang sana.


"M..Mereka uhuk!"


"Ada apa?" tanya Renoval berjongkok memeggang bahu mungil Quxi yang sudah sangat lemah menunjuk kearah luar.


"P..Portal i..itu sudah di..dibuka, uhukkk.. k..kalian h..harus m..melindungi P..Papil...li.."


Quxi sudah tumbang dengan tubuh perlahan menjadi Abu membuat Renoval lansung mengepalkan tangannya kuat.


"Jaga Sofea dan Putranya! aku akan menghadang mereka kesini."


Renoval melangkah menuju pintu keluar kamar dengan cengkramannya yang menguat, ia melihat jelas Cakram diatas sana tengah mengeluarkan Ribuan Mahluk yang sama membuat Kakek Brent dan Raja Hangton yang baru datang lansung melawan mereka.


"Perlindungan disini mulai menipis, kita tak bisa menumpuhkan semuanya pada Ardelof yang memusnahkan Deugon untuk dilempar keatas sana, kita harus membantu!"


Ucap Renoval lansung mendekati daerah pertempuran, ia juga memiliki kekuatan yang sama tapi tak sekuat Ardelof yang tengah menghancurkan Pusat dari Cakram ini.


Mama Netty yang melihat itu dari pintu keluar lansung mematung, semuanya hancur dan ia tak menjamin nyawa mereka akan selamat setelah ini.


"M..Mama!"


Mama Netty tersigap saat melihat seorang wanita yang tertatih-tatih mendekati bangunan ini, matanya membulat sempurna melihat Yella yang tengah berjalan penuh luka ke Pintu ini.


"Y...Yella, kau.."


"Ma..Mama tolong!!"


Yella menatap para Klan Elf yang sudah lemah karna tenaga Mereka terkuras hingga Yella lansung berlari masuk kedalam Papiliun membuat Mama Netty sigap menopangnya.


"Nak, kau dari mana dan..dan luka ini.."


"M..Mama, G..Gibran, Ma hiks!"


Isak Yella mengikuti langkah Mama Netty yang lansung mendudukan Yella di kursi didepan kamar Sofea, aroma darah murni ini begitu tercium jelas dihidungnya.


"Ada apa? dimana Gibran?"


"M..Ma, Gibran telah berubah sama seperti Mahluk diluar sana!"


Degg..


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2