
Tatapan tak percaya itu meruak saat melihat wajah cantik yang sudah berminggu-minggu ini tak pernah mereka lihat, wajah yang beraut khawatir membantu menarik tubuh Yella dari himpitan pohon itu ditengah kencangnya angin dan teriakan kepanikan disekitarnya.
"Berhenti menatapku dan cepat angkat!!!"
Tekan Sofea geram pada Gibran yang mengangguk lansung mengangkatnya penuh tenaga hingga betis Yella terlihat memar dan bengkak membuat wanita itu tak bisa berdiri semula.
"F..Fea.."
"Kita harus cepat, anginnya semangkin kencang!"
Sofea membantu membopong Tubuh Yella menuju arah dalam Bangunan ini dengan Quxi yang menjaga tubuh Sofea agar tak terkena lemparan barang-barang yang dipintal putaran angin itu.
"Cepat berlindung!!!"
Mereka lansung pergi ke sebuah lapangan yang minim peralatan dibelakang sana dengan Sofea yang memanfaatkan kesunyian untuk bersembunyi didalam Bangunan yang kokoh tempat para Petinggi Kerajaan tadi hadir hingga ia mendudukan Yella dilantai itu.
"Kau..kau tak apa? atau kakimu sangat sakit,Ella!"
"F..Fea hiks!"
Yella berhambur memeluk Sofea yang mematung ditempatnya merasakan tubuh Yella bergetar dengan bahunya yang basah, ia hanya bisa tersenyum hangat mengelus punggung Yella yang menangis dipelukannya.
"Maaf hiks, Maafkan aku."
"Kau bicara apa, ha? sudahlah, jangan mengingat itu lagi." ucap Sofea tanpa beban seraya mengeratkan Mantel yang membalut tubuh wanita itu, tatapan Gibran tak lekang dari wajah cantik Sofea yang sangat menawan dan ia merindu berat akan hal itu.
"K..kau baik-baik saja?" Suara Gibran parau.
"Yah, aku masih hidup dan sangat baik dan sehat." jawab Sofea pasti tanpa mau menatap Gibran yang ingin sekali memeluk tubuh itu hingga ia tak sanggup untuk menatapnya lama.
"F..fea, aku..aku minta maaf! gara-gara aku kau..kau jadi.."
"Suttt! aku tak mau mendengar apapun, sekarang aku mau bertanya,"
"Apa?"
"Berapa usia kandunganmu?"
Degg..
Yella dan Gibran saling pandang lalu menatap Sofea rumit, raut wajah Sofea begitu berbinar melihat perut Yella yang tak lagi datar dan perkiraannya ini usia 2 Bulan atau setengahnya. mata indah wanita ini sama sekali tak ada rasa sakit saat melihat semuanya hingga Gibran berdenyut perih.
"Berapa? apa akan lahiran?"
"S..satu setengah bulan!" Ciut Yella membuat Sofea tersenyum lebar mendengarnya, dulu mereka punya impian hamil bersama hingga bisa mengasuh anak berdua.
"Woww, aku sangat-sangat bahagia! ternyata Gibran Topcer juga, ya?!"
Gibran hanya diam menatap kearah luar dimana angin yang tadi beramuk kencang perlahan tenang berganti dengan gerimis hujan karna awan gelap masih saja menyelumbungi langit diatas sana.
"K..kau m..marahi aku hiks, aku..aku pantas kau benci, Fea hiks."
"Kenapa aku marah? aku tak marah justru aku sangat senang karna kau hamil jadi aku punya ponakan, aku senang Yella apalagi Gibran akan sangat mencintaimu."
"Sayangnya itu t..tak akan pernah terjadi."
Batin Yella teriris, Gibran sedari dulu memang tak mencintainya karna mereka hanya terlibat Malam panas saja, hanya teman ranjang tapi saling mengasih menjalin persahabatan, Cinta Gibran akan tetap untuk Sofea seorang.
"Fea, hujannya mulai lebat. Yang Mulia pasti khwatir padamu."
Bisik Quxi karna ia tak bisa dilihat oleh Yella dan Gibran, ia pun tak ingin karna merasa jengkel akan tatapan Gibran yang memuja Sofea.
"Apa kalian bawa Mobil atau Rumah kalian disini?"
"Kami tinggal di Apartemen di jalur bukit tiga, kami kesini hanya ingin melihat Exsekusi tadi." Jawab Yella lirih.
"Ya, Sudah! ayo aku antar ke Mobil."
Gibran kembali membantu Yella berdiri membopokgnya kembali keluar Bangunan hingga Sofea membawakan Tas kecil dan Paper-bag yang tadi dibawa, disepanjang langkahnya Yella dibuat sakit saat Gibran tak mau menggendongnya sedikitpun, apalagi hujan ini begitu lebat tapi Quxi melindungi Sofea dengan menaikan topi mantel di kepala wanita itu.
"Apa yang merah?"
"Iya!"
Sofea menepi ke Mobil merah didekat Jalan dengan Yella yang perlahan masuk dengan hati-hati dibantu Gibran yang masih tetap menatap Sofea yang semangkin cantik dan anggun saja.
"Hati-hati dijalan, ya!"
"Kau mau kemana?"
Tanya Gibran saat Sofea tak mau masuk hingga hanya berdiri didepan pintu Mobil dengan wajah santainya, tangan Yella terulur menggenggam tangan lembut lentik Sofea yang terdiam.
"Ikutlah bersama kami, kau pasti tak punya tempat tinggal!"
"Tidak aku.."
"Ikulah, aku tahu kau pasti tak punya teman disini."
__ADS_1
Gibran memaksa hingga ia ingin menarik lengan Sofea untuk masuk tapi sekilat kemudian tubuh wanita itu ditarik erat oleh seseorang.
Grepp..
Tubuh Sofea lansung masuk berbenturan dengan dada bidang seorang Pria yang telah mengeraskan wajah datarnya menatap mereka semua yang terkejut setengah mati melihat siapa yang tengah berdiri didekat Mobil.
"Y..Yang Mulia!"
Gibran dan Yella menundukan kepalanya hormat dengan tubuh Sofea yang sudah dikurung posesif dirangkuhan hangatnya, untung saja disini sepi kalau tidak akan timbul keriuhan dari Masyarakat yang telah diamankan.
"A..Ard."
"Sudah cukup bermain?"
Sofea memanyunkan bibir mungilnya mendengar suara kelam Ardelof yang seakan mengatakan ia sudah puas bermain tapi ia hanya beberapa menit saja disini bersama dua temannya.
Sedangkan Kristof hanya diam memayungi Yang Mulianya.
"Ard, kau pasti banyak tugas. bukan? nanti jeput aku kalau sudah selesai."
Bisik Sofea mengakalungkan kedua lengannya ke leher Ardelof hingga sampai membuat 2 pasang mata itu membelalakan matanya tak percaya, Sofea berani melakukan ini pada pria yang Notabennya seorang Putra Mahkota yang sangat dingin dan Arogant.
"Tidak."
Ardelof lansung menggendong ringan Sofea ala Bridel-Style lalu ingin berbalik pergi namun Sofea meminta untuk diam sebentar karna mau berpamitan pada mereka tentu Ardelof tak bisa mengekangnya.
"5 menit."
"Sebentar, aku mau bicara."
Sofea menarik lengan Yella hingga wanita itu menatapnya intens dan kosong tapi Sofea tak sempat mengatakannya karna waktu yang diberikan Tuan Pemarah ini hanya 5 menit.
"3 Menit!"
"Sebentar, aku saja baru mau membuka mulut dan.."
"2 menit!"
"Sampai jumpa lagi."
Whuss..
Angin itu menelan suara Sofea yang sudah dibawa Ardelof pergi menuju Mobil di Parkiran khususnya, mata mereka lansung terperangah tak percaya sampai Gibran tak sadar kalau hanya Mobil mereka yang tinggal disini.
"A..apa maksudnya?" gumam Gibran dan Yella masih menatap Mobil Ardelof yang sudah dijaga Pengawal Kerajaan hingga benda mewah itu keluar pekarangan lewat jalur khususnya.
"Yang Mulia."
"Kalian menemukannya?"
"Maaf, Yang Mulia! Setelah badai tadi Putri Vanelope menghilang tanpa jejak. kami sudah mencari disetiap penjuru dan sekarang sedang menuju Perbatasan."
Ardelof mematikan sambungannya seraya menghela nafas berat, ia tadi sibuk mengamankan Situasi yang ingin mengincar Sofea dari arah lain tapi wanita itu malah menghilang.
"Ada apa?"
"Tidak ada!"
Jawab Ardelof datar melihat Ponselnya, Sofea terdiam menatap wajah Kristof dari kaca Spion Mobil hingga mata pria itu juga memandangnya, mereka saling pandang beberapa saat tapi Kristof tak berani hingga mengalihkan tatapannya.
"Namamu Kristof, kan?"
"Iya, Nona!"
"Terimakasih sudah memayungi kami."
Kristof hanya mengangguk saja atas ucapan tulus Sofea karna berkat pria itu mereka tak basah karna hujan yang mulai lebat, tentu wajah Ardelof sudah merah padam sedari tadi menahan emosi melihat Interaksi Sofea dengan pria-pria lain.
"Kau tak akan ku bawa keluar lagi."
"Ha??"
Pekik Sofea keras hingga membuat Ardelof menjentik bibir merah menggoda itu kecil meluapkan rasa geramnya.
"Ard, salahku apa?"
"Kau pikir sendiri."
Sofea menyandarkan kepalanya ke bahu Ardelof seraya sesekali mengadah menatap wajah datar si Tampan ini, ia rasa Interaksinya normal tak diluar batas.
"Apa kau cemburu?"
"Tidak."
"Tapi kenapa marah? Sayang! aku hanya bicara, tidak bersentuhan."
Ardelof hanya diam memainkan Ponselnya, ia sudah memerintahkan Fu untuk mencari Vanelope sementara waktu karna ia masih harus ke Perusahaan setelah ini, tapi tentu Ardelof tak akan mengajak Sofea keluar setelah badai tadi.
__ADS_1
"Pulang nanti kau lansung Istirahat, Pelayan sudah menunggu disana."
"Memangnya kau mau kemana?"
"Perusahaan." Singkat Ardelof masih jengkel hingga ia tak menghiraukan Sofea yang tengah dilanda kegelisahan, ia pikir tadi Bencana itu akan memakan Korban banyak tapi ternyata setelah beberapa lama kabut es melanda baru ia berhenti.
"Sayang!"
"Hm!"
"Apa mereka menginginkan aku?"
Ardelof menghentikan kegiatannya yang menatap Ponsel hingga ia mengangkat wajahnya memandang Sofea yang sangat ingin tahu.
"Tidak."
"Em, tapi aku tak yakin! pasti jawabanmu itu kebalikan dari kenyatan."
Jawab Sofea merasa jengkel, ia tahu tadi itu ulah siapa karna ia sempat melihat ada kilatan hitam seperti dulu yang menyelumbungi tubuh Vanelope, tapi sayangnya Ardelof tak bergerak padahal ia paham betul kalau tadi Ardelof melihat semuanya.
"Ard."
"Hm!"
"Nanti malam kau pulang cepat, ya?"
Dahi Ardelof mengkerut menatap rumit Sofea yang mengambil camilan didekatnya karna saat kesini tadi ia sedang mengemil enak tanpa menghiraukan suaminya.
"Kenapa?"
"Pokoknya kau harus pulang cepat, aku tak bisa tidur sendirian."
"Kenapa tak pulang bersama MANTAN kekasihmu itu?"
Sofea terdiam sedikit menyipitkan mata indahnya menatap wajah Ardelof dari Spion, sepertinya pria ini memang sudah Cemburu dengan pertemuan tadi hingga jadi begini.
"Kau benar! padahal tadi dia mengajakku pulang."
"Kauuu..."
"Apa lagi salahku? kau yang menyuruhku kan?"
"Terserah kau saja!"
Umpat Ardelof melonggarkan dasinya seraya membuka minuman Kaleng bersoda didekatnya hingga Sofea juga ingin tapi ia melototkan matanya membuat Sofea merenggut memunggungi Ardelof seraya terus mengunyah camilan sehatnya.
"Dia bisa minum kenapa aku tidak?"
"Ini bersoda, tak baik!"
"Tak adil, seharusnya kau juga tak minum. aku jadi ingin kan?"
Ardelof menghela nafas menatap Segelas minuman soda tanpa alkohol digenggamannya lalu menatap Sofea yang mendumel dan akhirnya ia pasrah membuang benda itu kedalam Kantung Sampah dibelakang sana membuat Sofea tersenyum penuh binar.
"Kau PUAS?"
"Sangat."
Cengir Sofea masuk kedalam rangkuhan Ardelof yang tersenyum simpul mengelus kepala Sofea yang bersandar kedadanya seraya menerima suapan dari tangan lentik ini.
.....
Tubuh bersimbah darah wanita itu lansung terkurung didalam sebuah Jeruji besi yang sudah dirantai dengan ukuran Minimalis dengan tubuh manusia didalamnya yang Meringkuk dirantai dengan keadaan yang mengenaskan.
Ruangan ini didominasi dengan aura gelap hingga semua Mahlukk bermata merah bertaring itu menjaganya dengan ketat seakan Manusia ini adalah hal khusus bagi Rajanya.
"Yang Mulia."
Seorang pria bertubuh kekar dibaluti Jubah hitam dengan wajah seperti tengkorak itu berbalik menatap bawahannya yang memakai Jubah yang sama tapi bedanya aroma mayat dari para pesuruhnya ini sangatlah kental dan menjijikan.
"Tangkapan yang bagus."
"Apa yang harus kami lakukan?"
"Kalian cari wanita baru untuk memberi makan mereka semua."
Jati telunjuknya yang hanya tulang menunjuk ke area Jeruji besi yang memisah ruangan gelap dihiasi lilin ini yang mana terlihat gelantungan tubuh para wanita yang sudah membusuk hampir menyisakan tulangnya.
Ia butuh Roh itu untuk membuat pasukan baru agar Klannya akan semangkin besar bisa memulai perang yang akan datang sebentar lagi, hanya menunggu satu portal kegelapan hingga mereka bisa menarik Cahaya gelap dari Inang yang sebenarnya.
"Belum waktunya, saat itu tiba! maka Selurih Dunia ini akan ada dibawah kendaliku."
Ucapnya lalu terbahak menggelegar sampai memecah gendang telinga dengan mata berubah hitam pekat tanpa warna dengan tubuhnya yang hanya berbentuk tulang-belulang.
Ada kerlipan api yang ada dilehernya dan itu adalah sebuah kalung berliontin hitam yang akan memberikan kedahsyatan saat Putra Tanah Alison ini lahir ia akan menyerap semua kekuatan itu hingga Yang Mulia Dark yang sangat angkuh itu akan hancur sehancur-hancurnya.
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..