Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Kesakitan Beclie!


__ADS_3

*Putri Hangalay dinyatakan sebagai Pengkhianat dari Kerajaan Batalion Alison.


Kebenaran yang sebenarnya terkuak saat Pesta Pertemuan 5 Kerajaan di Monstats Kary kemaren malam, Putry Hangalay tampak tak berani bicara atas kemarahan Raja Hangton setelah mengetahui Pengkhianatan Putri Vanelope Ev Hangalay bersama Putra Panglima Kerajaanya.


Putri Vanelope terancam diasingkan ke Perbatasan Akibat Tindak kotornya yang membuat Masyarakat menolak menjadikan Putri Vanelope sebagai Pewaris Kerajaan Hangalay*.


.....


"Aaaa!!!!"


Prankkk..


Gelas air putih yang ia genggam lansung pecah berserakan dilantai sana hingga membuat dua Pelayan setianya Mery dan Oliey terdiam gemetar takut, wajah Vanelope sudah memerah naik darah mendengar semua Pemberitaan tentangnya apalagi mereka sudah mendesak Raja Hangton agar mencabut hak warisnya.


"Sialan!!!! Brengsek, kau Ardelof!!!"


Maki Vanelope keras dengan sorot mata membunuhnya, semuanya hancur tak ada yang tersisa, Kepercayaan ayah dan ibunya dan Rumor di Masyarakat yang dulu mendukungnya menjadi Ratu Kerajaan Hangalay seketika dipecah hingga sekarang tak ada lagi yang ia harapkan.


"I..Ibu.."


Ciut Beclie yang sedari tadi melihat dari balik pintu kamar, tubuh Beclie lansung mengigil saat tatapan tajam Vanelope seakan mencabik tubuhnya dengan sangat menyedihkan.


"B..Bu.."


"Kesini."


Suara Vanelope dingin membuat Beclie mau tak mau harus mendekat meremas kedua tangannya dengan kepala yang tertunduk, karna akal sehat yang sudah tak ada Vanelope menarik kasar tangan mungil Beclie yang lansung menjerit takut.


"Ibuu!!! hiks, Buuu!!!"


"Semua ini karna kau!!! kau yang membuat dia membenciku!!!"


Brugh..


Vanelope mendorong Beclie ke serakan kaca yang pecah itu hingga membuat betis dan tangan mungil Beclie berdarah karna goresan dan tusukannya membuat Bocah malang itu menangis memeggangi kakinya.


"Dewi!!! hiks, Dewi!!!"


"Dewi? Siapa dia? kau selalu memujanya, katakan padaku!!!"


Plakk..


"Putri!!!"


Mery dan Oliey yang terpekik saat Vanelope menampar telak pipi mulut Beclie yang lansung bengkak dengan telinga yang bengap bocah itu menangis gemetar memohon ampun.


"B..Bu hiks, A..Ampun Bu!"


"Aku bukan Ibumu!!! Dengar, ha!!!! kau bukan anakkku, kau Pembawa sial dalam hidupku!!!!"


Degg...


Beclie teriris mendengar itu hingga ia menatap sendu Vanelope yang memang sedari dulu tak pernah menyayanginya, hanya ia yang terus berbelas kasih meminta Cinta itu.


"Sejak kau ada, Ardelof tak lagi melirikku, dia pergi karnakau. Dasar Anak sialan!!!"

__ADS_1


"B..Bu hiks!"


"Berhenti memanggilku IBU!!!!"


Bughh..


Beclie terlempar kebawah Balkon sana karna dorongan Vanelope yang kuat sampai meluruhkan tubuh lemah si kecil itu.


Sedangkan sepasang kekasih yang tengah berbunga itu sedang berjalan santai di Taman Istana dengan para Pengawal yang sudah dibubarkan dari tempat ini agar Wanita dengan Dress selutut berwarna Biru seperti kemban itu sedang menurut saat tubuhnya dipasangi Mantel karna cuaca masih saja dingin walau Salju hanya turun tak begitu lebat tapi cukup untuk mendinginkan tulang.


"Sayang, kau bisa demam."


"Husst, kau bilang mau menemaniku Jalan-jalan?!"


"Iya, tapi bukan begini."


Sangka Ardelof memasangkan sarung tangan dan memperbaiki Pita yang ada diatas kepala Sofea, kulit putih wanita ini tampak berkilau dengan bibir merah yang pas, apalagi Aura Sofea memang suka berubah sesuai keadaan, dan sekarang ia menjadi Penyihir manja sang suami.


"Ard, aku sudah liat berita."


"Lalu?" tanya Ardelof seraya mengiring Sofea untuk duduk di kursi Taman agar tak terlalu pegal berdiri disini.


"Aku lihat Vanelope akan diasingkan, ya?"


"Aku tak tahu."


Acuh Ardelof yang tak ingin membahasnya, bagi Ardelof sekarang hanya Istrinya Sofea dan Calon anaknya yang akan menjadi Prioritas utama.


"Ard, kau tak ke Perusahaan."


"Tidak, kau lebih penting."


"Ard


"Hm?"


"Sebenarnya apa yang kau takutkan? apa ada masalah tentang anak kita?" tanya Sofea lembut mengelus pipi Ardelof yang terdiam menghela nafas halus lalu menatap wajah damai Sofea.


"Aku bukan hanya seorang Putra Mahkota di Tanah Alison, banyak yang ingin menghancurkan semua ini termasuk mengalahkanku dalam segala hal, puncaknya hanya kau! kau memiliki aura yang murni dengan sihir Pesona yang kuat, jika kau melahirkan Putraku yang tentu bukan anak pada umumnya maka Jiwamu akan terbagi membuka Portal Dunia Gelap Dark dan Dunia Shine."


"A..Apa mereka berbahaya?"


Ardelof tersenyum tenang memeluk Sofea dalam dekapannya, ia tak akan memberi tahu terlalu banyak karna bisa saja Sofea kepikiran tentang masalah ini.


"Kau tak perlu khawatir, hm? Apapun yang terjadi tak ada yang bisa menyentuhmu dan anak kita."


"Tapi, aku.."


"Sutt, aku ingin kau percaya kalau semuanya baik-baik saja. nikmati saja waktu yang memberi kesempatan, hm?" Ardelof menangkup pipi putih Sofea yang mengembung kesal.


"Aku tak suka!"


"Apanya?"


"Bicaramu, kau selalu mempunyai kalimat Ambigu seakan-akan ada hal dibalik kata Baik-Baik saja."

__ADS_1


Ardelof hanya menyunggingkan senyum singkat lalu mengawasi Sofea yang berdiri melihat-lihat bunga disini, wanita ini sangatlah suka akan bunga hingga tak hayal Ardelof mau Balkonnya dihiasi bunga yang penuh panorama aroma khas istrinya.


"Aaaaa!!!!"


Suara teriakan pelayan dibelakang sana membuat Sofea terkejut lansung berlari kesana hingga Ardelof mengumpat mengikuti Istrinya.


"Sayang!!"


"I..itu kenapa ada teriakan?"


"Jangan berlari!"


Tekan Ardelof menggenggam tangan Sofea dan melangkah pelan kebelakang Istana dekat lapangan yang hijau tertata rapi itu hingga Ardelof menyeringitkan dahinya melihat para Pelayan di Istana Selatan yang berkumpul tepat dibawah Balkon kamar atas Vanelope.


"Ya Tuhan!!!"


"Kenapa?"


Tanya Sofea khawatir tapi Ardelof menahannya untuk tetap tenang sementara 10 Pelayan perempuan itu lansung menunduk berbaris membelakangi objek perhatian mereka.


Wajah pucat itu membuat Sofea sangat penasaran apa yang terjadi hingga sampai se pucat ini.


"Yang Mulia Putra Mahkota dan Nona!!"


"Hm, kenapa?"


"Y..Yang Mulia a..ada.."


"Ada apa? bicara yang jelas!" sambung Sofea yang mulai khawatir karna melihat jipratan darah disamping sepatu para Pelayan itu.


"Y..Yang Mulia Prince Beclie jatuh dari atas."


Deggg..


Sofea lansung berlari menerobos para Pelayan itu hingga ia lansung dibuat menjerit melihat bocah kecil yang baru semalam menemaninya di kamar.


"Liee!!!!"


Teriak Sofea berjongkok gemetar memeggang kepala Beclie yang sudah berlumuran darah karna dibentur bebatuan dibawahnya dengan tubuh yang penuh luka sayatan beling. melihat itu Ardelof hanya diam ditempat seakan tak ada hati untuk menolong.


"Ard hiks, Ard aku..ini hiks!"


"Ini bukan urusan kita."


"Ard!!!!"


Bentak Sofea menyala-nyala hingga membuat Para Pelayan sana bungkam gemetar menjahui Sofea yang sudah menangis melihat Beclie yang penuh darah.


"Kalau..kalau dia tak selamat, aku sangat membencimu, hiks."


"Tapi kau jangan menangis."


Ardelof akhirnya mengenyampingkan Egosnya hingga ia lansung menggendong tubuh mungil Beclie yang berlumuran darah masuk menuju Istana dengan satu tangan memeggang tangan Sofea yang tak akan ia lepas membuat Vanelope yang melihat dari atas sana lansung mencengkram pagar balkon kuat.


"SIALAN kau, lihat saja! aku memang diasingkan tapi kau tak akan ku lepaskan!!!"

__ADS_1


......


Vote and Like Sayang..


__ADS_2