
Malam pun berkabut pekat, semua orang sibuk dengan acara Makan malamnya yang menjamu besar di Istana Alison dengan canda dan tawa yang pecah oleh masing-masing keluarga, jauman makan malam tak hanya di usung untuk Keluarga Kerajaan ini saja tapi semuanya termasuk para Pelayan dan Pengawal yang dibolehkan makan ditempatnya bekerja, hari ini mereka melakukan hal yang bebas.
"Kau tahu? kau punya Sepupu satu lagi, nak!"
Sofea yang mendengar itu seketika termenggu menatap Ratu Lamoria yang ada disisi kanan dan Raja Hangton disisi kirinya, ia dilayani dengan baik disertai kejelian para manusia disini.
"Maksud, Ibu?"
"Sebenarnya Kakek dan Nenekmu itu orang Asia, dia jarang datang ke Kerajaan Hangalay untuk berkunjung setelah Ibu Melahirkan dulu."
"Bu, Kepercayaan Ibu apa?" tanya Sofea penasaran, Ardelof bilang ia adalah seorang Muslim yang menurutnya Kepercayaan yang sangat minim di Negara Batalion yang sebagian besar mereka tak beragama tapi Keluarga Kerajaan itu juga tak memiliki kepercayaan kepada Tuhan.
"Keluarga Hangalay itu Kristen."
"Benarkah?"
Ratu Lamoria mengangguk, membersihkan sudut bibir Sofea yang makan Chocolatos Cakenya dengan lahap karna ia tak mau makan yang lain.
"Ayah, kenapa aku Muslim?"
"Karena Kakek dan Nenekmu yang menganjurkannya sejak kau dalam rahim ibumu, tapi untuk Kakakmu tidak, dia ikut kepercayaan kami."
Sofea manggut-manggut mengerti terus menyuap dengan telaten seraya menatap Mama Netty yang sedari tadi murung hanya menimpai beberapa ucapan mereka saja.
"Mama!"
"Iya, Nak! ada apa?" Mama Netty tersentak dari lamunannya.
"Ma, apa kau Muslim?"
Mama Netty tersenyum kecil, ia sudah lama tinggal bersama dengan Ibu dan Ayahnya hingga ia bersuami disana dan menghasilkan dua orang anak, tapi sayangnya karna cobaan hidup yang berat Mama Netty tak lagi menjalankan kewajibannya.
"Iya, Mama seorang Mislim. dan kau tinggal bersama Mama, Nak! tapi Mama tak sempat mengajarkanmu tentang Akidah karna saat itu Mama sakit-sakitan."
"Kalau begitu, aku mau ke Kediaman Nenek!"
"Tidak bisa."
Mata mereka kansung teralih menatap Ardelof yang baru saja turun dari ruangan kerjanya, ini sudah jam 8 Malam lewat karna tadi Sofea belum makan itu karnanya dia pergi sebentar meninggalkan istrinya untuk sekedar melepas kebersamaan.
"Kenapa? apa kau sibuk, Sayang?"
"Tidak, tapi Kandunganmu masih lemah, tak bisa melakukan Perjalanan jauh."
Ardelof yang duduk disamping Raja Hangton yang manggut-manggut mengerti, ia rasa Ardelof benar tentang hal itu. resikonya besar membawa Sofea ditengah kondisi hamil muda dan masih rentan begini.
"Aku kuat, Sayang!"
"Kalau kau kuat kau tak akan ku gendong kesini."
Tegas Ardelof mengupas buah Apel yang ia peggang dengan intonasi suara yang tak mau dibantah, tentu Sofea pasrah bersandar ke bahu Raja Hangton yang tersenyum melihatnya.
__ADS_1
"Ayah!"
"Hm? ada apa?"
Sofea menyandarkan dagunya ke bahu Raja Hangton yang membelai kepala Putrinya ini, sungguh ia sangat merindukan hal seperti ini karna Vanelope tak pernah memberikan mereka kebersamaan yang tinggi.
"Ayah, malam ini aku mau tidur dengan kalian."
"Tidak." Ardelof menyambar lansung.
"Sayang, ayolah. hanya satu Malam."
"Tidak ya Tidak."
"Ayah."
Gumam Sofea jengekel akan jawaban Ardelof membuat Raja Hangton lansung menghela nafas halus menatap Ardelof yang tak bisa diganggu gugat, pria ini menyodorkan Piring berisi potongan buah yang ia kupas kehadapan Sofea yang menunjukan mata berbinarnya.
"Sekali saja, Sayang!"
"Kauu!!"
"Sekali saja, Please!" Sofea memohon kesenduan.
"Hm!"
"Hm? apa itu, Hm?"
"Baiklah."
Sofea memberi kecupan jarak jauhnya membuat Mereka terkekeh geli melihat interaksi sepasang suami istri ini, Ratu Lamoria kira dulu Ardelof hanya bermain-main tapi setelah kejutan besar tadi ia merasa yakin kalau Pria Arogant ini telah tahluk oleh Putrinya.
"Pasti Bocah Pemarah ini tak akan diam kalau Istrinya jauh, paling dia akan mengendap menjemputnya kembali."
"Nek, kau sangat menyebalkan."
Geram Ardelof menatap Nenek Eliz yang hanya berwajah Sinis mendekatkan Salad buah ke depan Sofea yang harus memakan ini semua atas asupan Keluarganya, tapi tatapan Kakek Brent tampak berat menatap Ardelof yang sebenarnya menyimpan satu Bencana besar kedepannya.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Hm!"
Kakek Brent berdiri hingga melangkah pergi berpamitan sebentar dengan Ardelof yang menatap Sofea penuh isyarat cinta hingga keduanya hanya saling pamit dalam pandangan saja.
"Berhenti menatapnya, kau akan semangkin berat nanti."
"Nek."
Sofea merasa malu akan ucapan Nenek Eliz hingga ia menatap Kepergian Ardelof yang mengikuti Kakek Brent ke ruang kerjanya, wajah Tampannya kembali datar tanpa cela menebak apa yang sedang terjadi.
"Yang Mulia."
__ADS_1
"Hm."
Para Pelayan yang menyapa hingga Ardelof masuk ke Lift sana dengan Kakek Brent yang juga berdiri disampingnya dengan benda kotak mewah itu sudah tertutup rapat dengan wajah kelam keduanya sama-sama tak terbantahkan.
"Kau paham?"
"Hm, tapi belum ada kesempatan."
Jawab Ardelof membuat Kakek Brent menghela nafas halus, masalahnya sekarang adalah ada seseorang yang menjadi Pengkhianat di Kerajaan ini. orangnya masih dilakukan penyelidikan oleh Ardelof sendiri.
Saat Lift terbuka, keduanya melangkah bersama dengan Tubuh gagah Ardelof yang sangat mempesona dan kekar jenjang tinggi itu seakan jadi sebuah Visual Muda dari Kakek Brent yang tetap tegap walau tongkat seperti emas ditangannya itu menampakan penuaanya.
"Bagaimana dengan Istrimu?"
"Dia belum menunjukan tanda itu."
Jawab Ardelof melangkahkan kakinya masuk kedalam Ruangan Kerjanya setelah Pintu otmatis itu terbuka karna ia belum ada didalam dan kembali tertutup, tentu jawaban Ardelof menjadi pertimbangan Kakek Brent yang mencoba mencerna.
"Berarti belum mendekat."
"Hm, tapi aku hanya takut jika hari itu tiba aku tak punya solusinya."
"Cara satu-satunya hanya.."
"Membawa mereka ke Dimensi lain!"
Jawab Ardelof dengan nafas berat menduduki kursi kerjanya dengan mata bertambah resah, jujur Ardelof berusaha menyelesaikan semuanya dengan baik dari mulai mencari Keluarga Istrinya, dan membuat jalan agar nanti tak ada bahaya yang mengincarnya.
"Lalu kau mau apa?"
"Vanelope!"
"Maksudmu?"
"Vanelope sudah masuk Klan mereka, jika menangkapnya bisa mendapat Informasi. maka aku akan melakukannya."
Ardelof berucap tegas dan penuh rencana, lagi pula Vanelope tak akan bisa lagi seperti Manusia biasa karna pasti wanita itu membutuhkan makanan berubah Nyawa dan darah Wanita.
"Kau yakin?"
"Aku tak tahu, tapi yang jelas. aku harus mencari jalan keluar atau saat itu tiba semuanya akan hancur."
Ucap Ardelof memberikan asumsinya, Kakek Brent memahami kekhawatiran Ardelof akan perang besar yang jelas akan terjadi baik waktu dekat atau tidak, pasti pria ini takut jika Istri dan anaknya ikut terseret dalam masalah ini.
"Hm, aku mencurigai seseorang."
Tak ada raut apapun dari wajah Ardelof yang membuat dahi Kakek Brent mengkerut karnanya, ia mendekati Ardelof yang selalu membuat rasa penasaran itu menjalar hebat.
"Kau tahu?"
"Hm, tapi aku belum yakin."
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..