
Mentari diatas sana sudah terselumbung oleh awan kehitaman hingga suasana mendung dingin karna akan memasuki Musim Salju, tentu semua itu dipertanda dengan orang-orang di Kota Batalion memakai pakaian hangat karna deru udara yang mengigilkan tungkai.
Embun didedaunan sana sudah berserbuk hingga kuntum-kuntum yang tadinya mekar tampak diselumbungi oleh benang Musiman tipis yang selalu datang saat musim dingin datang.
Yah, kiranya pagi ini cuaca begitu tak mendukung bagi seorang wanita yang tadi tiba-tiba mengalami Flu, entahlah ia tak tahu kenapa jadi begini padahal ia tak pernah Sensitiv akan perubahan Musim.
"Penyihir!!!"
Suara Ardelof lantang dari Walkcloset sana hingga ia keluar dengan wajah datar yang semberautnya seraya Stelan Jas lengkap karna hari ini mentarinya sudah datang walau langit mendung diluar sana menyapa.
"Kenapa?"
"Kenapa dengan suaramu?"
Khawatir Ardelof melangkah mendekati ranjang dimana Sofea tengah duduk diatas Sofa sana seraya berselonjoran dengan hidung yang merah membuat Ardelof lansung mendekat.
"Kau..hidungmu?"
"Tidak apa, ini biasa mungkin hanya Flu."
Jawab Sofea seraya mengambil alih Dasi yang ada ditangan Ardelof yang menyentuh pipinya, suhu tubuh Sofea stabil tapi hanya hidung wanita itu yang merah membuat Ardelof lansung memeriksanya.
"Apa kau ada alergi?"
"Tidak, ini hanya hal biasa, Ard!
"DIAM!"
Tekan Ardelof lalu melihatnya intens. benar saja Sofea sedang Flu dengan suara beratnya tersendat tapi tentu Ardelof tak akan membiarkan itu.
"Apa rasanya lebih baik?"
"Em, sama saja." jawab Sofea saat Ardelof menyentuh hidungnya, wajah Ardelof berubah dingin menatap wajah sayu Sofea yang masih mengendus kecil lalu mengusap hidungnya.
"Kenapa tidak berfungsi?"
"Ard, sudahlah! kau bisa terlambat, ini kelihatannya saja masih pagi. padahal sudah jam 8."
Ardelof hanya membatu menggendong Sofea keatas ranjang seraya melepas Jasnya, ia duduk disamping Sofea yang hanya mendengus saat hidungnya lagi-lagi ditekan Ardelof yang terlihat Khawatir.
"Maafkan aku, ini pasti karna menakutimu Semalam."
"Itu memang benar, kau yang salah."
"Tapi apa sakit? aku..aku bisa memanggil Dokter khusus untuk.."
Sofea membekap mulut Ardelof yang berbicara melantur, ia hanya Flu tapi Pria ini seakan mendengar ia terkena Tumor stadium Akhir.
"AKU BAIK-BAIK SAJA, hm?"
"Tidak, kau harus diperiksa."
Ardelof mengambil Ponselnya dengan cepat untuk menghubungi Ximous Dokter khususnya yang telah lama tak ia hubungi selama bertahun-tahun ini.
__ADS_1
"Ard!!!"
"Kau bisa saja sakit parah."
"Tapi aku baik-baik saja, Sayang!"
Ardelof lansung diam saat Sofea mengatakan itu hingga matanya melemah kembali duduk diposisi semula dengan wajahnya yang berusaha untuk menolak tapi Sofea begitu menyentuh hatinya.
"Aku baik-baik saja, hm? aku tak apa. kau bisa berangkat Kerja atau sarapan dibawah."
"Aku tak kerja hari ini."
"Sutt, aku tahu betul pekerjaanmu sangat banyak." Tegas Sofea beringsut duduk lalu membuka Kerah Kemeja Ardelof seraya memasangkan Dasi ditangannya ke leher kokoh itu, ia sangat hafal kalau pria ini tak pernah bisa memasang Dasi sendiri. tapi Ardelof asik memperhatikan wajah Sofea yang tak begitu pucat tapi ia sangat khawatir tak tenang.
"Pasti kau susah bernafas."
"Sedikit, tapi aku rasa nanti juga akan hilang. kau tak usah khawatir begitu, tapi mungkin kalau kau .."
Sofea menjeda ucapannya seraya menyipitkan mata indahnya seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Ardelof hingga hidungnya lansung bersentuhan.
"Kau mulai mencintaiku!"
"Kau sangat memaksa, hm?"
Gumam Ardelof menyatukan kening mereka hingga ia menghujami bibir ranum ini dengan kecupan penuh Cinta tapi tak ada kata yang bisa menjabarkan perasaan keduanya hingga semuanya hanya saling tahu tapi tak mau mengatakan.
"Ayo, kau pasti mencintaiku, kan?"
"Ard."
"Apa, hm?"
"Nanti kalau pulang bisa bawakan sesuatu tidak?"
"Apa? kau katakan saja." Ardelof mengusap punggung Sofea yang agak ragu mengatakan ini hingga ia menatap mata biru Ardelof yang sama sekali tak bergurat keberatan melainkan sangat menunggu jawabannya.
"Ada Sosis goreng di dekat belokan jalan Perusahaan, aku mau itu!"
"Sosis? di sini ada. aku bisa membawanya sekarang."
"Bukan, aku..aku maunya itu, tapi aku mau yang manis, dan Super pedas." Pinta Sofea hampir ileran hingga ia menyengir membuat Ardelof menggeleng saja.
"Manis ok, tapi tidak dengan Pedas."
"Ard hiks, ayolah. satu kali saja kau sudah tak mau membantuku, aku Istrimu!"
"Tidak!"
"Sekali saja, Sayang!" Pinta Sofea mengecup pipi Ardelof dengan manja hingga Ardelof sampai mengkerutkan dahinya, semalam Sofea begitu jengkel padanya sampai tidurpun Ardelof harus ke Sofa tapi ia kembali keranjang saat Sofea sudah terlelap. tapi sekarang malah begitu manja padanya tak biasanya Sofea begini.
"Baiklah, tapi kau tak mau yang lain?"
"Ada, tapi kali ini kau harus tepati."
__ADS_1
Ardelof mengangguk seraya meniup hidung Sofea agar lebih baik.
"Aku mau kau olahraga dulu nanti baru pulang!"
"A..Apa?"
"Iya, kalau tidak aku tak ingin kau tidur di ranjang."
Ardelof menghela nafas halus lansung membaringkan Sofea kembali dengan benar lalu meninggikan bantal wanita itu agar lebih nyaman. ia mengambil obat pereda Flu didalam kotak obat lalu mengoleskannya ke leher dan sela telinga Sofea.
"Baiklah, kau harus Istirahat. aku tak ingin kau begini kalau aku pulang, Quxi akan menemanimu, hm?"
"Hm, cepat pulang."
Cup..
Ardelof hanya diam saat Sofea mengecup bibirnya kilas lalu memejamkan matanya untuk istirahat, kenapa wanita ini sangat berani? pertanyaan dikepala Ardelof karna Sofea begitu agresif, yang ia tahu Sofea itu pemalu jika ia goda sedikit saja maka wanita ini akan berjingkrat kegirangan.
"Pergilah."
"Hm, Aku pergi."
Ardelof menyelimuti Sofea lalu menghempaskan tangannya membuat bocah tengil itu sudah ada di Balkon membungkuk memberi hormat.
Ardelof hanya diam keluar pintu kamar setelah menyambar Tas dan Jasnya kembali, namun ia merubah raut wajahnya kembali dingin saat melihat Kristof sudah ada didepan pintu kamarnya.
"Yang Mulia."
"Hm,"
"Yang Mulia raja meminta anda menghadiri Pesta Pertemuan Kerajaan malam nanti."
Kristof menunduk memberikan Undangan mewah berwarna emas dengan logo Kerajaan Mostats kary yang mengundang Kerajaan Alison agar hadir di Pesta Pertemuan Kerajaan seperti biasa.
"Aku tak bisa hadir."
"Tapi, Yang Mulia bilang, anda harus datang karna Kerajaan kita akan mendapat kunjungan setelahnya."
Ardelof menghela nafas berat dan lansung melanjutkan langkahnya, memang itu adalah Tugasnya sebagai seorang Putra Mahkota tapi kenapa semuanya malah datang mendadak.
"Disana juga ada Media, akan banyak orang yang bertanya tentang Hubungan anda dan Putri Vanelope. saya sudah menyiapkan penjagaan yang ketat."
"Kau siapkan saja, batasku Jam 8."
"Saya tak menjamin, Yang Mulia! tapi saya akan usahakan."
"Hm."
Jawab Ardelof datar, ia harus mengejar waktu sampai malam nanti Sofea akan menunggunya pulang.
...
Vote and Like Sayang..
__ADS_1