
Kobaran api itu membakar panas tanah Alison yang semuanya menjadi rata khususnya di Istana, tak ada lagi bangunan megah tegak tinggi kokoh berkharisma, dan tak ada lagi tanah hijau luas dengan keindahan menguji mata.
Yang tersisa hanya debu dan arang sisa pembakaran dengan tanah yang retak akibat gejolak perang dari keduanya, ini memang tak masuk diakal, seorang wanita berwujud seorang Dewi Afhordite, lebih bisa kita sebut Rengkarnasi dari yang sebelumnya, Dunia ini memang bukan tempat permustahilan, semuanya berjalan dengan kuasa Tuhan tapi ada seseorang yang telah memiliki kelebihan dari kegaiban yang ada.
Mereka yang tadi berlindung dengan perisai yang dibuat Kakek Brent dan Raja Hangton yang telah lemah menahan debuan kekuatan ini, hanya bisa diam mematung kosong menatap kedepan dan sekitarnya, hanya kabut asap dari ledakan seakan Bom atom telah terjadi.
"S..Sofea!"
Gumam Renoval disela kabut yang mengurai, ia melihat sesosok wanita dengan kibaran Pakaian cantiknya memunggungi mereka. tak ada yang berani mendekat karna suasana seketika berubah menjadi kesenduan.
Tapi, Renoval tak perduli jika ia harus mati seperti yang lainnya, ia melangkah mendekati sesosok yang masih mengepalkan tangannya menatap langit yang sudah menghitam tak ada lagi Cakram yang sudah ia hancurkan.
"F..Fea!"
Lirih Renoval memanggil menatap punggung wanita itu mulai bergetar menatap keatas sana, air matanya lolos sehingga alam pun ikut menangis dengan menjatuhkan hujan biasa tanpa badai dari matanya.
"Fea!"
"A..Ard."
Lirihan yang keluar dari bibir sensualnya yang dialiri cairan bening yang seakan menjadi mutiara luruh begitu saja, tatapan penuh kesakitannya menatap keatas langit gelap tanpa apapun yang ada, hanya gejolak api yang perlahan mereda karna tetesan air hujan ini.
"A..Ard hiks!"
Brughh..
Sofea menjatuhkan dirinya sendiri ke tanah basah dibawahnya, tampilannya berubah menjadi Sofea yang biasa mereka lihat dengan kemban yang membalut tubuhnya, tangis Sofea pecah meraung dibawah rintikan hujan yang menelan semua kesesakannya.
"Aaaard!!!! a..aku mohon, hiks!"
"Fea!"
Renoval lansung memeluk Sofea yang menangis menahan rasa sakitnya, ia mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa menyelamatkan Suaminya, ia tak berguna dan bahkan ia yang pantas tiada diatas dunia ini.
"Aard hiks, sayang aku..aku mohon, jangan tinggalkan aku, Ard!"
"Dia.. dia tak akan suka melihatmu begini."
Ucap Renoval mengulus punggung Sofea yang bergetar, semuanya tak lagi berarti dalam hidupnya tanpa kehadiran pria itu, ia bukanlah apa-apa.
"Fea!"
Mama Netty mendekati Sofea yang masih menangis mencari-cari seulet tubuh kekar itu, ia tak bisa bernafas lega bahkan ia tak mampu untuk berdiri tanpa topangan dari lengan kekarnya.
"Aard hiks!"
__ADS_1
"P..Putramu!"
Mama Netty melindungi Bayi mungil ini dari tetesan hujan yang turun melalui tubuhnya walaupun begitu, semuanya tetap basah membuat Sofea melemah.
Whusss...
Sofea mengibaskan tangannya membuat kemilau merah meneduhi mereka, tangan Sofea gemetar menyentuh bedong Bayinya yang tak ada dilihat oleh Ardelof.
"A..Aku tak bisa!"
Sofea menolak karna ini tak adil, mereka berjanji akan merawat dan menggendong Buah hati mereka bersama tapi ini malah ia sendiri melihat Bayinya, ia butuh Ardelof disisinya.
Saat melihat Kakek Brent dan Raja Hangtln mendekat, Sofea tertatih dengan tubuh lunglainya berdiri menyosong mereka.
"A..Ayah, K..Kek aku.. Su..suamiku m..masih hidup, kan?"
Mereka saling pandang lemah dengan tatapan penuh harap Sofea padanya, tubuh rentan yang basa itu tampak lemah dengan kepala yang tertunduk mrmbiar bibir Sofea bergetar lansung menatap kelangit sana.
"T..Tidak hiks, dia..dai masih ada disini, hiks!"
"Fea!"
Renoval tak bisa menahan rasa sesaknya hingga ia memeluk Sofea yang sudah tak tahu lagi harus apa, ia tak bisa mengembalikan Ardelof ke Dunia ini tapi ia tak mau mempercayai kalau suaminya telah tiada.
"Aku mohon, Ardelof sudah tenang disana..."
"Suamiku belum pergi!!!"
Sofea mendorong Renoval menjauh darinya, mau bagaimanapun Dunia mengatakan Ardelof sudah tiada, ia tak akan percaya itu. ia yakin Ardelof akan kembali menjemputnya.
"Dia..dia pasti hanya ingin pergi sebentar, yah!"
Sofea menatap sekelilingnya dengn senyum nanar itu, bayangan Istana ini terlintas dipikirannya dan Sofea yakin Ardelof akan kembali menjemputnya saat ia sudah membangun Istana ini kembali.
"Dia..dia pasti menungguku di..di.. disana!"
Sofea berlari menuju tempat dimana dulu ia dan Ardelof sering kesana, yaitu Dermaga yang sudah hancur rata hanya menyisakan puing-puingnya saja. air itu juga sudah mengalir membasahi tempat yang mereka pijaki.
"Ard!!!! Sayang!!"
Mereka tak tahan melihat itu hingga berbalik tak mau melihat Sofea yang begitu tak percaya, padahal Ardelof memang sudah merencanakan kematiannya sejak dulu takut Sofea dan Putranya terkuka, mereka tak sanggup melihatnya.
"Ard!!! Sayang kau..mendengarku!!"
"S..Sudahlah, Nak hiks!"
__ADS_1
Ratu Lamoria luruh tak sanggup lagi berdiri menatap Sofea yang mulai berteriak karna tak menemukan sesosok itu.
"Ard!!! brengsek, kau..kau kalau tak menemuiku sekarang, aku..aku akan hancurkan Tanah mu ini!!!!"
Teriak Sofea menggeram dengan tubuh yang basah, ia tak perduli yang jelas oleh matanya ia harus menatap netra biru suaminya.
"Ard!!!!"
"Sofea sudah!!" bentak Raja Hangton tak tahan.
"Ard!!! hiks, aku tak bisa, Sayang hiks."
Isak Sofea mencengkram kepalanya, bayangan dimana Ardelof masuk kedalam Portal itu meledak mengurai abu membuatnya seakan mau mati ditempat bahkan ia sudah tak punya semangat untuk hidup lagi.
"Ard hiks, sayang aku tak bisa, hiks! Aku tak bisa Ardelof!!!!"
Brakkk..
Sofea membuat tanah itu menjadi retak dengan pukulan tangannya ke bawah sana, mata berair Sofea termenggu kosong menatap kedepan yang hanya ada cahaya menerangi dari langit yang tanpak mulai menunjukan cahaya mentari.
"Ard!"
Gumam Sofea saag menatap dua kalung yang tadi Ardelof genggam bersamanya dan meledak juga bersama pria itu diatas tumpukan batu sana.
Jari Sofea bergetar mengambilnya dengan bayangan yang terus memenuhi kepalanya.
"Aku sangat mencintaimu, dan Putra kita!"
Sofea memeluknya dengan penuh rasa rindu dengan bayangan Ardelof memenuhi kepalanya, dimana Pria itu mengecup bibirnya penuh cinta dan mengatakan kata Cinta dihelaan nafasnya, menghangatkan tubuhnya dan memberikan semua yang ia mau.
"S..Sayang!"
Sofea melihat bayangan itu berdiri dihadapannya, netra biru yang sama dengan senyum yang sama, menatapnya penuh cinta dengan kelembutan dan rasa hangat yang disajikan.
"Jangan begini, aku tidak suka!"
"S..Sayang!"
Sofea berbinar dan berhambur memeluk tapi sayang itu hanya kekosongan menerpa tubuh Sofea dengan kehampaan menyapanya, mata Sofea lansung menatap nanar tangannya lalu menatap kearah Ardelof tadi berdiri.
"Sa...sayang, kau..kau mempermainkan aku, kau..kau tega, Ard!!!"
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1