
Mentari pun menyapa indah dengan kilauan emasnya yang memukau wajah, senyumnya mekar tapi ia tak akan perduli dengan aktifitas manusia dibawahnya, hari ini Jadwal pekerjaan semangkin padat karna mengingat akan ada Pembukaan cabang Perusahaan yang baru jadi perancangan acaranya harus disiapkan dengan matang.
Tapi, sebelum itu mereka mengisi perutnya untuk yang kedua kalinya mereka bersama didepan hidangan Makanan yang terlihat menggirukan, sebenarnya Sofea tak bernafsu memakan-makanan ini karna Ratu Lamoria dan Raja Hangton akan pergi ke Istana Hangalay karna sudah lama disini.
"Nak, makanlah!"
"Ayah, kapan Ayah kesini lagi?"
Suara Sofea tak rela dengan mata binar kerinduan, baru beberapa hari saja ia bersama kedua orang tuanya tapi sekarang mereka kembali pulang ke Negaranya.
Melihat itu, Ardelof yang duduk merapat ke kursi Sofea dengan Stelan lengkap kerjanya hanya diam mengusap kepala Istrinya lembut menyampaikan ketenangan.
"Sudahlah, lain kali kalau aku tak sibuk aku akan membawamu ke Kerajaan Hangalay."
"Hm, aku pasti sangat merindukan kalian."
Sofea memeluk Raja Hangton yang tersenyum kecil mengecup kening mulus Sofea membuat Ratu Rosmeryna tersenyum hangat, walau Ardelof belum membuka maaf baginya tapi ia bahagia melihat semuanya berjalan dengan baik.
"Kami juga, Sayang! tapi, kau harus jaga kesehatan dengan baik dan jangan membantah ucapan Suamimu, hm?"
"Yang ada Ard yang menolakku, Bu!"
Balas Sofea membuat Ardelof hanya mengangguk membuat mereka terkekeh pelan menyudahi acara makannya, Nenek Eliz dan Kakek Brent sudah pulang tadi entah kenapa dua insan senja itu begitu tak mau lama-lama di Kerajaan ini.
"Ma, Mama juga pergi?"
"Nak, jangan bersedih terus! lagi pula Suamimu akan menjagamu dengan baik, kami hanya pulang ke Kerajaanmu, bukan pergi untuk selamanya!" Mama Netty menyelipkan candaan kecil membuat Sofea semangkin tak rela hingga ia lebih berlama-lama memeluk Kedua orang tuanya melepas rindu namun tak jua kunjung lega.
"Baiklah, mereka sudah menunggu lama di Mobil!"
Ratu Lamoria lansung berdiri hingga semuanya juga sama.
"Baiklah, terimakasih atas semua hidangan dan Kehangatan Kalian, Ratu Rosmeryna!"
"Terimakasih juga atas kesediaan kalian Berdiam disini!"
Balas Ratu Rosmeryna dengan tegas hingga Anggota Petinggi Kerajaan lansung berkumpul untuk melepas kepergian Anggota Kerajaan Hangalay dari Istana Alison penuh hormat.
Perdana Mentri Deganara dan Panglima Lester mengumpulkan semua Prajurit Kerajaan dengan Ratusan Pelayan memenuhi Lapangan didekat Dermaga, mereka berbaris berderet rapi dengan Mentri dalam Istana, dan juga beberapa Perdana Asuhan yang mewakili Rakyat Batalion.
Sofea mengiring kedua orang tuanya keluar dengan Pakaian Formalnya bersama yang lainnya dengan Raja Petra yang baru datang lansung bergabung berdiri bersama Raja Hangton dengan sesekali berbincang.
"SEMOGA SELAMAT DALAM PERJALANAN!!!!"
Suara Prajurit Kerajaan memberi salam penghormatan membungkukan separuh tubuhnya, tak lupa Team Media juga ikut didatangkan agar suasana di dalam Istana Megah ini bisa dilihat oleh semua Masyarakat masing-masing Kerajaan.
Letusan senjata dari Prajurit tempur Alison lansung meledak keatas sana dengan taburan bunga mawar yang diturunkan dari Pesawat Tempur yang membentuk pola kerajaan Alison dengan meriah membuat mereka semua lansung tersenyum terpukau akan Upacara Pelepasan kali ini.
"Terimakasih atas penyambutan dan penghantaran, Anda Yang Mulia!"
"Aku sangat berharap Putriku bisa membuat Kerajaanmu semangkin berjaya, dan aku menitipkannya pada kalian!"
Raja Hangton berucap tegas bersama Raja Petratolison yang mengangguk menatap Sofea yang sudah menangis memeluk Ratu Lamoria yang juga sama, mereka akan lama bertemu karna kesibukan antara Kerajaan masing-masing.
"Bu hiks!"
"Hey, anak cantik jangan menangis! lain kali Ibu kesini lagi, hm?"
"Berjanji padaku!"
__ADS_1
Ucap Sofea masih memeluk Mama Netty dan Ratu Lamoria yang mengangguk mengecup kedua pipi lembut ini, Ardelof hanya bisa diam karna ia mengerti kalau Sofea pasti belum puas bersama Kedua orang tuanya mengingat mereka hanya 2 hari disini.
"Baiklah, Ibu pergi, hm? jaga diri baik-baik dan Cucuku harus sehat seperti Ibunya!"
"Iya, Bu!"
Rombongan Kerajaan Hangalay melewati Karpet merah yang dibentang rapi hingga ke depan Gerbang sana dengan boyongan Anggota Kerajaan Alison memberikan penghormatan, suasana sangatlah tentram dan hikmat tanpa ada yang mendesak bersuara berisik karna Ardelof meminta agar semuanya diam tanpa memicu keramain.
Mata Sofea semangkin berair melihat Raja Hangton dan rombongannya masuk kedalam Mobil hingga ia lansung menangis tapi Ardelof segera merangkuhnya dalam pelukan hangatnya.
"A..Ard!"
"Sutt, mereka hanya pulang ke Kerajaan, nanti kita yang akan berkunjung ke sana, hm?"
"T..Tapi masih lama, Ard!"
"Hanya beberapa bulan lagi sampai kau melahirkan, kita akan pergi kemanapun yang kau suka, hm?"
Akhirnya Sofea mengangguk mengerti melambaikan tangannya pada Kedua orang tuanya yang sudah pergi dengan boyongan dan penjagaaan yang ketat, disepanjang jalan Rakyat Alison juga memberikan salam hormat memenuhi pinggir jalan hingga Sofea merasa damai karna semua orang menerimanya dengan baik.
Jipratan Media itu masih mengkilat membuat Sofea hanya memberi senyum cantiknya lalu membenamkan wajahnya ke dada bidang Ardelof yang memberi beberapa pernyataan pada Media itu.
"Yang Mulia! apa anda akan berkunjung ke Kerajaan Hangalay?"
"Hm, iya! tapi untuk sekarang banyak hal yang belum selesai, kemungkinan saat Istriku lahir!" Tegas Ardelof datar namun pasti.
"Apa Putri akan melahirkan di Kerajaan Alison, Yang Mulia?"
"Kalau tak ada halangan, tentu Penerus Tanah Alison kalian akan lahir disini!"
Prokk...Prokkk..
Mereka bertepuk tangan meriah membuat Sofea menghangat hingga ia hanya ingin memeluk Ardelof meredam rasa takutnya, ia tak mau terlalu terpatok dalam kondisi penyakitan begini.
Degg..
Sofea terlonjak kaget dengan pertanyaan itu, ia baru ingat karna saat Vanelope menghilang Beclie juga hilang tapi ia pikir Vanelope membawanya ketempat lain karna itu Putranya.
Wajah Ardelof berubah dingin, sesuatu yang sangat membuat kejanggalan tapi ia tak angin gegabah karna kali ini mempertaruhkan keselamatan Sofea.
"Kami tak tahu betul, tapi mungkin Vanelope membawanya pergi!"
"Terimakasih, Yang Mulia!"
Mereka tak berani lagi bertanya banyak hingga membiarkan Ardelof memboyong Sofea kembali menuju Istana, tapi Sofea merasa janggal hingga ia terus menatap Ardelof yang hanya diam.
"Sayang, sebenarnya apa yang terjadi?"
"Tidak ada, hanya sedikit masalah!"
Jawab Ardelof melirik kilas Raja Petratolison yang masih berbicara dengan Panglima Lester tentang pertahanan Kerajaan yang perlu diteggakan.
"Kau tambah Pengawal di Istana Selatan, karna akhir-akhir ini banyak yang menyelinap kesana."
"Baik, Yang Mulia!"
"Eh, Tunggu!"
Sofea mencegah Panglima Lester untuk pergi hingga Raja Petra lansung menatap datar wajah cantik Sofea yang dikurung lengan kekar Ardelof.
__ADS_1
"Satu lagi, Maaf Yang Mulia Raja! apa anda tak menduga kalau misalnya ada yang melakukan Pembunuhan di Kerajaan, Alison ini?"
"Maksudmu?"
"Bukan begitu, aku selalu mendengar ada Pelayan wanita yang tewas setiap malamnya. aku rasa itu juga harus butuh pengamanan."
Ucap Sofea hingga Ratu Rosmeryna lansung mendekat, ia menatap Raja Petra yang masih berdiri tegap menatap mereka datar.
"Iya, Suamiku! akhir-akhir ini banyak kejadian aneh, menurutku kita harus Memperketat penjagaan Istana."
"Itu urusanku, bukan kalian!"
Sofea lansung diam hingga ia mengunci suaranya tak mau membuat Raja Petra merasa tersinggung karna pemikirannya yang kacau.
"Istriku benar, walau aku juga ikut berperan dalam hal ini tapi Pertahanan Kerajaan hanya kau yang tahu, Yang Mulia!"
"Kau tak percaya padaku?"
Satu kata yang membuat mata Ardelof berubah menajam hingga saling tatap dengan netra biru Raja Petra, Sofea menelan ludahnya kasar merasakan lantai dibawahnya dingin menembus alas kakinya dengan Para Pengawal yang menunduk tak berani menatap wajah kedua Mahluk misterius ini.
"Aku tak pernah percaya pada siapapun!"
"Hm, itulah masalahmu. selalu ingin menang sendiri."
Tegas Raja Petra melakukan mediasi batin tapi ia tak cukup kuat melawan pertahanan Ardelof hingga ia sedikit berdehem menormalkan pernafasannya.
Seringaian Ardelof muncul melihat kalung berwarna biru yang ada dileher Raja Petra dengan genggaman tangannya ke tangan Sofea mengerat.
"Ard, bukankah Beclie pernah menemuimu saat Vanelope pergi dari Istana?"
Semua orang lansung menatap Ardelof atas pernyataan Raja Petra yang mengundang tanda tanya, Media sana juga lansung saling pandang tak berani meliput.
"Berarti kau tahu dimana, Beclie? lalu kenapa kau bilang tak tahu? Nak. kalau kau dendam jangan diperlihatkan!"
"Dari mana kau tahu kalau Beclie menemui, Suamiku? Yang Mulia!"
Degg..
Raja Petra lansung tercekat mendengar pertanyaan Sofea yang tak mau semua orang seakan menyalahkan Ardelof, padahal ia tahu betul Beclie tak akan berani menemui Ardelof sendirian.
Seketika mata mereka lansung menghunus Raja Petra yang tetap rileks tapi Sofea ikut merasa curiga dengan logat tak bijak sana ini.
"Maaf, tapi aku lihat Beclie tak pernah akrap dengan kalian, dia cerita padaku kalau dia hanya punya aku untuk berteman, apa kau tahu dia dimana?"
"Kau tak mengerti apapun!"
"Yah, aku tahu aku tak mengerti, jadi itu sebabnya Yang Mulia Raja Yang terhormat, jelaskan pada aku si wanita tak tahu apapun ini!" ucap Sofea tegas tanpa embel-embel rasa takut.
"Aku tak tahu!"
Raja Petra melangkah pergi membuat Sofea dan Ratu Rosmeryna saling pandang lalu menghela nafas.
"Maafkan, Suamiku! dia memang berubah sejak Ardelof pergi!"
"Tak apa, Bu! lagi pula mungkin ada masalah dalam dirinya sendiri."
Jawab Sofea membuat Ratu Rosmeryna damai, ia bahagia melihat Sofea tak mengadu domba Suami dan anaknya seperti Vanelope dulu.
"Baiklah, Aku pergi masuk duluan!"
__ADS_1
"Iya, Ibu!" Sofea memberi salam hingga Ardelof lansung menghadapkan wajah Sofea kewajahnya hingga wanita cantik ini sedikit mendongak.
"Jangan pernah percaya ucapannya!"