Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Kejelasan hubungan!


__ADS_3

Deru Mobil-mobil mewah itu lansung mendebu menyebrangi Jalan yang sudah diselumbungi serbuk salju yang memutih namun tak begitu menumpuk.


Kegelapan malam ini terasa mendingin menyapa keramaian yang telah berdombong menerobos Kepadatan manusia yang sedang berdombong menuju Kerajaan Mostats Kary yang akan mengadakan Pesta Pertemuan 5 Kerajaan besar yang tak main-main dalam bersua.


Gerbang dengan Besi baja yang diukir cantik itu tengah dibuka hingga Mobil-Mobil yang tadi sudah melaju pelan cepat masuk setelah menunjukan Kartu Undangannya tapi ada pelayanan Khusus bagi Kerajaan yang menjadi Bintang setiap Tahunnya.


"Selamat Datang, Yang Mulia."


Ratusan para Pengawal yang membungkukan tubuhnya saat satu persatu Anggota Kerajaan itu turun dari Mobilnya hingga sambutan para Wartawan didepan Bangunan mewah dengan luas puluhan Hektar ini mampu memukau semua mata.


Tak ada yang bisa mengedipkan matanya pada dekorasi Bangunan yang berbentuk seperti pilar berkerucut diatasnya dengan warna Coklat tua dikelilingi Hutan rimbun namun hanya pohon-pohon Pinus yang berdiri ditumpuk serbuk putih itu.


"Wow!!! aku sangat bahagia bisa datang kesini, Raja Wiliam dan Ratu Agelina." sapa Raja Hangton.


"Terimakasih, tapi kami juga sangat senang."


Mereka berbaur dengan sangat mudah dan Relatif spontan, pakaian-pakain berkelas dengan gestur sangat Elegan itu mampu membuat semua orang tak bisa mengalihkan tatapannya.


"Yang Mulia!!!"


"Salam, Yang Mulia!!!"


Sapaan agak keras para Wartawan yang membungkuk hormat seraya menjiprat lapar, para Team penanggung jawab Istana lansung berdombong mengamankan para Wartawan yang cukup histeris saat melihat Para Putra Mahkota dan Putri Mahkota Kerajaan yang ikut hadir malam gemilau ini.


Apalagi perwakilan Tokoh Masyarakat dari Kerajaan Mostats Kary yang berjumlah Seratus orang tengah menyaksikan bagaimana manusia-manusia sempurna itu tengah berpose indah lalu pamit masuk kedalam Istana yang sudah disambut jejeran Pelayan berseragam dengan Kursi yang telah disediakan di tempat Khusus bagi para Petinggi kerajaan itu.


"Apa Putrimu juga datang, Raja Hangton?" tanya Raja Wiliam yang mempersilahkan para Tamu undangan Pertemuan Jamuan malam ini untuk duduk di Meja dan Kursi yang telah disediakan didalam aula besar yang dihias begitu mewah ini.


"Putriku akan datang, dia tadi memakai Mobilnya sendiri."


"Ouhh, aku sangat senang mendengarnya! karna aku dengar Putrimu sedang mengalami masalah." singgungan itu membuat Raja Hangton dan Ratu Lamoria menghela nafas, mereka sebenarnya masih menahan amarah terhadap Keluarga Alison karna memikirkan Persahabatan mereka.


"Hanya masalah kecil dan hanya mereka yang tahu."


"Tapi aku pikir Putrimu me.."


"Wowwww!!!!!"


Teriakan diluar sana membuat kebisingan dan daya tarik perhatian Raja Wiliam dan para manusia lainnya yang ada di dalam Istana, mereka agak mendekat hingga terlihatlah seorang Wanita dengan Gaun merah maron tanpa lengan serta ikat pinggang hitam yang memperindah bentuk pinggangnya, pakaian ketat membentuk tubuh yang begitu Sexsi dengan leher jenjang yang dipertontonkan dimata semua manusia.


"Putri Mahkota Hangalay!!!!"


"Huuu!!!"


Prokkk..Prokkk..


Suara tepukan tangan yang meriah itu membuat Vanelope si cantik dengan gaya angkuhnya itu berpose Elegan namun penuh daya berkelas dari keanggunannya, ia menyihir semua mata hingga kembali menyusuri karpet merah yang terbentang panjang.


"Putri, apa benar anda sudah bercerai dengan Putra Mahkota Alison?"


"Putri, kemana Putra anda?"


"Apa anda hanya datang sendirian?"


Vanelope hanya diam menjaga raut wajahnya agar tetap Rileks melangkah masuk meninggalkan Wartawan yang saling pandang menggeleng, tak ada yang bisa mereka wawancarai meminta keterangan jelas.


"Tapi, apa kau pikir Putra Mahkota Tampan itu hadir? apalagi kan Putri Hangalay tak lagi menjadi Istrinya?"


"Sutt, dia melihatmu."

__ADS_1


Putri Gaushi lansung diam saat tatapan Vanelope seakan membunuhnya hingga mereka terbungkam ditengah pertanyaan yang bergelut, semua orang sudah hadir hanya tinggal menunggu satu Sosok yang sangat didambakan oleh berbagai kaum Wanita dimanapun.


Brummm..


"A..Apa itu Yang Mulia Prince?"


Gumam mereka gugup memeggangi dada karna jantung yang sudah berdetak kencang, ada yang memperbaiki riasan dan pakaiannya hingga terlihat Perfeck yang ada yang tak berhenti memeggang cermin agar lebih terlihat anggun dan Feminim.


"Yang Mulia."


Whusss..


Satu pijakan kaki kokoh itu mampu membuat desiran angin lansung bersenyayu menerpa wajahnya, tak ada yang berani menatap atau mendongakan kepalanya lebih lama saat Tubuh kekar dengan Tampilan Formal Pakaian khas Kerajaan memukaunya malam ini terlihat sangat Maskulin dan SEMPURNA.


Tatapan mata Elang birunya yang lurus mendatar lebih terkesan dingin dengan aura tubuh yang tak bisa digapai, 4 pengawal yang berjaga dibelakang Ardelof hanya bisa menarik sudut bibirnya kecil melihat keramaian yang tadi memekik seketika hening saat kedatangan Putra Mahkota Alison.


"Selamat datang, Yang Mulia Prince Alison."


"Hm."


Ardelof mengangguk kecil dengan satu tangan masuk kedalam saku celananya dan yang satunya lagi lepas bebas namun hati-hati dengan kibasannya. disepanjang langkah tegas itu tak ada yang berani melontarkan pertanyaan selain kepala yang tertarik kebawah dengan tubuh kaku mendingin.


"Yang Mulia Putra Mahkota Alison, senang rasanya melihat anda kembali datang."


"Kerajaanmu bagus." basa-basi Ardelof tanpa mau berlebih, ia menghentikan langkahnya dihadapan Raja Wiliam yang tadi menyosong hingga Pria paruh baya itu benar-benar salut akan pahatan Ardelof yang benar-benar sempurna sebagai seorang laki-laki, hidung mancung, raut wajah sangar namun sangat Cool dan Tampan belum lagi mata birunya yang menggoda, tapi sayang hanya keangkuhan dan wibawah yang khas itu sangat membungkam hingga mereka takut bersitatap lama.


"Maaf, tapi apa Raja Petratolison tak bisa datang?"


"Tidak, Raja punya urusan sendiri. aku rasa itu bukan sebuah masalah."


"Ouhh, tentu tidak! bahkan, kami sangat senang kalau anda Yang Mulia Prince bersedia hadir, benar bukan?"


Jawab para Wanita sana melengking karna mereka sudah meleleh saat diterpa aroma Maskulin itu, benar-benar sangat menggoda.


Tapi, Vanelope tak akan menyia-nyaiakan waktu hingga melangkah penuh keanggunan kearah Ardelof yang hanya diam menatap lurus kedepan.


"Yang Mulia, akhirnya kau datang."


"Aku tak punya banyak waktu." Tegas Ardelof lansung melangkah menuju Kursi khusus diatas Panggung yang sudah diarahkan oleh Asisten Raja Wiliam hingga mereka semua ikut duduk ketempat masing-masing membuat Vanelope mengupat.


"Sial!! dia semangkin hari sangat dingin."


Batin Vanelope geram hingga ia menormalkan raut wajahnya kembali untuk duduk di Kursi didekat Panggung yang sudah disediakan di Aula Istana hingga mereka duduk teratur dengan pengawalan yang ketat.


"Selamat malam Yang Mulia semuanya."


"Malam!!!"


Sahut mereka pada pembawa acara khusus ini dengan Media yang masuk mendekati Panggung untuk merekam segalanya hingga semuanya lansung tersiar Lansung di Kameranya.


"Terimakasih sudah hadir di Pertemuan yang sudah kesekian kali dilaksanakan, tapi yang khusus malam ini adalah Kehadiran Putra Mahkota Alison yang sudah bertahun-tahun tak menunjukan diri ke Dunia hingga sekarang ia datang bahkan lebih dari sosok dulu yang penuh kharisma dan wibawah, berikan Tepuk Tangan untuk Yang Mulia Alison."


Prokkk..Prokkk..


Mereka bertepuk gembira tapi Ardelof hanya diam, ia terus melirik jam dipergelangan tangannya dimana ia hanya punya waktu sedikit disini.


"Terimakasih, Putra Mahkota Ardelof, kami sangat senang atas kehadiran anda dan untuk Semuanya kami Kerajaan Monstats tak akan pernah lupa malam ini."


Pembawa acara yang membuka Pertemuan ini dengan sangat santai tapi pria berjas Biru pekat dengan rambut pirang itu tampak memilah kata-kata takut jika Putra Mahkota Alison ini murka.

__ADS_1


"Pertemuan kali ini akan mempererat Kekeluargaan kita semua dengan Jamuan makan malam dan Pembicaraan Bisnis kedepannya, diharapkan para Sahabat yang hadir bisa memberikan opininya dalam membangun Kerajaan kita masing-masing."


Ardelof mulai menatap Kristof yang mengerti karna Yang Mulianya punya urusan lain hingga ia menyela ucapan Raja Wiliam dengan penuh hormat.


"Maaf, Yang Mulia Raja."


"Ada apa?"


"Sepertinya Putra Mahkota ada urusan mendadak, saya akan mewakilkan beliau untuk seterusnya."


Wajah mereka lansung berubah muram karna merasa tak lagi bersemangat padahal mereka datang khusus melihat Ardelof yang sangat Tampan dengan Pakaian Kerajaannya yang berkharisma.


"Apa karna wanita itu?"


Degg..


Kristof terkejut saat Vanelope berdiri dari duduknya menatap kearah Ardelof yang hanya diam dengan tenang namun percayalah auranya lansung berubah menghitam membuat tungkai mereka mengigil.


Raja Hangalay menggeleng penuh isyarat pada Putrinya agar tak memancing keributan karna disini ada Media dan banyak orang, tapi itulah yang diinginkan Vanelope.


"Apa karna wanita tanpa identitas yang kau bawa ke Istana itu kau jadi terburu-buru, Yang Mulia?"


"Vanel!!!"


Ratu Lamoria berdiri mendekati Vanelope yang membuat semua orang berbisik, apalagi Pamannya Agreta dan istrinya Spenila yang berdiri melihat Vanelope yang ingin menangis membuat para Wartawan lansung meliput semuanya,


"Aku dan kau itu saling mencintai, Ard! kenapa hiks? kenapa kau begini?"


"A..Apa ini?"


Mereka tak percaya melihat Drama ini hingga Raja Hangalay berdiri merasa sangat malu dihadapan semua orang yang tanpa sadar menatap iba Vanelope.


"Selesaikan masalah rumah tangga kalian secara Kekeluargaan, Yang Mulia."


"Yah!!! Putri Vanelope sangat cantik dan berbakat. dia bisa dalam segala hal lalu kenapa anda menduakannya?"


Mereka bertanya pada Ardelof yang meneggakan tubuhnya berdiri membuat mereka lansung tak berani bicara dengan nyali ciut.


"DENGARKAN AKU."


Suara lantang Ardelof melangkah menuju tengah Panggung berhadapan dengan Media didepannya, kedua tangan Ardelof masih masuk ke sakunya dengan gestur yang tak bisa dirobohkan.


"Aku tak punya waktu membagi urusanku dengan orang lain, tapi karna disini juga ada Rakyat Kerajaanku, aku mengatakan kalau AKU dan PUTRI HANGALAY bukanlah SUAMI ISTRI!"


"Tapi kenapa, hiks? kita sudah punya anak, Ard!!"


Ardelof didesak oleh waktu, Jam terus berjalan hingga sekarang sudah memasuki pukul 9 malam hingga membuat Ardelof benar-benar naik pitam.


"Baiklah, jika kau mendesak maka kau jelaskan ini pada mereka."


Ardelof menatap Kristof yang lansung menekan tombol hijau di Ponselnya hingga Ponsel seluruh manusia disana bergetar dengan Notif menyebar luas membuat wajah-wajah mereka pucat menatap Vanelope tak percaya.


"A..Apa yang terjadi?"


Tanya Vanelope gugup hingga ia terlonjak kaget melihat berita yang lansung disiarkan dari Layar Lebar di Panggung dengan Ardelof yang sudah turun karna sudah tak punya waktu disini.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2