
Pesan singkat itu lansung tertera dilayar Ponselnya, mata binar penuh dengan luka yang tadi terkoyak seketika bercahaya penuh kebahagiaan, rasa percaya dirinya kembali kepermukaan dengan kebanggaan dan rencana yang sudah matang.
Kembalilah ke Istana.
Pesan singkat dari Ardelof membuat Vanelope yang berjingkrat kegirangan, darah yang bercucur dilantai disampingnya ia abaikan hingga mayat wanita tanpa pakaian itu tergeletak tak bernyawa ditepi jalan ini.
"Sudah ku duga, kau hanya menjadikannya Mainan, Sayang!"
Gumam Vanelope lalu melihat kesekelilingnya yang sepi, ia sudah sangat lapar hingga tak bisa mengkondisikan matanya saat melihat seorang wanita yang keluar malam-malam begini sendirian tanpa teman, tentu kesempatan baginya menghisap Semangat dan Jiwa wanita itu hingga hanya meninggalkan bangkai yang dibalut kulit tipisnya.
Karna tak ingin tahu oleh semua orang, Vanelope menghempaskan tangannya hingga CCTV dijalan ini mati dan terhapus barulah ia melangkah pergi.
"P..Putri!"
Seorang pengawal laki-laki yang tampak gugup diseberang sana karna ia tadi melihat segelanya setelah Vanelope meminta untuk menunggu di Mobil, tak ia sangka ada Mahluk seperti itu di Dunia ini.
Wajah Vanelope bertambah cantik dengan aura yang pekat, binaran gairah itu tampak jelas terpancar membuat pengawal itu hanya diam membatu dengan kepala tertunduk.
"Kau tatap mataku."
"P..Putri saya.."
"Mau sepertinya?"
Pengawal itu lansung menatap mata indah Vanelope yang awalnya berwarna kecoklatan tapi tiba-tiba matanya lansung berubah merah menyala seperti lentera darah hingga membuat Pengawal itu terperangak kosong seakan tak bersemangat.
"Lupakan kejadian tadi, kau hanyalah seorang pengawal yang tak tahu apapun soal malam ini!"
"Baik!" satu anggukan dengan kekosongan membungkus malam yang begitu menyeramkan ini. hembusan kabut hitam itu semangkin membuat kepekatan terjadi hingga kesadaran pria itu kembali ke permukaan menatap Vanelope penuh hormat.
"Silahkan, Yang Mulia!"
Vanelope menyeringai iblis hingga ia masuk dalam Mobil ini mengibas rambutnya dengan sangat anggun dan penuh rencana.
"Ke Istana Alison!"
"Baik!"
Mobil itu melaju Stabil membelah dinginnya malam ini, Vanelope tengah berfirkir apakah Ardelof tahu tentang dirinya yang sebenarnya atau tidak.
Jika dalam bentuk Manusia biasa seperti ini, ia akan mudah masuk kedalam Istana itu hingga menemui sang kekasih hatinya.
...........
Wajah cantik itu sangat gelisah ditempatnya, entahlah mungkin karna ia tak terbiasa tidur tanpa Ardelof hingga sekarang ia dihapit oleh dua Tubuh yang yang sangat ia Cintai, Raja Hangton dan Ratu Lamoria yang masih menganggapnya si Kecil tapi Sofea memakluminya mengingat mereka baru saja bertemu selama 21 Tahun lamanya.
"Ibu!"
Bisik Sofea ke telinga Ratu Lamoria yang memeluknya,Namun mungkin karna kelelehan mereka tak sadar lagi apalagi ini sudah Jam 2 dinihari, Sofea mengurungkan niatnya minta temani keluar.
__ADS_1
"Bu, Ayah! Aku keluar dulu."
Pamit Sofea perlahan-lahan bangun dari atas Ranjang King Size ini dengan hati-hati melepas pelukan Ratu Lamoria ketubuhnya dengan Raja Hangton yang juga memeluknya hangat hingga beberapa menit kemudian Sofea merasa lega karna ia berhasil turun ke lantai sana walau penuh perjuangan.
"Emm, Nak!"
"Eh."
Sofea terperanjat saat Raja Hangton membuka matanya karna peka akan pergerakan Sofea yang memberi senyum cantiknya tanpa beban membuat Raja Hangton lansung beringsut duduk.
"Nak, kau mau kemana?"
"Ayah, aku mau keluar sebentar, hanya sebentar ke kamarku!"
Raja Hangton tersenyum kecil mendengarnya, ia turun dari ranjang dengan kesadaran yang sudah kembali kepermukaan membuat Sofea menyeringit.
"Ayo, Ayah antar!"
"Yah, ayolah! dari sini dekat cuman berjarak satu lantai."
Decah Sofea tak ingin menganggu tapi Raja Hangton tak mau mendengar hingga ia menggenggam tangan Sofea dan melangkah keluar dengan Pakaian Tidurnya biasa, Sofea pasrah mengikuti langkah Raja Hangton yang sangat menjaganya hingga keluar kamar.
"Lain kali, jangan suka keluar sendirian, hm?"
"Iya, Ayah! tapi biasanya Ard, yang menemani tapi kan dia tak ada disini."
"Kenapa dia bisa bertemu denganmu?" tanya Raja Hangton yang mengiring Sofea masuk kedalam Lift yang lebih Instan dari pada lewat tangga.
"Saat itu Tuan Edgar mau menjualku ke.."
"Menjual?"
"Ayah, itu hanya masa lalu! sekarang aku tak tahu mereka dimana."
Sofea mengelus lengan Raja Hangton yang mulai naik pitam mendengarnya, bajingan itu seenaknya saja memperlakukan Putrinya seperti ini padahal Vanelope ia perlakukan bak seorang Ratu di Dunia ini.
"Dia memang sangat brengsek! tak akan, Ayah biarkan dia hidup di Dunia ini."
"Ayah, sejak aku menikah dengan Suamiku, mereka sudah hilang, aku tak tahu dia kemana?!"
Jelas Sofea menunggu Lift terbuka dengan mata yang berat, ia mengantuk tapi sayangnya matanya tak mau terpejam sebelum bertemu dengan pria itu.
"Ayah, sampai disini saja! Ayah kembalilah ke Kamar."
"Nak, Ayah.."
"Ibu sendirian, Yah! pasti dia mencari Ayah nanti, aku bisa sendiri, lagi pula hanya beberapa langkah saja."
Akhirnya setelah berbagai sangahan dari Sofea Raja Hangton mengalah, tapi ia memandangi Sofea yang melangkah keluar menuju pintu kamarnya hingga saat Putrinya sudah masuk barulah ia tenang kembali menutup Lift.
__ADS_1
Sedangkan Sofea, ia sudah mematung didepan pintu kamar tapi tak menemukan siapapun dan suasananya juga remang membuatnya menyeringit.
"Kenapa tak dinyalakan lampunya, Ard?"
Gumam Sofea hati-hati melangkah menuju dinding disampingnya untuk menghidupkan Saklar lampu Manual, biasanya semua Stelan ini ada di Ponsel Ardelof agar ia tak bergerak menghidup dan matikan semuanya
Takk...
Lampu menyala hingga memperlihatkan semua rupa ruangan yang baru beberapa jam ia tinggal, dahi Sofea mengkerut melihat Ranjang King Size berwarna hitam itu kosong dan masih rapi tak ditemukan orang diatasnya.
"Ard!! Sayang!"
Panggil Sofea melangkah kedekat ranjang, ia meraba permukaan selimut yang mendingin hingga dugaan Sofea memungkinkan sangat pasti Ardelof belum kekamar setelah pamit pergi bersama Kakek Brent tadi.
"Sayang!!!"
Sofea terus memanggil hingga ia berfikir Ardelof tengah ada di Ruang kerjanya, Sofea menghela nafas halus mengambil Ponselnya yang tak ia buka sedari kemaren didalam Tas untuk menelfon Ardelof.
"Shitt, apa sesibuk itu hanya untuk menjawab Telfonku?"
Gerutu Sofea terus menelfon walau hanya suara Operator yang menjawab membuat ia gelisah, Tirai Balkon terbuka hingga membuat Sofea mendecah resah melangkah mendekat kearah sana karna tak mungkin malam-malam begini Tirai masih belum ditutup.
"Dia terbiasa setelah ku suruh buka maka dari pagi akan dibuka sampai dinihari."
Rutuk Sofea menggapai peggangan Trai yang tertiup angin hingga ia terus berusaha menutup agar angin ini tak semangkin kencang.
"Haiss, Aku bisa masuk angin karnamu!"
Sofea bergumam kecil merapikan Tirai yang bergejolak, namun mata Sofea menangkap sesuatu dati arah Dermaga yang sangat aneh dimana lampu-lampu yang biasanya terang berubah meremang membuat pikirannya jangal.
"Kenapa jadi begini?"
Gumam Sofea yang memakai Piyama merah tidurnya karna tak mungkin ia memakai Gaun tipis itu saat tidur bersama kedua orang tuanya.
Langkah Sofea terus mendekat diselingi tepisan angin yang menguat bahkan menerbangkan surai hitamnya nan panjang menambah kesan yang sangat cantik dan Imut.
Whuss...
Satu kibasan angin itu membuat langkah Sofea terhenti memfokuskan penglihatannya kearah yang gelap, satu kilat cahaya merah tampak menyabit didekat Dermaga yang sepi dan sunyi.
"I..Itu.."
Sofea mencengkram pagar pembatas Balkon saat melihat ada kabut hitam yang tengah menyelimuti Dermaga dengan dua Mahluk aneh yang tengah saling berhadapan satu sama lain, Tubuh kekar berjubah itu tengah membelenggu satu Mahluk hitam yang menyala-nyala dikegelapan membuat mata Sofea terbelalak saat mata merah dan wajah Menyeramkan dengan urat biru dipipinya itu lansung membuat Sofea terperanjat hingga entah dari mana ada sesuatu yang mendorong punggung Sofea ke bawah Balkon.
"Ard!!!!!"
Teriakan Sofea tertelan hingga jatuh ke bawah sana.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..