
"Hey!!"
Sofea berbalik saat mendengar suara itu, ia terkejut sekaligus lega melihat siapa yang tengah berdiri dibelakang tubuhnya tengah memeggang lentera sebagai penerangan. rambut Silvernya tampak mengkilap ditutupi Jubah hitam itu seraya memeggang ujung Dress milik Sofea.
"Kau? kenapa kau kesini?"
"Seharusnya aku yang bertanya. kenapa kau disini?"
Sofea begitu gugup seraya menatap wajah mungil dengan telinga lancip Quxi yang tampak menatapnya dengan begitu tajam, bahkan bocah ini seakan menghakimi Sofea dengan sangat menyeramkan.
"A..Aku tadi menghindar dari Pelayan, Istana!"
"Kau salah besar. Yang Mulia Drak bisa marah dengan semua ini." Tekan Quxi seraya menarik Sofea untuk kembali keatas, dengan pincang berjalan seraya mengigit bibirnya menahan sakit Sofea terus mengikuti langkah Quxi yang tampak mendingin membuat rasa penasaran Sofea semangkit kuat pada ruangan ini.
"Aass..."
"Kau, kenapa?"
Quxi menghentikan langkahnya saat Sofea meringis bersandar ke dinding, wajah wanita itu sudah pucat saat sudah ada didekat tangga Utama melihat Quxi yang Syok menatap darah yang berceceren dilantai ini.
"K..Kakimu.."
"Aku..Aku tak apa! ini hanya luka kecil, Xi!"
"Ini luka kecil kau bilang? nyawaku yang akan jadi taruhannya."
Bantak Quxi sangat frustasi hingga ia tampak gemetar karna merasakan aura Yang Mulianya sudah mendekat ke Istana, melihat itu dengan cepat Sofea melepas bagian Blezer Dressnya hingga ia berjongkok membersihkan darah dari pembatas gelap dan terang tadi.
"Aku akan membersihkannya!"
"Waktuku tak cukup, kau memang benar-benar!"
Umpat Quxi lansung melakukan pekerjaan itu dengan cepat, ia mengikat luka ditumit Sofea seraya menarik wanita itu kembali keatas sana hingga Sofea mau tak mau harus menurut karna ia tak ingin Quxi yang terkena imbasnya.
.......
Langkah tegas pria itu terhenti saat dua pasang tatapan Elang itu tengah menunggunya di ruangan sana hingga ia menghela nafas berat seraya melonggarkan Dasinya menepis sapaan para Pelayan yang menyambut hormat melanjutkan jalannya kembali.
Senyum Ratu Rosmeryna mekar saat melihat wajah Tampan Putranya yang tak berlebihan menunjukan raut lain selain wajah tanpa bisa diterka, Ardelof memberi salam hormat lalu duduk di Sofa Singelnya penuh kegagahan dan kharisma sementara Kristof berdiri dibelakang kursi Yang Mulianya.
Topangan kaki angkuh dan dua tangan dikedua sisi Sofa itu menambah kesan Cool dan dingin hingga membuat Ratu Lamoria mengaggumi Menantunya ini, pantas saja Putrinya Vanelope begitu mencintai Putra Mahkota Alison ini.
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Raja Hangton tegas.
"Aku memutuskan untuk menceraikan Vanelope!"
Duarr..
Raja Hangton lansung berdiri menatap murka Ardelof yang hanya diam menatap lurus tanpa ada guratan apapun selain kepastian, yang jelas dimata Ardelof hanya rasa kebencian akan nama wanita itu.
"Apa kau bilang? Perceraian katamu?"
"Hm, Putra yang sekarang bersama Putrimu itu bukan anakku dan aku tak pernah memiliki anak dengan Putrimu!"
"Kauuu!!!"
"Dia sudah berhubungan dengan Putra Panglima di Kerajaanmu setelah Perjalanan Pekerjaanku, saat kembali dia sudah berbadan dua dan aku tak pernah mengampuni PENGKHIANATAN!"
Raja Petratolison membiarkan Ardelof bicara karna ia tak bisa memungkam pria ini, lagi pula semuanya sudah terlalu jelas hingga ia tak bisa lagi menutupi kebusukan dari Putri sahabatnya itu.
Semua pernyataan Ardelof hanya dijawab sunggingan senyum miris dari Raja Hangton yang benar-benar tak menyangka, ia yakin ini semua karna wanita yang ada di Media itu hingga Ardelif berani brkilah menyalahkan Putrinya.
"Woww!!Aku sangat salut pada Putramu, Petra! dia selalu saja pandai bermain drama seakan-akan dunia ini hanya miliknya saja!"
"Dia benar!"
Degg..
Raja Hangton dan Ratu Lamoria bertambah terkejut mendengar ucapan yang keluar dari Mulut Ratu Rosmeryna yang tampak sudah pasrah menatap wajah datar Ardelof yang tengah meredam amarahnya.
"K..Kau.."
"Putrimu Vanelope telah mengkhianati Putraku selama bertahun-tahun, selama ini Ardelof diam karna dia memikirkan nama baik Kerajaanmu dan tak perduli dengan hidupnya, tapi sekarang aku tak tahu, Ratu Lamoria. Putraku mungkin sudah tak bisa lagi berhubungan dengan Putrimu!"
__ADS_1
Raja Hangton dan Ratu Lamoria saling pandang antara percaya dan tidak, mereka menatap rumit wajah-wajah Anggota Kediaman Alison dengan sangat perih.
"Berikan ini padanya!"
Degg..
Mereka lansung dibuat meneggang saat Ardelof menyerahkan Map dan kertas diatas meja dari tangan Kristof yang hanya melihat bagaimana keputusan Yan Mulianya, walau nanti Putri Vanelope tak akan setuju dengan semua ini.
"K..Kau.."
"Ini keputusanku, dia sudah tahu kalau aku akan menceraikannaya resmi. dan ini saatnya, dia hanya perlu menandatangani ini. itu sangat mudah, bukan?"
"Petra! aku sangat kecewa padamu!"
Raja Hangton memboyong Pengawal dan Istrinya pergi dengan rasa murka dan dongkol yang teramat membuat Raja Petratolison terdiam mengepalkan tangannya kuat seakan menyerap nafas Ardelof yang tak bisa tinggal diam hingga membalasnya dengan membatin.
"Kau lihat? kau pikir dengan menceraikan Vanelope kau akan mendapat lebih baik? Tidak, hanya dia Putri Tercantik, hanya dia Putri serba bisa yang terkenal sangat berkelas membanggakan. pada siapa kau mencarinya, ha?"
"Yang jelas itu bukan urusanmu!"
Tegas Ardelof berdiri melangkah pergi meninggalkan Raja Petratolison, netra birunya menagkap aura yang megerikan itu dan pasti pria paruh baya dengan rumor tegas dan pengapdi Istana itu akan melakukan berbagai cara agar ia merubah keputusanya.
"Kau pergilah, aku sudah selesai!"
"Baik, Yang Mulia!"
Kristof membungkuk lalu melangkah pergi membiarkan Ardelof naik kedalam Liftnya, wajah Ardelof tampak sudah sangat letih bekerja dan memikirkan urusan Ruamah Tangganya yang tak kunjung selesai dan Ardelof menjamin kalau ia akan tetap bercerai hari ini juga walau Vanelope akan membuat kekacauan.
Namun, Ardelof merasa lebih tenang karna ia tak sabar untuk bertemu dengan seorang wanita yang telah membuatnya selalu ingin cepat pulang tak seperti biasanya.
Tingg..
Pintu itu terbuka, dengan langkah lebar tegapnya Ardelof keluar menapaki lantai menuju kamarnya, ia melonggarkan Dasinya lagi hingga terlepas seraya melihat jam tangan berharga fantastis itu dimana Jam sudah menunjukan pukul 18:30 menit dan ia belum seleasai bekerja. setelah urusan Perusahaan maka Ardelof akan membantai otaknya dengan urusan Istana saat malam harinya. benar-benar sangat melelahkan.
Prank..
Ardelof tercekat saat mendengar pecahan didalam kamar sana hingga ia lansung mendorong pintu keras memaksa masuk ditengah raut khawatirnya.
"Kau..!!"
"Awas!!"
"K..Kau..Kau sudah pulang?"
"Kau sudah gila, ha? itu beling bisa saja membunuhmu!"
Geram Ardelof mencengkram kuat bahu Sofea yang hanya membungkus rasa sakit ditumitnya dengan senyuman kecil berpeggangan ke bahu kokoh Ardelof yang mengeraskan wajahnya melihat ceceran darah dilantai.
"Kauuu!"
Bughh..
Tubub Sofea dihempaskan keatas ranjang dengan kedua kakinya terjulur kebawah akan dorongan satu tangan Ardelof yang tengah menatapnya dengan penuh amarah.
"Kau ingin mati bukan begini caranya, kau tahu!!!!"
"M..Maaf, tadi..tadi aku hanya.."
Ardelof melepas Jasnya cepat seraya menggeser pecahan gelas itu menjauh dari lantai didekatnya seraya berjongkok melihat darah yang sudah bercecer membuat kekelaman itu terlihat mendidih.
"A..***, Sakitt!"
"Kau sangat ceroboh! kau bukan anak kecil lagi tapi kelakuanmu seakan kau adalah bayi baru lahir." Geram Ardelof seraya memeriksa luka di tumit Sofea hingga melihat tancapan beling di Tumit wanita itu seukuran kuku jari kelingking manusia, dengan hati-hati disertai kegeramannya Ardelof mengobati dengan telaten bahkan sampai menjadikan Kemejanya sebagai penjagaan agar beling didekatnya tak mengenai Sofea lagi.
Lama, Sofea memperhatikan Ardelof yang meniup luka dikakinya lalu memeggangnya pelan seakan ia akan mati jika luka ini dibekap kasar.
"L..Lukanya?"
Sekali lagi Sofea dibuat terkejut saat luka dikakinya dapat disembuhkan dengan cepat oleh Ardelof yang seperti memberikan Energi baru padanya lewat sentuhan lembut pria itu hingga wajah Sofea melamun kosong.
"Buka pakaianmu!"
"Ha??"
__ADS_1
"Kau tak dengar?" Geram Ardelof.
"Buka pakaianmu!!!"
Sofea agak canggung hingga ia menggeleng membuat Ardelof habis kesabaran. Namun, Sofea terpekik saat tubuhnya malah dikungkung Ardelof dengan kedua pahanya. tangan pria itu menarik Dressnya hingga tubuh Sofea lansung menampakan kuasanya.
"Apa-Apaan kau, ha?" Sofea menutupi bagian dadanya seraya menepis tangan Ardelof yang ingin melihat setiap lekuk tubuhnya.
"Perlihatkan padaku, kau itu sangatlah ceroboh!"
"Aku tak apa! heyy!!!"
Ardelof membalikan tubuh Sofea hingga memunggunginya, dengan cepat Ardelof melihat paha mulus Sofa yang masih tetap pulen nikmat dengan semua lekuk pinggang dari ujung kaki dan ujung kepala wanita itu tak luput dari penelitiannya.
"Buka mulutmu!"
"Aku.."
Grett..
Akhirnya Sofea mengadah membuka mulutnya dengan Ardelof yang lansung menyambar bibir bawah Sofea kuat sampai tertarik beberapa senti karna ia mengigitnya membuat wanita memekik eras.
"Aaaaasss!!!"
Ardelof melepas hisapan Plus gigitannya itu dengan seringaian iblisnya, ia masih menduduki remang punggung Sofea yang begitu geram hingga ia mengumpat kasar.
"Kau berat!!! Uhukk!"
Srett..
Ardelof menarik rambut panjang Sofea agak kasar hingga membuat kepala wanita itu kembali mengadah menatapnya tajam tapi itu sangat menggemaskan.
"Kau mau aku apakan pelayan di sini?"
"A..Apanya?"
"Kau mau membunuhnya?"
"Jangan!!!"
Sofea menggeleng pucat takut Ardelof tahu kalau tadi ia keluar kamar hingga membuat amarah pria ini meledak.
"A..Aku.."
"Bocah kecil yang menjagamu, dia yang bertanggung jawab dengan keadaanmu!"
Mendengar suara Ardelof yang berubah tak bersahabat, Sofea lansung berbalik hingga wajahnya dan wajah pria ini saling berhadapan menatap penuh guratan masing-masing.
"Itu sebuah kecerobohanku!"
"Itu kesalahannya!"
"Ard!"
Degg..
Ardelof meneggang saat suara Sofea memanggilnya terkesan sangat lembut mengalun menyentuh hatinya.
"A..Ard?"
"Kau tak suka? ba..baiklah aku minta maaf yang Mu.."
"Aku suka!"
Sofea lansung memerah membuat tatapan Ardelof melemah hingga perlahan tangan Sofea meraih pelan kepala Ardelof yang tertunduk memperbaiki posisi tubuhnya dan akhirnya ia membenamkan wajahnya keceruk leher Sofea yang membelai kepalanya lembut yang tak pernah ia dapatkan dari siapapun.
"Maaf, aku janji aku tak akan begitu lagi!"
"Hm!"
Ardelof hanya mengangguk memejamkan matanya menikmati semua ini, entahlah ia sudah tak tahu akan rasa lelah dan letihnya saat bekerja karna semua ini sangat nyaman baginya.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang