Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Membayang masa depan!


__ADS_3

"Ard!!!!!"


Ardelof hanya menahan keggelian melihat Sofea berteriak kencang namun seketika wanita cantik ini sadar tengah dikerjai Suaminya sendiri hingga ia lansung memukuli dada bidang Ardelof yang berusaha menahan tawa.


"Dasar!! Dasar!!!"


"Hey, sudahlah. aku tak melakukan apapun."


Ucap Ardelof meloloskan kekehannya menagkap kedua tangan lembut Sofea yang menatapnya dengan mata melotot dan wajah ditekuk dengan kedongkolan yang menggunung, dada sintal begitu spesial itu turun naik membusung menahan keggeraman.


"Kenapa kau sangat menyebalkan, ha?"


"Karna aku Suamimu, jadi harus menyebalkan!"


Jawab Ardelof meniup belahan dada Sofea yang lansung berbalik memunggungi Ardelof tapi ia masih ada dipangkuan kokoh pria ini.


"Haiss, aku kira memang ada Buaya! nyatanya kau yang buaya."


"itu makanya kalau Suamimu belum mengijinkan, jangan bergerak sedikitpun!" jawaban Ardelof sangat Egois membuat Sofea menggerutu mencubit paha Ardelof yang hanya bisa tersenyum kecil.


"Jangan manyun begitu, kau jelek!"


"Hm, Kalau aku jelek, kenapa kau mau padaku?" tanya Sofea ketus membiarkan Ardelof berpangku dagu ke kepalanya dengan kedua tangan mengelus perut Sofea yang sudah lebih membunjul.


"Karna.."


"Karna aku cantik! betulkan?" Sofea berucap bangga namun Ardelof menggeleng membuat dahinya mengkerut.


"Karna kau sangat memuaskan!"


"Ard!!! jawabanmu sama dengan Pria hidung belang diluar sana."


Gerah Sofea tak suka membuat Ardelof hanya menyunggingkan senyum kecil, ia mengecup pundak polos nan putih wanita ini seraya meraba bagian atas Tubuh Istrinya.


"Selain cantik dan memuaskan. kau juga si Ceroboh dan keras kepala." Ardelof membenturkan pelan keningnya ke kepala Sofea yang terdiam.


"Sayang!"


"Hm?"


"Maafkan aku."


Satu kata yang lolos dengan wajah yang tertunduk membuktikan penyesalannya, ia merasa begitu ceroboh dan sangat membebani Ardelof yang mempunyai banyak musuh dimana-mana hingga pria ini terus mengorbankan tenaganya hanya untuk keselamatannya.


"Untuk apa?"


"Aku ceroboh, kalau saja aku tak datang ke pantai itu pasti kau tak akan.."


"Jika tidak datang, kau tak akan bertemu dengan Kakakmu!"


Degg..


Sofea terkejut mendengar pernyataan Ardelof hingga ia berbalik menatap wajah datar Ardelof yang begitu tampan menatapnya lembut.


"K..Kau.."


"Hm, sebelum aku bertemu di Resort itu! aku sudah mencari tahu semuanya, bahkan saat pertama dia bertemu denganmu dan kau terlihat sangat dekat."


Jawab Ardelof tegas, dulu ia merasa Renoval bukanlah pria sembarangan yang bisa mendekati Sofea begitu saja dan Istrinya juga seperti tak menolak. dari situ Ardelof mengambil kesimpulan untuk membiarkan keduanya dekat sejauh mana ada rasa itu.


Dan akhirnya saat menyetujui pertemuan di Resort kemaren, Ardelof mendapat laporan semua tentang Renoval yang merupakan Nevallo yang telah dikatakan meninggal dan berita mengejutkannya adalah Renovall melihat secara lansung kalau Raja Petra yang sebenarnya itu telah dikurung didalam Portal yang sudah terkunci hingga Raja yang palsu menggunakan Kalung kekuatan Raja Petra asli untuk mengelabui mereka, itu karnanya tak ada yang mendeteksi semua kebohongannya.


Ardelof menceritakan itu pada Sofea yang sangat terkejut mendengarnya, berarti Raja yang selama Ardelof kecil itu bukanlah Ayahnya yang asli.

__ADS_1


"S...Sayang, tapi..tapi kenapa kau bisa punya Klan Black-Clover yang sama dan tunduk padamu?"


Tanya Sofea penasaran hingga membuat Ardelof terdiam beberapa saat meraih kepala Sofea hingga ia peluk dekap hangat didadanya.


"Dulu..!"


Flasback On..


Tatapan kemurkaan itu meruak saat melihat semua Foto dihadapannya, wanita yang telah ia Cintai dengan begitu sangat malah menghancurkan semua harapannya.


Kepalan tangan Ardelof menguat meremas Bukti-Bukti ini, sudah 3 Tahun ia menahan ini tapi sekarang tidak lagi, ia sudah lelah untuk diam ditengah Pengkhianatan yang tak akan pernah ia lupakan.


"A..Ard!"


Lirih Vanelope yang terkejut saat Lemre putra Panglima diKerajaannya telah dibunuh tepat dihadapannya, pria muda itu telah tewas dengan tubuh penuh darah tepat diruangan kerja Ardelof yang sudah kelam.


"Beraninya kau, Sialan!!!"


Whusss..


Brakk..


Tubuh Vanelope membentur dinding dengan darah yang keluar dari mulutnya, mata Ardelof begitu murka dengan netra biru mengusung kekecewaan, rasa sakit atas semua Pengkhianatan ini.


"A..Ard hiks, m..maafkan aku!"


"Kau wanita yang paling kotor yang pernah aku lihat dan kau.."


"A..Ard!!"


Vanelope mencekik dirinya sendiri akibat kekuatan Ardelof yang sudah tak bisa mentolerir ini, bahkan suara retakan itu bisa didengar dengan jelas membuat Ratu Rosmeryna yang melihat dari luar lansung mendekat.


"Ard!!! Hentikan!!"


"Ard!! Hentikan!!"


Brakk..


Ardelof melempar tubuh Vanelope ke Balkon didekat ruangannya membuat Ratu Rosmeryna menjerit keras melihat Vanelope yang berlumuran darah dan juga Lemre yang sudah tak bernyawa ditempat ini.


Ratu Rosmeryna tak mampu menatap Ardelof yang sepertinya sudah puas menanggung sakit selama ini hidup sebagai ayah dari buah perselingkuhan Istrinya.


"N..Nak!"


"Mulai sekarang, dia bukanlah Istriku!"


"Ard!!! hiks, maafkan aku!!" Teriak Vanelope terbatuk sakit.


"Ard, kau tahu! Ibu juga tak mau, Nak! tapi bagaimana tentang Kerajaan kita? Ayahmu pasti tak akan menyukai ini."


Ardelof hanya diam lalu melangkah pergi meninggalkan semuanya, ia pergi dari Istana menuju ke Wilayah Hitam didaerah barat yang jauh dari yang namanya kehidupan manusia. Ia pergi sendiri, tanpa teman atau seseorang yang menyertai langkahnya.


Setiap Tahun Ardelof selalu membenahi dirinya dengan mempelajari berbagai Ilmu Kebatinan dan Sihir menyihir, mengembangkan ajaran dari Gurunya yang sudah tiada dan mencari Pasukannya sendiri.


Dari situ Ardelof tahu, di dunia ini mereka tak hidup sendiri, ada Alam lain yang sama seperti mereka tapi bentuknya beragam, ia melakukan Meditasi di Laut Hiyaman tepatnya di Desa Huko tempat Pedalam Ilmu Sihir.


"Marymous!"


Ardelof membaca satu Mantra yang membuat satu Desa ini menganggapnya seorang Pemimpin, Ardelof bisa mengusir para Penyihir Ilmu hitam yang sering menumbalkan Manusia sebagai kekuatannya, namun ada satu Klan yang berasal dari Dimensi ketiga dan itu adalah Kaum Asap atau disebut orang sekitar Black-Clover yang ternyata sudah ada sejak lama.


Hanya orang-orang tertentu yang bisa merasakan keberadaan mereka yang tak sepenuhnya bisa turun ke Dunia Manusia, sejak Pertempuran besar dua Kerajaan dulu Portal Dimensi gelap teratas terbuka dengan Cakram Grimoire berdaun lima emas yang juga telah dibuka hingga membuat semua Mahluk di Dimensi itu turun dan membentuk Kelompok yang sekarang semangkin mekar yang dipimpin oleh Deugon seorang Mahluk yang sangat jahat yang sangat berambisi menghancurkan dua Kerajaan yang dipimpin Raja Hangton dan Petra.


"Saat perang terjadi, Grimoire berdaun lima emas memecah Tubuhnya dan Jiwanya dengan ledakan yang dahsyat hingga ia pecah menjadi dua bagian, yang Positif dan Negatif! semuanya akan disatukan didalam satu Tubuh yang akan menentukan apa dua Tanah Kerajaan ini akan makmur saat ia menunjukan kekuatannya atau Kerajaan ini akan hancur dengan kehadiran dari bagian dari dirinya."

__ADS_1


Kalimat yang selalu Ardelof ingat ketika selalu berguru diberbagai jenis keilmuan, dari situ ia ambil kesimpulan kalau kelak akan ada yang datang sebagai Wujud seorang Ratu Mahadewi Galaksi tapi jika tak dikendalikan dia akan menjadi Ratu penghancur di Negeri ini.


Deugon hanya bisa dibunuh saat Portal dibuka dengan mengurungnya diatas sana.


Ardelof dan Black-Clover sudah pernah berperang hingga Ardelof mengalahkannya membuat separuh kelompok mereka tunduk, namun dari situ entah kenapa Rajanya tak pernah menampakan diri dan selalu menyerang dibawah anak buah. dan jawabannya ternyata ada di Istana.


Flashback Of..


Sofea terkejut dan mematung lama mendengar cerita Ardelof yang melarutkan waktunya, ia meraba perutnya dengan lembut seraya mata termenggu kosong.


"Dan itu adalah kau! saat kau melahirkan, Jiwa Sucimu akan terbelah menjadi dua antara Putra kita dan ada lagi kekuatan jahat yang hadir mengincar nyawa kalian, disaat itu semuanya tak akan tahu apa yang terjadi setelahnya."


Sofea hanya diam, begitu berat rasanya hidup didunia ini dengan berbagai Resiko hidup yang ditanggung, tapi Sofea hanya tersenyum memikirkan bagaimana rumitnya takdir ini.


"Kau tahu, tak ada yang bisa menebak esok akan terjadi apa dan bagaimana cara menghadapinya. kita hanya bisa menerima sesuai pemikiran sendiri, tapi aku percaya."


Sofea menjeda ucapannya menatap Ardelof yang juga memandangnya, keduanya sama-sama memiliki hal yang ditakuti dalam hidup ini.


"Aku tak takut mati, tapi! aku takut berpisah dengan orang-orang yang sangat aku cintai!"


"Hm, apapun yang terjadi tetaplah bersamaku. aku tak akan bisa hidup tanpamu, Sayang!"


Sofea tersenyum hangat memeluk Ardelof yang juga mendekapnya, membayangkan saja mereka berdua sudah tak mau hidup lagi. dimana tempat ada bayangan dan kisah, bagaimana jika itu hilang dan mereka hanya bisa mengenang masa indah ini saja.


"Jika kau merindukan aku, pejamkan matamu dan ingat kalau kita selalu ada dimana tempat."


Bisik Sofea dijawab gelengan Ardelof yang tak mampu mengenang, lebih baik ia yang pergi dari pada ditinggal dalam kenagan.


"Tidak akan, aku mengambil sumpah untukmu kalau.."


"A..Ard, sudahlah! aku.."


"Kalau kau pergi maka aku harus ikut!"


Sofea akhirnya menangis mendengarnya seraya merutuk Ardelof dengan rasa sesak ini.


"S..Sayang hiks, k...kalau kita pergi, bagaimana de..dengan anak kita?"


"Semuanya akan menyayangi Anak kita, akan banyak yang memberikannya Cinta diatas Dunia ini."


Jawab Ardelof tanpa takut akan kematian, jika ingin memilih Ardelof ingin lari membawa Istri dan anaknya pergi menjahui ancaman masalah, tapi sayangnya Kematian terus mengejar mereka.


"Dan jika kau yang pergi, m..maka aku.."


"ُKau tetap tinggal!"


"Ard!!!"


Sofea menatap Ardelof dengan raut wajah tak suka, tapi Ardelof hanya menatapnya serius dan penuh ketegasan.


"Memang aku tak mau kau dimiliki orang lain, sama sekali tak mau! tapi, jika aku sudah tiada untuk apa aku menyiksamu dengan kenangan, hm? jika ada yang lebih baik dari aku. dia mencintaimu lebih dari aku mencintaimu maka berbahagialah, aku juga pastikan akan senang."


"T..tidak, aku...aku tak mau membahas ini."


Sofea menyudahi ucapan Ardelof yang serius, walau belum terjadi tapi ia tipe pria yang tak mau melihat Istrinya terus mengemban luka mengenangnya, lebih baik ada pria lain yang lebih baik darinya walau Ardelof seakan mau berhenti bernafas memikirkannya.


"Itu hanya bayangan, sekarang kita fokus pada masa sekarang!"


"Terserah kau saja, aku mau mandi!"


Acuh Sofea mengusap air matanya lalu beringsut turun dengan Ardelof yang segera mengikuti tapi menggendong Sofea kebawah untuk menuntaskan semuanya.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2