
Tatapan aneh mereka lansung meruak saat kejadian aneh yang tiba-tiba menimpa, sejak badai itu berlalu menyisakan luka baru kali ini Sofea keluar dari kamarnya sendian tanpa ada paksaan dan raut bahagianya pun mulai terlihat membuat Ratu Lamoria dan Ratu Rosmeryna yang menatap Sofea memasak didapur dengan sangat aneh.
"A..Apa Noval berhasil membujuknya?"
"Aku juga tak tahu, tapi semoga saja!"
Jawab Ratu Rosmeryna pada Ratu Lamoria yang heran, Satu Istana ini dibuat bingung dengan tingkahnya yang sangat-sangat berbeda.
"Nak!"
Sofea masih tak mendengar ucapan Ratu Lamoria yang mendekat bersama Ratu Rosmeryna, dapur Utama Istana sangatlah megah hingga Sofea bebas bergerak memasak apapun yang dia mau.
Mata mereka melihat Sup kerang dan Teh yang ada di Nampan. pikiran mereka melayang sudah.
"Sofea!"
"Eh, Ibu!"
Jawab Sofea tersadar dari lamunannya yang tadi memikirkan tentang Ardelof hingga ia menatap dua manusia paruh baya yang cantik ini dengan pandangan biasa.
"Iya, Bu!"
"Kalau kau ingin makan ini, katakan pada Ibu! Ibu akan membuatnya, kau tak usah lelah bekerja seperti ini, Nak!"
"Bu, ini bukan untukku!" dahi mereka mengkerut atas ucapan Sofea.
"Lalu?"
"Ini Untun suamiku!"
Degg..
Ratu Lamoria dan Ratu Rosmeryna sangat terkejut dengan ucapan Sofea yang lepas, raut wajah Sofea tak bercanda sama sekali membuat ketakutan itu mulai menyeruk, ini yang mereka takutkan. Sofea bisa saja gila.
"N..Nak, kau..kau bicara apa? ayolah jangan.."
"Ibu, aku serius! tadi Ard datang, tapi tubuhnya dingin, itu karnanya aku membuat Sup, dia ada di kamar bermain dengan Baby Aron!"
"B..Baby Aron?"
Sofea mengangguk atas pertanyaan yang dilontarkan kedua Ibunya lalu kembali fokus menata nampannya hingga Ratu Rosmeryna memeggang bahu Sofea lembut.
"Kau sakit?"
"Bu, Ard yang berikan nama itu! SAURON Douglas Alison!"
Jawab Sofea menyebutnya dengan bangga hingga Ratu Rosmeryna lansung mencengkal lengan Sofea yang ingin pergi.
"Ini bukan candaan!"
"Ibu, aku..aku tak bercanda, Suamiku memang datang! ayo ikut denganku!"
Sofea mengiring mereka menuju Tangga ke kamar atas seraya memeggang Nampannya yang berisi makanan hangat, disepanjang langkah menapaki anak tangga berkarpet merah ini mereka dibuat jantungan takut Sofea sudah hilang akal.
"S..Sofea kau.."
"Ayolah, dia sedang membawa Putraku bermain! kalian pasti sangat senang melihatnya."
Binar Sofea dengan cepat melangkah berbelok menuju lantai samping dimana itu kamarnya hingga ia sangat bahagia membuka pintu itu seraya memanggil Ardelof.
"Sayang!!"
Panggil Sofea melangkah masuk, mata mereka menatap kesemua penjuru kamar tapi tak menemukan sesosok yang dikatakan Sofea padanya, apalagi Baby Aron masih ada diatas tempat tidur tengah memejamkan mata.
"Nak, dimana Dadymu? tadi dia disini!"
"Sofea kau.."
"Pasti di kamar mandi!"
Sofea meletakan Nampannya keatas meja disamping Ranjang lalu melangkah kekamar mandi, ia mengetuk pintu itu pelan.
"Ard, Sayang!!"
Panggil Sofea berulang kali membuat mata kedua wanita paruh baya utu mengembun melihatnya, mulai khawatir dengan tak ditemukannya Ardelof, hingga Sofea membuka pintu kamar mandi.
"Ard kau.."
Mata Sofea hanya melihat Bathub dan Wastafel beserta Shower, tak ada genangan air sama sekali padahal tadi Ardelof kesini.
"Sofea kau.."
__ADS_1
"Dia..Dia pasti di Balkon, Y..Yah!"
Sofea melangkah menuju Balkon dengan menyibak kasar tirai itu tapi tetap tak ada hingga mata Sofea mulai memanas digenangi air bening.
"Dia...I..Ibu dia.. tadi..."
"Sudahlah!"
Ratu Lamoria merangkuh Sofea kepelukannya, air mata Sofea jatuh menatap keatas ranjang sana dengan tubuh yang bergetar menahan rasa sesak.
"D..Dia disini, Bu!"
Isak Sofea memandangi Baby Aron yang tertidur, sumpah demi apapun ia tadi melihat sendiri Ardelof bermain dengan Putranya itu karnanya ia pamit ke dapur untuk memasak, tapi..tapi kenapa..
"I..Ibu, dia..dia pasti sudah t..turun dan.."
"Sudah Cukup!!"
Bentak Ratu Lamoria pada Sofea yang lansung luruh menatap lurus kedepan tepat tadi Ardelof tengah memanjanya dengan sangat merindu, dan sekarang hanya kosong tanpa jejak.
"Pakai otakmu, Sofea!!! berhenti merusak dirimu sendiri dan kami semua!!!"
"Jangan begitu!" Ratu Rosmeryna memeggang bahu Ratu Lamoria yang sungguh tak tahan lagi, setiap hari ia harus dihadapkan dengan sikap Sofea yang seakan-akan hanya ia yang kehilangan, padahal semua orang merasakan hal yang sama.
"Kau selalu menyiksa kami yang paham kalau kau sangat mencintai Suamimu!!! tapi dia sudah Tiada, berhenti me.."
"Dia belum tiada!!!!"
Bentak Sofea membuat mereka terkejut, Raja Hangton yang mendengar suara bentakan Istrinya tadi lansung berlari kesini dan ia terkejut melihat ini semua.
"K..Kau.."
"Dia belum tiada!! Suamiku belum mati seperti apa yang kalian bicarakan!!!"
Brakk...
Sofea melempar apapun yang ada dihadapannya kedepan sana hingga membuat Raja Hangton mendekat menatap Sofea dengan pandangn seorang ayah yang sangat terluka atas tak berdayaan Putrinya.
"N..Nak, dengarkan Ayah!"
"Apa? K..Kalian..kalian pasti menganggapku Gila, kan?? iya kan???"
"K..Kita tak bisa melawan Takdir Tuhan, Fea!"
"Aku..Aku tahu, tapi Tuhan belum mengambil suamiku dan kalian..!"
Sofea berdiri menatap murka mereka dengan mata menajam, terlihat sekali antara rasa sakit dan ketidak terimaan itu terpancar dimata Sofea.
"Jangan sekalipun kalian mengatakan Suamiku Tiada! atau aku akan menghancurkan kalian semua!"
Degg..
Raja Hangton melangkah mundur karna aura Sofea mulai tak bersahabat, matanya juga sangat menekankan agar mereka tunduk segera.
"Sofea kau.."
"Biarkan dia!"
Raja Hangton menarik Ratu Lamoria yang terisak untuk pergi meninggalkan Sofea yang berdiri dengan kedua tangan yang terkepal, matanya sangatlah tajam menyerap energi mereka untuk segera menjauh.
"S..Sofea hiks, Nak!"
"Berikan dia waktu, ini terlalu sulit baginya, Sayang!"
Ucap Raja Hangton mengiring Istrinya pergi bersama Ratu Rosmeryna yang juga ikut merasakan sakit, para pelayan di bawah sana juga menangis melihat semuanya menjadi hitam tanpa warna, padahal Putri Sofea yang mereka kenal di Media dan Asli dari cerita para rakyat Alison itu sangatlah ceria dan lembut tapi sekarang ia hancur hanya karna kehilangan separuh jiwanya.
"Aaaaaa!!!!"
Duarrrr..
Suara ledakan didekat taman dan teriakan Sofea yang meluapkan rasa sesak dan amarahnya ke bawah balkon sana, mata Sofea melemah luruh menyusuri dinding kamarnya dengan tangisan yang pecah.
"A..Aku tidak Gila hiks, dia..dia memang ada!"
Isak Sofea meringkuk mencengkram kepalanya, ia menatap nampan yang tadi ia buat dengan sangat senang hati berubah menjadi kekosongan luka.
"K..Kau m..masih adakan?"
Gumam Sofea berdiri tertatih-tatih mendekati meja sana, tubuhnya sudah lelah dan sangat letih tak mampu lagi berbuat apa.
"A..Ard!"
__ADS_1
Gumam Sofea menatap Sup diatas meja ini bersama air Teh hangat yang ia buat penuh kasih sayang, kepalan tangan Sofea meruak lansung menepis gelas itu keras hingga pecah ke lantai sana.
"Aku tidak gila!! kalian yang Gila!!!"
Teriak Sofea melempar apapun yang ada dihadapannya kecuali Sup yang ia buat, semuanya hancur. seisi kamar yang tadinya rapi seketika berantakan akibat amukan Sofea yang tak menemukan apapun hingga kepala Sofea terasa pusing setelah menghancurkan Seisi kamarnya ini.
Brguh..
Sofea tumbang ke lantai.
"B..Baby!"
Gumam Sofea mencengkram kepalanya yang berdenyut hingga ia melangkah pelan menuju ranjang dimana Baby Aron menatap Momynya dengan tatapan kasih membuat mata Sofea kembali tenang.
"M..Momy tak gila kan, N..Nak?"
Tanya Sofea mengusap pipi putranya yang tersenyum menampakan gusi merahnya yang masih lembut, bibir Sofea bergetar mendekat ke kening Baby Aron hingga ia mengecupnya penuh cinta.
"D..Dadymu a..adakan? hm, hiks!"
Isak Sofea menumpahkan kesakitannya hingga perlahan rasa lelah itu kembali menenggelakamnya dalam kesunyian, matanya tertutup terlelap menimbun luka yang tak kunjung mengering.
Whusss..
Hembusan angin itu lansung datang masuk kedalam kamar dengan Balkon yang memperlihatkan langit gelap yang sangat sepi tanpa sang bintang.
Terlihatlah kaki kokoh seorang pria yang tadi telah hilang tapi kali ini wajahnya bertambah memucat dengan tubuh sedingin Es melangkah pelan seperti menahan sakit kearah ranjang.
Netra birunya memanas melihat kamar yang sudah hancur berantakan dengan sangat kacau, ia menatap dua Mahluk diatas ranjang ini dengan penuh kepiluan.
"A..Ard!"
Gumam Sofea tanpa sadar tengah memeluk tubuh mungil Baby Aron yang membuka matanya menatap netra sang ayah, raut Baby Aron berubah sendu melihat darah yang keluar di hidung Ardelof.
"K..Kenapa kau begini, hm?"
Gumam Ardelof duduk disamping Sofea dengan tangan yang lemah terulur membelai surai hitam panjang ini, ada rasa sangat bersalah dihatinya tapi ia harus apa, ia tak bisa untuk seperti dulu.
"Kembalilah, kau bisa mati disana!"
Suara bariton seseorang membatin di pikiran Ardelof yang mengacuhkannya, ia mengecup pipi Sofea lembut menyalurkan rasa sayangnya lalu tersigap saat melihat Nampan dengan berisi mangkuk berasap itu, Refleks Ardelof menatap kebawah dimana pecahan gelas Teh hijau hangat yang biasa Sofea buat untuknya telah berserakan.
"Waktumu hanya sebentar!!! cepat kembali!!"
Ardelof tetap diam mengulur tangannya mengambil Semangkuk Sub itu lalu menatap Sofea dengan lembut, seandainya ia bisa maka ia tak akan membuat semuanya begini.
"Terimakasih, hm? kau selalu yang Sempurna!"
Ucap Ardelof memaksakan memakan Sub ini walau darah dihidungnya terus keluar membuat suara berat Bariton itu lansung menggeram murka.
"Kau belum bisa memakannya!!! Anak Sialan!!"
Ardelof tetap bungkam melahap semuanya tandas walau tubuhnya benar-benar lemah karna ini, tapi ia senang karna jerih payah Istrinya tak sia-sia untuknya.
"Lain kali aku akan menemuimu lagi!"
Bisik Ardelof mengecup lama kening Sofea lalu menatap Baby Aron yang memandangnya penuh ketidak relaan walau sangat terkesan gensi.
"Dady pergi, hm? jaga Momymu baik-baik!"
Ardelof melakukan hal yang sama ke kening Putranya hingga ia membersihkan ruangan ini barulah ia pergi karna kekuatannya sudah habis terkuras.
..........
Renoval tengah sibuk mengatur pembangunan Istana dan Kota Alison yang sudah selesai 85%, semuanya bekerja bahkan mereka mendatangkan bantuan pekerja dari luar Negara yang ikut tunduk dalam kekuasaan Ardelof hingga Pembangunan berjalan Stabil dan cepat.
"Tuan, Siapa yang akan menjalankan Perusahaan ACB?"
Pertanyaan yang keluar dari Asisten Kai membuat Renoval menghela nafas, ia rasa kalau Sofea sudah baikan wanita itu bisa melakukan apapun di Kota ini.
"Biarkan Kakek Brent menanganinya, kita fokus pada pembangunan Istana! Sofea harus kembali kesini karna disana dia hanya akan terus merenung tanpa kenagan."
Ucap Renoval yang yakin Sofea akan senang melihat semuanya ditata selayaknya Kota Batalion yang megah seperti biasanya, tak akan mengurangi sedikitpun kenangan Ardelof dan Sofea yang menjelajahi tempat di kota ini.
"Jangan sampai ada perubahan, Tumbuhan, warna, belokan jalan semuanya!! aku tak ingin Sofea merasa berbeda."
"Baik!"
....
Vote and Like Sayang.
__ADS_1