
Kerutan didahi itu lansung tercipta dengan desisan kecil dari bibir mungil merah muda lembabnya, tangannya mencengkram kepala yang berdenyut pusing dengan satu tangan mencengkram selimut dibawahnya.
"K..Kakak!"
Gumam Sofea membayang jelas, kilatan ingatan yang telah hilang sedari kecil sekarang ia ingat tapi sangat menguras tenaganya, otaknya yang seakan mau pecah terus masuk kedalam relung yang semangkin dalam membuat Nenek Eliz lansung terjaga dari Tidurnya karna ini sudah tengah malam.
"Fea, Nak!"
"K..Kakak hiks!"
Nenek Eliz lansung terkejut memeriksa suhu tubuh Sofea yang panas hingga membuat ia lansung khawatir menatap keringat dingin yang keluar di kening wanita ini.
"K..Kakak!"
"Aku..aku akan keluar kau..kau tenanglah!"
Nenek Eliz melangkah cepat keluar kamar hingga ia lansung melangkah ke kamar sebelahnya, untung saja Kakek Brent masih bicara dengan Dokter Xiomus soal pengobatan yang dilakukan untuk Renoval.
"Suamiku!"
"Tuan!"
Kakek Brent menyeringit saat melihat Nenek Eliz dan Asisten Kai yang beriringan keluar dari kamar masing-masing dengan raut wajah khawatirnya.
"Ada apa?"
"Suamiku, Sofea tiba-tiba Demam."
"T..Tuanku, juga sama. Tuan Besar!"
Sahut Asisten Kai membuat Kakek Brent lansung menatap Dokter Xiomus yang mengerti hingga ia melangkah ke kamar Sofea diiringi Nenek Eliz yang meninggalkan Kakek Brent bersama Asisten Kai.
"Suhu tubuh Tuan tiba-tiba, Naik! dia selalu menyebut 'ADIK'. aku tak tahu kenapa?"
"Hm!"
Kakek Brent melangkah masuk kedalam kamar hingga ia mendekati ranjang menatap Renoval yang bermandian keringat dengan wajah yang pucat seperti sangat takut.
"J..Jangan, jangan ambil dia!"
"Dia tengah ada dibawah alam sadarnya!"
"M..Maksud anda, Yang Mulia?"
Kakek Brent menghela nafas, Sofea dan Renoval seperti mempunyai ikatan dan mereka sekarang tengah ada disuatu kondisi yang selama ini membayang tapi belum tahu apa yang tengah mereka lalui.
"Biarkan saja, saat pikiran mereka telah bertemu pasti mereka akan sadar."
"T..Tapi bagaimana dengan tubuhnya yang panas? apa itu tak berbahaya?"
"Kau buka bajunya dan Kompres keningnya, tunggulah sampai beberapa menit dia akan sadar dengan sendirinya."
Asisten Kai mengangguk menatap kepergian Kakek Brent yang harus mengurus Sofea karna Ardelof tak mungkin menyudahi Meditasinya secepat ini, walau sedari Sore tapi paling tidak Ardelof butuh waktu sedikit lebih lama.
"Tuan!"
Asisten Kai melakukan hal yang tadi disuruh Kakek Song hingga tubuh berotot yang begitu mempesona digilai wanita ini terlihat, ada bekas seperti luka sayatan didekat dada bidang Renoval yang baru kali ini Asisten Kai tahu karna selama ini Renoval tak pernah membuka apapun padanya kecuali soal Dunia-nya sendiri.
"A..Adik!"
Renoval mencengkram sprey dibawahnya hingga ia benar-benar merasakan disituasi yang sama membuat Asisten Kai setia menunggu.
Flasback On..
Surai panjang sepunggung berwarna hitam itu terurai cantik dengan senyum merekah mempesona, gigi susunya yang putih tampak berderet rapi dengan kulit putih dan bibir pink yang sangat segar, ia tengah menatap bintang diatas sana dengan binar indah dari mata hitam legamnya yang polos.
"Kak!"
"Hm? ada apa?"
Tanya seorang bocah berumur 7 Tahunan yang tengah menyisir rambut panjang halus nan lurus milik sang Adik yang terus menatap keatas seakan ia menghitung bintang yang tengah berbinar diatas sana.
"Kak, kenapa lampunya banyak?"
"Itu bukan lampu, Sayang!"
Jawab Nevallo mengecup pipi gembul Adiknya yang lansung mengadah menatap wajah tampannya dengan polos seraya tangan mungil yang menggapai sisir ditangan Nevallo ringan.
"Itu lampu, Kak!"
"Bukan, itu namanya. BINTANG!"
Dahi putih mulusnya berkerut lalu kembali menatap kelangit sana, ia kembali menatap Nevallo yang mengulum senyum manis mengelus kepala mungil ini.
"Banting?"
"BINTANG! bukan banting, hm?"
Bugh..
Sisir itu lansung melayang ke wajah tampan Nevallo yang terkekeh melihat tabiat si kecil ini yang selalu suka memukul wajahnya dengan barang-barang yang dipeggang, tentu hal itu tak membuat Nevallo marah melainkan ia sangat senang.
"Kau ketagihan, itu melukai wajah Kakak, Dewi!"
"Kakak, Tampan!"
Bocah yang bernama Dewi itu lansung mengecup pipi Nevallo yang akhirnya tak bisa marah hingga ia lansung menggendong Dewi yang merupakan Sofea dikala besar, ia yang selalu membawa Adiknya melihat bintang di Taman Kediaman ini menjadi pusat perhatian rasa dengki oleh seseorang.
"Ayah!"
"Iya, kau kenapa?"
__ADS_1
Seorang pria dengan tubuh tegap dan wajah mudanya mendekat kearah Vanelope kecil yang tengah mengintip dari atas Balkon, matanya menusuk sinis kearah dua beradik itu dan tentu Tuan Edgar tahu itu siapa.
"Kau iri, hm?"
"Iya, seharusnya mereka tak seakrab itu."
"Kau mau seperti mereka?"
Vanelope yang polos tak tahu apapun lansung mengangguk membuat senyum licik Tuan Edgar merekah menggendong tubuh mungil Putrinya keluar, ia berpapasan dengan Juand si bocah laki-laki berumur 7 Tahun sama seperti Nevallo.
"Ayah, kau mau kemana?"
"Kalian mau menjadi penguasa?"
Vanelope mengangguk karna ia memang mempunyai ambisi dan dipupuk oleh ajaran Tuan Edgar yang memang ingin melihat Keluarga Hangalay itu hancur hingga besar nanti Vanelope menguasai tanah ini.
"Memangnya bagaimana caranya, Ayah?"
"Sangat mudah, menyingkirkan dua bocah tak berguna itu!"
Juand lansung terkejut hingga menatap Vanelope yang hanya diam tak mengerti, tapi ia rasa ia juga tak paham soal itu dan ia hanya menurut saja.
"Edgar!! bawalah anak-anak Turun, saatnya makan malam!!!"
Suara Mama Netty lansung membuat mereka bergegas turun ke lantai bawah dengan wajah tak suka mereka meruak, seketika sampai disana mata polos yang tengah mengunyah roti itu menatap mereka penuh aura kecantikan membuat Vanelope menunjukan wajah tak sukanya.
"Nak, duduklah!"
"Terimakasih, Bibik!"
Ucap Nevallo duduk dikursinya dengan Sofea yang ia pangku, ia menebalkan muka dengan wajah-wajah tak suka itu karna ia yakin Kedua orang tuanya akan menjemput mereka setelah perang berakhir.
"Makan geratis disini itu sangat menyenangkan!"
"Juand!"
Mama Netty menajamkan matanya menatap Juand yang hanya acuh duduk dikursinya seraya menyantap makananya, Tuan Edgar tak ambil pusing bahkan ia yang mendorong Juand untuk bermusuhan dengan Nevallo yang tak mau melayani.
"Nak, makan saja. hm?"
"Mau itu!"
Sofea menunjuk Udang Krispi yang ada dihadapannya hingga Mama Netty lansung mengulur tangan ingin mengambil tapi Vanelope sudah lebih dulu menyuruh Ayahnya untuk mengambil semuanya.
"Edgar!"
"Putriku mau semuanya!"
Mata Sofea berair menatap Nevallo yang tersenyum mengecup puncak kepala Adiknya.
"Kalau kita sudah pulang ke Istana, Kakak Janji akan memasak untukmu, jadi jangan nangis, hm?"
"Mau..i..itu."
"Dewi, Sayang! nanti, Bibik akan buat yang banyak untuk, Dewi! kalau sekarang Dewi makan Sup buatan, Bibik!"
"Sup?"
"Iya, dicoba dulu pasti rasanya tak kalah dengan udang."
Akhirnya Sofea kecil memakannya lahap dengan senyuman cantiknya, Nevallo hanya memakan beberapa sendok lalu lebih mementingkan Sofea yang masih mau mencoba banyak hal, Maklum si kecil ini begitu Aktif dalam makan hingga tubuh gembulnya begitu semangat.
"Vallo!"
"Iya, Paman!"
"Kami akan pindahan malam ini."
Mama Netty lansung terkejut menatap Paman Edgar yang masih menyuapi Vanelope penuh rencana dikepalanya.
"Maksudmu?"
"Kita akan pindahan, malam ini juga!"
"Edgar, dari tadi langit diatas sana mendung. bisa saja nanti hujan apalagi ini sudah malam, Anak-anak butuh Istirahat!"
Namun. Tuan Edgar sudah membulatkan keputusannya seraya berdiri dari duduknya menatap Nevallo bergantian dengan Sofea yang tak tahu banyak hal.
"Tapi kami belum bersiap?"
"Tak perlu bersiap! malam ini hanya ingin melihat keadaan Rumah Saja!"
Ucap Tuan Edgar terburu-buru mengiring mereka untuk ke Pintu keluar, sebenarnya Nevallo merasakan gelagat aneh dari Juand tapi ia hanya berpositif saja kalau itu memang benar.
Setibanya diluar suasana begitu remang dengan langit yang tadi ramai akan bintang telah memolos dengan gelap nan misterius, udaranya juga mulai dingin.
"Semuanya, kita ke Mobil!"
"Edgar, ini.."
"Kau tinggal saja jika tak mau ikut!"
Geram Tuan Edgar membuat Mama Netty diam memeggang lengan mungil Nevallo menuju mobil hingga mereka naik bersama dengan Nevallo duduk dibelakang disamping Juand yang melirik aneh, Vanelope hanya diam duduk dipangkuan ibunya hingga Mobil melaju stabil keluar pekarangan.
Didalam perjalanan suasana hanya hening dengan dengan Sofea yang sudah ngantuk hingga terlelep membuat Nevallo menyelimuti tubuh mungil adiknya dengan Jaket yang ia kenakan.
Cetasss..
"Kakak!!!!"
Pekik Sofea saat petir diatas sana menyambar keras sampai membuat tubuhnya gemetar memanjat tubuh Nevallo yang lansung menenagkannya.
__ADS_1
"Suttt, tak apa. hanya petir mau hujan, hm?"
"Kakak hiks, kakak!!"
"Hentikan tangisan adikmu, telingaku sakit mendengarnya!!!"
Juand membentak membuat Sofea semangkin gemetar hingga bersembunyi didalam baju Nevallo yang menepuk bokong mungil adiknya dengan pelukan yang mengerat, ia menatap keluar jendela Mobil dimana ini jalan menuju Area terlarang atau disebut Jalan kematian karna ini arah ke Lapangan Perang di Selatan.
"Paman, kau salah jalan!"
"Memangnya kenapa?"
"Kita semangkin menjahui Jalan umum, sekarang Mobil melaju ke Jalan Pertempuran, Ayah!"
Mendengar itu Mama Netty lansung menatap Tuan Edgar yang menyeringai, memang itu keinginannya membuang bocah ini dari kehidupan yang fana.
"Kau salah, disini tempat wisata, Vallo!"
Nevallo memeluk erat tubuh Sofea yang masih ketakutan, setelah beberapa lama ia mendengar jelas dentuman kuat yang membuat langit bergejolak, tanah yang mereka lalui semangkin dalam menuju hutan dengan suara teriakan dan letusan senjata memekik telinga.
"Edgar, hentikan Mobil ini!!"
"Diamlah, aku hanya ingin membuang sesuatu!"
Ucap Edgar yang memilih jalan tebing, Mobil ini beberapa kali bergetar akibat tanah yang seperti gempa membuat keseimbangan terganggu hingga setelah memilih jalan ditebing Edgar dengan nekat menghentikan Mobil diatas Bukit yang tengah mentupi suatu tempat bising dibawah sana.
Duarrrr..
"Kakak!!!"
Sofea tak bisa mendengar suara ledakan itu hingga benar-benar ketakutan membuat Nevallo pun sama, ia ingat betul saat membaca Buku Kerajaan kalau ini wilayah Perang yang sepertinya hanya tinggal sedikit orang yang melakukan perlawanan, apalagi Hujan yang tiba-tiba turun disertai petir yang menggelora membuat Nevallo semangkin khawatir.
"Turun!"
"Edgar kau.."
"Bukan kau, Sayang! tapi bocah sialan itu."
Edgar membuka pintu mobil kasar hingga hujan itu membasahi tubuhnya, Nevallo gemetar memeluk erat Sofea yang menangis dipelukan kakaknya.
"Turun kau!!"
"P..paman!"
Gumam Nevallo menggeleng tak mau turun di Badai begini hingga membuat Mama Netty histeris lansung turun dari Mobil dibasahi Hujan yang deras.
"Edgar!! apa yang kau lakukan, ha??"
"Kau diam!! ini urusanku!!!!"
Tuan Edgar menarik lengan mungil Nevallo yang memberontak tak mau turun dan tak mau melepas pelukannya ke tubuh Sofea yang sudah mengigil menangis lantang.
"Paman hiks, jangan!!"
"Berhenti menjadi benalu dihidupku dan enyahlah kau dari sini!!"
Nevallo tak kuat menahan tarikan itu hingga ia tersungkur ke luar Mobil.
Brughh..
Nevallo meringis memeggangi lengannya yang terkena duri, namun ia terkejut saat Sofea masih ada didalam hingga ia bangun ingin mendekat tapi Tuan Edgar mendorongnya kembali hingga tersungkur beberapa kali diderasnya hujan yang melanda.
"Paman hiks, aku..aku mohon, jangan sakiti adikku!"
"Kakak!!! hiks, Kakak!!!"
Teriak Sofea menatap Nevallo yang diguyur hujan dan disinari petir suara jeritan dari bawah sana dan dentingan senjata itu membuat Sofea mencengkram kepalanya hingga ingin turun tapi Tuan Edgar menutup pintu Mobil.
"Paman!!! Pa..Paman hiks, jangan!! jangan ambil dia hiks, Paman!!!"
Nevallo mengedor jendela Mobil dengan Sofea yang melakukan hal yang sama membuat Mama Netty menangis tak mampu bergerak, Edgar mengancamnya akan menyakiti Sofea jika ia menolong bocah ini.
"Matilah kau dimakan binatang disini!"
"Adik hiks, Paman aku..aku mohon!"
Isak Nevallo memelas sesekali menunduk karna petir yang menyambar kuat, ia sangat sakit melihat Sofea yang masih kecil dalam kondisi begini menangis didalam sana. melihat Nevallo yang terus memukul kaca Mobil Tuan Edgar turun dengan amarah yang meluap, tapi Nevallo berharap menyonsongnya agar bisa membantu.
"P..Paman, aku..aku mohon, jangan ambil Adikku!"
"Aku tak akan mengambilnya."
Wajah Nevallo berbinar menatap Sofea yang menangis karna takut akan suara gemercik hujan dan berisik dari arah bawah sana.
Tapi, bukannya menolong Edgar malah menarik lengan mungil Nevallo menuju tepi jurang ke bawah Lahan Pertempurna hingga mata Nevallo melihat jelas kobaran api menyala dalam hujan dengan langit diatas lahan Peperangan sana lansung membuka seperti Portal gelap galaksi membuat matanya terbelalak melihat Mahluk menyeramkan itu tengah menghisap beberapa Parjurit Kerajaannya dan Kerajaan Alison.
"A..Ayah!"
"Pergilah susul Ayahmu!"
Bughh..
Edgar menendang Nevallo yang lansung terjerumus masuk kedalam lembah sana dengan diiringi ledakan dari lahan peperangan.
Duarrrrrr..
"Kakak!!!!!!!!"
Flashback Of...
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..