Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Sangat mencintaimu!


__ADS_3

Semuanya hening, seakan tak ada yang mau bicara selain desiran angin yang membelai apapun disekitarnya. suara serangga malam diluar sana tampak mengiringi gejolak hati yang sekarang telah melanda semuanya.


Ditengah kekosongan tanpa penerangan akan gelapnya mata yang sudah termenung menunduk dengan tatapan lemahnya, sudah untuk mencerna dan hanya memaksakan senyum cantik yang mengatakan Aku Sangat Bahagia, walau air matanya mulai mengumpul menjatuhkan diri tanpa diperintah.


"Anda hamil, kemungkinan usianya masih 3 Minggu. saya sarankan anda jangan Stres dan .."


"Terimakasih."


Jawab Sofea memotong ucapan Dokter Ximous yang hanya bisa terdiam setelahnya, ia tak bisa menyentuh tubuh Sofea karna ia tak berani akan keberadaan Ardelof, Ximous bukanlah Dokter biasa yang memeriksa fisik tapi ia juga bawahan Ardelof yang bekerja di Dunia yang mereka tinggali sekarang.


"Kau bisa pergi."


"Baik, Yang Mulia."


Dokter Ximous meninggalkan beberapa obat penurun panas dan mual, ia juga meninggalkan beberapa Vitamin agar Sofea lebih baik setelahnya lalu melangkah pergi meninggakkan kamar yang ditenggelamkan sunyi.


Sofea menatap perutnya dengan senyum tanpa beban, walau rasanya ini datang diwaktu yang tak tepat tapi Sofea yakin dan percaya kalau dia hadir bukan karna kesalahan tapi keberuntungannya, dan itu bukanlah sebuah masalah.


Namun, Sofea merasa teriris akan kebisuan Ardelof yang seakan tak mengharapkan ini hingga sekarang Sofea mengerti kalau pria ini memang tak akan pernah ingin memiliki anak dengannya.


"Kau tak usah khawatir."


Ardelof hanya diam menatap lurus mendengar suara bergetar Sofea yang menggenggam bahunya tegas, mata Sofea sudah berlinang air kesesakan itu tapi bibirnya selalu melengkung indah.


"I..ini bukan anakmu. kau ..kau tak usah bertanggung jawab, hm?"


Tangan Ardelof terkepal mendengar semua itu dengan mata yang sudah mengigil menahan kegeraman.


"Lagi pula, aku biasa seperti ini! aku tak heran lagi jika tak akan pernah ada yang menginginkanku secara tulus, aku paham dan mengerti keadaanmu, kau seorang Putra Mahkota yang sangat dimuliakan dan aku..aku hanya seorang wanita tanpa identitas yang terkurung dalam Pesonamu tapi aku yakin, setelah ini aku akan hidup bahagia dengan anakku tanpa kau yang.."


"Sudah cukup bicara?"


Bibir Sofea gemetar hingga ia menutup wajahnya menangis menekuk kedua kakinya dengan kedua tangan membekap wajahnya yang penuh luka dan sesak.


"A..aku..aku bisa hi..hidup sendiri hiks, kau..kau tak usah menemaniku, Ard. aku..aku paham."


"Ohhh shitt."


Umpat Ardelof mengusap wajahnya kasar, ia menatap Sofea yang terus begini saat ia sudah diam seakan tak merespon, padahal Ardelof hanya memikirkan bagaimana kedepannya saat anak itu lahir maka akan lahir sesuatu yang menghancurkan juga ditempat lain.


"Kenapa pikiranmu sempit, ha? kau selalu mengatakan aku tak menginginkan mu!"


"T..Tapi, tapi sikapmu begitu, hiks! kau..kau selalu diam saat ini serius, aku tak mengerti kau itu seperti apa!!"


"Kau tak mengerti?"


"Yah!! kau itu aneh, aku tak bisa menebak kau mau apa dan sekarang kau sedang apa?"


"Apa perlu aku katakan Cinta baru kau percaya?"


Degg..


Sofea terlonjak kaget mendengarnya hingga ia mengangkat wajahnya menatap Ardelof yang hanya berwajah serius memandangnya dalam.


"A..apa maksudmu?"


"Aku tak bisa mengatakan itu karna rasa ini lebih besar dari itu."


"A..Aku tak mengerti."


Ardelof menghela nafas berat menarik pinggang Sofea kepangkuannya hingga ia bisa melihat jelas wajah sembab wanita ini yang pucat, tapi ia tersenyum kecut saat Pita berwarna biru ini tak bisa lepas dari rambut panjangnya.


"Kau rasakan ini?"


Ardelof meletakan tangan Sofea didada sebelah kirinya hingga Sofea bisa mendengar degupan jantung Ardelof yang berlalu cepat seakan memompa darah diseluruh penjuru kulitnya.


"Kau rasakan?"


"I..iya!" Ciut Sofea.


"Bahkan aku tak bisa tenang setiap melepas tanganmu, aku tak bisa tenang dimana tempat tanpamu, aku ke Pesta itu karna tuntuan sebagai Putra Mahkota tapi aku meninggalkan tempat itu karna kau.. aku takut Istriku yang sangat-sangat aku sayangi ini marah dan meninggalkan aku, apa itu belum cukup?"

__ADS_1


"T..tapi kenapa kau diam? kau..kau tak senang aku hamil dan.."


Cup..


Ardelof mengecup kilas bibir Sofea yang terdiam karnannya, mata Sofea menatap sinar biru dari netra Ardelof yang sangat berbeda dan terkesan membuka hingga ia bisa melihat betapa lembutnya padangan pria ini padanya.


"Katakan kau..kau mencintaiku!" desak Sofea ingin menenagkan hatinya hingga Ardelof menarik sudut bibirnya kecil menyelipkan berapa helakan rambut yang menutupi wajah Sofea.


"AKU SANGAT-SANGAT MENCINTAIMU, ISTRIKU SOFEA RATNA MAHADEWI!"


Whusss..


Tirai sana berterbangan hingga membuat senyayu angin membelai lembut hingga wajah Sofea termenung menatap wajah Tampan Ardelof yang benar-benar serius mengatakannya.


"B..benarkah?"


"SANGAT! kau tak akan bisa menandingi ini karna aku tak bisa menjabarkan rasaku padamu, dan anak kita! aku diam karna aku tak menyangka kalau aku akan menjadi seorang ayah, apalagi aku ini terkenal Pemarah, Arogan dan menakutkan. tapi nyatanya aku punya anak dari Istriku yang paling berarti dalam hudupku."


Wajah Sofea berubah memerah mendengarnya, terdengar mengalun sangatlah mesra ditelinganya hingga Sofea merasa malu sendiri.


"Bagaimana denganmu?"


"A.apanya?"


"Aku ingin tahu apa Istriku mencintaiku atau tidak, cepat katakan!"


Desak Ardelof membalikan tubuh Sofea hingga ia mengungkungnya seraya bersitatap intens menembus jantung masing-masing.


"Aku.."


"Aku?"


"Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku, ya?"


Ardelof terdiam lalu tersenyum kecut mendengarnya, kata simpel yang sangat menggelikan padahal ia kira Sofea akan romantis tapi nyatanya wanita ini punya harga diri tinggi.


"Singkat sekali, Momy!"


Ardelof terkekeh kecil menaikan Gaun Malam Sofea keatas dada hingga ia bisa melihat perut datar nan putih yang begitu lembut membuat Ardelof membenamkan wajahnya kesana membuat Sofea menghangat.


"Walau nanti semuanya akan berat tapi Dady janji tak akan membiarkan Kau dan Momymu terluka, Dady harap kau juga ikut membantu, Boy!"


"Dari mana tahu itu laki-laki?"


"Tidak ada, hanya menebak karna kau mulai sangat rewel."


Sofea mencubit hidung mancung Ardelof yang bicara seenaknya, tapi ia suka karna Ardelof tak lagi menyembunyikan Perasaannya hingga ia tenang dan sangat percaya.


"Ard, kau jangan menciumnya terus. aku cemburu!"


"Dasar!"


Ardelof kembali meneggakan tubuhnya seraya memperbaiki Gaun malam Sofea dan mengambil Paper-bagnya secara ringan dengan wajah yang sangat lembut.


"Ard, ini sudah malam! kau bisa istirahat, Sayang!"


Ardelof mengigit bibir bawahnya mendengar kata itu, entahlah ia menggeleng geli merasa sangat kesemsem dengan panggilan itu hingga pikirannya sudah hilang kemana arah.


"Tidak, kau harus makan, hm?"


"Aku tak berminat lagi."


Dahi Ardelof mengkerut seraya mengeluarkan tempat Sosis yang dibungkus rapi dan bersih, dengan sengaja Ardelof memperlihatkan satu tusuk Sosis besar dibaluri Cream dan Saos Tomat yang sangat terlihat lezat, aromanya juga membuat Sofea sampai ileran lalu menghampusnya karna malu.


"Kau benar tak mau, hm?"


"A..aku tak mau!"


Ardelof ingin rasanya berguling di lantai sana melihat tingkah menggemaskan wanita ini, sudah jelas sedari tadi Sofea sudah menelan ludah karna ingin tapi dia masih saja kekeh menolak.


"Baiklah, kalau Momy tak mau Dady akan habiskan, percuma tadi Dady membuatnya khusus dengan penuh perjuangan apalagi mereka hanya memandu, sangat melelahkan. Boy!"

__ADS_1


"K..kau yang buat?"


"Hm, mana bisa aku membiarkan orang lain membuat makanan yang sangat kau inginkan."


Sofea terdiam menatap Ardelof yang tersenyum simpul membuat ia lansung duduk mengadahkan tangannya.


"Aku mau, Sayang!"


"Shitt, tadi kau menolak, bilang saja lapar apa salahnya, hm?"


"Aku tak mau kau berbangga hati!"


Ketus Sofea ingin mengambil tapi Ardelof sudah lebih dulu menyuapinya karna ini masih panas karna tempat Alimunium itu dapat menghangatkannya, tentu Sofea menerima hingga ia menelannya penuh selera makan yang membusung tinggi.


"Enak?" Sofea mengangguk mengacungkan kedua jempolnya seraya terus menghabiskan suapan Ardelof yang tenang jika begini hingga ia juga lega.


Disela suapannya Sofea meraba dada Ardelof dari balik kaos sana karna ia suka tonjolan otot ini apalagi di perut Ardelof yang sangat Sexsi membuat ia tagih akan rasanya.


"Ini tak pedas, Ard!"


"Aku tak ingin kau sakit perut, lagi pula kau sedang hamil. Sayang! jadi aku mohon mengertilah, hm?"


Sofea mengangguk patuh menyelipkan tangannya disela kaos pria ini hingga Ardelof menyudahi acara makan Sofea yang sudah menghabiskan 5 Sosis dalam beberapa menit saja tapi ia tak masalah selagi Sofea mau makan.


"Ard!"


"Kenapa, Sayang? ada lagi yang kau mau?"


Tanya Ardelof seraya meminumkan segelas air dan membersihkan mulut wanita ini hingga bibir merah itu sangatlah menggoda tapi Sofea ingin satu lagi.


"Kenapa kau tak olahraga?"


"Olahraga untuk apa? Olahraga malam maksudmu?" goda Ardelof lansung dihadiahkan cubitan dari Sofea didadanya.


"Bukan, aku mau kau berkeringat! pasti sangat jelek."


"Jelek? dalam Mimpimu, Nyonya. aku tak pernah Sejelek yang kau pikirkan."


Ketus Ardelof membaringkan Sofea yang tak mengerti saat Ardelof membuka baju kaosnya hingga tubuh Atletis itu membuat Sofea malu sendiri.


"Ard, aku mau kau berkeringat. kenapa jadi begini?"


"Memangnya aku mau apa, hm?"


Goda Ardelof nakal mengungkung Sofea yang sudah malu-malu saat Ardelof mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka nyaris bersentuhan membuat Sofea ingin mengemut tapi Ardelof kembali menjauhkan wajahnya dengan kedua tangan yang ikut naik seperti sedang Push-up membuat Sofea bersemu karnanya.


"Ard!"


"Hm? kau mau aku berkeringatkan?"


"I..iya tapi aku pikir kau mau.."


"Mau apa? aku mau Push-up, memangnya kau mau apa?"


"Aaa.. Ard! kau kenapa sangat menyebalkan?"


Ardelof hanya terkekeh kecil tetap melanjutkan Push-upnya hingga dalam beberapa menit ia sudah berkeringat membuat Sofea mengecup leher dan dada suaminya yang menurutnya sangat sexsi jika begini, tangannya juga meraba roti sobek yang terus naik turun sesuai dengan tubuh tegap Ardelof yang sangat sempurna.


Ardelof tak berhenti sampai satu jam lebih karna ia tak mau membuat Istrinya tak puas dan sekarang ia bermaindian keringat tapi Sofea suka hingga ia memeluk tubuh Ardelof yang menghentikannya setelah merasakan terpaan nafas halus wanita ini menyentuh dadanya.


Sudut bibir Ardelof tertarik membentuk lengkungan hingga ia mendekatkan wajahnya untuk menyentuh bibir wanita ini.


Cup..


Ardelof mengecup lama tapi tak mau mengigit atau menghisap selain menautkan bibir saja meresapi aroma nafas harum bjnga wanita ini dengan kelembutan tubuhnya.


"Aku sangat mencintaimu, bahkan sangat. Sayang!"


.....


Vote and Like Sayangku..

__ADS_1


__ADS_2