Sekedar Pemuas

Sekedar Pemuas
Keadaan sebenarnya!


__ADS_3

"Sofea!!!!!!!"


Suara teriakan itu membuat semua orang dibawah sini lansung terkejut dan bergegas berlari keatas sana, bahkan para Pelayan yang sedang berbenah di Istana ini lansung ikut jantungan menghebohkan satu Istana.


Raja Hangton berlari dari lantai bawah menaiki Lift disampingnya agar cepat sampai sedangkan yang lainnya menaiki tangga hingga wajah mereka benar-benar khawatir.


Saat Lift terbuka, Raja Hangton dengan nafas memburunya berlari mendobrak pintu kamar.


Brakk..


"Ada apa??"


Tanya mereka semua saat pintu kamar terbuka menatap Nenek Eliz yang sudah menagis bombay menunjuk ke bawah ranjang.


Degg..


Mata mereka terbelalak melihat Sofea yang telah terkampar lemah dengan darah bercucuran dari pergelangan tangannya, Raja Hangton dengan cepat mendekat bersama Ratu Lamoria yang sudah Histeris.


"Ya Tuhan, Sofea!!"


"Kenapa bisa begini?"


Mereka panik menggendong Sofea keatas ranjang, kamar ini sudah berantakan membuktikan bahwa amukan itu kembali terjadi membuat Kakek Brent mematung ditempat melihat darah yang bercucuran keluar dari pergelangan Sofea.


Namun, ia menangkap raut aneh dari Istrinya yang sama sekali terlihat tidak begitu panik kalau dilihat Intens, dan seketika ia menghela nafas halus akan tabiat wanita ini.


"Kau.."


"Diamlah!"


Bisik Nenek Eliz membiarkan Raja Hangton membekap luka dipergelangan tangan Sofea dengan selimut hingga Ratu Lamoria menghubungi Dokter pribadi Keluarga Hangalay untuk datang.


"Bagaimana dia bisa begini?"


"Tadi aku sempat bicara dengannya, lalu aku keluar karna Sofea mengamuk. aku tak menduga kalau dia a..akan begini."


Jelas Nenek Eliz sendu membuat Ratu Lamoria sangatlah khawatir, ia menggendong Baby Aron yang hanya diam memejamkan matanya tertidur.


"Kita tak bisa membiarkan dia begini terus!"


"Lalu kita harus apa?" tanya Nenek Eliz membuat Raja Hangton menghela nafas.


"Dia harus melupakan Ardelof!"


Degg,,


Sofea yang mendengar itu lansung terkejut bukan main dengan Raja Hangton yang mempersilahkan Dokter yang datang untuk memeriksa tapi Kakek Brent angkat bicara.


"Sofea bisa menyembuhkan dirinya sendiri!"


"Apa maksudmu? dia terluka parah."


"Dia seorang ratu dan Mahadewi! biarkan dia sendiri menyembuhkan lukanya."


Akibat desakan Kakek Brent Raja Hangton lansung menghela nafas berat lalu mengecup kening Sofea, ia percaya dengan ucapan Kakek Brent yang benar-benar paham soal ini.


"Baiklah, biarkan Putriku bermeditasi! aku akan mengurus soal pria itu."


"P..Pria apa?"


Batin Sofea bingung membuka kecil matanya melihat semua orang yang keluar kecuali Nenek Eliz dan Kakek Brent yang menatapnya dengan rumit.


Whusss..


Sofea menormalkan situasi dengan menghilangkan sihir ilusinya hingga terlihatlah kamar ini baik-baik saja dengan dirinya pun juga sama, tak ada darah atau hal lain yang mengkhawatirkan.


"K..Kek, ma..maksudnya apa?"


Gumam Sofea beringsut duduk menatap Kakek Brent yang menghela nafas halus melangkah mendekat, ia meneliti kamar ini dan pasti ada hal yang menyebabkan Sofea seperti ini.


"Kenapa kau lakukan ini?"


"A..Aku tak bohong, Kek! Suamiku masih hidup!"


Jawab Sofea sudah keluh mengatakan itu hingga ia menatap lurus kedepan, Baby Aron sudah dibawa Ratu Lamoria keluar hingga ia merasa sendiri.


"Ardelof pasti punya alasan menutupi semuanya, tapi jika kau terus begini maka semua orang akan berfikir untuk menghapus semua kenagan tentang Ardelof."


"K..Kek, aku hanya ingin Ardelof bicara padaku apa yang terjadi padanya, semuanya akan selesai!"


Decah Sofea membuat Kakek Brent menghela nafas halus lalu menatap kening Sofea yang agak memar membuat ia memandang tajam kearah Nenek Eliz yang tersenyum kecil.


"Aku tak tahu soal itu, Sayang!"


"Ardelof akan murka jika kalian melakukan hal seperti ini."


"Ini tak sengaja terbentur di lantai, tadi aku kepeleset tapi tak sampai jatuh."


Jawab Sofea menutupi memar dikeningnya hingga Kakek Brent mengangguk lalu melangkah pergi keluar, sementara Nenek Eliz ia pamit pergi dan memberi semangat Sofea yang kembali dilanda sunyi semuanya gagal.

__ADS_1


"Aku harus apa?"


Gumam Sofea berbaring diatas ranjang, kepalanya sangat pusing memikirkan ini apalagi yang akan membuat masalah dalam hidupnya. nafas Sofea melemah menekuk kakinya seperti bayi membenamkan wajahnya ke empuknya ranjang.


"Ard, aku sendirian!"


"Aku tahu!"


Degg..


Sofea lansung mengangkat wajahnya saat mendengar suara berat itu hingga Sofea lansung menatap kedepan, seketika mata Sofea berbinar melihat sesosok pria yang telah berdiri drngan gagahnya menatap Sofea dengan tajam.


"S..Sayang!"


Sofea berhambur dari tempat tidur lansung memeluk Ardelof yang hanya diam menatap datar dirinya, memar dikening Sofea menjadi titik pusat mata elang Ardelof yang masih saja memucat.


"Sayang, akhirnya kau datang!"


"Kenapa kau lakukan hal bodoh seperti ini?"


Geram Ardelof membuat Sofea menatapnya dengan sendu, raut wajah Sofea melemah menangkup pipi Ardelof dengan lembut.


"Kenapa kau buat aku seperti orang gila?"


"Tapi kau, ini..lihat jidatmu! kau bisa saja hilang ingatan terbentur begini."


Geram Ardelof menekan kening Sofea yang biru membuat ringisan itu muncul, Sofea melepas pelukannya lalu berbalik menatap ke kaca rias sana.


"Ini hanya sedikit, tak akan hilang ingatan!"


"Bagaimana kalau kau terluka, ha? aku tak akan menemuimu lagi jika kau begini!"


"Maaf, tapi ini Nenek yang merencanakannya."


"Bulshit!"


Ketus Ardelof menarik Sofea keatas ranjang hingga ia mendudukan wanita ini disana, Ardelof memeriksa tubuh Sofea melihat ada luka lain atau tidak tapi ia bersyukur tak terjadi apapun di kulit wanita ini.


"Sayang!"


"Hm!"


"Aku ingin di jodohkan dengan orang lain."


Ardelof menghentikan tangannya yang meniup memar dikening Sofea hingga wajahnya lansung berubah dingin, matanya juga menajam menatap Sofea yang menghela nafas hingga Ardelof berjongkok didekat kakinya.


"Mereka kira aku sudah gila menganggapmu masih hidup, mereka ingin menikahkan aku dengan orang lain."


"Kau mau?" tanya Ardelof menatap penuh rasa Sofea yang juga memandangnya rumit. tangan Sofea terulur mengelus kepala Ardelof yang melemah dibuatnya.


"Aku bisa apa, cepatlah kembali padaku! aku tak mau tidur sendiri lagi, Ard." lirih Sofea bergrtar membuat Ardelof dilanda ketakutan.


"K..Kau ingin melupakanku?"


"Apa kelihatan begitu?"


Tanya Sofea membuat Ardelof lansung memeluknya erat menyampaikan rasa sesak dan khawatirnya, ia harus apa sekarang?


"J..Jangan, aku mohon!"


"Apa yang terjadi padamu?"


Tanya Sofea membuat Ardelof lansung duduk disamping Sofea seraya menyandarkan tubuh wanita ini ke dada bidangnya, Sofea menyiapkan pendengarannya menunggu Ardelof bicara.


"Kau ingin melihatnya?"


"Apa?"


Whusss..


Ardelof mengibaskan tangannya hingga wajah Sofea diterpa angin yang cukup kuat sampai rambutnya terkibar membelai wajah Ardelof.


Degg..


Sofea terlonjak kaget melihat daerah sekitarnya, ini adalah Dimensi dimana dulu tempat Ardelof mengisi tenaga atau lebih jelasnya bermeditasi, tanah yang hijau dengan aroma bunga yang membuat mata Sofea termenggu damai, mereka tengah duduk diatas Peraduan yang dulu Ardelof gunakan untuk Bermeditasi.


"Ini.."


"Lihat kesana!"


Sofea menyipitkan matanya menatap kearah kejahuan dimana ada lapangan kecil hijau ditumbuhi rerumputan dengan satu peraduan empuk yang dikelilingi dedaunan dan Bunga Teratai hijau yang merambat dibebatuan disamping Peraduan itu.


"A..Apanya?"


"Kau lihat lagi!"


Sofea semangkin menajamkan matanya hingga ia melihat ada Tubuh yang terbaring ditutupi Teratai itu hingga ia lansung turun dari batu yang ia duduki dibuntuti Ardelof dibelakangnya.


"Itu apa?"

__ADS_1


Tanya Sofea seraya terus turun dengan Ardelof yang memeggangi lengannya hingga melewati air dibawahnya, kaki Sofea menapakai rerumputan ini hingga perlahan mendekat kearah peraduan yang Asri ini.


Disepanjang tapakan kakinya, Sofea disapa burung-burung dan gerombolan kupu-kupu yang menatap Sofea dengan sendu seakan ikut merasakan apa yang telah terjadi.


"Sayang, itu apa?"


"Dekatilah!"


Sofea mendekat hingga ia terhenti dibalik Tabir Teratai yang menutupi Tubuh yang terbaring disini, mata Sofea menajam berubah merah melihat dengan Spirit yang bersinar merasakan ada yang tengah menyerap Energi disekitarnya tapi bergerak lambat.


"Bukalah!"


Sofea menyibak Daun Teratai hijau yang menutupi peraduan ini hingga saat dedaunan itu mulai mengurai mata Sofea yang semula biasa saja seketika membulat sempurna dengan tubuh yang oleng.


"S..Sayang!"


Sofea berpeggangan ke lengan Ardelof saat melihat wajah pucat seorang pria dengan setengah wajahnya yang terlihat tak sempurna karna retakan cahaya biru, belum lagi bagian dadanya juga menghitam dengan raut pucat seperti kapas.


"A..Ard!"


Sofea luruh disamping peraduan ini dengan mata berkaca-kaca menatap sekujur tubuh Ardelof mengalami luka berat dengan bagian leher yang menjalar akar hitam, setetes air mata Sofea jatuh mencengkram rumput dibawahnya.


"I..Ini.."


"Semua jaringan tubuhku sudah mati!"


"A..Ard!"


"Tak ada yang berubah."


Sambung Ardelof melemah, ia tak bisa kembali masuk dalam raganya yang telah terlalu tak berdaya. sedangkan ia juga tak mau masuk karna bisa saja ia meninggalkan dunia ini hingga tak bisa melihat Anak dan Istrinya.


"K..kau..A..Ard, hiks!"


Sofea terisak mengulur tangan bergetarnya menyentuh pipi Ardelof yang terbaring kaku disini, helaan nafasnya pun sangatlah kecil bahkan tak terasa membuat Sofea begitu dicekat sakit.


"Aku tak bisa keluar dari Dimensi ini lama, karna aku kehabisan tenaga! aku tak bisa jauh darimu tapi jika aku menemuimu maka Energi yang terisi akan kembali hilang."


"L..Lalu kenapa kau menemuiku jika itu menyakitimu, Ard? kau bisa bilang kalau kau sakit, Sayang hiks!"


"Aku tak bisa, aku tak bisa menahannya! aku tak bisa jauh darimu, aku tak bisa duduk diam disini, sedangkan aku mendengar semua tangisanmu, aku harus apa?"


Tanya Ardelof membuat Sofea mematung ditempatnya, tangannya mengelus pipi Ardelof yang pucat pasih dan ini karna dirinya malam itu.


Sofea memejamkan matanya merasakan ada lagi Energi positif disini, ini lebih besar dan terkesan baru saja datang hingga Sofea melirik kebelakang.


"Kau membawanya?"


Suara bariton itu mengalun membuat Sofea menolah, seorang pria paruh bayah dengan wajah sangar dengan bulu halus di rahangnya, terlihat begitu berkharisma dan sangat angkuh.


"Y..Yang Mulia!"


"Kau menantuku?"


Tanya Raja Petra yang menatap Sofea datar dengan pandangan menyelidik dari atas sampai bawah hingga terhenti didekat dada Sofea hingga Ardelof menutup Tubuh Sofea dengan Tubuhnya.


"Jaga mata sialanmu itu!"


"Cih, terlalu Posesif."


Gumam Raja Petra mengaggumi Tubuh Sofea yang memang mempunyai daya tarik Seksual dan aura pemikat yang kuat, tapi tentu ia tak ingin terlihat mengaggumi didepan Putranya ini.


"Ka..Kau Ayah, Ardelof?"


"Menurutmu?"


Tanya Raja Petra mendekati Sofea tapi Ardelof menarik tubuh Sofea menjauh, sifat raja Petra yang baru ia tahu setelah pria ini menyelamatkan tubuhnya dari ledakan itu adalah, suka membuat ia cemburu.


"Jangan mendekatinya!"


"Kau putra tak tahu di untung, aku yang berusaha menyelamatkanmu tapi kau seakan tak menganggapku!"


"Kau itu mesum!"


Geram Ardelof menutupi tubuh Sofea dalam rangkuhannya, ia tak sudi bagian tubuh Istrinya dilihat atau dilirik nakal begitu, apalagi Raja Petra dibalik sikap dingin misteriusnya juga sangat menjengkelkan bagi Ardelof sendiri.


"Hm, terserah padamu."


"A..Apa aku bisa membantu?"


Tanya Sofea membuat Raja Petra terdiam lalu menatap Ardelof yang menggeleng, tak sedikit kekuatan untuk menyembuhkannya dan bisa saja menyakiti Sofea.


"Sudahlah, lagi pula aku belum tentu bisa kembali jika sudah masuk ke.."


"Aku akan melakukannya."


.......


Vote and like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2