
Mereka semua dibuat terhibur dengan kedatangan si Manis dari Asia ini, wajahnya begitu berseri mengatakan setiap pengalamannya ke Kerajaan ini, karakternya sangatlah damai dan harmonis bisa membawa mereka untuk kembali tersenyum.
"Digo Harsya Wijaya, itu namamu kan?"
Tanya Ratu Lamoria menatap pria dengan senyum merekah dan tai lalat didekat bibir itu, ia tengah duduk disamping Raja Hangton yang hanya tersenyum menyapa.
"Hm, Iya Yang Mulia tercantik! saya dari Keluarga Wijaya, lebih tepatnya bersahabat dengan Nenek Maryam kalian, Nenek ku dan Nenek penceramah itu dekat dan aku tak dekat dengannya."
"Kenapa?"
"Ayolah, Yang Mulia! dia selalu menyuruhku menghalafal Rukun Iman, padahal aku belum hafal Rukun Islam."
Mereka terkekeh kecil mendengar ucapan Digo yang memang mereka tahu sangat bermusuhan dengan Nenek Maryam keluarga mereka yang begitu ketat dalam urusan Aggama, ia selalu menuntun agar siapapun yang dekat dengan mereka dalam aliran yang sama harus bisa mengikuti dan mengamalkan setiap ajaran dengan baik.
"Hm, apa Sofeanya ada?"
Pertanyaan yang sedari tadi Digo tahan karna ia sangat penasaran dengan sesosok cantik itu, tak pernah bersitatap wajah dan mata tapi entah kenapa ia begitu menggila saat Raja Hangton mengatakan kalau ia harus menolong Sofea dari masa sulitnya, walau kenyataan pahit Sofea sudah bersuami dan menyedihkan pria berkuasa itu tiada tapi Digo merasa sangat tersanjung bisa menerima ajakan dari Raja Hangton.
"Tentu, sebentar aku akan memanggilnya!"
"Terimakasih!"
Jawab Digo begitu bersemangat dan gugup, entahlah raut menunggu itu sangat terpancar diwajah Tampan manisnya membuat Raja Hangton tersenyum kecil menepuk bahu kokoh Digo.
"Aku percayakan dia padamu."
"Yang Mulia, kau.."
"Panggil seperti Sofea memanggilku!"
Digo agak ragu karna ia merasakan kalau ada aura yang menekannya didalam Kerajaan ini, seperti permusuhan yang membuat rasa panas ditubuhnya.
"Baiklah, Ayah!"
"Yah, walau kematian Ardelof belum lama, tapi aku tak mau Putriku terus larut dalam kesedihannya."
Raja Hanggon bersuara penuh harap, ia tak tahu lagi harus apa. melihat Sofea begitu terpuruk membuatnya merasa tak berguna, ia teringat kalau Digo orang yang ceria dan sangat pandai bergaul, walau ia rasa ini sangat jahat bagi Ardelof tapi ia tak punya pilihan lain.
"Ayo, Nak!"
Suara Ratu Lamoria ditangga sana menggundang perhatian Digo dan Raja Hangton yang tengah bicara, wajah Digo tak mampu menoleh karna aroma harum ini begitu mengikat tubuhnya, bahkan degupan jantungnya tak terkendalikan sama sekali.
"Ya, Tuhan! diamlah sebentar saja."
Batin Digo mencengkram dadanya yang tak bisa dikondisikan, ia menghela nafas halus mendengar suara langkah kaki dari samping sana hingga Raja Hangton menyapa seseorang yang tengah berdiri disamping Ratu Lamoria dengan wajah datar menggedong Putranya.
"Nak!"
__ADS_1
Degg..
Digo menoleh dan seketika matanya membulat melihat wajah cantik dengan kesempurnaan yang menguar menyapa wajahnya, Tubuh jenjang yang dibalut Piyama hitam bercorak garis-garis santai yang terlihat sangat sederhana dan rambut di urai berantakan memperlihatkan penampilan yang Exstrem, tapi mau bagaimanapun bentuknya tetap saja mata tajam beraut datar tak bersahabat Sofea membuat Digo terpesona.
Berbeda dengan Digo yang melamun, Raja Hangton justru menatap Ratu Lamoria tajam, kenapa bisa Sofea turun dengan tampilan begini? rambut acak-acakan yang terlihat menggemaskan dimata Digo dengan raut wajah tak bersahabatnya.
"Digo!"
Namun, panggilan Raja Hangton tak didengar Digo yang menatap Sofea begitu intens dengan wajah bersemu membuat mereka menggeleng.
"Digo!"
"Eh!"
Digo tersadar dari lamunanya hingga ia memperbaiki letak Jas dan Kemeja yang ia pakai seraya berdehem kecil menormalkan jantungnya.
"A.. iya, Ayah!"
"Ini Putriku, maaf dia memang seperti ini."
"Tak apa, dia sangat imut!"
Sofea semangkin tak suka bahkan ia menguarkan aura intimidasi pada Digo yang seketika sesak, dari mata Sofea yang menajam serta wajah si kecil nan tampan itu juga membuat Digo diserang habis-habisan.
"Nak, kemarilah!"
"Selamat siang, Putri!"
Sofea hanya diam, ia lebih fokus pada Baby Aron yang gelisah tak mau disini, bahkan si kecil ini mulai merengek membuat Raja Hangton mencoba membujuknya.
"Cucu Kakek, jangan rewel. hm?"
Namun, Baby Aron menggeliat ingin menangis seakan ia tak suka dan ingin membawa Sofea pergi dari sini. melihat itu Digo menyipitkan matanya menatap raut wajah si kecil yang sangat mirip dengan Yang Mulia Putra Mahkota.
"Aneh, kenapa dia menatapku tajam begitu?"
Batin Digo melihat Baby Aron sama memandang dengan Sofea tak bisa menerimanya, di kecil ini seakan bermain peran didepan Kakek dan Neneknya.
"Oeekk!!"
"Biar aku yang menggendongnya!"
Namun, Tangis Baby Aron semangkin kuat membuat Sofea berdiri menghindari Digo yang ingin mendekati Bayinya. Raja Hangton dan Ratu Lamoria pun ikut berdiri dengan wajah picatnya melihat Sofea yang kelam.
"Nak, kau.."
"Aku tak suka dengannya!"
__ADS_1
Digo tercekat mendengar ucapan ketus Sofea yang enggan berdekatan dengannya, Sofea menatap tajam Digo yang terdiam tapi senyumnya masih terukir jelas walau ini sangat pahit, bukan berarti Digo si pria pemberani dan suka tantangan ini akan menyerah.
"Tentu kau tak suka padaku Putri! kita tak saling kenal, pepatah mengatakan. Tak kenal maka tak sayang, hm?"
"Iya, Nak! setidaknya bertemanlah."
Sambung Ratu Lamoria memggang bahu Sofea yang menatap tak suka Digo yang memberi senyum Pepsodentnya.
"Dia sama sekali tak pantas berteman denganku!"
"Sofea kau.."
"Ya Tuhan, hamba tahu hamba tak sepadan. tapi setidaknya hamba bisa menjadi Penenang, Putri tercantik ini!"
Sofea tak habis pikir dengan pria ini, biasa-bisanya mempunyai mental baja untuk mendekatinya.
"Kau!! aku masih punya suami dan jangan pernah mendekatiku!!"
"Siapa bilang kau tak punya suami, hm?"
"Sialan!!"
Sofea melangkah pergi dari hadapan mereka membuat Digo terkekeh pelan melihat raut marah Sofea yang begitu menyeramkan tapi menurutnya itu rona yang imut, ia tak pernah menemukan wanita seperti ini sebelumnya.
"Digo, maafkan Sofea! dia memang sangat kasar sekarang."
"Tak apa, Ibu! aku suka dengan wanita seperti itu, dia memiliki harga diri yang tinggi!"
Jawab Digo apa adanya membuat mereka lega, sikap Digo yang dewasa membuat mereka tenang jika pria ini memang mampu mendekati Sofea yang masih dalam masa terpuruknya.
"Hm, kalau begitu aku pamit! soalnya aku ingin mengurus Perusahaan di Kota lain."
"A.. Iya, tak masalah! tapi malam ini kau bisa datangkan?" tanya Ratu Lamoria.
"Kalau untuk makan aku pasti datang!"
Mereka terkekeh kecil akan jawaban itu hingga Digo mengulur tangannya memeggang tangan Raja Hangton dan mengecupnya bergantian dengan tangan Ratu Lamoria yang ia anggap sebagai kedua orang tuanya, hal biasa ia lakukan pada Papa dan Mamanya.
"Aku pergi dulu!"
"Iya, Nak!"
Mereka menghangat melihat itu semua hingga mengantar Digo kedepan pintu utama, Sofea yang sebenarnya tak benar-benar pergi keatas itu mematung melihat Digo yang sangat cepat mengambil hati kedua orang tuanya.
"Dia memang berbahaya!"
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..